Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 68 Curhatan Hati Dua Mantan


__ADS_3

"Rasain pak...pasti bapak suka..."


Dia mulai mencoba sesendok. Kalau kurang rasa pakai ini pak...kuambilkan seperempat sendok sambal dan kuberi sedikit kecap. Karena aku tau Sofwan dulu ngga suka makanan terlalu pedas.


Dia lalu mencoba lagi. "Enak...pas di lidah rasanya."


Kupandangi dia yang asyik menyuap makanannya. Ada rasa senang karena sekarang aku bisa dekat dengannya, tapi aku juga sedih karena dia dan aku sekarang sama-sama sudah tak sendiri lagi.


"Kenapa kamu tidak makan?"


"Iya pak, ini baru mau makan." Sekarang ganti dia yang memandangku lekat-lekat.


"Sania..."


"Iya pak..."


"Kamu cantik..."


"Jangan bilang begitu pak...sekarangkan bapak sudah punya istri dan akan punya anak."


"Iya saya tau..." Dia menunduk sedih sambil mengaduk es jeruk dihadapannya.


Hatiku pun terasa sakit melihatnya seperti ini. Seandainya masih bersama seperti dulu, sudah kupeluk dia seperti saat kalau dia merasa sedih dengan tekanan keluarganya.


Tapi sekarang semua sudah berbeda. Dan itu juga yang membuat akupun terluka.


Drrttt...Drrrttt...aku melihat layar ponselku.


"Ayah...


"Assalamualaikum...ya, yah...ayah sudah tiba di rumahkah? Sebentar lagi bunda pulang."


"Belum bun...ini masih bersama dengan teman-teman baru di kantor."


"Kok ramai banget...itu di mana, yah..."


"Dikafe bun, ngga enak tadi ayah mau menolak...apalagi ayah pimpinan baru mereka sekarang."


"Bunda lagi di mana ini? Belum pulang juga kah?"


"Bunda makan dulu yah...Lapar!!"


"Jangan lupa bungkuskan buat anak-anak di rumah bun..."


"Iya, yah...Pastilah itu!!"


Karena aku bicara speakernya tak sengaja kunyalakan, otomatis Sofwan juga mendengar percakapan kami.


"Jangan terlalu malam yah, besok kesiangan ngantornya..."


Setelah percakapan kututup, Sofwan tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


"Kalian kan baru menikah, kok sudah punya anak?"


"Itu anak-anakku, dari pernikahanku terdahulu...kalau Miko masih single saat menikah."


"Ooo Sama...Anggita juga istri keduaku...menurut kakakku, dulu aku punya anak dan istri...tapi istriku meninggalkanku saat aku sedang sakit dan berselingkuh dengan laki-laki lain...serta membawa anak-anak kami."


Hatiku sakit sekali...begitu tega dan kejamnya kakak-kakak iparku memutar balikkan fakta menanamkan kebencian pada Sofwan untukku.


"Lalu di mana mereka sekarang?" Kupancing pertanyaan padanya.


"Aku tidak tau...aku tidak ingat mereka, jangan kata anak istriku...namaku pun saat itu aku lupa."


"Aku sudah mencoba memaksakan diri untuk mengingat, tapi yang ada malah memperburuk kondisiku."


"Kepalaku rasanya mau terbelah menjadi dua bagian."


"Lalu Anggita yang saat itu berprofesi sebagai perawatku datang dengan segala kebaikan dan ketulusannya."


"Kalau begitu, bapak sangat berhutang budi padanya...jangan sakiti hati dan perasaannya pak!!"


Hatiku membatin dalam kepiluan. "Cukup aku saja yang tersakiti mas...Cukup aku yang tersingkir dari hatimu."


"Terus suamimu sendiri ke mana?"


"Pergi...dia menikah lagi dengan wanita pilihan keluarganya." Sahutku.


"Kok nasib kita sama ya...sama-sama gagal dalam membina bahtera rumah tangga."


Kami saling bertatapan. Memang jauh dari dalam matanya, kulihat ada luka yang tersimpan.


"Pak maaf kalau saya boleh nanya nih, sekali lagi maaf...banget...apa bapak menikahi ibu Anggita karena cinta? Atau karena balas budi semata?"


Dia menatapku. "Mengapa kamu tanyakan itu, Sania?"


"Jika memang bapak menikahinya karena cinta...tidak mungkin sekarang bapak berani merayu saya? Atau karena ibu Anggita sedang hamil tua, jadi mungkin tidak bisa lagi memuaskan hasrat bapak di tempat tidur, sehingga bapak mencari pelampiasannya dulu?"


"Saya bukan tipe laki-laki seperti itu Sania, jujur saya sangat berhutang budi pada istri saya dan keluarganya."


"Kurang lebih setahun pernikahan kami sebelum akhirnya bertemu denganmu, semuanya baik-baik saja."


"Lalu saat pertama kita bertemu di warung lalapan itu, menyusul pertemuan di rumah sakit...maka saat itulah saya merasakan ada yang berbeda."


"Wajahmu itu seperti tidak asing denganku, berada di dekatmu seperti membuatku sangat nyaman."


"Sejak itulah saya ingin selalu melihatmu, menatap mata indahmu yang membuat hatiku kembali bergetar."


"Kurasakan hati dan hidupku selama ini terasa mati...hampa...itulah yang kurasakan."


Kucari kejujuran di matanya. Jika dia bicara formal dia memakai kata saya...tapi jika dia sudah larut dalam pembicaraan serius kami, dia memakai kata aku.


"Dulu...dulu sekali...saya pernah merasakan getaran seperti saat saya ada di dekatmu, saya merasakan kenyamanan...hati saya sering deg-degan dan jantung saya terasa berdetak dua kali, bukan...10 kali lebih cepat dari biasanya."

__ADS_1


"Waktu itu saya pernah berpikir, masa saya jatuh cinta pada istri orang?"


"Jujur saat saya mendengar berita pernikahan pak Miko...lalu direktur mengajak kami hadir di acara pernikahan itu...Saya membatin dalam hati."


"Bukannya dalam beberapa kali pertemuan, pak Miko selalu bilang bahwa kamu istrinya? Tapi kok baru menikah sekarang? Apa sebelumnya kalian telah menikah siri? Dan sekarang baru diresmikan?"


Aku juga membatin. Amnesia boleh saja mengambil semua ingatan masa lalunya...tapi tidak dengan kecerdasan dan pola berpikirnya. Kecerdasannya tidak berubah, cara berpikirnya tetap sama seperti dulu.


Melihat dan mengamatinya lalu menimbang kebenaran dari yang sudah dilihatnya.


Jujur...sebenarnya hatikupun masih kebat-kebit berdekatan dengannya. Masih cinta? Entahlah...


Bukan waktu sebentar masa sembilan tahun pernikahan kami, sampai di karuniai tiga orang buah hati, sebenarnya cinta itu masih ada...dan tak bisa dipungkiri jauh di dalam hati mas Sofwanpun rasa itu masih ada.


Walaupun dia lupa akan masa lalunya, tapi tak mampu untuk menghapus semua rasa cintanya pada seseorang, walaupun dia tak mampu untuk mengingat orang tersebut.


Berbeda dengan kedekatanku dan Miko. Dulu kami hanya sebatas pacaran, istilah kerennya sekarang itu cinta monyet. Lalu kami juga dipisahkan oleh keadaan. Tapi perasaanku tidak se dalam ini...karena tak ada ikatan apapun di antara kami berdua.


Entah karena takdir atau Allah tau sebenarnya aku dan mas Sofwan masih saling nencintai, makanya Dia mendekatkan kami kembali walaupun dengan cara yang berbeda.


Sekarang persoalanku dan mas Sofwan itu sama...sama-sama sudah tak sendiri lagi. Ada mereka yang hadir di antara kami berdua. Miko dan Anggita.


"Makanmu sudah seleai? Ntar dulu...." Dia mengambil tisu dan mengelapkan kebibirku.


"Makan kok belepotan begini...kayak anak kecil aja."


Aku tersipu malu...dulu juga semasa masih bersama, dia sering ngomel sambil mengelap mulutku yang sering belepotan makanan.


"Oalah sayang...sayang...cantik-cantik kok makan belepotan gini..." Lalu dia sibuk mencari tisu untuk mengelapnya.


"Kok malah senyum-senyum...ayo makannya sudah belum?"


"Pak saya lupa mau pesan dulu sebentar untuk anak saya di rumah."


"Ngga usah khawatir tadi sudah saya pesankan...saya tadi lupa tanya anakmu berapa orang...jadi saya pesankan tiga bungkus sekalian sama penjualnya."


Deg...sekali lagi jantungku berdetak mendengar mas Sofwan memesankan tiga bungkus nasi mawut. Padahal tadi memang aku tidak mengatakan berapa anakku.


Tapi seperti ada ikatan batin dengan mereka, kok bisanya dia pesankan tiga.


"Ayo...lelet betul kayak keong...apa perlu saya gendong?"


"Ya Allah...kata-kata yang diucapkannya, sama persis dengan yang dulu sering dia ucapkan kalau kesal melihatku bergerak lambat."


...***Bersambung......


Cinta tak pernah mati...tak pernah mengenal kata dipisahkan oleh waktu...


Tetap berikan dukungan pada author ya...


Tetap juga minta like dan komennya...vote dan favoritnya jika berkenan...terima kasih🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2