
Aku melihat garis dua merah di test pack. Positif...aku terduduk lemas. Aku memang positif hamil. Tapi aku tak berani memberitahukan Miko.
"Bagaimana ini? Kasih tau ngga, ya?"
Sementara di tempat lain, mulai pagi datang tadi Sofwanpun sudah sangat tersiksa.
"Aduh...ini sudah yang kesekian kali aku ke toilet untuk muntah!! Perutku betul-betul kayak diaduk pakai sekop."
"Minta bawakan teh hangat aja kali ya..." Aku menelpon ke dapur.
Tak lama Rahmat masuk membawakan pesananku.
"Pak Sofwan sakit apa? Wajahnya pucat sekali?"
"Aduhhh...saya ngga tau, Mat!!" Sudah beberapa hari ini badan saya meriang, dan rasanya mual terus."
"Memang ibu lagi hamil ya, pak? Ciri-ciri bapak seperti orang lagi ngidam?"
"Anak saya lho baru berumur dua bulan, Mat...ibu lho ngga lagi hamil...ngaco aja kamu ini."
"Ya, siapa tau aja pak..." Rahmat cengengesan.
"Mat...saya mau tanya sama kamu!!!"
"Pak Sofwan mau tanya apa?"
"Kamu punya nomor telepon Saniakah? Sebab nomor yang lama itu sepertinya ngga aktif lagi."
Rahmat menghela napas panjang. "Jujur saya punya, pak...tapi mbak Nia sudah berpesan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun."
"Ayolah, Rahmat...tolong saya minta nomornya."
"Gini aja deh..." Sofwan mengambil selembar uang merah dari kantongnya dan menyelipkan ke kantong Rahmat.
"Tapi. pak?"
"Tolong saya, Mat...saya ada perlu yang harus saya bicarakan dengannya."
"Pak Sofwan...sebenarnya bapak ini mantan suami mbak Sania kan?"
Sofwan terperanjat mendengar perkataan Rahmat yang langsung pada intinya.
"Darimana kamu dapat berita itu, Mat?"
"Saya hanya menebak saja, pak...wajah anak mbak Sania semua mirip dengan pak Sofwan."
"Jujur saya bilang, sebenarnya antara pak Sofwan dan mbak Sania itu masih saling mencintai walaupun berusaha saling menjauhi."
"Jika memang masih cinta, mengapa harus berpisah, pak?"
"Panjang ceritanya, Mat! rumit dan membingungkan."
"Mungkin jodoh kami sudah habis cukup sampai di sini."
"Tapi tolong jangan beri tahu mbak Nia, kalau bapak minta nomor whatsappnya sama saya ya, pak..."
__ADS_1
"Beres Mat, saya hanya mau bertanya tentang kabarnya dan anak-anak saya kok."
Setelah Rahmat keluar, aku segera menghubungi nomor yang diberikan oleh
Rahmat.
"Assalamualaikum...." Terdengar suara merdu dari seberang sana...suara yang sangat kurindukan dalam sebulan ini.
"Waalaikum salam...dek, apa kabarmu?"
Aku hampir terlompat saat mendengar suara mas Sofwan. "Dasar pengkhianat..." siapa dari antara mbak Fina dan Rahmat ini yang telah memberikan nomorku pada mas Sofwan?
"Aku baik-baik saja mas, mas sendiri keadaannya gimana?"
"Aku buruk, dek!! Sudah beberapa hari ini aku mengalami morning sickness."
"Deg..deg..." Jantungku berdetak keras.Tepat seperti dugaanku. Ada benih mas Sofwan yang juga ikut tertanam di rahimku.
"Makanya mas mau tanya sama kamu, apakah waktu kita berhubungan malam itu, kamu dalam keadaan masa subur?"
"Mungkin mas Sofwan hanya masuk angin biasa...aku sekarang tidak dalam keadaan hamil, kok!!"
Aku berusaha menyembunyikan keadaan yang sebenarnya, aku tak mau menambah beban pikirannya dan menambah rasa bersalahku pada suamiku.
"Iya, mungkin mas hanya kecapean saja."
"Gimana kabarnya anak-anak, dek? Apa Juned sudah masuk sekolah?"
"Mas tidak usah mengkhawatirkan anak-anak...mereka baik-baik saja."
"Ya sudah, mas tutup dulu ya...perut mas terasa mual lagi...jaga dirimu dan anak-anak kita ya, dek!! Mas tetap menyayangi kalian walau sampai kapanpun."
Aku masih tetap menempelkan ponsel di telingaku, walaupun mas Sofwan sudah mematikan sambungan teleponnya.
Jujur dari hati, aku masih merindukan suara merdu itu, merindukan kasih sayangnya.
"Ya Allah...mungkin sudah tak ada jalan untuk kembali, tapi izinkan aku untuk masih bisa mendengar suaranya dan masih bisa mengenangnya, walau hanya dalam hatiku saja."
Butiran kristal bening meluncur tak terasa. Aku baru belajar untuk melupakan, tapi benih kecil yang ada di rahimku ini? Apa sebenarnya jalan Tuhan yang sudah digariskan untuk hidupku?
"Bun...ayah pengen dimasakan nasi goreng dong!!" Miko tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
"Ish...ayah selalu saja bikin kaget..."
"Bun, ayah pengennya yang buat nasi gorengnya itu bunda, ngga mau kalau bibi."
"Memang sudah ngga mual lagi?"
"Istirahat penuh tidak ke kantor hari ini membuat kondisi ayah lebih baikan, bun."
"Kata bibi kondisi seperti ini kemungkinan istri sedang hamil...bunda hamilkah bun?"
"Hah...ngga lah, yah!!! Buktinya bunda biasa aja tuh ngga mual ngga mabok."
"Maafkan bunda harus merahasiakan untuk sementara dulu soal kehamilan bunda ini dari ayah." Aku membatin.
__ADS_1
"Kok hidungnya ditutup masker gitu sih, yah? bunda bau ya..."
"Ngga bun, ayah cuma ngga suka cium bau aroma bawang saja."
"Ya kalau gitu ngga usah ikut ke dapur, di kamar aja yah!!!"
"Ayah pengen dekat terus sama bunda..." Miko merengek manja.
"Nanti mual...terus muntah lagi..."
"Yang penting sudah ayah tutup pakai masker, jadi baunya ngga tembus ke dalam."
Sambil menunggu aku menggoreng nasi untuknya, Miko selalu bergelayut manja memeluk pinggangku dari belakang.
"Ish...ayah kayak anak kecil aja, peluk-peluk bunda terus..." Syifa dan Juned muncul barengan ke dapur.
"Bunda masak apa? Syifa dan bang Juned mau dong, bun!!!"
"Ayah request nasi goreng...kalian berdua juga mau?"
"Mau...." teriak mereka kompak.
Tiba-tiba terngiang di telingaku..."Mas mau juga dong, dek...masa anak-anak aja yang mau?"
Aku tersentak. "Kenapa bun? Kok kayak kaget gitu? Ada apa?" Miko mengendurkan pelukannya di pinggangku.
"Ngga, yah...tangan bunda tadi kecipratan minyak panas."
"Tuh kan, grogi terus kalau ayah peluk gini...padahal kita nikah sudah lima bulan."
"Habis ayah sih...meluk tapi tangannya kemana-mana, ngga bisa tenang."
"Lama-lama bunda gigit juga ayah nih!!!"
"Kalian duduk semua di ruang makan sana, gih...Juned tolong panggilkan kak Dina sekalian juga, ya..."
Mereka berempat asyik makan sambil bercengkerama, akrab sekali.
"Bun...kok malah melamun? Di makan dong nasi gorengnya." Miko menegurku.
"Ayah...Dina minta belikan gitar dong, yah!! Dina pengen belajar main gitar."
"Boleh...sebentar sore kita berlima keluar, ya...ayah juga pengen jalan-jalan, suntuk rasanya di rumah."
"Asyik...sontak mereka berteriak kegirangan. Syifa mau es klim yang ada di dekat taman, yah!!!"
"Es krim, Syifa...bukan es klim..." goda Miko.
Aku terharu melihat kebahagiaan anak-anak. Selama ini mereka menganggap hanya punya mamak tapi ngga punya bapak lagi. Merekapun tak pernah juga menanyakan keberadaan bapaknya.
"Bunda melamun terus dari tadi, apa sih yang dipikirkan?" Miko menepuk pipiku lembut.
"Ngga yah...bunda cuma bahagia saja melihat kalian semua."
***Bersambung...
__ADS_1
Happy reading💖💖 seperti biasa...author mohon like, komen, vote dan favoritnya***...