Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 160 Menggodamu


__ADS_3

Miris memang...akhirnya aku bercerai untuk kedua kalinya. Aku memang laki-laki yang tidak bisa menjaga keutuhan rumah tanggaku sendiri.


Tapi mungkin ini sudah jalan hidupku, Aku melihat dari atas..bandara Yogyakarta International Airport semakin kecil dan semakin jauh kutinggalkan. Aku kembali ke Balikpapan kota kelahiranku setelah hampir dua tahun aku menetap di Yogyakarta. Tapi aku kembali hanya berdua dengan putriku, sementara Anggita tak ada lagi di sampingku.


Dua tahun yang lalu aku berangkat ke Yogya untuk menyusul Anggita yang pergi lebih dulu bersama Aisyah untuk menjenguk eyang kakungnya yang sakit. Kini aku hanya kembali bersama Aisyah saja. Miris bukan?


Dua jam lebih perjalanan udara dari Yogya ke Balikpapan. Pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman.


Aku turun sambil menggendong Aisyah. Karena kami memang tak banyak membawa barang. Aku disambut oleh orang kepercayaan ayah mertuaku yang akan mengurus semua keperluanku dan Aisyah di sini.


Kami diantar ke sebuah rumah yang letaknya di komplek perumahan yang dibelikan ayah untukku. Sungguh aku merasa sangat tidak enak, aku bukanlah lagi menantunya, tapi dari segi pekerjaan sampai tempat tinggal kami diuruskan oleh beliau.


"Papah...kita hanya tinggal berdua sajakah di sini? Mamah ngga ada di sini?" Tanya Aisyah.


"Mamah tinggal di Yogya bersama eyang kakung dan Aisyah sama ayah di sini." Kata Sofwan.


"Terus di rumah nanti Aisyah sama siapa jika papah bekerja? Masa Aisyah tinggal sendiri?" Kata Aisyah dengan polosnya.


"Pah, kapan Aisyah diajak ketemu dengan bunda Sania dan saudara-saudara Aisyah lainnya?" Aisyah kembali bertanya pada papahnya.


"Sabar ya nak, nanti jika papah sudah punya waktu luang pasti papah akan membawa Aisyah menemui bunda Sania dan saudara-saudaramu yang lain."


"Hore...asyik...bener ya pah!!" Aisyah tampak sangat gembira.


Sofwan sangat bahagia melihat kegembiraan putri kecilnya.


"Besok ya pah...Aisyah mau sama bunda Sania aja kalau papah kerja ngga mau sama babysitter." Aisyah mulai merengek.


"Iya...sekarang Aisyah istirahat dulu ya!! Nanti kita bicarakan lagi, papah pesankan makanan online dulu ya." Aisyah hanya mengangguk.


*


*


"Bun, tadi bapak telepon!!" Kata Dina dengan hati-hati karena dia tau bundanya tak mau lagi berhubungan dengan mantan suaminya.


"Kata bapak, beliau dan adik Aisyah sudah ada di Balikpapan." Kata Dina pelan setelah bundanya itu hanya diam saja mendengarkannya.


"Bapak dan adik sudah pindah ke Balikpapan bun, bapak pindah kerja kemari." Sania masih diam.


"Bun!!!"

__ADS_1


"Iya Dina, bunda dengar!!" Sahut Sania.


"Besok bapak akan mengajak adik kemari!! Apa bunda masih marah sama bapak?" Tanya Dina.


"Tak ada alasan yang membuat bunda harus membenci bapakmu Dina!! Kalau memang bapakmu mau kemari bertemu dengan kalian, bunda tidak melarangnya Dina!!"


"Benar kita masih boleh ketemu bapak bun?" Sania hanya mengangguk saja.


"Asyik...Dina akan bilang ke Syifa dan Juned ah..." Dina lalu lari masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum??"


"Waalaikum Salam!!"


"Oh Niko masuk..."


Niko masuk membawa dua tas kresek yang isinya cemilan semua.


"Anak-anak mana Nia? Kok sepi-sepi aja?" Dia celingukan.


Sudah hampir sebulan aku dan anak-anak kembali di rumah almarhum Miko sejak Alena kembali ke kota ini lagi. Nyatanya hingga detik ini alhamdulillah tak terjadi apa-apa.


"Ayah masih di kios ya Ko? Kok kalian tidak pulang bersama? Ini juga...Masya Allah, cemilan sebanyak ini, Ko?" Aku mengangkat bungkusan kresek itu.


"Kamu cantik kalau ngomel begitu!!" Kata Niko pelan tapi masih sempat terdengar di telingaku.


"Niko...ngomong apa barusan??" Kataku mendelik galak padanya.


"Ngga ada apa-apa...ampun bun...ampun..." Dia melindungi kedua telinganya saat aku mau menjewernya.


"Mulai genit ya sekarang!!" Kataku.


"Ngga bun...."


"Awas aja kalau berani bilang begitu lagi!!" Ancamku.


"Ngga bun...Ngga janji maksudnya!!" Niko tertawa sambil lari meninggalkanku.


"Ini apa-apaan sih? Kenapa kok kejar-kejaran di dalam rumah, sana kejar-kejaran di lapangan...seperti film india saja!!" Ayah Jonathan yang baru saja pulang hampir bertabrakan di depan pintu dengan Niko.


"Ini yah...Sania nih...masa telinga Niko mau dijewer!!" Adu Niko sambil bersembunyi di belakang ayahnya.

__ADS_1


"Ini yah...masa Sania di bilang cantik sama Niko?" Aku balas melapor.


"Ini orang dua kalau ketemu kelahi terus seperti anjing sama kucing, awas lho nanti jodoh!!" Kata Jonathan.


"Apa? Sama wanita pemarah itu? Ngga ah...Niko ngga mau nanti Niko dijewer setiap hari...hiiihhh habis nanti telinga Niko dibuat sop pengganti jamur."


"Aku juga ngga mau sama laki-laki tukang ngadu seperti kamu!!" Sania mencibir Niko.


"Kan...kan...tak lama ayah nikahkan aja kalian berdua biar rumah tambah ramai." Jonathan tersenyum penuh arti.


"Ngga mau..." Teriak Niko dan Sania bersamaan!!


"Unda....Ayah..." Panggil Miko dan Miki.


"Apa sayang!!" Kata Niko dan Sania bersamaan lagi.


"Apaan sih? Ikut-ikutan aja!!" Ucap Sania sinis.


"Siapa yang ngikuti siapa, bukannya kamu yang dari tadi ngikuti aku? Jangan-jangan kamu suka ya sama aku?" Niko menyeringai menggoda Sania.


"Ooo awas...ya!!" Aku sangat kesal pada Niko entah mengapa sejak sebulanan ini sejak aku dan anak-anak kembali kerumah ini, Niko gemar sekali menggangguku dan menggodaku. Dia sangat senang jika sudah melihatku kesal lalu marah-marah.


"Ayah...mana dadan Iko?" Tangan mungil Miko mengulur pada Niko.


"Jajannya Miki sama Miko sudah ayah berikan pada bunda sayang...sini peluk sama cium ayah dulu!!" Niko merentangkan kedua tangannya agar Miki dan Miko masuk dalam pelukannya.


Jika mereka yang tidak tau pasti beranggapan bahwa mereka adalah ayah dan anak padahal mereka hanya paman dan keponakan saja.


Terkadang jika melihat itu hatiku kembali sedih, aku seolah melihat Mikoku hidup kembali dan berjongkok sambil memeluk putra kembarnya.


"Semoga ayah bahagia di sana yah, lihat anak-anak kita sudah semakin besar!!" Air mata menggenang di kedua kelopak mataku.


Niko yang jongkok menghadapku hanya menghela napas, dia tahu aku sedang sedih.


"Kumohon, jangan kamu menangis lagi Nia...Miko sudah tenang di sana dan di sini aku yang akan menjagamu." Batin Niko.


"Bun, cemilannya anak-anak mana? Yang seplastik buat sikembar dan yang seplastik lagi buat Dina dan adik-adiknya...jangan diumpetin...mau di makan sendirikah? Kembali Niko menggangguku.


"Ih...apa sih Ko? Memang aku masih bocah pakai acara ngemil segala?" Aku sewot kembali sehingga yang tadinya aku terbawa perasaan melihat Niko memeluk sikembar, sekarang aku malah jadi lupa dan kembali kesal oleh ulah Niko.


****Bersambung...

__ADS_1


Happy reading...jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏🙏


__ADS_2