Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 128 Juan Niko Saputra


__ADS_3

"Aku merasa Miko tengah kesakitan sekarang..."


Niko mengetuk-ngetukkan tongkatnya kelantai tanda dia sedang dilanda kegelisahan.


***Flashback...


"Dengar Mira...papi tak akan pernah merestuimu menikah dengan gembel bernama Jonathan itu...titik!!"


"Jonathan itu hanya seorang yatim piatu yang tak jelas asal usulnya...siapa ke dua orang tuanya juga tidak ada yang tau, karena dia hanya di besarkan di panti asuhan."


"Pekerjaannya saja hanya seorang supir pengantar barang...di mana harus papi taruh wajah papi ini di depan semua kolega papi, Mira???"


Gadis cantik bermata hazel duduk bersimpuh memegang kaki papinya, sementara maminya berusaha menenangkan laki-laki yang ada di sampingnya itu.


"Maafkan Mira pi, tapi Mira sekarang tengah hamil anak mas Jonathan!! Mira sudah mengandung jalan 2 bulan ini..."


"Anak tak tau malu kamu Mira!!! Sia-sia kamu meraih gelar S2 di luar negeri kalau ujung-ujungnya kamu hamil di luar nikah? Di mana kau taruh urat malumu Mira???" Lelaki yang sudah berumur setengah abad tapi masih tampak gagah itu menggeram marah.


"Gugurkan kandunganmu itu!!! Bikin malu keluarga saja..." Suaranya terdengar menggeledek menggema di seantero rumah besar itu.


"Pi..." Mami ikut angkat bicara.


"Bayi yang di kandung Mira itu tak bersalah, yang salah adalah ke dua orang tuanya yang tak bisa menahan hawa nafsu mereka."


"Apakah papi tega untuk membunuh cucu kita?"


Ucapan lembut dari sang istri sedikit meredakan kemarahan tuan Napoleon ayah Mira.


Orang tua itu mengusap wajahnya kasar. Sebelum akhirnya dia melanjutkan pembicaraan.


"Baiklah Mira, akan papi tunggu hingga bayi kalian lahir dan setelah bayi kalian berumur satu tahun, kalian harus bercerai."


Tenngggg


Gendang telinga Mira seolah berdentang mendengar keputusan papinya itu...haruskah dia berpisah dengan laki-laki yang sangat di cintainya itu? Yang telah menanamkan benih cinta di rahimnya? Tapi tampaknya tak ada pilihan lain selain menyetujuinya.


"Ba..baik pi..." Mira dan Jonathan terpaksa menyetujui persyaratan itu.


*


*


Mira dan Jonathan melangsungkan pernikahan yang sederhana tanpa dihadiri ke dua orang tua mempelai wanita. Mereka menikah di panti asuhan tempat Jonathan di besarkan.

__ADS_1


Hati Mira hancur, tapi Jonathan selalu menguatkan istrinya tercinta itu.


"Jaga kesehatanmu sayang, ada bayi kita sekarang di dalam rahimmu...kita berdua harus saling mendukung satu dengan yang lainnya."


Hari-hari yang dilalui oleh Mira memang terasa sangat berat. Wanita cantik yang biasa hidup mewah dan tanpa susah-susah untuk bekerja tapi semua sudah tersedia.


Kini mereka harus tinggal di sebuah kontrakan kecil. Gaji Jonathan hanya pas-pasan untuk bayar uang kontrakan dan menyambung hidup. Mereka harus berhemat agar mempunyai tabungan untuk biaya persalinan kelak.


Sering Jonathan pulang larut malam meninggalkan istrinya agar bisa punya uang yang sedikit lebih. Dia kasihan sekali melihat istrinya yang sedang hamil jika ingin makan sesuatu harus bisa menahan diri karena mereka tidak punya cukup uang.


Terkadang terbersit rasa penyesalan di hatinya, saat dia pulang malam hari melihat istrinya tertidur di depan televisi 14 inch yang menjadi satu-satunya hiburan mereka. Menunggu dia pulang dari pekerjaannya.


"Kasihan kamu sayang...seandainya kamu tak menikah dengan pria miskin sepertiku, tentu kamu tak akan merasakan penderitaan seperti sekarang ini."


Digendongnya tubuh wanita cantik yang sedang pulas tertidur itu ke kamar. Pagi tadi istrinya kepingin makan anggur, baru malam ini dia bisa membelikan untuk sang istri.


Dia ingin membangunkan istrinya tapi tak tega rasanya. Akhirnya dia tinggalkan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket setelah seharian berkutat dengan debu di jalanan.


*


*


"Mas...jangan narik dulu hari ini ya!! Perut adek sakit sekali, takutnya adek mau melahirkan."


"Ya sudah...mas ngga narik cuma ngantar sisa barang yang ada paling satu jam mas pulang lagi...sebab mas mau ngambil sisa gaji minggu kemarin yang belum dibayarkan, lumayan buat nambah-nambah biaya melahirkan.


"Ganteng banget ya mas...mau diberi nama siapa?" Mira tampak sibuk memberikan asi pada bayi mungilnya.


"Niko...Juan Niko Saputra..." Kata Jonathan.


"Aduh....mas....kenapa perut adek mulas lagi, seperti mau melahirkan lagi mas..."


"Suster...suster....tolong istri saya..." Jonathan berteriak memanggil perawat.


"Apa yang ibu rasakan?" Tanya bidan senior itu.


"Perut saya sakit, seperti ada yang mau mendesak keluar lagi..." Mira sangat kesakitan.


Pasca melahirkan Niko tadi saja dia hampir tak kuat lagi untuk mengejan.


Akhirnya semua persiapan kembali di lakukan. Benar saja tak sampai setengah jam kemudian, Mira melahirkan bayi ke duanya.


"Laki-laki lagi pak..."

__ADS_1


"Alhamdulillah..." Jonathan kembali mengadzani putra ke duanya itu.


Setelah keadaan Mira lebih baik, Jonathan duduk di samping istrinya.


"Anak kita yang ke dua ini di beri nama siapa dek?" Jonathan menggendong bayi laki-laki yang baru lahir tadi.


"Bagaimana jika diberi nama Jatmiko saja mas...Jatmiko Saputra."


"Papi dan mami tak ada menjenguk kemari mas??" Jonathan memandang iba pada istrinya seraya menggeleng.


"Mereka sudah benar-benar membenciku mas..." Air mata menetes membasahi pipi halus istrinya.


"Sabar ya sayang...semoga Allah akan membukakan pintu hati mereka untuk memaafkan kita."


*


*


Hari demi hari berlalu dan mereka seolah melupakan perjanjian dengan tuan Napoleon untuk segera bercerai saat anak mereka genap berusia 1 tahun. Hingga suatu siang...


"Siapa kalian? Dan mau apa?"


Jonathan yang baru saja hendak pulang dari mengantar barang tiba-tiba dihadang oleh empat orang tak dikenal.


"Kami utusan tuan Napoleon datang untuk memberi peringatan padamu...sebentar lagi putra kembar nona Mira Maharani genap berusia setahun, bersiaplah kau untuk menceraikannya."


"Tapi saya tak mau menceraikan istri saya, saya sangat mencintainya...tak bisakah perjanjian itu di batalkan? Tidakkah tuan Napoleon kasihan pada kami?"


Bugh...bugh...


"Itu dua pukulan peringatan dari kami, tidakkah kamu melihat betapa menderitanya kehidupan nona kami semenjak menikah dengan pria miskin sepertimu?"


"Bersiaplah kau laki-laki gembel!! Jika kamu berani menentang tuan kami maka bersiaplah panti asuhan tempat kau di besarkan dulu yang akan menanggung akibatnya!!" Mereka lalu meninggalkan Jonathan sendiri.


"Mas...lihat...Niko sudah pandai melangkahkan kakinya..." Mira tampak sangat bahagia saat putranya sudah bisa berdiri dan melangkah satu dua langkah.


Mira tampak menggendong Miko yang sedang sakit. Jatmiko sejak bayi memang sering sakit-sakitan. Fisiknya memang tidak sekuat Niko. Bahkan terkena angin sedikit dia langsung pilek.


"Mas, adek titip Niko sebentar ya...Miko mau adek tidurkan di kamar dulu


Sambil menjaga Niko bermain, pikiran Jonathan terus berkecamuk.


"Apa yang harus aku lakukan ya? Aku tak ingin berpisah dari keluargaku tapi aku juga tak mau anak-anak panti menjadi korbannya."

__ADS_1


***Bersambung...


Dukungannya ya readers untuk karya author receh ini...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2