Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 88 Bagai Menggenggam Bara Api


__ADS_3

"Aduh...pagi-pagi berisik apa sih di luar sana?" Aku yang sedang mempersiapkan baju kerja Miko jadi kaget.


"Juned...ada apa berisik pagi-pagi, nak? Aku menyapa Juned yang berdiri di depan pintu kamar sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.


"Anu bun...tante itu tadi teliak-teliak bilang kalo ada penculi ke bibi...padahal bibi mau buka kolden jendela depan dan belsih-belsih."


Kuhampiri Alena yang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Alena...ini bibi yang bantu-bantu di sini dan bukan pencuri..."


"Ya maaf kak, Alena tidak tau..."


"Ada apa sih ribut-ribut bun? Sampai terdengar ke kamar mandi."


"Bang...maafin Alena, ya? Tadi Alena dimarahi kak Sania..." Dia bergelanyut manja di lengan Miko yang hanya memakai handuk.


"Heh...heh...apaan sih, Alena? Ntar handuk abang lepas nih..."


"Emang bener bunda marahin Alena?"


"Haduh yah...Alena ini kan mengerti bahasa Indonesia, dia tahu bagaimana bahasa marah dan bahasa yang sekedar menasehati saja."


"Dia lho...pagi-pagi sudah meneriaki bibi jadi maling...tuh Juned sendiri yang tau karena dia pas berdiri di depan pintu kamar."


"Jadi Alena bunda nasehati kalau bibi itu bantu-bantu di sini dan bukan maling...kok di bilang di marahi."


Alena tampak cemberut mendengar Miko tidak memarahiku.


"Bi...maaf ya, ini Alena anaknya paman Leon yang menjaga rumah kakek di Singapura."


"Dan Alena ini...dan Alena ini istri kedua pak Miko, bi..." Aku menambahkan.


"Apa bu?" Bibi sampai mengulang kembali pertanyaannya.


"Alena istri bang Miko, bi..." Alena menjelaskan.


Bibi melirik padaku. Dilihatnya wajahku yang mulai suram. "Ohhh" Hanya itu yang bisa dikatakan bibi.


"Bapak sudah tau kalau ibu sedang hamil muda, pak?" Kali ini Alena yang cemberut mendengar perkataan bibi.


"Alhamdulillah sudah bi, dan saya senang banget...akhirnya saya bisa menjadi seorang ayah."


"Lho...anaknya abang baru mau satu ini...kupikir tiga anak kak Nia itu, adalah anak kandung abang?:


Suasana sudah mulai tak menyenangkan. Kulihat raut wajah istriku sudah mulai ngga enak untuk dipandang. Apalagi walaupun berkali-kali kulepas, tapi tangan Alena selalu bergelanyut manja di lenganku.


"Iya...Alena, mereka anak dari suami Nia yang pertama, tapi abang sangat mencintai mereka bertiga seperti anak abang sendiri walaupun abang hanya ayah sambung untuk mereka."

__ADS_1


"Sudahlah abang mau bersiap dulu, Juned sama kak Dina tunggu ayah di luar, ya...kita berangkat ke sekolah bareng ayah dan bunda."


"Bang...kalau abang kerja, Alena pasti kesepian...minta uangnya dong bang, biar Alena bisa jalan-jalan supaya ngga bosan di rumah terus."


Bibi terdiam dan membatin. "Istri kedua tapi lagaknya mengalahkan ibu...ibu aja ngga pernah kudengar minta uang di depan bibi."


"Nanti ya Alena, kan kamu liat abang cuma pakai handuk begini, uangnya ada di dalam kamar."


"Alena ikut masuk ke kamar ya, bang...kan Alena istri abang juga."


Kulihat tampang istriku sudah merah padam. "Aduh...Alena ini bikin aku ribut lagi dengan Nia, baru semalam aku bisa menenangkan amarahnya...kini dipancing supaya marah lagi."


"Tunggu saja di luar Alena...abang mau pakai baju dulu."


Tanpa menunggu lagi, kulepaskan pegangan tangannya dilenganku lalu aku menarik istriku masuk ke kamar.


"Bunda...bunda..." Kulihat istriku diam saja."


"Bunda sayangnya ayah..."Aku memeluknya, "Harap dimaklumi ya...Alena memang sangat manja dengan ayah."


Aku diam saja...setelah menyiapkan keperluan suamiku, aku lalu keluar.


"Bun...kok ayah ditinggal sendiri sih? Bunda mau kemana?"


"Mau manggil Alena supaya dia belajar melayani ayah juga, jadi kalau bunda ngga ada nanti, dia sudah terbiasa melakukan semua."


"Ngomong apa sih, bun? Ayah ngga mau sama yang lain, ayah hanya mau bunda yang selalu menyiapkan keperluan ayah dan melayani ayah."


"Juned, Syifa, Dina kalian sudah sarapan? kalau sudah kita berangkat sekolah."


"Lho tadi kata ayah barengan ke sekolahnya..." Kata Dina.


"Biar bunda aja yang ngantar pakai motor, Dina...biar cepat sampai."


"Ibu ngga nunggu bapak sarapan dulu?" Bi nah membawa roti bakar dan jus untuk Miko.


"Ngga usah, bi...sekarangkan sudah ada istri barunya bapak, biar dia saja yang melayani."


"Di rumah ini sudah sangat panas bi, seperti menggemggam bara api saja layaknya."


Bibi hanya geleng-geleng kepala. Dia memandangku dengan rasa prihatin.


"Kasihan ibu, mestinya keluarga mereka berbahagia karena ibu sedang mengandung anaknya bapak...tapi dengan adanya kehadiran orang ketiga...." Bi nah tidak melanjutkan ucapannya.


Miko dan Alena bersamaan tiba di meja makan. "Bi, kok sepi...ibu sama anak-anak kemana? kok belum ke meja makan?"


Bi nah terdiam sejenak. "Anu pak, ibu sama anak-anak sudah berangkat 10 menit lalu."

__ADS_1


"Lhoh...ibu mau kemana pagi-pagi gini?"


"Kata ibu, mau mengantar anak-anak sekolah pakai motor."


"Apa??? Ibu itu kondisinya masih belum sehat betul lho, bi...kemarin sore aja bayi kami hampir keguguran."


"Aduh...ya saya ngga tau pak!!! Saya pikir ibu sehat-sehat aja..."


Miko tidak jadi sarapan, dia mengambil ponselnya dan segera menelpon.


"Aduh...ngga diangkat lagi sama bunda, mungkin masih dijalan kayaknya."


"Ya sudah, saya berangkat ke kantor aja bi, sarapan di sana aja."


"Alena, abang cuma punya lima juta aja yang ada ditangan...ini tadi yang kamu minta, dihemat ya...Nia aja jarang minta uang ke abang."


"Abang ngga jadi sarapan?"


"Abang sarapan di kantor aja, abang sudah ngga lapar lagi jadinya."


"Ish...gara-gara kak Nia kan...gagal deh sarapan berdua!!" Alena mengomel. Sementara bibi hanya tersenyum mengejek.


"Emang enak...di cueki!!!"


"Bun...kenapa kok tumben antar Dina sekolah? Biasanya ayah yang mengantar Dina terus bunda sama Syifa mengantar Juned...kan bunda harus putar arah lagi, jadinya."


"Bunda sumpek di rumah, Dina...bawaannya mau marah...aja."


"Karena ada wanita yang katanya istri barunya ayah itu ya, bunda!!"


"Sabar ya, bunda..." Dina memelukku dari belakang.


"Syifa ini masih ngantuk lho, bunda...tumben Syifa diajak pelgi juga ke sekolah?"


"Supaya Syifa ngga bete di rumah sendirian.."


"Nanti Dina pulang siapa yang jemput, bun? Ayah atau bunda lagi..."


"Bunda aja, Dina..." Dina hanya mengangguk saja.


Tak ada ketenangan dan kenyamanan lagi rasanya di rumah. Biasanya dulu rumahku adalah surgaku...aku selalu rajin membersihkan rumah dan taman belakang. Apalagi semenjak aku resign dari pekerjaanku. Tapi sekarang?


"Bun...kita mau pelgi kemana lagi? ngga langsung pulang ajakah? Syifa masih ngantuk, bun!!"


"Kita pergi ke rumah tante Tini yuk, Syifa...sudah lama kita tidak main ke sana!!!"


"Ayok, bun..." Syifa dengan semangat menerima ajakanku.

__ADS_1


***Bersambung...


Happy reading...mohon selalu dukungannya ya, teman-teman...like, komen, vote dan favoritenya...semoga ngga bosan mampir di cerita novelku. Terima kasih...🙏🙏🙏***


__ADS_2