
"Papah jahat...mamah benci sama papah!!" ucap Sania sambil memukul-mukul dada Riko sementara tangisannya makin keras memilukan.
Riko membiarkan istrinya itu melampiaskan dulu kekecewaan dan kekesalannya, setelah Sania merasa lebih baikan dan tangisannya mereda barulah dia berusaha untuk menjelaskan semua pada istri yang sangat dicintainya itu.
"Mohon maafkan Riko, Nia..." ibu Intan angkat bicara.
"Ini semua terjadi di luar kendali Riko!!" lalu ibu Intan memceritakan kejadian dari awal yang menimpa Riko sampai selesai.
"Riko rela melakukan semua ini untuk menjagamu dan anak-anakmu agar terbebas dari ancaman ayah Riko." terang ibu Intan sementara Riko sudah tidak sanggup lagi untuk bercerita dia terlalu rindu pada istrinya itu.
"Mah, papah mau liat Raftar juga yang lain!!" kata Riko sambil tak hentinya mengecupi pucuk kepala sang istri.
"Raftar??? bagaimana papah tau anak kita bernama Raftar??" desis Sania heran.
"Jangan heran begitu mah, papah bukan sepenuhnya laki-laki yang melepaskan tanggung jawab begitu saja, selama hampir 6 bulan ini semenjak papah kembali ke mansion dan papah sudah bekerja lagi, papah selalu mengirimkan uang ke rekening mamah dan mengirim orang untuk memata-matai sekaligus menjaga mamah dan keluarga."
"Bahkan tempo hari papah pernah datang langsung dan mengawasi kalian, tapi papah tak berani menemui kalian walaupun kerinduan begitu membuncah di hati papah takut akan ancaman ayah jika papah melanggarnya.
"Rekening??" Sania mengerutkan dahinya. Dia tidak mempunyai sms banking, mobile banking atau apalah...dia sama sekali tak pernah tau ada uang yang masuk ke dalam rekeningnya, karena pada dasarnya dia menabung untuk kelanjutan pendidikan anak-anaknya.
"Ayo...zommm.."
Semua karyawan kafe bertanya-tanya, siapa laki-laki tampan dan wanita setengah baya yang berjalan di samping Sania bos mereka.
"Maaf teman-teman semua...mungkin kalian belum ada yang tau, dia mertua saya dan ini papanya Raftar..." kata Sania memperkenalkan mereka.
Jederrr....
Bagai petir yang menyambar gendang telinganya seketika Hans menjadi lemas.
Dia tau bahwa suami Sania pergi tapi dia tidak pernah bertemu Riko sebelumnyà.
Semua mata para karyawan wanita menatap Riko tak berkedip. Lelaki dengan tinggi 180 cm dengan gayanya yang cool tak pernah sediktpun semenjak tadi melepaskan pegangan tangannya pada Sania.
"Shinta...saya mau pulang sebentar ya...nanti setelah jam istirahat saya balik ke kafe lagi!!"
"Siap bu..." jawab Shinta.
Mata Riko dan ibu Intan berbinar melihat balita gembul yang sedang duduk di pangkuan kak Della yang sedang menyuapinya.
Tatatata...
Celoteh si gembui itu sambil memegang mainannya.
"Raftar..."
Mendengar suara bundanya memanggil mata bulat bocah lucu itu mencari-cari, begitupun dengan Della yang terpaku di tempat duduknya sambil memangku Raftar.
__ADS_1
Dia terpaku menatap wajah lelaki yang berdiri di belakang adiknya itu.
"Riko!! desisnya.
Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya melihat kehadiran Riko.
"Kak, kenalkan ini ibu mertua Sania!!" kata Nia membuyarkan lamunannya.
"Riko, bukannya kabar yang kami dengar kamu telah meninggal dunia?" tanya kak Della tanpa menghiraukan perkataan Sania.
Nanti kami jelaskan di dalam kak, sekarang masuklah dulu...mari bu, pah!! kata Sania mempersilahkan.
Papapa..
Celoteh Raftar lalu mengangsurkan tangannya pada laki-laki asing tersebut.
"Bukan main...Raftar bukan tipe balita yang mau digendong oleh sembarang orang, ini dia sendiri yang malah minta digendong!!" kata kak Della.
"Anak papah!!"
Riko menyambut uluran tangan Raftar dia meneteskan air mata menggendong anaknya sendiri.
"Maafkan papah yang telah meninggalkan Raftar ya nak!!" bisik Riko sambil menciumi Raftar.
Ibu Intanpun dengan mata berkaca-kaca membelai rambut Raftar yang bergoyang-goyang tertiup angin.
"Sekali lagi maafkan papah ya mah, tak bisa ada di samping mamah, mendampingi mamah bahkan saat melahirkan Raftar dan membesarkannya."
"Nia, kamipun tak bisa lama-lama di Indonesia!! Ibu takut ayah Riko datang dan tak mendapatkan kami di mansion, kami juga harus menjaga agar kamu dan keluargamu di sini jangan sampai di sakiti oleh ayah Riko dan kaki tangannya."
"Tapi bu, Riko masih ingin di sini bersama anak dan istri Riko...tolonglah bu...setahun lebih kami berpisah sekarang baru bertemu beberapa menit apakah Riko harus pergi lagi??"
Ibu Intan menarik napas memandang wajah putranya yang sangat memelas.
"Oke, Riko...besok pagi kita akan kembali ke Kuala Lumpur...tak ada penawaran lagi ini semua juga untuk keluargamu di sini. Riko!!" sahut ibu Intan.
"Sayang papah kangen!!" bisik Riko ke telinga Sania.
Wajah Sania memerah mendengar ucapan suami bocahnya itu, setahun lebih Sania merindukannya, menganggapnya telah mati dan siapa sangka ternyata orang yang dia cintai hadir dan duduk nyata di sampingnya.
Akhirnya Sania siang itu memutuskan untuk tidak kembali ke kafe dan menemani suami dan ibu mertuanya di rumah.
Sania dari siang sampai malam menjadi tahanan kamar bagi Riko. Dia sama sekali tak mengijinkan Sania untuk keluar kamar.
Ibu Intan bersama kak Della asyik ngobrol sambil mengasuh Raftar, Miko dan Miki di rumah kakek Jonathan sementara Dina, Syifa dan Juned sore baru pulang dari sekolah.
"Ngga mau ah pah...nanti mamah hamil lagi!!" tolak Sania saat Riko meminta hak yang sudah setahun lebih tak diterimanya.
__ADS_1
"Ngga usah khawatir mah, minum aja ini..." dia menyodorkan pil KB yang tadi siang sempat dibelinya.
"Mah...paling tidak seminggu atau dua minggu papah akan kemari lagi menjenguk mamah dan anak-anak, setiap ada yang papah urus di indonesia, papah akan mampir kemari memberikan hak dan kewajiban papah sebagai suami, papah ngga akan seperti waktu itu lagi membiarkan istri tercinta papah menunggu terlalu lama."
Suara ketukan di pintu kamar membangunkan Sania dan Riko yang saling berpagutan.
"Hei...sampai jam berapa kalian berdua akan mengurung diri di kamar??" bercinta juga butuh makan supaya punya tenaga!!" seloroh ibu Intan yang di barengi tertawa cekikikan kak Della.
"Pah, mamah malu!!" ucap Sania dengan wajah yang sangat merah.
"Iya mah sebentar, satu ronde lagi baru kita keluar!!" teriak Riko di barengi pelototan horor dari istrinya.
"Apaan sih?? papah mau nambah lagi?? tadi sudah empat kali bolak balik naik lho pah...masa mau sekali lagi??" tanya Sania kesal pada suami bocilnya yang staminanya sungguh luar biasa seperti tidak ada matinya.
"Sekali lagi, nanti habis isya lanjut lagi...papah dan ibu harus kembali ke Kuala Lumpur besok pagi sayang!!"
"Hitung-hitung buat menghukum perbuatan papah pada mamah." Ujarnya.
"Kok perasaan hukumannya ngga adil ya, pah?? hukumannya kok enak di papah tapi sakitnya di mamah?" tanyanya cemberut.
"Sakit-sakit enak ngga apa-apa mah!!" kata Riko lalu tangannya mulai bergerilya lagi menggerayangi tubuh polos istrinya.
*
*
"Hans...jam kerjamu sudah selesai, kamu tidak pulang?" tanya Tiwi mendatangi Hans yang tengah duduk terpekur memandang rintik hujan yang turun di kota Balikpapan dengan derasnys.
"Kamu mau menyuruhku pulang berhujan-hujanan?? kamu sepertinya sangat menginginkan kalau aku jatuh sakit??" gerutu Hans.
"Bukan seperti itu chef...kan kamu pulangnya naik mobil juga, ngga mungkin juga ke hujanan kan?" ucap Tiwi meralat ucapannya.
Hans hanya diam membisu tak lagi menjawab perkataan Tiwi, hatinya yang sudah mengering tambah mengering setelah kepergian Sania tadi siang bersama dengan seorang laki-laki tampan yang diakuinya sebagai ayah Raftar, yang berarti suami dari bos pujaannya itu dan juga ibu mertuanya pulang kerumah Sania dan sampai detik ini tidak kembali lagi ke kafe.
Hatinya gundah dan resah membayangkan itu semua.
"Nah kan melamun lagi...melamunin bu Sania yang ngga balik lagi ke kafe ya!! tebak Tiwi pada Hans.
Hans hanya menoleh sesaat pada Tiwi lalu asyik kembali meneruskan lamunannya.
*
*
***Bersambung...
Apa yang akan terjadi nantinya jika pak Baskoro tau bahwa ibu Intan dan Riko sering pergi ke indonesia menjenguk istri dan menantunya??
__ADS_1
Jangan lupa ikuti terus kisahnya ya, reader juga dukungannya selalu kutunggu😊😊🙏🙏