
Jarak dari gerbang ke dalam istana kecil milik keluarga Riko sedikit jauh. Di halaman rumah mereka yang luas sepanjang jalan di tanami pohon cemara yang di hiasi oleh lampu kelap-kelip.
"Kok sepi ya? hanya ada satpam yang menjaga di gerbang luar saja!!" gumam Riko. Hatinya sejak tadi sudah tak enak tapi dia mencoba untuk berpikir positif saja.
Setibanya di pintu teras Riko menekan bel berkali-kali, karena tak ada yang membukakan pintu untuknya, akhirnya dia masuk saja karena pintu itu tidak terkunci.
"Mungkin ibu masih di rumah sakit sedang menunggu ayah!!" begitu pikir Riko.
"Tapi rumah kok sepi banget? pelayan pada pergi kemana?" pikirnya lagi.
Akhirnya dia terus naik ke kamar pribadinya di lantai 3 dengan menggunakan lift. Dibukanya pintu kamar itu, tak ada yang berubah dari posisi barang, warna dinding semua persis seperti bertahun-tahun lalu saat dia pergi meninggalkan Kuala Lumpur untuk kembali ke Indonesia dan akhirnya menetap di rumah lama mereka.
Karena perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya dia jatuh tertidur.
Riko terbangun saat jam menunjukan pukul 20.00 waktu Malaysia.
Dia berniat mau turun ke lantai 1 mau mengambil makanan karena perutnya terasa perih.
Ceklek...ceklek
"Lho...lho...kenapa pintu ini ngga bisa dibuka ya? apa ada yang menguncinya dari luar?" Riko mulai panik lalu menelpon ke lantai dasar siapa tau para maid sudah ada.
"Ya tuan muda, maaf...pintu kamar tuan muda memang kami kunci dari luar atas perintah tuan dan nyonya besar...untuk makanan dan baju ganti akan kami antar ke kamar tuan muda!!"
Klik...telepon terputus!!
"Gila...apa maksud ibu dan ayah aku dikurung di kamarku sendiri sih?" akhirnya berbagai spekulasi buruk bermunculan dari otaknya.
Lalu dia meraih ponselnya di atas nakas mau menelpon ke Indonesia.
"Hah??? kenapa tak ada satupun nomor di ponselku ini? semuanya terhapus? terus bagaimana aku mau menelpon anak dan istriku di Indonesia?" Riko mulai resah dan gusar
"Ya Allah...apa maksud kedua orang tuaku ini sebenarnya?" Riko terduduk lemas di atas pembaringan.
"Sayang...bagaimana caranya papah menelponmu? sedangkan di ponsel ini, tak ada satu nomorpun yang tersisa semuanya sudah terhapus...tampaknya ponselku inipun di restart ulang.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, lalu muncullah ibu yang masuk dengan didampingi ayah yang nampak sangat segar bugar tak kurang suatu apapun.
Aku melotot memandang kearah mereka berdua.
__ADS_1
"Kata ibu, ayah sedang dirawat diruang ICU...kenapa sekarang sudah berkeliaran di sini?" tanyaku.
"Kalian berdua menipuku?" suaraku terasa tercekat di tenggorokan.
Ibu memandangku dengan iba dan penuh rasa bersalah, sedangkan ayah memandangku dengan tatapan dan senyuman penuh kemenangan.
"Apa maksud ini semua ayah...ibu?? tolong jelaskan pada Riko, mengapa ibu bilang ayah masuk dan dirawat di ruang ICU? padahal ayah segar bugar seperti ini? apa kalian berdua sengaja menipuku?" Riko mengajukan pertanyaan dengan gencar dan juga kesal.
"Riko, ibu..."
Intan Anggraini istri pak Baskoro tak sanggup untuk meneruskan kalimatnya. Rasa bersalah terua menghimpit dadanya.
"Iya, ayah dan ibu menipumu agar kamu mau pulang ke rumah meninggalkan istri yang sepatutnya menjadi tantemu itu...dia tak pantas untukmu, ayah sudah punya rencana untuk menikahkanmu dengan putri pakcik Gunawan, mereka selevel dengan kita!!" kata pak Baskoro.
"Apakah ayah sudah gila? Riko sudah menikah dengan Sania, terlepas dia seharusnya menjadi tante atau bukan, itu bukan urusan kalian, kami berdua saling mencintai satu dengan yang lain, bahkan sekarang istri Riko tengah hamil 4 bulan dan kalian malah mengarang sandiwara receh ini untuk menipu Riko? keterlaluan kalian ini, jauh-jauh Riko datang dari Indonesia karena mengira ayah benar-benar sedang sakit tetapi ternyata kalian semua sekongkol untuk menipuku."
"Jika tau kejadiannya seperti ini, Riko tak akan sudi menginjakan kaki kemari meninggalkan keluarga yang sangat Riko cintai."
"Ayah tidak mau tau, Riko!! kalian berempat...jaga kamar ini jangan sampai tuan muda kalian keluar dari kamar ini dan kabur melarikan diri, jika itu sampai terjadi maka kepala kalian berempatlah yang akan menjadi taruhannya, mengerti?" Baskoro membanting pintu dengan kesal dan menguncinya kembali dari luar.
Riko kembali terduduk lemas. Rasanya seluruh persendian di tubuhnya terasa tak berfungsi lagi. Dia menjambak rambutnya sendiri.
Ingatannya kembali pada beberapa tahun lalu jika dia nakal dan dikurung ayahnya dalam kamar.
Cetek...Riko menjentikkan jari tangannya.
"Aku ingat, aku pernah menyembunyikan seutas tambang yang dulu biasa aku gunakan untuk kabur dari kamar."
Dia berdiri lagi dengan semangat dicarinya tambang itu di laci bagian belakang springbed berukuran king size itu.
"Yes...ternyata ibu dan ayah tidak tau bahwa aku masih menyimpan seutas tambang di sini!!" Riko sangat senang, dia berencana kabur malam itu juga.
Dengan semangat dia memakan makan malamnya agar kuat menuruni tambang kelantai dasar untuk melarikan diri.
Dia tidak membawa semua bajunya. Diperiksanya isi tasnya ternyata masih utuh, mereka hanya menghapus semua data di dalam ponselnya.
Riko mengikatkan tambang pada pilar di balkon kamarnya. Setelah dirasa cukup kuat, Riko mulai turun perlahan setelah sebelumnya dia mengambil terlebih dahulu kunci motor kesayangannya.
Dia berhenti bergerak saat penjaga berkeliling dan melanjutkan lagi saat suasana sudah sunyi kembali.
Perlahan di bukanya garasi besar itu. Dia mengedarkan pandangan matanya mencari motor yang telah setia selama bertahun-tahun menemaninya.
__ADS_1
Setelah menemukannya, perlahan dia mengeluarkannya membawa sedikit lebih jauh dari halaman dan mulai menyalakannya.
Sementara itu...
Ceklek...
"Tuan muda??? tuan besar ingin bicara dengan anda..." kata pengawal itu.
"Kok sepi ya??? kamar tuan muda Riko gelap lagi!!" kata teman yang satunya.
Salah seorang dari mereka menyalakan lampu dan ternyata...
Kosong...
"Alamak...mampus kita, tuan muda kabur menggunakan tambang yang diikat di pilar itu." tunjuk salah dari mereka kearah jendela yang terbuka dan korden yang melambai tertiup angin.
"Cilake...cilake habislah kita punya leher?" seru mereka lalu lari membunyikan alarm.
Seluruh penghuni rumah heboh dengan kaburnya Riko.
"Kejar...jangan sampai dia lolos...tutup dan kunci semua gerbang, cek semua cctv jika dia berhasil kabur, bawa kembali anak bandel dan badung itu." teriak pak Baskoro.
Sementara Riko yang telah mencapai gerbang begitu melihat gerbang mau ditutup, dia langsung melajukan motornya sepersekian detik sebelum gerbang itu ditutup, Riko sudah berhasil keluar dari sana.
Gerbang terbuka kembali. Beberapa mobil meluncur mengejar Riko yang melaju dengan motornya.
"Ayah...apakah tindakan kita ini tidak keterlaluan dan tidak membahayakan putra kita?" tanya Intan dengan berurai air mata.
"Sebaiknya ibu diam saja dan masuk ke dalam." Sentak pak Baskoro pada istrinya.
*
*
***Bersambung...
Aduh🙄🙈🙈 bagaimana nasib Riko selanjutnya ya???
Ikuti terus kelanjutan ceritanya detik-detik akhir dari kutukan cinta ya guys😊😊
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenya 🙏🙏
__ADS_1