Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 89 Teman Curhat


__ADS_3

"Aduh...bunda ini, ayah telepon dari tadi kok ngga diangkat sih?" Miko masih berusaha menghubungi nomor istrinya.


"Kenapa rumah tanggaku jadi ruwet begini, ya? Aku hanya ingin bahagia dengan wanita yang aku cintai, tapi ada saja halangannya."


Miko menghempaskan tubuhnya di sofa dalam ruang kerjanya. "Apa sebaiknya Alena kubelikan rumah lain ya? siapa tau kalau berjauhan, Alena tidak akan mencari-cari masalah dan bunda juga akan berhenti uring-uringan terus."


"Bun...ayah itu sayang dan cintanya sama bunda...ayah sebenarnya juga tidak ingin menikahi Alena, tapi mau gimana lagi?"


Miko duduk merenungi nasib pernikahannya. "Kruk...kruk..." perut Miko berbunyi.


"Astaghfirullah...aku lupa aku ngga ada makan apapun sejak siang kemarin."


"Pikiranku kacau balau sehingga lupa menyentuh makanan."


"Bunda...ayah ingin kembali ke saat ayah belum berangkat ke Singapura, rumah tangga kita adem ayem aja."


"Kini keadaan berbalik 180 derajat, rumah seperti neraka, tak ada lagi ketenangan di sana."


"Sehabis resign, bunda selalu menemani ayah sarapan, menemani ayah sampai kedepan pintu mobil."


"Sudah dua minggu lebih semenjak aku pergi hingga sekarang, bunda tak lagi melakukannya untukku."


"Ayah kangen sama bunda..." Miko mengambil foto pernikahan


yang ada di meja kerjanya, dipandanginya lalu didekapnya di dadanya.


"Coba kutelepon ke rumah aja ah...siapa tau bunda sudah pulang."


"Assalamualaikum....ya pak?"


"Ibu sudah pulang, bi?"


"Belum, pak...biasanya ibu jam segini pulang dulu ke rumah."


"iya sudah bi, nanti kalau ibu pulang suruh telepon bapak ya!!"


"Kemana bunda perginya? Bawa Syifa lagi..."


"Coba kutelepon Alena dulu, dia sekarang sudah menjadi tanggung jawabku juga."


"Kamu di mana Alena? Di mall? Jangan sampai kamu ngga ingat jalan pulang ya, Alena!!! Ya sudah, hati-hati...


"Punya istri dua ini sungguh merepotkan saja, punya satu aja sudah susah jaganya...sekarang malah punya dua dengan dua karakter yang berbeda juga."


*


*


"Wih...ada nyonya Miko...masuk bu...." Tini berdiri di depan pintu menyambut aku dan Syifa dengan senyumnya.


"Apa kabarmu, Nia? Apa kabar ponakan tante yang cantik? Dia memelukku dan Syifa.


"Kabal bunda buluk tante..."


"Oh, ya? Kok bisa?"


"Aduh...mulutnya Syifa ngember lagi pagi-pagi."

__ADS_1


"Iya...di lumah sekalang ada ibu balu, di bawa ayah Miko dali Singapula!!!"


"Apa??? Betul yang dikatakan Syifa itu, Nia..."


"Duduklah dulu. atau kita duduk di ruang makan aja...kalau kulihat nih, naga-naganya kalian belum sarapan...ya kan?"


"Iya tante...kita memang belum salapan tadi."


Kami sarapan bertiga di meja. Tiba-tiba pintu kamar di samping meja makan terbuka.


"Sudah mau berangkat kerja, Sultan? Tini menyapa seorang laki-laki yang baru keluar kamar.


"Iya, kak Tini..."


"Sini sarapan dulu..."


Sultan menarik kursi duduk di depanku dan Syifa.


"Perkenalkan Nia, ini Sultan adik iparku...dan Sultan, ini Sania teman akrab kakak mulai kecil."


"Kalau si comel ini? Siapa namanya cantik?" Sultan menoel dagu Syifa.


"Syifa, om...!!"


Sultan tersenyum padaku sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"Sultan ini mengajar di SMP kita dulu, Nia....jadi guru bahasa inggris."


"Ohh..." Hanya itu yang bisa kuucapkan. Habis aku mau ngomong apa.


"Kak...Sultan pamit dulu, ya..." Dia berdiri duluan.


"Hai Syifa comel...om kerja dulu ya....Assalamualaikum...."


"Waalaikum salam...." Jawabku dan Tini kompak.


"Bun...kok om Sultan ngatain Syifa cobek? Cobek itu kan buat bunda ulek lombok kalau ayah minta bikinkan sambel?"


"Kok cobek pula Syifa ini...comel...bukan cobek." Tini mengucek rambutnya.


"Oh...kilain cobek yang untuk ulek sambel itu, tante..."


"Nia...coba kamu ceritakan, ada masalah apa?"


"Tin...aku minta maaf ya...sebenarnya aku enggan untuk menceritakan masalah rumah tanggaku, tapi jika tidak kuceritakan...aku mau gila rasanya."


"Aku tau...berkaitan dengan apa yang di bilang Syifa tadi kan?" Aku mengangguk lesu.


"Siapa wanita itu, Nia?"


"Dia putri paman angkatnya Miko....ayahnya sudah meninggal dan memberi amanat untuk Miko menikahi putrinya."


"Kenapa Miko mau menerima pernikahan itu begitu saja? Dia kan bisa menolaknya!!!"


"Miko menerimanya karena terikat hutang budi dengan pamannya, Tin!!"


"Dengan mengorbankan kebahagiaan dan pernikahan kalian yang baru seumur jagung?"

__ADS_1


"Terus kalian tinggal satu atap begitu?" Aku hanya mengangguk lesu.


"Kasihan betul nasibmu, kawan...terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Nia?"


"Rasanya aku ingin minta cerai saja, Tin...tapi kondisiku sekarang aku sedang hamil."


"Di mana aku akan mencari uang untuk membiayai anak-anakku...kalau kondisiku tidak sedang hamil, mungkin aku akan kembali melamar menjadi cleaning service lagi."


Tak terasa aku menangis di hadapan Tini. Beban yang kupikul beberapa hari ini rasanya terhempas semua.


Kami tak menyadari, Sultan masih ada di ruang tamu sedang memeriksa ulangan murid-muridnya.


Dia mendengarkan semua keluh kesahku juga tangisanku. Dia menghela napas, "Kupikir aku ini menderita karena telah ditinggal oleh anak dan istriku karena kecelakaan itu, ternyata ada yang hidupnya lebih menderita dari pada aku."


Kupandangi dari balik tirai wajah wanita ayu itu. Kasihan juga ya, jika dalam kondisi hamil begitu harus bercerai.


"Makanya aku selalu uring-uringan terus di rumah, Tin!!!"


"Ya, iyalah...kalau aku aja ada di posisimu, bukan uring-uringan lagi...segala panci, piring, kapan perlu kompor terbang semua seliweran di dalam rumah."


"Siapa juga yang tahan tinggal seatap dengan madunya?"


"Terus dia mau tidur satu kamar juga gitu denganmu dan Miko? Tinggal di injek aja kepalanya...biar di otaknya ada sedikit penyegaran.


Aku yang dari balik tirai tersenyum geli mendengar curhatan mereka berdua...yang di poligami siapa? Yang mencak-mencak kayak orang kesurupannya, siapa?"


"Tapi siapa juga memang sih, yang ngga akan emosi kalau begitu caranya"


"Aku yang teramat mencintai istri dan anakku aja...harus di pisahkan dengan cara seperti ini, aku rasanya membawa penyesalan seumur hidup."


"Kok malah ini laki-lak,i membawa pulang perempuan lain yang sudah dinikahinya tanpa sepengetahuan istrinya...tinggal satu rumah lagi."


"Ah, sudahlah...aku juga ngapain nguping pembicaraan mereka seperti perempuan saja."


Sultan keluar tanpa bersuara dari ruang tamu dan berangkat bekerja.


"Ada satu lagi beban yang aku tanggung, Tin."


"Aku tidak tahu janin yang ada di dalam rahimku ini anak siapa?"


"Uhuk...uhuk..." Tini terbatuk- batuk mendengar penuturanku.


"Maksudmu apa, Nia? Memang kamu pernah berhubungan dengan siapa selain dengan Miko?"


"Dengan mas Sofwan."


"Krompyang..."


"Aduh...habis piringku kubanting sendiri..." Dengan panik Tini mengambil sapu dan serok untuk membersihkan piring yang terbanting jatuh dari tangannya.


"Tante Tini itu kenapa sih, bun? Kayak nonton dlakol ajah...sebental mencak-mencak...sebental diem tak belsuala...sebental banting piling..."


"Sstttt....anak kecil diem ya...situ makan kuenya sampai kenyang...." Tini menegur Syifa.


"Aduh Nia....aku benar-benar kaget mendengarnya, kok bisa-bisanya kamu masih berhubungan dengan mantan terburuk itu? Hadeuh...."


***Bersambung....

__ADS_1


Jangan bosan membaca novelku ya readers...dukungan kalian, like, komen, vote dan favoritnya selalu kunanti....terima kasih🙏🙏***


__ADS_2