
"Assalamualaikum...halo pak...bibi liat ibu dan anak-anak terus sama teman-teman ibu kayaknya, lagi belanja di supermarket."
"Waalaikum salam...bibi ngga salah liatkan? Di supermarket mana, bi?"
"Itu yang dekat lampu merah, pak!!"
"Ikuti aja terus bi, ini saya segera meluncur ke sana."
Dengan hati berbunga-bunga Miko segera keluar dari ruangannya.
"Vi...jika ada yang cari saya, bilang saya lagi keluar untuk makan siang."
"Siap bos..." Evi mengacungkan jempolnya.
Dia yang bekerja sebagai sekretaris Miko, sedikit banyak tau tentang masalah yang dialami atasannya. Makanya setiap kali Alena mencari Miko ke kantor, dia selalu berusaha menjauhkan Alena dari Miko...sesuai dengan perintah bosnya.
Miko tiba tepat waktu di saat bibi menelponnya.
"Kemana mereka bi?"
"Mereka sedang makan di restaurant pasifica yang dekat pantai, pak!!"
"Ayo ikut bi, kita bujuk ibu agar mau kembali pulang ke rumah bersama kita."
Aku dan anak-anak duduk membelakangi pintu masuk. Di sebelahku duduklah Sultan. Di depanku duduk Wati, Tuti dan Tini menghadap pintu.
"Ssttt...bukannya itu Miko suaminya Nia, ya!!" Tini menunjuk dengan isyarat bibirnya kearah pintu masuk.
Mereka bertiga berbisik-bisik. Aku jadi bingung dengan perubahan sikap mereka yang tiba-tiba diam.
"Ssttt Nia...suamimu..." Kata Tuti.
"Bun..."
Aku duduk tegak seperti patung mendengar suara yang tepat berada di belakangku.
Aku sama sekali tak ingin bertemu dengan pemilik suara itu lagi...kenapa dia tiba-tiba bisa berada di sini?"
Juned menoleh terlebih dahulu. Begitu dia melihat siapa yang datang, wajahnya jadi sumringah.
"Ayah..." Teriaknya keras!! Sampai banyak orang berpaling pada kami, tak terkecuali Sultan. Dia ikut menoleh ke belakang.
Seorang pria berkulit putih dengan bola mata berwarna hazel berdiri tepat di belakangku.
"Itukah laki-laki yang bernama Miko? Tampan sekali...aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia." Sultan membatin.
"Bun...pulanglah bersama ayah dan anak-anak."
__ADS_1
Aku diam tak bergerak. Bahkan saat Juned dan Syifa memeluk Miko dengan rasa sayang.
Dia menyentuh pundakku. Dan dengan reflek aku menepis tangannya. Tapi dia tidak putus asa, sekarang bukan hanya menyentuh tapi dia memelukku dari belakang.
Sontak aku kaget..."Lepas..."Kataku, "Atau aku akan berteriak."
"Ayah tidak peduli, bun...walaupun ayah harus digebuki orang satu mall, ayah tak akan melepaskan pelukan ayah."
Mereka semua diam membisu tak tau harus berbuat apa.
Lalu Miko beralih pindah ke depanku dan bersujud tepat dihadapanku.
"Maafkan ayah bun..." Dia menggenggam erat-erat kedua tanganku.
Sebenarnya aku ingin memaafkan, karena aku bukanlah tipe wanita pendendam, tapi mengapa setiap kali mengingat kejadian malam itu, hatiku terasa remuk redam?
"Bunda...tolong maafkan ayah..." Tiba-tiba Juned ikut memohon padaku.
Aku melirik kearah Sultan yang juga tengah menatapku.
Wajahnya muram, semburat keceriaan yang tadi selama bersama kami mendadak sirna.
"Aku akan memaafkanmu tapi jangan paksa aku untuk kembali ke rumah itu lagi."
"Jika bunda tak mau kembali kesana, maka ayah yang akan ikut ke tempat tinggal bunda sekarang."
"Ayah tidak peduli walaupun harus tidur di kolong jembatan atau di bawah pohon pisang sekalipun, seperti kata bunda waktu itu."
Otomatis aku mendelik kearah Miko. "Ngga...ngga...untuk apa ikut tinggal bersama kami?"
"Kenapa bun? Ayah masih suami bunda yang sah...dan ayah tidak akan menceraikan bunda walau bagaimanapun."
"Atau karena sudah ada dia?"
Aku tersentak begitu pula dengan Sultan yang ditunjuk oleh Miko tepat di depan hidungnya.
"Apa-apaan sih? Jangan libatkan Sultan dalam masalah kita."
"Oh namanya Sultan? Hei Sultan, kuperingatkan padamu...jangan sekali-sekali kamu berniat mendekati istriku..."
Aku berdiri dengan kesal..."Jika kamu terus menerus bersikap seperti ini, maka aku akan semakin membencimu, Miko!!"
"Sekarang begini saja...aku dan anak-anak tetap tidak mau kembali ke rumah itu, karena kami sudah memiliki rumah sendiri."
"Rumah kami memang sederhana, tapi kami berempat bahagia tinggal di dalamnya."
"Aku dan Dina juga bekerja di kafe milik Sultan...kami tidak membutuhkan uang darimu lagi.
__ADS_1
"Oke...atas permintaan Juned barusan, aku tidak keberatan kamu berkunjung ke rumah kami, tapi tidak untuk tinggal bersama kami lagi."
"Kamu tinggal saja bersama Alena...mestinya kamu bersyukur aku dan anak-anak pergi dari rumah itu, jadi tidak ada lagi yang akan menghalangi kebahagiaan kalian berdua."
"Bun...kebahagiaan ayah hanyalah bunda dan anak-anak...bukanlah Alena."
"Oke ayah setuju dengan keinginan bunda, ayah tidak akan memaksa bunda untuk tinggal bersama ayah, tapi bunda juga tidak bisa melarang ayah untuk sering berkunjung ke rumah bunda."
"Terserah kamu sajalah...aku sudah pusing untuk membahas masalah itu ke itu saja."
"Dan sekali lagi, tolong jangan libatkan orang lain apalagi Sultan dalam masalah rumah tangga kita." Kataku dengan ketus.
"Sekarang ayo ayah antar pulang, sekalian ayah mau tau bunda dan anak-anak tinggal di mana sekarang."
Aku memandang dulu pada ketiga sahabatku dan juga Sultan. Mereka memberi isyarat agar aku mengiyakan permintaan Miko.
Dengan terpaksa aku mengikutinya karena tanganku terus digandengnya. Sementara anak-anak ikut di mobil Wati.
Aku duduk di dalam mobil dengan muka masam, sementara Miko duduk di belakang kemudi.
"Kenapa kamu terus memandangku seperti itu? Kamu membuatku muak, tau!!!"
"Memang siapa yang bisa melarang? Toh ayah memandang istri ayah sendiri!!"
"Kamu pandang saja Alena sampai jelek sana...dia cantik, masih muda...ngga ada untungnya kamu memandangku yang buruk rupa ini...yang hamil tanpa tau ini anak siapa...begitukan katamu tempo hari?"
Miko menarik napas panjang. "Ayah sudah tidak mempersoalkan lagi itu anak siapa, bun!! Bagi ayah sekarang, bunda itulah yang terpenting."
"Tanpa bunda di samping ayah, ayah bagaikan kapal tanpa nahkodanya...terombang-ambing di bawa angin."
"Katanya mau pulang, kenapa masih drama aja di sini?"
Miko menggenggam tanganku. Aku hanya diam saja memandangi tanganku yang digenggam olehnya. Karena percuma saja kutepiskan, pegangannya malah akan semakin erat di tanganku.
Dikecupnya tanganku berulang kali dengan penuh kasih sayang. "Ayah kangen banget sama bunda..."
Aku membuang pandanganku keluar jendela. Sekeras apapun hatiku, sesakit apapun perasaanku, jujur aku juga sangat merindukannya.
Entah karena bawaan anak dalam kandunganku yang seolah mempunyai dua kepribadian yang berbeda. Terkadang aku sangat membenci Miko, tapi secara tiba-tiba, aku bisa saja jadi sangat merindukannya.
Seperti sekarang ini, berkali-kali aku berkata kasar padanya, tak lagi memanggilnya ayah seperti dulu, tapi Miko tetap menghadapi sikap kerasku dengan segala kelembutan dan kesabarannya seperti dulu.
"Bun...jangan larang ayah untuk datang menjenguk bunda dan anak-anak setiap hari ya...Ayah tidak mau pada akhirnya si Sultan itu menggantikan kedudukan ayah di samping bunda."
"Kalau sampai hal itu terjadi, akan ayah bunuh si Sultan itu."
Aku mendelik padanya...tapi dia seolah tak peduli tetap saja mengecupi tanganku dan membawanya ke pipinya.
__ADS_1
***Bersambung...
Happy reading...selalu tak bosan untuk meminta dukungannya...like, komen, vote dan favoritnya, agar author receh ini tetap semangat untuk update...terima kasih🙏🙏🙏