Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 116 Dalam Sedih Aku Bahagia


__ADS_3

Miko terus mengoceh sementara aku hanya diam saja mendengarkan semua pembicaraannya.


"Ayah haus bun, bisa minta tolong ambilkan ayah minum?"


"Ayah sudah selesai ngocehnya?" Aku berdiri lalu mengambilkan air putih di atas kulkas mini di dalam kamar kami.


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Semua perabotan letaknya tak ada yang berubah. Masih sama seperti saat kutinggalkan setahun yang lalu.


Hanya foto pernikahan kami yang waktu itu jatuh dan pecah ternyata sudah diganti kacanya oleh Miko.


"Bun...mana airnya?? Leher ayah sakit sekali kalau dibawa menelan sesuatu."


Aku menyodorkan segelas air putih padanya. "Bun, bantu bangunkan ayah...." Katanya manja.


Aku membantu memegang pundaknya, dan cup....Miko tersenyum setelah mengecup pipiku.


Aku merasakan bibir keringnya dingin dan tak sehangat dulu. "Sebenarnya suamiku ini sakit apa?" Pikirku.


Tapi tetap saja aku merasakan debaran itu, sama persis saat seperti pertama kami bersama dulu.


"Ayah...katanya sakit, tapi masih saja mencuri kesempatan mencium bunda." Aku memegang pipiku yang dikecupnya tadi.


"Maafkan ayah ya bun, habis ayah kangen banget sama bunda...ayah tak tau apa kesalahan ayah sehingga bunda membenci dan menjauhi ayah seperti sekarang ini."


"Sudahlah yah...bunda sudah memaafkan ayah...mungkin bunda yang salah, toh Alena istri ayah juga...ayah berhak melakukan apapun bersamanya."


"Maksud bunda apa? Ayah bahkan sejak kejadian malam setahun lalu itu, tak pernah lagi menyentuh Alena."


"Karena ayah sadar, wanita yang ayah cintai hanya bunda, ayah tidak mau Alena hanya jadi pelampiasan kemarahan ayah kepada bunda."


Aku terdiam. "Setahun lalu? Siapa yang harus kupercaya sekarang? Alena ataukah Miko?"


"Sebenarnya ada apa sih bun? Coba ceritakan pada ayah, nanti jika bunda pendam terus tidak mau cerita ntar nyesel..."


"Nanti keburu ayah tak ada lagi, bunda sudah tidak bisa lagi bercerita."


"Ayah bicara apa sih?"


"Ayah sudah makan? Kalau belum bunda suapi ya, yah!!"


Miko hanya mengangguk pelan, "Tapi nanti dulu ya bun...ayah masih ingin duduk dekat dengan bunda."


Aku duduk disamping Miko yang menaruh kepalanya dipangkuanku.


"Bun...sudah lama kita tidak semesra ini ya!!!


Bun, tolong jangan pergi lagi dari sisi ayah...atau jika bunda tidak betah tinggal di sini, ayah yang mengalah untuk tinggal bersama bunda dan anak-anak di rumah bunda sana."


"Walau tidak tinggal serumah lagi, kan kita masih bisa saling mengunjungi yah!!!" Kataku.

__ADS_1


"Bun, ayah takut tidak bisa bersama bunda lagi, ayah takut jika suatu pagi bunda membuka mata...bunda melihat ayah tak lagi ada bersama bunda." Hati Miko berbisik.


"Ayah...kenapa ayah menangis?" Aku merasakan sesuatu yang menghangati pahaku.


"Ngga bun, ayah hanya sedang bahagia...."Miko memeluk erat pinggangku dengan kedua tangannya.


Tak lama kudengar dengkuran halusnya, tanda dia sudah tertidur kembali.


Aku mengusap lembut rambut suamiku, tapi..."Kenapa rambut ayah kok rontok begini sih? Ayah salah pakai shampo kali ya?" Pikirku.


Pelan-pelan kulepaskan pelukannya di pinggangku dan kupindahkan kepalanya dari atas pahaku ke atas bantal.


Aku keluar kamar dan menuju dapur. Bibi kulihat sedang sibuk memasak.


"Bi..." Sapaku.


"Ibu!!!! Bapak sudah tidur lagi??" Aku hanya mengangguk saja.


"Sudah berapa lama bapak sakit, bi?" Aku membantu bibi sambil berbincang-bincang.


"Sebenarnya sudah dua bulan ini bu, tapi selalu bapak paksakan untuk bekerja, terus terang semenjak ibu tak ada...bapak juga jadi jarang di rumah bu!"


"Bapak lebih memilih kerja di kantor sampai larut, pulang sebentar lalu pagi-pagi sekali sudah berangkat lagi."


"Mestinya Alena yang harus merawat bapak, bi...dia kan istrinya bapak juga."


"Pak Miko selalu menolak non Alena, bu!! Bapak terlalu mencintai ibu."


"Kok ayah bangun lagi? Ini bunda baru mau menyiapkan makan siang buat ayah."


"Tadi ayah terbangun, ayah pikir bunda ninggalin ayah pergi lagi jadi tadi ayah bangun nyariin bunda."


"Ayah lapar bun, suapin ayah ya..." Miko memelukku dari belakang sambil menyenderkan dagunya di bahuku.


Entah kenapa hatiku mendadak sedih, aku bahagia bisa bersama Miko lagi, tapi entah mengapa aku jadi takut kebersamaan kami tak akan lama.


"Ayah...malu tau sama bibi...kayak pengantin baru aja!!" Aku berusaha melepaskan pelukannya di pinggangku.


"Biarin aja tho bu, jarang-jarang bapak tersenyum riang begini, biasanya wajah bapak selalu muram."


"Tuh...dengerin kata bibi, bun! Miko malah makin mempererat pelukannya.


"Ehemmm...."Kami kaget saat Alena tiba-tiba muncul di belakang kami.


"Wuidih...enak ya yang main peluk-pelukan di depan umum, tau malu dikit dong kalian berdua, kan di sini ada aku dan bibi!"


"Bibi ngga keberatan kok non, bibi malah senang melihat kemesraan ibu dan bapak."


"Lagian sebelum non Alena datang ke rumah ini, mereka berdua malah lebih mesra lagi."

__ADS_1


Bibi sengaja mengompori Alena supaya dia bertambah gondok.


Bukannya melepaskan pelukannya, Miko malah semakin bergelanyut manja di bahu Sania.


Dengan wajah merah padam Alena menghentakkan kakinya lalu balik ke kamar lagi.


"Yah, bunda ngga bisa lama-lama di sini! Kasihan anak-anak di rumah ditinggal sendirian."


"Ayah ikut ke rumah bunda ya, bun! Ayah mau ketemu sama anak-anak...ayah kangen mendengar ocehan mereka."


"Tapi ayah lagi sakit, sebaiknya ayah istirahat di rumah saja biar cepat sembuh!!"


"Bunda..."


"Huffttt..." Aku memutar bola mataku. Jika Miko sudah berkata begitu maka di bilang tidakpun dia pasti ngotot ingin ikut.


"Ya sudah, cepetan sana...bunda tunggu di sini."


"Asyik!!!!!"


Seperti anak kecil yang mendapatkan permen, Miko berjingkrang kegirangan. Lalu lari masuk ke kamar untuk ganti baju.


Tapi di kamar dia tak langsung mengganti pakaiannya. Dia berdiri di depan cermin besar di meja rias Sania.


Air mata Miko meleleh, dia tak mau memperlihatkan kesedihannya tadi di depan istri tercintanya.


"Bun...andai bunda tau hidup ayah tak akan lama lagi, jadi selama ayah masih bernapas...ayah akan selalu menempel pada bunda, suka atau pun bunda tak suka."


"Ini akan jadi kado terindah untuk kepergian ayah nanti bun!!"


Miko menghapus jejak air matanya lalu mengganti pakaiannya dan tak lupa dia memakai sweater yang di hadiahkan Sania pada hari ulang tahunnya setahun lalu.


Dia sekarang memang selalu merasa kedinginan walaupun matahari bersinar terik.


"Bun...naik motor bunda aja ya, bunda yang bawa dan ayah duduk manis memeluk bunda dari belakang."


"Kok bawa baju yah!!! Emang ayah mau nginep di rumah bundakah?"


Miko mengangguk antusias.


"Bi, saya akan menginap di rumah ibu ya dalam beberapa hari ini."


"Iya pak, selamat bersenang-senang ya..."


Kami pergi dengan bergandengan tangan. "Hati-hati bawa motornya ya bun," kata Miko.


Sepasang mata menyorotkan kebencian menatap kepergian kami dari tirai jendela.


"Betapa aku sangat membencimu kak Sania...kamu sudah mengambil bang Miko dari sisiku."

__ADS_1


***Bersambung...


Happy reading...maaf baru update lagi...banyak kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya ya....terima kasih🙏🙏


__ADS_2