
Rencananya sore ini aku mau diantar sama mas Sofwan ke hotel tempat kemarin dia melihat Miko dan seorang wanita muda.
Tapi..."Assalamualaikum....bun, ayah pulang!!!"
Aku bergegas keluar untuk menyambutnya...aku sudah kangen banget padanya!!
"Waalaikum salam..."
Begitu pintu depan kubuka tampaklah satu pemandangan yang membuat hatiku menggerenyit.
Ayah pulang membawa seorang wanita muda yang cantik sekali. Tepat seperti yang dikatakan mas Sofwan kemarin.
Aku berdiri terpaku di depan pintu. "Bun...kok bengong...bukannya salim sama suami...cipika cipiki kek, kok malah bengong."
"Siapa dia, yah?" Suaraku terasa serak. Bagaimana hatiku tak miris, suami pulang dari jauh membawa oleh-oleh seorang wanita muda, yang aku dengar dari penjelasan mas Sofwan kemarin adalah istri dari suamiku.
"Ayah masuk dulu ya, bun...nanti ayah jelaskan di dalam."
Miko melewatiku. Begitu pula dengan si gadis berambut pirang itu, yang tanpa permisi sama sekali seolah menganggap aku tak ada.
Aku kembali terpaku di tempatku berdiri. Aku mencubit kuat-kuat tanganku berharap ini hanya halusinasiku belaka.Terasa sangat sakit, berarti ini adalah nyata dan bukan mimpi.
"Duduklah bun..."
Aku duduk di sofa berhadapan dengan Miko.
"Kenapa tidak duduk di samping ayah, bun? bunda ngga kangen sama ayah?"
Bagaimana aku bisa duduk di samping Miko, kalau perempuan itu duduk menempel di samping suamiku.
"Bunda di sini saja, yah..."
Miko tercekat, dia tahu kalau Sania sudah bicara dengan nada datar begitu, berarti istrinya sudah memendam rasa kebencian padanya.
"Jelaskan yah...akan bunda dengarkan tanpa menyela penjelasan ayah."
Mataku menatap lurus menusuk ke dalam mata suamiku tanpa mengalihkan untuk memandang wanita itu.
Miko menarik napas dulu sebelum bicara. "Bun, perkenalkan dia adalah Alena anak paman Leon." Aku masih diam.
Melihatku diam, Miko melanjutkan penjelasannya.
"Paman Leon sudah meninggal bun, dan dia menitipkan Alena untuk ayah jaga."
"Kenapa bunda hanya diam saja tak menyela penjelasan ayah?"
"Lanjutkan yah...bunda ingin mendengarnya sampai akhir...bunda tak ingin menyela dan juga tak ingin mendengar selaan apapun dari siapapun sebelum ayah selesai bicara."
Mendengar nada suaraku yang semakin dingin, membuat Miko semakin tak enak hati.
__ADS_1
"Ya Allah, aku tak pernah melihat istriku sedingin dan sedatar ini...sifat dan sikapnya selalu penuh kelembutan dan kesabaran, tapi kini jauh berbeda."
"Dia benar-benar seperti patung es yang tanpa ekspresi sama sekali."
"Ayah..." Miko tercekat, tenggorakannya terasa kering...seolah ada kerikil yang masuk melewati kerongkongannya yang membuatnya kesulitan bicara.
"Lanjutkan, ayah...kenapa berhenti?" suaraku yang keras dan penuh penekanan, membuat kaget dua orang yang sedang duduk dihadapanku.
"Tenang kak Sania..." wanita itu mencoba menyelaku..."bang Miko..." suaranya terhenti saat melihat aku mengangkat tangan kiriku.
"Saya tidak bicara denganmu...dan hanya suami saya yang saya minta bicara di sini, dan bukan orang lain."
Mataku tak lepas menatap Miko tanpa menatap wanita itu sama sekali.
"Ayah sudah menikahi Alena tiga hari yang lalu, bun."
Ada gumpalan-gumpalan darah yang mengalir dari luka yang tak kasat mata, yaitu jauh di dasar hatiku.
Aku sudah mendengar sendiri kemarin dari mas Sofwan, tapi mendengarnya secara langsung dari pengakuan mulut suamiku sendiri membuatku kembali goyah.
"Tapi sumpah bun, ayah dan Alena tidak melakukan apa-apa...ayah hanya menjalankan amanat paman Leon untuk menjaga Alena.
Aku memejamkan mata mencoba menenangkan hatiku yang bergemuruh.
"Maafkan ayah, bun..." Miko langsung duduk bersimpuh di kakiku.
"Aku? kamu? hati Miko semakin tercekat!!"
"Jika bunda keberatan Alena tinggal di sini...ayah akan mencarikannya kontrakan lain!!!"
"Tidak ada alasanku untuk keberatan...ini rumahmu...aku dan anak-anakku hanya menumpang di sini."
"Jika dia memang mau tinggal di sini, tinggallah...seorang lelaki sejati bisa memegang janjinya, kamu berjanji untuk menjaganya maka kamu harus tepati itu."
Kata-kata istriku cukup pelan dan datar. Tapi bagiku suaranya itu bagaikan petir yang menyambar gendang telingaku.
"Dia istrimu...perlakukan dia selayaknya seorang istri...biarkan dia tinggal di kamar kita, aku mau tidur di kamar anak-anak saja."
"Silakan kalian melakukan apapun di sana...aku tak akan mengganggu kalian."
Aku lalu berdiri masuk ke kamar dan keluar lagi membawa semua pakaianku dan memindahkannya ke kamar anak-anak.
"Bun...apa-apaan ini? ayah tidak ingin berakhir begini, bun!!"
"Tapi memang semua sudah berakhir begini...tidak ada yang bisa berubah lagi...maka jalani saja..."
Aku berdiri lagi lalu melangkahkan kaki ke kamar anak-anak yang bingung mendengar keributan di luar.
"Bunda tidul dengan kita? hole....asyik..." Juned dan Syifa teriak kegirangan, sementara Dina memandangku penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ada apa, bun? mengapa ada keributan di luar? Dina dengar ayah sudah pulang!!!"
"Bunda akan tidur di kamar kalian saja...bunda tak ingin mengganggu bulan madu ayah kalian dengan istri barunya..."
"Apa bun? Dina tidak mengerti maksud bunda, ayah punya istri baru lagi? bagaimana bisa?"
Aku tidak menjawab. Karena menghadapi tekanan yang berat membuat perutku terasa sakit sekali.
Melihatku yang sangat kesakitan membuat Dina berlari keluar.
"Ayah...ayah...bunda, yah.."
Miko berlari masuk ke kamar dan mendapatiku sudah tergeletak pingsan tak sadarkan diri. Dan lebih terkejut lagi saat dia melihat ada darah merembes dari sela-sela pahaku.
"Panggilkan dokter, yah...kami tidak mau melihat bunda dan calon adik kami, celaka...cepat yah!!!" Dina berteriak sekencangnya membuat Miko segera tersadar.
Dengan segera dia menelpon dokter pribadinya untuk segera datang, sementara Dina segera menyelimutiku. Karena dia mendapati kakiku terasa dingin seperti es.
Sambil menunggu dokter Frans datang, Miko bertanya pada Dina.
"Apa maksudnya dengan calon adik, nak?"
Dina diam tak menjawab, hanya sorot matanya yang memandang dingin pada Miko dan Alena yang juga ikut masuk ke dalam kamar mendengar teriakan keributan tadi.
"Dina tak berhak menjawab karena bunda memerintahkan Dina untuk diam...jadi silakan ayah saja nanti yang bertanya langsung pada bunda."
Tak sampai 15 menit, dokter Frans datang. Miko langsung menarik tangannya untuk segera masuk ke kamar.
"Dina...bawa adik-adikmu keluar, nak!! beri ruang untuk bunda."
"Kamu juga Alena, keluarlah."
Hanya tinggal kami bertiga yang ada di kamar ini. Sementara istriku belum juga sadarkan diri.
Dokter Frans segera memeriksa kondisi istriku.
"Bagaimana dokter? apa istri saya baik-baik saja? dan darah apa yang merembes di pahanya itu?"
"Untung kamu cepat memanggilku, Miko...kalau terlambat sedikit saja mungkin kamu bisa kehilangan bayi yang ada dalam kandungan istrimu."
Dokter yang berumur setengah abad itu segera memberikan suntikan penguat kandungan kepada Sania.
"Kandungan istrimu ini sangat lemah, Miko...guncangan ataupun perasaan yang tertekan sedikit saja bisa mempengaruhi kandungannya."
"Sebaiknya jaga kesehatannya agar tidak melakukan pekerjaan yang berat atau terlalu berpikir yang bisa memicu tingkat ke stresannya."
***Bersambung...
Selalu minta dukungannya ya...readers. Like, komen, vote dan favoritnya...semoga selalu suka dengan ceritaku...happy reading...happy weekend...terima kasih😊😊***
__ADS_1