
"Ibu, Nia, Sofwan akan pulang sebentar ke rumah ibu dan bapak."
"Yah kemungkinan 3 hari, dan jika memungkinkan, Sofwan akan membawa ibu dan bapak silaturahmi kemari."
"Hati-hati dijalan ya nak, sampaikan salam dari kami berdua."
"Hati-hati juga disini ya Nia...jaga dirimu dan ibu, awas jangan selingkuh."
"Tipis-tipis bolehkan? godaku!"
"Enak betul hidupmu bilang tipis-tipis aja."
"Tipis-tipis lama-lama jadi tebal-tebal...ngga ada...ngga ada...Sofwan jadi sewot."
"Ingat ya...selama aku tak ada, jaga hatimu untukku.."
"Dasar lebay...kubilang."
"Ya sudah hati-hati dijalan mas Sofwan, jangan ngebut-ngebut naik motornya ya."
Kenapa ada rasa sedih melihat dia pergi. Rasa kehilangan. Padahal dia pergi hanya tiga hari, tapi rasanya seperti tiga tahun.
*
*
"Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu, Sofwan?"
Bapak menyeruput secangkir teh hangat dan ibu ikut duduk di samping bapak dan Sofwan.
"Ibu dan bapak tidak pernah melarang apalagi menghalangimu."
"Apapun keputusan yang terbaik menurutmu, kami sebagai orang tua akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih pak, terima kasih bu!! Sofwan bahagia sekaligus bangga punya orang tua seperti bapak dan ibu."
"Sofwan yakin bahkan sangat yakin dengan pilihan hati Sofwan."
"Walaupun Sofwan dan Sania selisih usia empat tahun, tapi Sofwan rasa itu tidak akan menjadi penghalangnya."
"Jika kamu sudah mempertimbangkannya dan meyakini untuk menikahinya, kami sebagai orang tua hanya bisa mengizinkannya."
"Tapi kamu juga harus membicarakannya dengan kakak-kakakmu."
"Bagaimanapun kalian bersaudara, apa lagi kamu anak paling bungsu dirumah ini, anak laki-laki satu-satunya lagi."
"Besok kan kakak-kakakmu pada kumpul, besok kita akan membicarakannya lagi."
"Kamu istirahatlah perjalananmu siang tadi lumayan jauh."
"Kamarmu sudah dibersihkan oleh mbok Nah."
"Terimakasih bu...pak...Sofwan istirahat duluan ya."
"Anak bungsumu itu sudah besar pak, padahal rasanya baru kemarin ibu menggendongnya, menyuapinya, tiba- tiba sekarang sudah minta izin untuk menikah."
"Iya bu, bahkan sudah berani keluar dari rumah untuk mencari pekerjaan sendiri dan memulai hidup mandiri diluar sana."
"Sebenarnya ibu penasaran pak, siapa wanita yang sudah bisa merubah sifatnya, dari seorang yang egois, dan manja... menjadi seorang laki-laki yang mandiri dan tangguh."
"Siapa tadi namanya pak? Sania?"
"Pertama Sofwan memutuskan untuk mencari pekerjaan ke kota, sebenarnya ibu sangat tidak setuju."
"Ibu sangat takut...dia tidak pernah hidup kekurangan dirumah ini, apapun yang menjadi keinginannya selalu terpenuhi."
__ADS_1
"Biarkan saja bu...apapun yang dia lakukan selama itu baik dan tidak merugikan orang lain, biarkan saja."
"Sebenarnya yang ibu khawatirkan adalah Nuri, Juwita, dan Anya pak."
"Memangnya ada apa dengan mereka bu?"
"Bapak kan tau, mereka bertiga sangat menyayangi Sofwan, kakak-kakaknya itu sangat memanjakannya."
"Ingat, bagaimana pertentangan ketiganya saat Sofwan memutuskan untuk hidup mandiri dulu."
"Tidak apa-apa bu, mereka seharusnya mengerti."
"Adik mereka itu bukan bocah ingusan seperti dulu yang bisa diatur-atur lagi hidupnya, sekarang dia sudah menjadi seorang pria dewasa."
"Sofwan berhak menentukan apapun yang terbaik untuk hidupnya, dan tugas kita sebagai orang tuanya adalah mendukungnya selama itu tidak merugikan siapapun."
"Yah, semoga mereka berpikiran sama dengan kita pak."
"Tidak apa-apa bu...toh dulu juga kita mendukung mereka saat mengambil keputusan untuk menikah dengan laki-laki pilihan mereka."
Ibu hanya bisa menghela napas. "Yah, semoga apa yang aku pikirkan ini tidak akan menjadi kenyataan."
"Lho kenapa bangun nak?" bapak juga menoleh kearah pintu kamar yang terbuka.
"Sofwan terbangun bu...Sofwan boleh ngobrol disini dulu dengan bapak dan ibu ya!!"
"Jadi sekarang mbok Nah tidak menginap disini lagi, bu?"
"Tidak nak...karena Tami anak mbok Nah punya bayi, jadi kasihan jika sampai malam disini."
"Suaminya Tono kan sering dapat kerja shift malam, jadi kasihan mereka berdua ditinggal berduaan saja."
"Iya bu lagian mbak Tami dan mas Tono sudah lama berumah tangga, dan akhirnya baru punya anak ini."
"Iya ngga apa-apa kok, lagian mbok Nah sudah menyelesaikan semua pekerjaannya sore tadi."
"Lagian ibu tidak sesibuk dulu seperti saat kalian semua masih kecil-kecil."
"Kan bapak juga sudah pensiun, jadi selalu ada dirumah, ketiga kakakmu pun setiap hari mampir kemari menjenguk ibu."
"Siang dirumah ini lebih ramai lagi Sofwan, apa lagi sepulang sekolah tiga ponakanmu kumpul semua disini, kalah-kalah pasar disini."
Bapak tersenyum membayangkan kelakuan ketiga cucu-cucunya.
"Jika besok kamu sudah bertemu dan bicara dengan kakak-kakakmu, lusa kita berangkat menemui keluarga Sania."
"Bapak masih kuat kah menyetir mobil? perjalanankan cukup jauh."
"Kamu meremehkan bapakmu ini ya...ibu tersenyum mendengar kekhawatiran Sofwan.
"Lagian perjalanan hanya 3 jam saja tidak ada yang perlu kamu khawatirkan nak."
"Ya sudah kita istirahat saja, tuh bapakmu sudah mulai mengantuk."
"Ayolah bu...Sofwan juga sudah mengantuk kembali."
*
*
"Assalamualaikum...nenek...kakek...kami datang..."
"Waalaikum salam... cucu-cucu nenek sudah datang..."
"Om Sofwan mana nek katanya om kemarin pulang."
__ADS_1
Anisa anak Nuri ini memang rada cerewet seperti ibunya. Beda dengan anak Juwita dan Anya. Melati dan Anyelir, mereka berdua memang rada pendiam.
"Ada tuh dibelakang lagi bantuin kakek bersihkan kolam ikan."
Serentak mereka berlari masuk langsung menuju kebun belakang.
"Bu, apa benar Sofwan akan melamar seorang wanita yang katanya lebih tua darinya?" Nuri membuka percakapan.
"Benar Nuri...besok ibu dan bapak akan berkunjung ke rumah mereka."
"Ouwh..."hanya itu tanggapannya sementara Juwita dan Anya sudah masuk terlebih dulu.
"Kenapa tidak mampir kerumah kakak-kakakmu ini Sofwan?" Juwita membuka percakapan.
"Rencananya hari ini kak...tapi kakak bertiga sudah mampir kemari."
"Bagaimana kabar kakak dan para kakak ipar?"
"Mereka baik Sofwan...mereka juga selalu menanyakan kapan kamu mau bergabung di perusahaan mereka."
"Sofwan sudah punya pekerjaan kak...walaupun gajinya tidak besar tapi Sofwan tau sekarang, bagaimana bapak banting tulang mencari uang dulu untuk menghidupi keluarga."
"Bagus Sofwan...kak Juwita yang sedari tadi diam berkomentar."
"Memulai sesuatu dari nol itu bagus, untuk membentuk mentalmu, karena kamu seorang laki-laki yang kelak akan bertanggung jawab kepada anak istrimu."
"Jika bertanggung jawab pada diri sendiri saja kamu tak mampu, bagaimana kamu mau bertanggung jawab pada keluargamu."
Kakakku yang nomor dua ini memang lebih bijaksana dibandingkan dengan Nuri yang selalu bicara tegas dan kak Anya yang selalu berkomentar pedas jika tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
Semoga Sania bisa memahami dan bisa menyesuaikan diri dengan ketiga kakak perempuanku.
"Kapan-kapan bawa calonmu kemari, kami mau bertemu dengannya Sofwan." Kak Anya berkata pendek.
"Tentu kak, tapi besok bapak dan ibu akan bersilaturahmi dulu kerumah Sania."
Tanpa banyak bicara mereka kembali masuk kedalam rumah. Dan entahlah mengapa perasaan tidak enak dihatiku. Semoga ini hanya sebatas perasaanku saja.
"Hallo Assalamualaikum..."Waalaikum salam sahut suara dari sebrang sana."
"Nia, hari ini mas Sofwan mau datang bersama bapak dan ibu."
"Kami mau berangkat pukul 7 dari sini semoga jika tak ada halangan jam 10 kami sudah tiba disana, tolong sampaikan ke ibu ya Nia."
"Insyaallah nanti Nia sampaikan mas..."
Rasanya hatiku berbunga-bunga...senang campur takut juga.Takut mereka tidak bisa menerima aku dan ibuku. Dan senangnya karena akhirnya aku bisa bertemu dengan calon mertuaku.
"Assalamualaikum bos...hari ini Nia izin dulu ya, sebab orang tua mas Sofwan mau datang kerumah."
Setelah meminta izin kepada bosku dipabrik aku menuju dapur memberitahukan ibu.
"Bu hari ini orang tua mas Sofwan mau datang, ibu siap-siap dirumah."
"Nia mau pergi kepasar sebentar, masa mereka datang kita tak ada persiapan apapun."
"Iya...pergilah nanti ibu yang akan menyiapkan keperluan yang dirumah ya!"
"Kamu sudah minta izin bosmu untuk tidak bekerja hari inikah?"
"Sudah bu, beres pokoknya."
"Nia pergi dulu ya bu...Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
__ADS_1
***Bersambung....
Jangan like dan komen nya ya, dan jika berkenan untuk memberikan votenya terimakasih 😊🙏***