Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 126 Amanat


__ADS_3

"Jika ada perkataannya yang telah menyakitimu...aku sebagai istrinya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Sultan!!"


"Tidak ada mba, Miko hanya membicarakan sesuatu saja...nanti mba Sania pasti akan diberi tahu olehnya.


Percuma aku memaksa Sultan untuk memberi tahukan tentang percakapan mereka tadi, karena Sultan bukan tipe orang yang suka membuka aib orang lain.


Tapi aku melihat dia berubah sejak keluar dari ruangan Miko tadi.


Flashback***


"Alvin, kita sudah lama bersahabat...aku mau meminta tolong kepadamu."


"Vin, aku baru tau bahwa aku mempunyai saudara kembar."


"Ternyata laki-laki yang kuanggap papiku selama ini, kakak yang kusayangi selama ini, bukanlah papi kandungku dan bukanlah juga kakak kandungku."


"Mami bercerai dengan papi kandungku saat aku dan saudara kembarku berusia satu tahun."


"Mami pergi dengan membawaku lalu mami menikah dengan papiku yang sekarang...sementara kakak perempuanku adalah anak kandung papi dari istrinya yang terdahulu."


"Sementara saudara kembarku ikut sama papi ke Indonesia."


"Kehidupan mereka tak seberuntung aku dan mami...papi kandungku dan saudara kembarku yang baru ku ketahui namanya adalah Juan Niko Saputra.


"Saputra adalah nama papi kandungku sementara Sarendra adalah nama papi tiriku."


"Hidup mereka serba kekurangan, Vin...bahkan Niko hanya bisa menyelesaikan sekolahnya sampai di bangku SMA saja...itupun papi harus banting tulang untuk menyekolahkan Niko."


"Hingga pada suatu hari Niko pulang sekolah dan matanya terkena serbuk pecahan kaca dari mobil yang kecelakaan yang menyebabkan dia menjadi buta."


"Hingga kini dia masih menunggu ada yang bisa mendonorkan mata untuknya, Alvin."


"Bagaimana awal pertemuanmu dengan Niko sehingga kamu yakin dia itu saudara kembarmu?" Tanya Alvin.


"Waktu itu aku sedang stres berat karena kisruhnya rumah tanggaku dengan Sania."


"Aku saat itu tak langsung pulang ke rumah setelah balik dari kantor...karena aku malas bertemu dengan Alena."


"Aku berniat untuk membelikan Sania bunga, jadi aku singgah di salah satu kios penjual bunga."


"Aku jadi terkejut saat melihat seorang lelaki sebayaku yang wajah dan perawakannya mirip sekali denganku."

__ADS_1


"Aku seperti melihat bayangan diriku sendiri di cermin...dia berpakaian agak lusuh sambil menunggu dagangannya."


"Saat aku mendekat untuk membeli bunganya, dia tersenyum tapi matanya itu mengarah ke satu titik jauh di depan sana."


*


*


"Permisi...saya mau membeli seikat mawar merahnya."


""Ooh sebentar tuan, saya akan memanggilkan ayah saya dulu ya!!"


Lalu dia meraih tongkatnya dan masuk ke dalam. Dan tak lama dia keluar bersama dengan seorang lelaki tua.


"Mau berapa ikat bu...hah...kau...wajahmu mirip sekali dengan Niko?"


Laki-laki tua itu menghampiriku dia memegang ke dua pipiku dengan tangan tuanya.


"Kau...apakah kau Jatmiko putraku?"


Aku terhenyak menatap lelaki tua dihadapanku. Wajah kami bertiga memang mirip satu dengan yang lain, tapi mengapa bisa? Itulah pertanyaan yang muncul di benakku. Dan dia tau namaku? Aku putranya?


"Apa benar anda adalah ayahku? Lalu siapa yang selama ini mendampingiku dari aku kecil sampai aku berumur 5 tahun?"


"Maafkan ayah Miko, ayah harus pergi meninggalkanmu dan ibumu. Pernikahan kami dari awal tak direstui oleh kakekmu."


"Karena sudah tak tahan dengan pernikahan kami, ayah memutuskan untuk menceraikan ibumu berharap dia akan menemukan kebahagiaannya."


"Ayah membawa pergi Niko bersama ayah, sedangkan kamu yang semenjak bayi sering sakit-sakitan diasuh oleh ibumu."


"Tapi hidup ayah dan Niko tak seberuntung kamu dan ibumu nak, Niko harus ikut ayah berpindah-pindah tempat dan sekolah."


"Niko kecil dulu sering menangis karena merindukan ibu kalian...karena pada waktu ayah bawa, Niko masih perlu asupan ASI yang terpaksa harus ayah ganti dengan susu formula."


"Terkadang jika ayah kehabisan uang, Niko hanya ayah beri air tajinnya beras."


"Ayah harus membawa Niko saat ayah bekerja, hingga akhirnya dia lupa untuk bertanya dan menangisi ibu kalian."


Aku menangis mendengar penderitaan ayah dan saudara kembarku. Tapi akupun juga tak lama mengecap kebahagiaan karena ayah dan saudara tiriku pun meninggal karena kecelakaan pesawat.


"Lalu bagaimana keadaan ibu sekarang Miko?" Niko buka suara.

__ADS_1


Aku menghela napas dulu lalu bicara. "Mami meninggal saat aku baru duduk di kelas 10, Niko...saat itu nenek sakit di Singapura, aku dan mami berangkat ke sana...lalu mobil yang membawa kami terbalik di jalan tol."


"Mami langsung meninggal di tempat karena melindungiku sementara aku mengalami kelumpuhan pasca kecelakaan itu."


"Lalu di mana ibumu di makamkan, Miko?" Ayah menyeka air matanya begitupun dengan Niko.


"Mami di makamkan di sebelah makam papi di Singapura, yah!!"


"Ayah...bertahun-tahun Niko sudah hidup dalam kegelapan...Niko berharap saat ada pendonor mata untuk Niko, Niko bisa melihat wajah ibu lagi!! Tapi belum juga Niko bisa melihat, ibu sudah tiada." Niko menangis dipelukan ayah.


Aku juga menangis, aku juga bisa merasakan rasa kepedihan, kehilangan seperti yang dirasakan oleh saudara kembarku itu.


Bayangkan saja, kami terpisah waktu usia kami baru setahun dan baru bertemu lagi saat usia kami sudah 34 tahun.


Aku memeluk Niko dengan penuh rasa haru. "Jadi ayah dan Niko tinggal di kios bunga ini?" Kataku.


"Iya Miko...kami hanya bertahan hidup dari hasil penjualan bunga ini saja, ayah sudah tidak bisa membawa mobil barang lagi karena mata tuanya sudah tidak lagi bisa di ajak kompromi."


*


*


"Itulah kisahku Vin, sekarang ayah dan Niko sudah bisa hidup lebih layak...aku memberikan tambahan modal untuk mereka sambil mencari pendonor mata untuk Niko."


"Vin...seandainya operasi pengangkatan sel-sel tumor di otakku tidak berjalan dengan lancar, dan aku tidak bisa selamat...bisakah aku meminta sesuatu?"


"Miko, kami tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin, kamu jangan pesimis begitu."


"Aku tidak pesimis, aku tidak meragukan kalian, hanya saja seandainya operasi itu tidak berjalan lancar dan nyawaku tidak akan tertolong, aku hanya ingin donorkanlah ke dua mataku untuk saudara kembarku."


"Itu permintaanku, Vin...aku ingin Niko bisa melihat dunia lagi, aku ingin membebaskannya dari kegelapan dan aku berharap walaupun aku telah tiada ayah masih bisa melihat aku dalam diri Niko."


"Tolong rahasiakan ini walau dari istriku sekalipun, Vin....aku tak mau menambah beban pikiran Sania."


Alvin memandang iba pada sahabatnya itu. Hidupnya, kisah percintaannya....semua berakhir tragis.


"Aku akan menjaga rahasia ini Miko, aku akan berusaha menjaga dan menjalankan amanat yang kamu berikan."


***Bersambung...


Happy reading guys...jangan bosan dengan cerita novelku ya...beri semangat dengan menekan like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih 😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2