
Kudorong tubuh mas Sofwan yang memelukku erat, aku takut akan terjadi lebih dari ini, jika kami terus menerus berpelukan begini.
"Mas..." Dengan napas yang masih terengah-engah aku berusaha melepaskan pelukannya di tubuhku.
Kulihat dia juga mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Maafkan mas Sofwan ya dek, tak seharusnya mas melakukan ini padamu."
"Mas sangat merindukanmu, tapi mas lupa bahwa kamu bukan istri mas Sofwan lagi."
Hatiku pun terasa pedih, jujur aku juga merindukannya. Tapi apalah daya, keadaan kini sudah berbeda.
"Kita tidak usah makan, mas...kita langsung pulang aja, perasaanku tiba-tiba ngga enak."
"Sekali lagi maafkan mas ya, dek...jadi batal rencana makan kita."
"Ngga apa-apa mas, lagian dua hari lagi aku juga sudah tidak bekerja, kontrak kerjaku sudah berakhir."
Dia terhenyak mendengar perkataanku. "Lalu, apa kita masih bisa bertemu dan bersama lagi seperti ini, dek? Apa mas bisa bertemu lagi dengan anak-anak kita?"
"Aku juga tidak tau pasti mas Sofwan, tadi mas yang bilang kita harus bersandiwara, agar tak ada hati lagi yang akan terluka."
"Itu berarti sekeluarnya aku dari perusahaan ini, kedekatan kita pun akan berakhir."
"Mungkin mas akan kupertemukan dengan anak-anak tapi nanti, dan aku juga tidak bisa memastikan entah kapan itu."
Dia terdiam. Digenggamnya tanganku erat-erat. "Dek, kalau aku menuruti kata hatiku, ingin rasanya malam ini kamu dan anak-anak kubawa kabur dari kota ini."
"Jangan gila, mas Sofwan..."
"Aku memang pernah gila dek...aku memang pernah kehilangan ingatanku...tapi satu yang tak pernah hilang, "Rasa cinta kepada anak dan istriku."
"Itu yang membuat ingatanku bisa berangsur pulih."
"Tapi kenapa setelah ingatanku pulih...bukan kamu orang pertama yang kulihat ada di sampingku? Kenapa harus perempuan lain, dek...kenapa...?"
"Kenapa kamu dan anak-anak tidak ada bersamaku? Kenapa aku harus menikah dengan perempuan lain? Kenapa juga kamu pun harus menikah dengan laki-laki lain?"
"Aku tak ikhlas, aku tak rela melihat dan membayangkan istriku di jamah laki-laki lain, selain aku."
"Kenapa aku tidak bisa menahan nafsuku, sehingga harus tidur dengan Anggita dan harus membuatnya hamil dan melahirkan anak kami?"
"Semestinya istriku hanya satu, aku hanya punya tiga orang anak yang sudah terlahir dari rahim istri yang sangat kucintai."
Aku panik melihat mas Sofwan mulai *******-***** rambutnya dan menangis. Aku bingung harus melakukan apa saat ini. Aku takut jika dia kembali terguncang begini, maka kondisi kejiwaannya yang masih labil akan terganggu lagi.
Mana handphoneku baterainya lowbat lagi. Aku menoleh ke samping kafe. "Syukurlah...ada penginapan di sana, mungkin aku bisa membawa mas Sofwan ke sana untuk sejenak dia beristirahat sampai dia bisa stabil kembali."
__ADS_1
"Mas...kita kepenginapan itu yuk, paling tidak mas bisa menenangkan diri dulu sejenak."
Dia tidak menolak saat aku keluar dari mobil dan menggandengnya menuju penginapan. Sebelumnya dasi dan jasnya sudah kulipat kutaruh di jok belakang.
Beberapa pasang mata termasuk resepsionisnya memandang kagum pada mas Sofwan.
"Selamat malam pak...bu...ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak...teman saya ini kepalanya sakit...kami berdua mau check-in paling tidak sampai dia bisa menenangkan diri."
"Ngga apa-apa jika kami tidak sampai menginapkan, mbak?"
"Ngga apa-apa, bu..."
Aku diberikan kunci kamar. Kubawa mas Sofwan yang sudah berjalan sempoyongan. Aku tau dia sangat tertekan.
"Mas tiduran dulu ya...tenangkanlah diri dulu." Lalu aku membaringkannya dan membuka dua kancing baju kemejanya, biar dia bisa rileks.
Kupesankan dua gelas teh hangat dan dua piring nasi goreng, aku tau dia belum makan mulai siang tadi. Sekalian aku meminjam charger dari meja recepsionisnya.
Benar saja, puluhan panggilan tak terjawab dari Miko dan puluhan pesan whatsapp belum kubuka.
"Mati lah aku...apa yang harus kujawab?"
"Bunda di mana? Ayah telepon mulai sore ngga aktif...kata anak-anak, bunda belum pulang." Mungkin ada puluhan kata-kata seperti itu di whatsapp Miko.
Tak lama Miko menelpon lagi. "Assalamualaikum...bunda kemana aja sih? Dari sore ayah telepon ngga aktif..."
"Maaf yah..handphone bunda lowbat, bunda dari rumah Tini, dia sedang sakit."
"Ohhh, ini bunda sudah pulang apa belum? Kasihan anak-anak di tinggal terlalu lama."
"Sebentar lagi yah...ayah kapan pulang?"
"Ya dua hari lagi lah bun, baru tadi pagi ayah berangkat ke Jakartanya."
"Selama ayah ngga ada, jangan berduaan dengan pak Sofwan ya bun!"
"Ngga mungkinlah yah, nanti bunda di bilang pelakor lagi."
"ya siapa tau aja masih ada rasa cinta..."
Padahal hatiku berkebat-kebit rasanya. "Maafkan bunda karena sudah berbohong, yah!"
Akhirnya percakapan kami berakhir. "Untung ayah tidak memintaku untuk video call...mampuslah aku..." Aku menarik napas lega.
__ADS_1
"Suamimu menelpon?" Sofwan rupanya sudah bangun dan makan nasi goreng yang tadi kupesan.
"Iya...hanya sekedar bertanya kabar, memang Anggita tak menelponmu karena terlambat pulang?"
Sofwan menggeleng. "Dia sudah tau, kalau aku terlambat pulang berarti aku sibuk di kantor."
"Mas sudah baikan? Kalau sudah baikan, lebih baik kita pulang saja."
Dia menyudahi makannya. Diteguknya teh yang tadi kupesan. Lalu dia kembali duduk di sampingku di tepi ranjang.
"Dek...mas bisa minta tolong?"
"Mas mau minta tolong apa? Jika bisa, aku akan lakukan untuk mas Sofwan."
"Tulang belikat mas agak sakit, bisa tolong pijatkan kah?"
Aku terdiam. Memijatnya berarti menyentuh kulitnya secara langsung.
"Tolong ya, dek..." Dia membuka kemeja putihnya dan menggantungnya di hanger, lalu dia menelungkup di atas pembaringan.
"Aduh...gimana ya?"Jantungku berdetak lagi.
Sebenarnya aku keberatan, tapi tak mungkin juga aku menolaknya, tadi aku sudah menyanggupi untuk menolongnya.
Kusentuh kulit putih bersih milik mantan suamiku ini. Tanganku gemetar memijat bekakangnya.
Tiba-tiba dia berbalik. "Kenapa tanganmu gemetar, dek? Apa yang sekarang sedang kamu rasakan?"
Lalu ditariknya tanganku sehingga aku masuk dalam dekapannya lagi.
Tanpa banyak bicara posisiku yang berada di atasnya lalu ditariknya. Dilumatnya bibirku dengan mesra.
Aduh...aku ingin berontak tapi hatiku menolaknya. Bahkan aku mulai membalas kecupannya.
"Dek, aku ingin mengulang semua yang pernah kita lalui dulu. Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda."
Aku gemetar mendengarnya.Di sisi lain aku ingin menolaknya, tapi di sisi yang satu lagi aku menginginkannya.
Dia membalikkan badanku sehingga kini posisiku ada dibawahnya. Satu persatu kancing bajuku dilepasnya. Sampai pada akhirnya kami tak mengenakan sehelai benangpun.
Aku tak tahu, gemuruh hujan malam itu seolah tak mempengaruhi malam panas kami. Entah sudah berapa kali kami melakukannya. Sampai pada akhirnya mas Sofwan mengerang mengakhiri permainannya.
Mungkin benar kata pepatah, tak ada penyesalan yang datang di awal, selalu saja datang terlambat di belakang.
Begitu pula aku. Kupandangi wajah mas Sofwan yang terlelap sambil tersenyum puas. Aku merasakan ribuan jarum seperti menusuk kulitku. Pengkhianatanku malam ini? Dosa yang telah kulakukan pada Miko? apa yang akan terjadi nanti?" Pikirku.
__ADS_1
***Bersambung***
Happy readingπππ author tetap berharap like, komen, vote dan favoritnya ya..terima kasihππππ***