Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 41 Emosi Yang Terpendam


__ADS_3

"Mak...Syifa kangen sama mamak...besok mamak kelja lagi kah?"


"Iya sayang...kalo mamak ngga kerja nanti Syifa, abang Juned dan kak Dina ngga bisa jajan lagi dong, dan kak Dina juga ngga bisa sekolah."


"Tapi kita beldua takut di lumah kalo kak Dina pelgi cekolah mak..."


"Iya mamak tau...nanti mamak pikirkan gimana caranya ya...jadi kalau mamak sama kak Dina belum pulang, Juned sama Syifa main di teras aja ya nak, "Iya mak..."Jawab mereka serempak.


"Mak...om Miko tadi bawa jajan banyak banget ya...terus beli beras sama yang lainnya juga."


"Kenapa om Miko tadi bilang mau jadi calon ayahnya kita sih, mak?" Dina memcecarku dengan pertanyaannya.


"Om Miko itu cuma bercanda saja Dina...ngga usah didengerin."


"Haduh...si Miko ini...masalahku sendiri aja belum kelar...eh, ada lagi masalah baru."


Drrrtt....Drrttt..."Sudah malam gini siapa lagi yang telepon yah...kulihat ini nomor tak ada namanya alias nomor baru.


'Assalamualaikum...selamat malam....Ini dengan siapa ya...?"


"Halo mantan adik iparku...selamat malam...bagaimana kabarmu setelah Sofwan menceraikanmu dua bulan kemarin?"


"Alhamdulillah aku baik-baik saja kak Nuri..."


"Terus...apa anak-anakmu menanyakan keberadaan bapaknya? Aku tau nada kak Nuri setengah mengejekku...aku tak mau terlihat lemah di depannya...dulu aku selalu mengalah dengan mereka, bukannya aku takut, tapi karena aku menghargai mantan suamiku.


Aku memejamkan mataku berusaha agar terlihat kuat, agar suaraku juga tidak gemetar di telepon.


"Oh iya...hebat dong...kamu kasih racun apa sehingga di kepala mereka sudah tidak mengingat bapaknya lagi?" Nah...nah...benar dugaanku...kata-katanya mulai pedas lagi.


"Keadaan yang meracuni mereka kak...karena mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana bapak mereka dulu sering mengamuk, dan mereka juga melihat bagaimana bapaknya mengacuhkan mereka waktu terakhir datang kemari membawa surat cerai itu."

__ADS_1


"Terus kamu sendiri apakah sudah mendapatkan pengganti suamimu? Kalau kamu tidak menikah lagi, nanti kalian sekeluarga tidak bisa makan...terus anak-anakmu tidak bisa sekolah lagi."


"Belum kak...bagi ku tak semudah membalikkan telapak tangan...seandainya mas Sofwan tidak hilang kewarasannya yang menyebabkan semua masa lalunya juga ikut hilang, dia pasti juga tidak akan menceraikanku."


"Kalau soal makan...tanpa menikah lagipun aku berusaha untuk menafkahi anak-anakku...karena itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawabku."


"Kalau pekerjaanmu hanya mencetak bata merah...apa mampu kamu menafkahi mereka? Bukannya menghina lho ya...dulu suamimu masih ada dan masih bekerja saja, ekonomi kalian sudah morat-marit...apalagi sekarang?"


"Bukan menghina tapi menghujat kak," desisku...tapi aku tidak boleh terpancing emosi...harus tenang menghadapi orang seperti ini.


"Kak...rejeki itu sudah ada yang mengatur...jadi rasanya aku tak perlu risau memikirkannya...kita manusia diberi akal oleh Allah, juga diberi otak untuk berpikir...selama ada kemauan pasti ada jalan....berusaha juga berdoa kak...Insya allah bisa..."


"Asalkan kamu menafkahi mereka dengan uang yang halal aja...jangan dengan uang haram..."


"Mungkin uang haram lebih mudah didapat dari pada uang halal...tapi aku juga masih punya iman kak...aku tidak mau merusak ketiga anakku dengan memberi mereka nafkah yang haram."


"Kalau uang halal...walaupun harus banting tulang peras keringat untuk mendapatkannya...tapi hasilnya juga mendatangkan berkah...bukan seperti uang haram...banyak hasilnya tapi mendatangkan musibah..."


"Wih...sombong amat sekarang mantan adik iparku ini ya...pencetak bata aja sudah belagu..."


"Kalau soal pekerjaan...apapun itu selama tidak merugikan orang lain...apakah masalah kak? Toh selama hampir setahun ini...kami juga tidak pernah merepotkan kalian kan?"


Kudengar suara menggeram dari ujung telepon sana...sepertinya kak Nuri lah yang kesal karena aku bisa membalikkan semua hinaannya.


"Hmmmm....jangan harap kamu bisa menghinaku lagi kak...Cukup masa 9 tahun ini kalian bertiga kakak beradik menghinaku...tapi sekarang aku tak akan tinggal diam lagi."


"Sekarang intinya kakak menelponku ini mau menanyakan apa? Tak mungkin kan untuk menanyakan keadaan kami saja...pasti ada maksudnya...nah maksudnya itulah yang mau kutanyakan pada kak Nuri."


"Tentulah...untuk apa juga aku menelpon hanya untuk menanyakan kabar kalian...tak ada untungnya juga buatku..."


"Nah...nah..akhirnya keliatan juga kan belangnya, mantan iparku ini."

__ADS_1


"Terus kakak menelponku untuk apa? Tanyaku..."


"Aku cuma mau bilang kalau bulan depan, Sofwan akan menikah lagi...wanita pilihan kami pasti akan membuatnya bahagia."


"Syukurlah jika begitu keadaannya...jadi aku juga lega...jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan dan masih diberikan jodoh untuk menikah lagi..aku tidak akan merasa bersalah padanya..."


"Memangnya ada laki-laki yang mau sama janda anak tiga sepertimu? Kalaupun ada yang mau hanya ada dua kemungkinan...pertama paling-paling hanya sama-sama pencetak bata juga, dan yang kedua orang itu buta...hahaha..."


"Jangan lupa wahai mantan kakak iparku...jodoh...rejeki dan maut itu sudah ada yang ngatur...nukan diatur dan direncanakan oleh tangan manusia."


"Sok kamu Nia...kita lihat aja nanti bagaimana kelanjutan nasibmu dan anak-anakmu."


"Kak jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, telepon tak tutup ya...aku sudah mengantuk dan mau tidur."


Tanpa menunggu persetujuan darinya, pembicaraan yang menguras emosi ini kuakhiri dan telepon kumatikan sekaligus kumatikan juga data selularnya...


Tanpa aku tahu sumpah serapah dan caci maki keluar dari mulut Nuri di sana.


Aku membaringkan badanku di sebelah Syifa dan Juned yang tertidur, kalau Dina sudah dari habis isya tadi sudah pulas tertidur.


Walaupun aku berusaha tegar dengan keadaan dan kenyataan yang pada akhirnya akan terjadi juga. Aku tak pernah menginginkan perpisahan apalagi perceraian...tapi garis kehidupan sudah mengaturnya seperti sekarang ini. Mungkin jodoh kami sudah berakhir sampai di sini.


Dulu aku dan mas Sofwsn berangan-angan untuk menua bersama...melihat anak-anak tumbuh besar...menikah...kami punya cucu dan menimang cucu-cucu kami bersama...tapi tampaknya harapan hanya tinggal menjadi impian, dan kenangan hanya akan menjadi sebuah memori yang selamanya akan terekam di kepala ini dan akan meninggalkan goresan luka di hati yang entah sampai kapan akan hilang.


Mungkin seiring berjalannya waktu, luka itu akan mengering tapi tetap akan meninggalkan bekas yang tak akan pernah hilang.


Aku berusaha untuk tidur dan memejamkan mataku...aku bukan hanya lelah badan, tapi juga lelah hati dan pikiran. Semua bayangan dan kenangan masa lalu berseliweran di depan mataku seperti sebuah kaset yang diputar dari awal sampai akhir.


"Tuhan...aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku...aku tak pernah menyalahkan keadaan...hanya kumohon...aku mampu melewati cobaan yang bertubi-tubi menderaku...mungkin cobaan yang Engkau berikan padaku ini hanya sepersekian kecil dibandingkan cobaan orang lain diluar sana.


Aku masih bersyukur punya orang-orang baik yang mau menerima keadaan kami di antara mereka-mereka yang jahat yang bisanya hanya menghujat keterpurukan kami dan berbahagia di atas penderitaan kami....

__ADS_1


**Bersambung.....


Teruslah berikan dukungan pada author ya...Like, komen juga jika berkenan vote dan favoritenya. Terima kasih...🙏🙏🙏**


__ADS_2