Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 223 Mimpikah


__ADS_3

"Bun, buahnya sudah Juma kupas dan cuci juga sudah Juma potong-potong dan Juma letakan di piring, Juma suapin ya bun!" kata Juma hendak bersiap menyuapi Sania.


"Ngga usah Juma, biar ayah saja yang menyuapi bunda Sania ya!!! Kamu pergilah ke kantin sana!!"


Juma nampak cemberut tetapi akhirnya pergi juga meninggalkan Sania dan ayahnya.


"Nia, apakah tak ada celah di hatimu untukku sedikit saja...aku masih sayang sama kamu!!" Niko menatap Sania yang sedang mengunyah perlahan buah apel yang disuapkan Niko kemulutnya.


"Niko, kamu sudah menikah sekarang dan akupun begitu!! dulu kita hampir bertunangan tetapi Allah berkehendak lain, kita akhirnya dipisahkan...itu artinya kita memang tidak berjodoh."


"Tapi jika suatu hari nanti kita sudah sama-sama sendiri, maukah kamu merajut kembali cinta kita yang pernah terputus? jujur aku katakan bahwa aku tak pernah jatuh cinta kepada siapapun selain kepadamu, Nia!!" kata Niko pelan.


"Aku tidak bisa bilang iya ataupun tidak, Niko!! karena kita manusia tidak tau bagaimana hidup kita kedepannya nanti!!"


Aku mencoba menghibur Niko yang sudah terbawa oleh perasaannya sendiri.


Aneh kan? yang sakit siapa...yang butuh dukungan malah siapa!!


"Sebenarnya hubunganmu dengan istrimu itu bagaimana sih, Niko?" tanya Sania.


Niko menghela napas dulu sebelum menjawabnya.


"Aku dan Maya menikah karena semata bentuk pertanggung jawabanku pada Juma."


"Tapi kalian dulu saling mencintaikan? jika tidak, bagaimana Juma bisa lahir?" tanyaku lagi.


"Aku, Maya, Samsuri itu dulu teman satu kelas...yang aku tau memang Maya selalu mengejar-ngejarku, tapi aku sudah pernah menceritakan padamu bagaimana kehidupanku dengan ayah Jonathan dulu."


"Jangan kata untuk pacaran, jalan bareng teman, bisa makan aja kami sudah sangat bersyukur." Kata Niko mengenang masa lalunya.


"Aku sering membantu ayah mengantarkan barang sampai keluar kota sehingga ngga ada waktu untukku buat bersenang-senang."


"Rupanya Samsuri tau jika Maya menyukaiku maka di malam perpisahan kelas itu dia memasukan obat perang*sang ke dalam minumanku dan Maya sehingga terjadilah hubungan terlarang itu tanpa aku sadari."


"Lalu kami tak pernah bertemu lagi karena beberapa hari kemudian terjadilah kecelakaan yang menyebabkan kebutaan di kedua mataku."


"Saat Maya hamil Juma anakku, Samsurilah yang menggantikanku menikahinya sebagai bentuk penyesalannya telah memasukan bubuk laknat itu ke dalam minuman kami."


"Jadi sebenarnya aku memang tidak pernah pacaran apalagi mencintai Maya...aku hanya jatuh cinta pada seorang wanita yang pertama kali kulihat saat kubuka mataku, saat aku sembuh dari kebutaanku, ternyata dia iparku sendiri."


"Iya tapi harapan tak semulus kenyataankan? takdir malah berkata lain!!" jawabku.


"Oh iya, mengapa si kembar kok lama ngga pernah main kerumah lagi?? ingat Nia, rumah itu rumahmu juga, jangan segan dan sungkan untuk datang!!" kata Niko.


"Si kembar sudah mulai masuk PAUD Ko, makanya sekarang mereka jarang main mungkin sudah terlalu lelah."


"Oh iya, sudah mau maghrib nih...aku dan Juma pamit pulang dulu ya...besok aku main kemari lagi...cepat sembuh ya beb!!" kata Niko sambil tertawa.


Sepeninggal Niko aku sendirian lagi sambil menonton televisi, tak lama kak Della barengan sama mas Sofwan datang.


"Kamu kenapa dek?? Kudengar dari Syifa kamu dibawa kerumah sakit jadi mas langsung kemari dan bertemu kak Della tadi waktu di lobi." Mas Sofwan tampak cemas melihat keadaanku.


"Hanya sakit biasa aja mas, ngga ada yang perlu dikhawatirkan kok!!" kataku.


"Sakit biasa katamu dek?? kerudung yang kamu pakai tadi basah semua terkena darah, kamu bilang sakit biasa??? kamu benar-benar membuat mas Sofwan cemas!!"


"Sekarang apa yang kamu rasakan, dek??" tanyanya.


"Kepalaku masih terasa sakit mas!!" jawabku.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?? mas pesankan ya!!" kata mas Sofwan


"Ngga usah mas, tadi Niko dan Juma sudah dari sini, mereka membawa buah untukku." jawabku


"Cecurut itu lagi!!!" gumam Sofwan rada tak suka.


"Mas makan saja, itu kak Della diajak sekalian!!" kataku.


Mereka berdua asyik makan sementara pikiranku melayang teringat pada semua yang diucapkan Niko tadi.


Pluk...


"Melamunin apa kamu dek? bukan melamunkan cecurut itu kan?" tanya mas Sofwan.


"Idih...ada yang cemburu nih ye!!" goda kak Della pada Sofwan.


"Iyalah cemburu kak, kan Sofwan masih sayang walau statusnya sudah mantan tetapi perasaan sayang itu tak ada istilah kata mantan!!" jawab Sofwan mantap.


"Anak-anak tadi gimana kak??" aku cepat memotong perkataan mas Sofwan agar tidak berkelanjutan jadinya.


"Mereka semua menginap di tempat Tini, dek!!" kata kak Della.


"Aduh...aku jadi ngga enak kak, lagi-lagi Tini harus direpotkan dengan anak-anakku!!" jawabku.


Tok...tok...tok


"Siapa itu kak??" tanyaku memandang ke pintu.


"Assalamualaikum!!"


"Waalaikum Salam!!"


Untung ruangan tempat aku di rawat adalah ruangan VIP jadi tidak mengganggu pasien lainnya.


"Selamat malam bu Nia, bu Della, pak Sofwan..." sapa Hans dengan sopan.


"Malam..." jawabku.


"Kalian baru pulang jam segini ??" tanyaku pada mereka.


"Iya bu, sekalian tadi kita mencari oleh-oleh buat ibu!!" kata Tiwi.


"Bagaimana keadaan ibu Sania?" tanya Hans.


"Beginilah Hans...kalau oramg sudah tua penyakitnya pasti banyak!!" jawabku sekenanya.


"Siapa yang bilang ibu sudah tua??" kata Hans.


"Ibu lho masih kelihatan awet muda tanpa sedikitpun kerutan di wajah ibu!!" jawab Hans lagi.


Sontak perkataan Hans membuat wajah Sofwan berubah mengelam.


"Bu kita bolehkan makan di sini?? mau pulang cepat ngapain juga malam minggu gini?? kita semua di sini lho rata-rata jomblo!!" kata Shinta.


"Ibu juga mau makan?? saya suapi ya?? ucap Hans.


Seketika aku merasa gugup apalagi terlihat ekspresi tak biasa dari wajah Tiwi dan mas Sofwan.


"Saya sudah makan kok...silakan kalian kalau mau makan."

__ADS_1


Mereka asyik bercerita dan bergosip ria sementara aku, kak Della dan mas Sofwan hanya jadi pendengar saja.


Bukannya aku tidak tau bahwa Hans yang sengaja duduk menghadapku sering mencuri pandang padaku.


Bukan sekali dua kali aku memergokinya sering mencuri pandang dan ini untuk kesekian kalinya.


Hans merupakan koki andalan kafe kami, keterampilannya mengolah cita rasa makanan membuat pelanggan semakin banyak yang datang setiap harinya.


"Ibu makan juga ya??? ini saya yang sengaja memasaknya untuk ibu agar ibu cepat sembuh, cepat pulang dan cepat beraktivitas lagi di kafe."


"Tanpa ibu kafe terasa sangat sepi!!" ucap Hans entah beneran atau boongan!!"


"Dasar tukang gombal!! Berani-beraninya dia merayu dek Sania di depan mataku??" umpat Sofwan dalam hatinya.


"Gombal kamu Hans!!" jawabku sambil melembar tisu ke wajah Hans.


Mereka semua cerita ngalor ngidul sambil bercanda. Hingga ada pemberitahuan dari ruang informasi bahwa batas jam berkunjung telah habis.


"Bu, kita mau pulang dulu ya!! semoga cepat sembuh ya bu!!" kata mereka semua.


"Hans, selama saya ngga ada...tolong titip kafe ya..." kataku.


"Terima kasih juga tadi sudah membantu membawa saya ke rumah sakit...terima kasih untuk kalian semua!! kataku.


Ruangan ini kembali sepi setelah kepulangan mereka.


"Sofwan juga pulang dulu ya kak Della, kasihan Aisyah di rumah hanya dengan bibi!!" kata Sofwan.


"Ngga apa-apakan kamu mas tinggal? sudah ada kak Della kok bersamamu!!" kata Sofwan.


"Ngga apa-apa mas...pulanglah dan beristirahatlah, jangan sampai mas sakit...kasihan Aisyah." Jawabku.


"Kamu tidurlah Nia, kakak akan tidur di sofa!!" kata kak Della.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari saat aku setengah tidur setengah bermimpi.


Aku seperti melihat Riko datang menjengukku. Dia memakai hodie berwarna hitam dan gelap. tetapi wajahnya tertutup oleh masker.


"Cepat sembuh mah...papah kangen sama mamah..."


Tes...


Setitik air matanya jatuh di pipiku tetapi dengan cepat dihapus olehnya.


Setelah itu tak lama sosok itu pergi kearah pintu, membuka pintu lalu pergi entah kemana.


Aku mengerjapkan mataku di tempat tidur berulang kali mencoba mengumpulkan ingatanku pada mimpiku barusan.


"Mimpiku kok seperti kenyataan ya???" pikirku.


*


*


***Bersambung...


Mimpikah yang dilihat Sania barusan? mengapa jika mimpi tapi terasa begitu nyata?

__ADS_1


Ikuti terus kisah Sania selanjutnya ya...dan jangan lupa author mohon dukungannya.🙏🙏


__ADS_2