Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 65 Aduh....


__ADS_3

"Ayah...kepala bunda agak pusing...bisakah bunda istirahat sebentar di dalam?"


"Mau ayah antarkah ke dalam, bun?"


"Ngga usah yah...ngga enak sama tamu-tamu undangan."


Aku masuk cepat-cepat, takut Sofwan sempat melihat ke arahku.


"Aman....dia ngga ada...syukurlah..."


"Bruk....aduh...kalau jalan liat-liat dong...kepalaku sakit tau..." Aku meringis saat kepalaku berbenturan dengan seseorang.


"Maafkan saya mbak Nia yang cantik, saya tidak sengaja!!"


"Aduh...mampuslah aku..." Aku mengeluh dalam hati!!


Aku mau masuk ke rumah untuk menghindari dia, kok malah ketemu di lorong samping rumah?


Rupanya tadi dia tidak kelihatan, habis dari toilet. Pas aku masuk dia mau keluar. Di sinilah kami bertabrakan.


Dia tersenyum memandangku dan menatapku lekat.


Aku jadi grogi juga takut...dia bukan lagi mas Sofwan yang ku kenal dulu.


"Saya mau masuk ke dalam mas...saya agak pusing."


"Ohh...mau saya antar ke dalamkah?" Dua lesung pipitnya terlihat semakin dalam saat dia tersenyum.


"Ti...tidak usah...saya bisa sendiri kok..."


Dengan cepat aku berlalu meninggalkannya yang tersenyum memandangku penuh arti.


"Jutek...Cuek...tapi cantik dan manis...sifatnya itu mengingatkanku pada seseorang...tapi aku tak bisa mengingatnya."


Aku berusaha menahan debaran jantungku...setengah berlari aku masuk ke rumah.


"Mamak kenapa? Kok seperti orang ketakutan begitu?" Dina menyapaku di dapur.


"Din...jaga adik-adikmu jangan sampai keluar...karena di luar ada bapakmu!!"


"Serius mak...bapak sudah sembuh kah?"


"Belum, Din...bapakmu parah sekarang...dia malah mau mengejar-ngejar mamak."


"Ngejar-ngejar gimana, mak? Dina ngga ngerti, bapak lari-lari gitukah?"


"Aduh..nanti aja mamak jelaskan ya...sekarang kita ke kamar aja yuk!!"


"Din...mungkin Syifa sudah lupa dengan wajah bapakmu...tapi mamak yakin, Juned masih ingat, secara adikmu itu punya ingatan yang sangat kuat."


Di kamar Syifa dan Juned sedang pulas tertidur. Mungkin karena bangun ke pagian tadi lalu juga kecapean.


"Syukurlah...mereka tidur, kalau ngga bakal ribut mereka."


"Kan mamak dan bapak sudah lama bercerai...ngapain mamak takut sama bapak? Lagian bapak sudah punya istri baru, dan mamak juga sudah menikah dengan ayah Miko."

__ADS_1


Kupandangi Dina dengan ratusan kata-kata yang meluncur mulus dari mulutnya. Sepertinya dia menurun pinter ngomong dari bapaknya.


"Mamak hanya ngga mau cari masalah, Dina..."


"Tadi ayah berpesan, bisakah kalian mengganti panggilan mamak dengan bunda? Karena kata ayah Miko, panggilan mamak itu sewaktu kita masih bersama dengan bapakmu dulu."


"Nanti akan Dina ajarkan pelan-pelan sama adik-adik."


Cukup lama aku dan Dina mengobrol ketika Miko menelponku.


"Bun...para tamu banyak yang mau pamit pulang...bunda keluar sebentar gih...?"


"Dina jaga adik sebentar, bunda mau keluar dulu ya!!:


'Iya mak...Eh...Bunda..."


Aku berdiri di samping Miko. Mereka menyalami kami dan mengucapkan semoga kami menjadi keluarga yang samawa.


Pak direktur dan rombongan dari kantorpun sudah pamit, termasuk juga Sofwan. Aku bisa bernapas lega sekarang.


Aku memang sengaja tidak menceritakan kepada suamiku tentang pertemuanku tadi dengan Sofwan di lorong samping rumah.


Aku tidak mau dia berpikiran yang aneh-aneh.


*


*


"Pah...kok kayaknya hari ini bahagia banget...senyum-senyum terus mamah liat dari tadi."


"Mamah ikut senang kalau liat papah senang begini."


"Pah...perut mamah ini kadang terasa mules.:


"Belum waktunya mau melahirkan kan, mah?"


"Kan menurut perkiraan dokter, bulan depankan, pah?"


"Makanya mamah itu hati-hati...ngga usah lagi terlalu bekerja yang berat-berat."


"Ah...semestinya aku tak pantas memikirkan wanita lain, wanita yang telah bersuami pula."


"Sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah, mestinya aku harus fokus pada istri


dan calon bayiku."


"Tapi mengapa sih aku selalu terbayang pada senyumannya yang manis itu...pada tatapan matanya yang menatapku dengan penuh ke cemasan...tapi justru dia terlihat sangat mempesona bagiku."


"Semakin dia berusaha menghindariku, semakin aku penasaran padanya...kenapa dia seperti takut padaku?"


"Entah mengapa, setiap dekat dengannya aku merasa tenang, aku merasa bahagia banget...aku merasa jantungku ini berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya."


"Darahku juga sering berdesir jika dekat dengannya."


"Aku pernah merasakan perasaan yang sama, dulu....sekali, lalu perasaanku mendadak mati...yang ku rasakan hanya kehampaan belaka."

__ADS_1


"Ah...sudah lah...aku harus fokus ke Anggita dan bayiku, dia istriku...dia mengandung bayi darah dagingku. "


Aku tidak mau melukai perasaan Anggita dan keluarganya yang sudah begitu baik padaku."


Sementara di kamar, Anggita berbaring menatap langit-langit kamarnya.


"Pah...terkadang mamah itu masih merasa cemburu dengan istri pertama papah."


"Sepertinya, papah belum bisa sepenuhnya melupakan dia."


"Entah hanya perasaan mamah aja yang selalu sensitif, atau gimana...mungkin karena mamah terlalu sayang pada papah."


"Sebenarnya aku tuh penasaran...seperti apa istri pertamanya dulu? Walaupun dia amnesia, walaupun waktu itu dia tidak bisa mengingat keluarga dan masa lalunya,tapi dari matanya dia terlihat masih begitu memujanya."


"Terlihat pada saat dia selalu menanti dan menunggu, walaupun yang dinanti tak kunjung datang...dia hanya mengingat berdasarkan janji yang diucapkan mantan istrinya yang akan datang menjemputnya."


"Lho...Kok belum tidur, mah...istirahatlah, nanti mamah sakit lho!!"


"Ayo papah temani sampai mamah tertidur..." Sofwan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


*


*


"Ayah kok senyum-senyum gitu?"


"Mau nagih janjinya bunda tadi pagi...kan tadi pagi bunda janji mau kasih jatah kalau sukses dan lancar baca ijab kabulnya."


"Oh iya ya...bunda lupa..." Aku nyengir aja.


"Ngga usah cari alasan deh bun...jangan pura-pura lupa."


"Ayah sudah minta buatkan bibi jamu kuat tadi...biar kuat tempur kapan perlu sampai subuh."


Aku diam saja...aku tau harus menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri, aku jadi terbayang malam pertamaku dengan mas Sofwan dulu.


Kita yang sama-sama bodoh dan ngga ngerti mau ngapain...sama-sama ngga tau harus mulai dari mana...akhirnya mas Sofwan yang main nyosor aja.


Aku waktu itu sampai menjerit kesakitan, saat mas Sofwan main coblos sekuatnya. Alhasil...habis telinganya ku jewer sampai merah semua.


"Kenapa sekarang bunda yang senyum-senyum? Lagi memikirkan mau pakai gaya apa ya nanti."


"Ihhh....apaan sih yah...emang harus malam ini ya, yah..."


"Harus...pokoknya ayah ngga mau tau...sebab badan ayah sudah panas semua, ini kayaknya jamu kuat dari bibi mulai bereaksi deh bun!!"


Aku melirik ke bawah...sesuatu yang biasanya dia tutupi dengan celana panjangnya...sekarang hanya tertutup handuk dan sudah lepas dari pinggangnya.


"Aduh...aku ngga tau kalau punya Miko bisa sebesar dan sepanjang itu...sanggup ngga aku ya..." Aku bergidik ngeri sendiri.


"Ayo bun...ayah sudah ngga tahan nih...siap-siap ya bun, pokoknya ngga ada alasan lagi mau menghindar kali ini.


***Bersambung....


"Hayo...Gimana nasibnya Sania kali ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya...Vote dan favoritenya jika berkenan...Happy reading๐Ÿ’–๐Ÿ’–***


__ADS_2