Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 263 Takdir Cintaku 2


__ADS_3

"Tapi bu...!!" kata Riko pelan.


"Sudahlah kamu beristirahat saja biar ibu yang menunggu istrimu."


Dengan langkah gontai Riko meninggalkan ruangan ICU itu menuju mobilnya untuk pulang ke rumah.


Riko terpaku di dalam kamar mereka.


"Inikah saatnya?? saat takdir cintaku yang bicara??" Riko menghapus kasar air mata yang membanjiri pipinya yang telah ditumbuhi bulu-bulu kasar.


Diambilnya foto pernikahannya dengan Sania tiga tahun yang lalu.


"Begitu banyak cerita yang terukir tentang perjalanan cinta kita ya, mah!!" bisik Riko sambil jarinya mengusap wajah cantik yang mengenakan hijab putih dan kebaya putih di foto itu.


"Besok mamah akan dioperasi caesar...semoga mamah bertahan ya, mah!!! janji ya mamah bertahan untuk papah...janji jangan tinggalin papah ya mah...!!" Riko terisak pilu.


Berita penculikan Raftar putra Sania dan Riko, penangkapan otak si penculik sampai penembakan Sania cepat tersebar.


Restoran tempat mereka bekerja hari ini tutup karena karyawannya ingin memberi suport pada Sania yang akan dioperasi.


Hans bersama karyawan lainnya sudah tiba di rumah sakit, begitu pula Niko, Jonathan dan Alena ikut untuk menjenguk Sania, tak lupa ketiga sahabat terbaik Sania pun ikut memberi dukungan.


"Riko tenanglah...jangan kamu mondar mandir begitu, pusing ibu melihatnya kata ibu Intan sambil menggendong Raftar.


Sementara si kembar ikut dengan kakek dan paman Niko serta Juma dan Nathan.


Oek...oek...oek


"Alhamdulillah..." kata mereka semua yang ada di situ.


Dokter keluar dari ruangan menemui para keluarga pasien.


"Suami ibu Sania yang mana??" kata dokter yang membantu persalinan Sania.


"Saya dokter!!" kata Riko.


"Silakan di adzani pak, putrinya!!" katanya.


"Dokter bagaimana keadaan adik saya??" tanya kak Della cemas.


"Ibu Sania masih belum sadarkan diri bu, kalian berdoa saja semoga ibu Sania mampu melewati masa-masa kritis ini!!"


"Amiin!!" serentak mereka mengaminkannya.


Sania sudah dipindahkan keruang ICU. Seperti awalnya semua alat bantu pernapasan dan monitor terpasang memenuhi tubuh ringkihnya.


******


"Dek...bawa kemari embernya???" teriak Sofwan dari ruang tengah.


"Tapi di sini bocor juga, mas!!" teriak Sania dari dalam kamar.


"Dina...Juned...bantu bapak untuk menampung airnya, ya???" kata Sofwan.


"Siap pak!!" kata mereka berdua serempak.


"Syifa....Dina??? adiknya merangkak kearah ember!!!" teriak Sofwan.


"Aduh mas...kalau setiap malam hujan terus begini, bakalan kita ngga bisa tidur, deh!!" Sania menggerutu.


"Sabar sayang....nanti kita cari rumah sewaan yang agak bagus yang atapnya ngga bocor begini!!" kata Sofwan menghibur Sania.


"Walaupun tidak bagus tetapi tidak membuat kita repot setiap hujan begini!!" kata Sania memandang atap tua yang sudah bocor di mana-mana!!


*******


"Yah??? ngapain sih dipojokan parit begitu??" teriak Sania saat melihat Miko nongkrong dipojokan sambil menutup mulut dan hidungnya dengan masker.


"Bunda aja yang makan di situ, ayah di sini aja....ngga tahan cium aroma bawang gorengnya!!" teriak Miko semakin merapatkan maskernya.


"Bu, suaminya ngidam tuh!!" kata penjual mie ayamnya.


"Dia itu ngga ngidam pak, dia cuma lebay aja..." kata Sania sambil makan sambil tertawa mengekeh geli melihat kelakuan Miko.


"Nah...nah...sekarang gantian kan?? emang enak???" gantian Miko yang mentertawakan istrinya.


"Yah, aromanya nusuk banget...kayaknya bunda ngga tahan deh!!!"


"Ngga tahan apa, bun??" goda Miko.


"Ngga tahan pengen muntah, yaahhh!!" teriak Sania kesal pada suaminya.


******


"Sultan..."


"Sania...."


Ehem...ehem...

__ADS_1


"Sudah dong tatap tatapannya!!" goda Tini pada adik ipanya yang sedang bersitatap dengan Sania.


"Kak, suami mbak Sania itu yang mana sih?? kok ngga pernah keliatan??" tanya Sultan pada istri kakaknya itu.


"Suaminya selingkuh dengan perempuan lain dan meninggalkannya." Kata Tini.


"Dasar laki-laki mata keranjang!! Desisnya.


"Sania itu kurang apa coba...baik, sabar, cantik mana pas lagi hamil begitu, dasar laki-laki gila...


*******


"Aku tak menyangka saat kembaranku meninggal, dia meninggalkan seorang istri yang sangat cantik!!!"


Saat pertama kali aku membuka mata, wajah pertama yang kulihat adalah wajah Sania.


Mata teduhnya, senyum kesedihannya saat Miko meninggalkannya lagi tapi bukan untuk kembali melainkan untuk pergi selamanya!!


Aku merasa aku telah jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya.


*****


Berbagai macam mimpi yang dialami Sania dalam komanya.


"Nia, tiba saatnya kita pergi...kapal sudah siap berangkat...kami semua hanya tinggal menunggumu!!" kata ibu Kamsiah.


"Tapi bu, gimana dengan anak-anak?? gimana dengan bayi yang baru Nia lahirkan?? kasihan dia tidak sempat mengenal siapa ibunya!!" lirih Sania.


"Baiklah kami beri kamu kesempatan sebentar untuk bertemu dengan semua orang yang kamu sayangi, berpamitanlah pada mereka semua!!" kata ibu Kamsiah.


Jari tangan Sania tampak bergerak perlahan. Kak Della yang ada di situ langsung berteriak memanggil suster.


"Suster...suster...jari adik saya bergerak!!" kata kak Della dengan kencang.


Semua yang duduk di situ yang awalnya duduk terkantuk-kantuk, langsung terang benderang semua mata mereka mendengar teriakan lantang kak Della.


Dokter dan suster datang keruangan tempat Sania dirawat.


"Dokter...saya minta ijin untuk bertemu dengan semua keluarga saya termasuk bayi saya..." suara Sania lirih dan sedikit terbata-bata. Tampaknya untuk bicarapun dia harus mengerahkan semua kekuatannya.


Mereka masuk bergiliran. Semua anak-anaknya berkumpul termasuk ibu Intan yang sedang menggendong bayi Sania, dan kak Della yang menggendong Raftar sementara si kembar digendong oleh paman dan kakeknya.


Syifa tak henti-hentinya menangis, seolah gadis yang akan beranjak remaja itu mempunyai firasat tersendiri.


Dina dan Juned tampak lebih pasrah. Mereka lebih banyak berdoa agar bunda mereka bisa diberikan kesembuhan.


"Dina...kamu sebagai anak bunda yang paling besar, paling mengertiin bunda sejak dulu, tolong jaga adik-adik ya!! kasihan supaya nenek, papah, tante Della, om dan kakekmu tidak terlalu direpotkan." Kata Sania lirih.


"Mana suami Nia, bu??" tanya Sania.


"Riko pulang sebentar mandi terus ganti baju nanti kesini lagi!!" kata ibu Intan.


Sania berusaha memeluk semua anak-anaknya, karyawan di kafenya, keluarganya juga para sahabatnya.


Mereka sebenarnya sudah menangkap sinyal bahwa Sania sadar hanya sekedar ingin berpamitan pada semuanya.


Mereka tetap memasang wajah ceria untuk menghibur Sania.


Hanya tinggal Riko yang belum ditemui oleh Sania.


*******


πŸ“±"Halo, bos bisa datang kekantor cabang kita sebentarkah?? ada sedikit masalah nih!!"


Johan berbicara dari kantor cabang yang berjarak satu jam perjalanan dari rumah mereka.


πŸ“±"Tapi saya harus kerumah sakit sekarang, John...tidak bisakah kamu handle dahulu??"


Riko bingung jadinya mendengar perkataan sang asisten.


πŸ“±"Tidak bisa bos, ini harus bos sendiri yang menangani...saya jemput lima belas menit lagi, bos!!"


Lalu sambungan telepon terputus.


Sania hanya tersenyum lemah saat melihat mereka berkumpul dan saling bercerita.


"Riko belum datang ya, kak??" tanya Sania sambil menggenggam tangan bayi perempuannya.


"Sebentar lagi kayaknya, dek!!" kata kak Della.


"Kak, Sania istirahat dulu ya sebentar...Sania lelah banget!!" ucapnya lirih.


Akhirnya mereka semua keluar dan beristirahat di ruang tunggu untuk keluarga pasien.


Sesekali Dina menengok kearah ruangan bundanya.


Bayinya Sania pun sudah ditaruh di ruangan bayi kembali.


Awal Dina menoleh tidak terjadi apa-apa, saat kedua kali dia menoleh dia memperhatikan kearah monitor.

__ADS_1


Digosokannya kedua matanya untuk lebih meyakinkan pandangan matanya.


"Astaghfirullah....tante lihat!!!" tunjuk Dina kedalam ruangan ICU yang kedap suara itu.


"Monitor itu kenapa hanya bergaris lurus tidak turun naik seperti biasanya??" tanya Dina.


Sontak mereka semua yang ada di situ tersentak kaget. Niko cepat berteriak memanggil dokter.


Mendadak suasana hening seperti di kuburan saat tim dokter keluar dari ruangan dengan wajah lesu.


"Gimana dokter..." kata mereka semua memberondong dengan pertanyaan.


"Tim kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Allah berkehendak lain...ibu Sania sudah pergi!!" kata mereka.


Suasana yang awalnya hening mendadak pecah dengan suara tangisan. Niko dan Hans sama-sama terpaku seolah tak percaya pada apa yang mereka dengar.


Saat kesadaran mereka pulih, Hans langsung terduduk lemas di kursi ruang tunggu sementara Niko masih bisa berdiri dengan lututnya yang tampak gemetar.


"Dokter..." kata ibu Intan walau dengan tersendat-sendat.


"Sebenarnya yang menyebabkan kematian menantu saya itu karena penyakit kanker yang dideritanya atau ada indikasi lain??" tanya ibu Intan.


"Keadaan ibu Sania ini sebenarnya memang sudah parah bu, ditambah luka akibat terserempet peluru di bahunya yang menyebabkan luka cukup dalam, lalu juga operasi caesarnya, karena jika tidak segera diambil tindakan operasi maka bisa membahayakan bayi yang ada di dalam kandungan si ibu." Jelas dokternya.


"Maafkan kami bu!!" Kata dokter itu.


Saat kain putih menutup seluruh tubuhnya, tangisan bertambah pecah apalagi Riko belum bisa dihubungi.


*******


"Nia, ayo....sudah tiba waktunya??" kata ibu dan bapaknya.


"Lihat Sofwan, Miko dan Sultan sudah menjemputmu!!" kata ibu Kamsiah lagi.


Sania bersahadat sendiri dalam kesakitannya. Karena mereka semua keluar saat Sania bilang mau beristirahat.


"Selamat tinggal semuanya...maafkan atas semua salah dan dosaku pada kalian."


LA ILA HA ILLALLAH...MU...HAM


MADUR...RASU...LULLAH...


TIIIIITTTT....


Grafik garis di monitor langsung membentuk garis lurus...pertanda orang yang di pasang alat tersebut sudah tak ada lagi.


Dan karena ruangan tempat Sania dirawat kedap suara...maka tak ada seorangpun yang tau bahwa dia telah pergi untuk selamanya.


Sania pergi dengan damai. Cukup sudah dia diuji dengan segala penderitaan sakit hati dan penyakitnya...Allah menyayangi dia yang selalu berpasrah diri pada Tuhannya walau dalam keadaan bagaimanapun kondisinya.


Orang-orang yang mengenalnya dengan baik merasa sangat terpukul.


*********


"Akhirnya pekerjaan kita selesai juga, Jhon...saya mau langsung kerumah sakit...seharian ponsel saya mati kehabisan daya!!" kata Riko.


"Sama bos...ponsel saya juga mati!!" kata Johan.


"Bos, kenapa saya perhatikan sejak siang tadi bos nampak gelisah??" tanya Johan.


"Bagaimana saya ngga gelisah John, istri saya kan sekarang sedang sakit, seharian saya ngga mendengar kabarnya gegara ponsel kehabisan daya.


Setelah satu jam Riko sampai di jalan menuju kerumah.


Perasaan Riko dan Johan ngga enak mengapa ada banyak orang di sekitar rumah mereka.


"John, mengapa perasaan saya ngga enak ya?? kok sudah sore begini ramai di depan rumah??" tanya Riko. Mereka berdua turun dari mobil.


Orang banyak memandang mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. Lamat-lamat terdengar dari dalam rumah orang membacakan Yasin.


Riko terpaku di depan pintu menatap kosong kedalam. Menatap pada sosok yang tengah ditutupi kain batik panjang sampai kepala menutupi wajahnya.


Tiba-tiba pikiran Riko blank ngga bisa berkata apapun sepersekian detik.


"Siapa yang meninggal??? tidak...tidak mungkin istriku...ini pasti ngeprank aku kan??" dia masih berpikiran positif.


Pikirannya sudah tak terbentuk lagi saat di antara para keluarganya dia tidak melihat sosok istrinya.


"Dari mana saja kamu, Riko?? sejak siang ponselmu ngga bisa dihubungi!!" kata ibunya yang memakai baju dan kerudung hitam.


Bukannya menjawab, Riko malah bertanya, "Siapa itu bu??" katanya dengan tubuh yang mulai gemetar begitupun dengan Johan.


*


*


****Bersambung....


Selamat jalan Sania...akhirnya kamu terbebas dari segala penderitaanmu!!😭😭

__ADS_1


Jangan lupa reader tercinta...untuk dukungannya pada novel kutukan cintaπŸ™πŸ™


__ADS_2