Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 30 Sungguh Tega


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini aku mulai bekerja lagi. Sore itu Dina datang ke pencetakan bata dengan napas terengah-engah.


"Mak...bisa pulang dulukah...ada bude di rumah sama bapak..."


Aku hampir terloncat dari tempatku berdiri mendengar kabar yang dibawa Dina.


"Apa kamu bilang Dina? Ada bapak sama Tante-tantemu datang?" aku seakan tak percaya.


"Iya mak, cepat sudah cuci tangan dan kaki dulu."


Setelah mencuci bersih tangan dan kakiku dari lumpur dan pasir, aku lalu melangkah bergegas mengikuti Dina pulang.


Aku terpaku di tempatku berdiri, tepat di tengah kakak-kakaknya, suamiku berdiri. Wajah yang hampir 5 bulan tak kulihat lagi berdiri tepat di hadapanku.


Tapi ada yang aneh darinya, sorot matanya menatap dingin kepada Juned dan Syifa yang berdiri sambil bergandengan di pojok rumah.


Seolah dia tak lagi mengenal anak-anaknya. "Mak...bapak kok aneh ya?" bisik Dina padaku, sambil menggenggam tanganku.


"Bagus...kamu sudah datang Nia...ckckck...kamu dan anak-anakmu persis seperti gembel...lontaran kata-kata dan hinaan pedas dari kak Anya tak lagi kuhiraukan."


Mataku tertuju pada mas Sofwan. Benar kata Dina, ada yang aneh pada mas Sofwan. Dia memandang kami seperti orang asing.


"Pak..." aku menyapanya dengan suara gemetar.


Sewaktu aku mau menyentuhnya, dia menepis tanganku. "Jangan pegang-pegang...kamu siapa? saya tidak mengenalmu...matanya menatap dingin padaku.


Aku tak jadi melanjutkan langkahku, seketika lidahku kelu. "Amnesiakah suamiku pasca dia kehilangan kesadarannya? Kemana ingatannya tentang kami anak istrinya?"


"Nia...dengar...mulai detik ini dia bukanlah lagi suamimu...kami membawa surat perceraianmu...tanda tanganilah!"


"Apa maksudnya ini kak Nuri? mengapa aku harus menanda tangani surat cerai ini?"


Aku memandang kertas yang disodorkan ketanganku lalu menatap kedua kakak iparku dan juga suamiku secara bergantian.


Ucapan mereka seolah petir yang menyambar di atas kepalaku. Kakiku mendadak terasa lemah. Kucoba menguatkan diri agar kesadaranku tetap aku kuasai.


"Kamu bodoh tapi tidak tuli kan? Sofwan akan menceraikanmu, karena dia akan kami nikahkan dengan seorang wanita yang sederajat dengannya."


"Wanita yang selalu mendampinginya di saat Sofwan sakit dan kehilangan ingatannya."


"Sofwan sudah menganggap wanita itulah istrinya, bukan gembel sepertimu."

__ADS_1


"Kamu tega membuatnya sakit lagi karena menolak menanda tangani surat cerai ini dan mau mengungkapkan hal yang sebenarnya?"


"Jadi jalanilah hidup masing-masing mulai saat ini."


"Anggap saja Sofwan adik kami tak pernah ada dan masuk dalam kehidupanmu."


"Ayo kak...untuk apa kita berlama-lama di tempat kumuh seperti ini? Kepalaku mulai sakit!"


Mas Sofwan bersandar di mobil sambil memijit keningnya berulang kali.


"Nia...Kamu lihat dia kan? Sofwan sama sekali tak lagi mengenalmu dan anak-anakmu? Kamu tega melihatnya kesakitan begitu?"


Memang kulihat mas Sofwan meringis berulang kali sambil memijit kepalanya sendiri.


Akhirnya kuterima kertas dari kak Nuri dan dengan tangan gemetar aku menanda tangani kertas itu. Mataku mulai berkabut, hatiku terasa sakit sekali...inikah akhir penantianku selama 5 bulan ini? inikah akhir pernikahanku selama 9 tahun ini?


Tapi aku juga tak tega melihat laki-laki yang sangat kucintai menderita.


"Bagus...jadi mulai detik ini, kalian tak mempunyai hubungan apapun lagi."


"Adik kami akan mulai dengan kehidupannya yang baru dengan ingatannya yang baru dan mengubur dalam-dalam masa lalunya yang suram bersamamu."


Para tetangga yang tadi hanya bisa melihat keributan ini dan tak berani ikut campur karena ini persoalan keluarga.


Aku merasa dunia berputar dan terbalik, aku rubuh tak sadarkan diri, untung ada beberapa ibu-ibu yang dengan sigap menangkap dan membopong tubuhku keteras.


Anak-anakku ramai saling bertangisan, mereka mengira mamaknya sudah meninggal dunia.


Aku sadar setelah 15 menit berlalu. Kepalaku terasa sangat sakit.


"Yang sabar ya Nia...kami tak punya upaya untuk membantu, karena ini persoalan rumah tangga dan keluargamu, kata mba Ratna tetangga sebelah kontrakanku."


Kulihat beberapa para ibu meneteskan air mata tak tega melihat penderitaanku.


Aku berusaha untuk tetap tegar, aku tak boleh kalah dengan keadaan. Aku masih punya anak-anak yang harus kurawat dan kulindungi


Walaupun dalam hatiku menjerit pilu. "Teganya mas padaku?" tapi aku juga tak bisa menyalahkannya.


Kehilangan kesadarannya itu ditambah amnesia yang dideritanya, membuat dia melupakan dan menghapus semua masa lalu dari memori ingatannya.


*

__ADS_1


*


Badanku menggigil kembali, rasanya semua bagai sebuah mimpi buruk. Aku berulang kali menggigit bibirku berharap ini hanyalah mimpi dan saat aku bangun semua kejadian sore tadi tak pernah ada.


Tapi jika hanya mimpi, luka itu terasa perih. Luka yang tak kasat mata tapi lebih sulit disembuhkan dibandingkan luka yang nyata di depan mata.


Luka yang tak tergapai oleh tangan untuk mengobatinya, luka yang hanya bisa disembuhkan oleh iringan waktu yang berjalan.


Dina dengan setia menemaniku. Juned dan Syifa tertidur disampingku.


"Adik-adikmu sudah dimandikan, Dina? Kasihan nanti badan mereka gatal semua."


"Sudah mak, sudah Dina suapin juga mereka tadi."


"Mamak ngga usah menangis lagi ya...kalau mamak menangis, nanti kami-kami juga sedih."


"Kami sudah terbiasa kok dalam 5 bulan ini hidup tanpa bapak lagi."


"Bagi Dina dan adik-adik, mamak itu harus selalu sehat dan kuat, kami akan selalu ada bersama mamak sampai kapanpun."


Aku memeluk putri sulungku ini. Kata-katanya selalu penuh kebijaksanaan, persis seperti mas Sofwan dulu. Dialah yang selalu menguatkanku, dan menyemangatiku.


Sepertinya aku memang harus mencari pekerjaan yang lebih layak, tak mungkin aku bertahan untuk menghidupi anak-anakku dengan pekerjaanku yang sekarang.


Juned dan Syifa tidak akan kecil terus menerus. Suatu hari mereka juga akan bersekolah, begitupun dengan Dina. Suatu hari nanti dia akan meninggalkan sekolah dasar masuk ke sekolah menengah pertama.


Tentu akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi biaya yang lain-lainnya. Aku boleh bodoh seperti yang dikatakan kakak iparku, tapi anak-anakku jangan sampai bodoh seperti aku.


Aku harus bangkit dari keterpurukanku, harus...aku tak ingin larut dan tenggelam dengan kenangan masa lalu. Mas Sofwan adalah masa lalu. Anggaplah begitu karena dia telah menceraikanku, walaupun aku sama sekali tak menginginkan perceraian itu.


Mungkin tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita itu tak mudah, butuh waktu dan proses yang panjang untuk melewatinya.


Tapi jalan satu-satunya adalah mengikhlaskan kenangan itu untuk pergi dari kehidupan kita.


Dinapun tertidur diatas pangkuanku. Diapun kulihat sangat letih, dia tahu apa yang telah terjadi dengan kedua orang tuanya, tapi diapun berusaha tegar. Karena dia merasa punya kewajiban menjaga adik-adiknya.


"Ya Allah...hamba tau cobaan hidup ini terasa berat..tapi hamba percaya Engkau tidak akan pernah memberikan cobaan melewati batas kemampuan hambamu. Di balik semua cobaan ini pasti akan ada pelajaran yang bisa diambil hikmahnya di kemudian hari."


...***Bersambung......


Jangan lupa like, komen dan votenya teman-teman😀😀 terimakasih🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2