
"Sudahlah besok saja kita bicara, aku capek aku mau tidur di sofa lantai bawah aja!!" kata Samsuri.
"Kok sofa lantai satu? mas ngga tidur di kamarkah?" tanya Maya.
"Ngga usah, di lantai dua hawanya terasa panas, aku tidak tahan!!" kata Samsuri lagi.
Juma mengintip kedua orang tuanya yang sedang berbicara di ruang makan. Wajah Samsuri sudah merah padam menahan kemarahannya. Jika diturutkan hawa nafau dan jika tidak ada hukum di negeri ini, sudah dia bunuh dua manusia mesum yang berwujud sebagai istri dan selingkuhannya itu.
Samsuri beranjak pindah ke sofa di ruang tamu. Di situ dia melanjutkan tidurnya melepaskan segala penat hati dan pikirannya.
Saat menjelang pagi Samsuri sudah mandi dan dia melihat Maya sedang sibuk melayani tamu yang check in di penginapan. Dengan sabar dia menunggu sampai istrinya itu agak longgar pekerjaannya.
"Bu, bisa kita bicara?" tanyanya pada Maya
"Ya bicara aja mas, tumben pakai acara minta ijin segala?" katanya.
"Kita bicara tapi tidak di sini bu, di dalam kamar kita aja...ada hal penting yang ingin mas sampaikan.
Akhirnya Maya menurut. Dia mengalah lalu mengikuti Samsuri kekamar mereka di lantai dua.
Mata Samsuri memanas mengingat kejadian semalam saat istrinya dengan suka rela digarap oleh laki-laki lain di atas ranjang mereka.
"Duduk bu, masa berdiri-berdiri aja?" kata Samsuri berusaha setenang mungkin.
Setelah Maya duduk lalu Samsuri mulai bertanya...
"Bu, berapa tahun kita sudah menikah?" tanyanya.
"Kurang lebih 12 tahun mas, memangnya ada apa mas?" tanya Maya.
"Katakan sama mas, apakah dalam kurun waktu 12 tahun ini mas ada mengabaikan ibu dan anak-anak? tidak memberikan nafkah lahir dan batin?"
Maya semakin bingung juga was-was mendengar pertanyaan suaminya.
"Bu, jika mas sekarang bilang mau kembali pada Aminah tunangan mas dulu di karenakan Aminah juga sekarang sudah janda, apakah ibu keberatan?" tanya Samsuri lagi pada istrinya itu.
"Maksud mas Samsuri apa?" teriak Maya mulai meninggikan suaranya.
"Tenang bu, tenang....jadi ibu marah ya jika mas kembali untuk bersama dengan Aminah lagi?" ucap Samsuri.
"Ya, iyalah mas...istri mana yang mau di madu oleh suaminya?" jawab Maya sewot.
"Mengapa ibu marah? kan ibu bisa bebas mencari laki-laki lain kalau mas sudah tidak tinggal di sini??"
"Maksud mas Samsuri itu apa sih sebenarnya? jangan berbelit-belit deh!!" ucapnya gusar.
Samsuri mengeluarkan ponselnya. Permainan panas istrinya semalam sudah terekam di dalam ponsel tersebut
Lalu dia mengirimkan vodeo tersebut keponsel Maya.
"Bukalah..." perintahnya.
Bukan main terkejutnya Maya melihat adegannya dengan Darma semalam. Wajahnya mendadak pucat pasi saat mendengar suara era*ngan dan desa*han dari mulutnya malah membuatnya bergidik.
Dipandanginya wajah Samsuri yang memandangnya dengan datar.
"Apa maksud semua ini bu? sudah berapa lama ibu selingkuh di belakang mas? mas salah apa dan kurang apa padamu dan anak-anak selama ini?"
Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Samsuri membuat Maya bungkam seribu bahasa.
Tiba-tiba Maya berlutut di depan suaminya itu.
"Tolong maafkan kekhilafan ibu ya mas..." mohonnya.
Samsuri menengadahkan wajahnya keatas menahan gejolak di dadanya.
Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka berumah tangga. Semua sudah dia korbankan untuk pernikahan yang tak dia inginkan ini termasuk juga mengorbankan perasaan dia dan tunangannya.Tapi sekarang apa yang di dapatkannya?
Hanya sebuah pengkhianatan berujung kekecewaan yang dia dapatkan.
"Maaf bu, tapi perbuatanmu ini sudah tidak bisa di tolerir lagi, ibu sudah benar-benar keterlaluan."
"Besok kita segera mengurus perceraian kita..."
"Ibu tidak mau pisah mas!! mas ngga kasihan sama anak-anak?" ucap Maya sambil menangis."
"Jika ibu sayang sama anak-anak, mengapa melakukan semua ini? mengapa ibu berselingkuh di belakang mas?" tanya Samsuri.
Tak ada kata yang bisa diucapkan oleh Maya selain penyesalan.
__ADS_1
Dia harus menerima karma dari perbuatan yang telah dia lakukan.
***Flashback off***
"Juma tak rela jika ayah akan dipermainkan seperti bapak Samsuri...Juma harus memperingatkan ayah akan hal ini."
"Yah...bolehkah Juma mengatakan sesuatu kepada kakek dan ayah?" katanya.
"Tentu Juma, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Niko.
"Kakek...ayah....kalau bisa sebaiknya ayah dan kakek jangan mudah terbujuk rayuannya ibu dan juga jangan biarkan ibu tinggal di sini!!"
"Memang kenapa, Juma? Tanya Jonathan.
Juma lalu menceritakan dari awal perceraian antara ibunya dan bapak tirinya Samsuri.
Bukan maksudnya untuk membuka aib ibunya sendiri tetapi dia hanya tak mau jika ayah yang sangat dicintainya akan jadi seperti Samsuri.
Jonathan dan Niko manggut-manggut mendengar semua cerita Juma.
"Ternyata Niko telah salah mengambil langkah, yah!! tapi mungkin inilah jalannya supaya Niko bisa menemukan anak kandung Niko."
"Tak ada yang salah jika takdir sudah berbicara, Niko...mungkin jalan hidupmu sudah begini...tak perlu disesali lagi."
*
*
"Dina...din..."
Dina menghentikan langkahnya, tapi dia tidak mau menoleh kebelakang karena dia tahu suara siapa yang memanggilnya itu.
"Dina..."
Juma berlari mengejar Dina dan berusaha mensejajarkan langkahnya denga Dina.
"Kenapa kamu selalu mendiamkanku? masih membenciku? salah apa aku padamu Dina?"
Dina memutar kepalanya kearah Juma, dia memandang tajam dan datar pada Juma.
Juma merasakan hatinya berdebar-debar saat ditatap sedemikian rupa oleh gadis manis itu.
Lalu Dina berbalik dan meninggalkan Juma. Tapi dengan cepat tangan Dina ditangkapnya.
"Lepas..."
Dina menatap horor pada Juma!!
"Lepas Juma...sebelum kupatahkan tanganmu!!"
"Please Dina, jangan benci aku!! aku sungguh tak tau apapun tentang semua ini."
"Lepas Juma, aku tidak mau berbuat kasar padamu!!"
Akhirnya Juma melepaskan tangan Dina. Hatinya sakit dan hancur...mengapa kesalahan kedua orang tuanya harus berimbas kepadanya juga?
"Andai kamu tau Dina, sejak pertama kita jumpa di rumahmu waktu itu...aku sudah jatuh hati padamu."
"Kulihat kamu dengan seragam SMP kamu dan memakai hijab bertubuh mungil dengan wajah yang teramat manis."
"Hanya sayang setelah kamu tau bahwa aku anak dari ayah Niko, kamu berubah jadi membenciku."
"Bahkan kamu dan keluargamu memutuskan untuk pindah dari rumah ini yang nota bene adalah rumah kalian."
"Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan bunda Sania, tapi jika kulihat dari foto pernikahannya dengan paman Miko saudara kembar ayah, dia wanita yang sangat cantik dan anggun...tak salah jika ayahku pun jatuh hati padanya."
"Maafkan aku juga ya bunda Sania, karena kehadiran ibuku di antara kalian maka pernikahanmu dan ayahku jadi batal...tapi aku juga tak ikhlas jika Dina menjadi saudara tiriku!!"
Juma berjalan gontai keparkiran motor untuk mengambil motornya.
Dia melajukan motornya dengan santai ketika sampai di persimpangan jalan yang sepi dia melihat Dina dan motornya berhenti karena telah di hadang beberapa remaja dari sekolah lain.
"Kalian lagi? belum kapok dengan tangan salah satu dari kalian yang terkilir? mau lagi?" ucap gadis itu penuh penekanan.
"Sombongnya kau cantik?? kau belum kenal kami rupanya."
"Untuk apa aku mengenal kalian, tak ada untungnya tapi banyak ruginya."
"Rian, bos kami suka padamu cantik...dia hanya minta baik-baik supaya kamu mau jadi pacarnya."
__ADS_1
"Terlalu pengecutkah dia untuk memintanya sendiri? sampai-sampai harus mengutus kalian seperti ini?" tanya Dina dengan ketusnya.
"Sombong sekali kamu?? mentang-mentang cantik dan adikku suka padamu?" ucap salah satu dari mereka. Dia sedari tadi hanya diam tiba-tiba angkat bicara.
"Hei kakak...santai, jangan marah-marah begitu!! aku tak suka pada adikmu, bagaimana jika denganmu saja?" Dina tersenyum sangat manis dan mendekat kepada Revan tapi secepat itu juga tangannya mencengkeram kerah baju Revan.
"Hei kau...aku tak peduli kamu setua apa...kuperingatkan padamu, konco-koncomu dan juga adikmu yang manja dan sok kecakepan itu...jangan berani-berani memaksakan keinginan kalian padaku atau nasib kalian akan seperti dahan pohon ini!!"
Dina menyambar dahan pohon yang lumayan besar yang patah karena diterjang hujan deras semalam.
Prakkkk..
Dahan sebesar lengan itu patah dua terkena hantaman tepi telapak tangannya.
Mereka semua mundur kecuali Revan yang nampak tenang walaupun kerah bajunya dicengkeram Dina dengan erat.
"Hebat sekali kau cantik...siapa namamu?" kau bilang tadi suka padaku, bagaimana jika aku juga suka padamu? aku sudah kuliah semester tiga tidak terlalu tua untukmu kan?"
"Jangan mimpi...!"
Dina mendorong tubuh Revan lalu melangkah tak acuh meninggalkan tempat itu menuju motornya.
Ckckck...
"Betul-betul gadis jagoan..." Revan mengangkat dahan yang patah terkena tebasan tangan Dina tadi.
"Bukan main...dia hanya menggunakan tenaga kasarnya!! ini dahan pohon hidup yang lumayan keras, hebat juga tenaga gadis itu!!" kata Revan tersenyum sambil memandangi kepergian Dina yang semakin jauh dengan motornya.
Sementara Juma hanya menonton dari tempat persembunyiannya. Dia juga mengakui kerasnya tangan gadis itu.
"Aku tak akan pernah berhenti untuk mendekatimu, Dina!! walaupun kamu membenciku setengah mati!!" gumamnya.
"Gimama ini kak?" tanya Toing pada Revan.
"Gimana apanya, Ing?" balik bertanya Revan.
"Pasti Rian akan marah pada kami karena gagal meminta gadis itu jadi pacarnya."
"Setelah kulihat-lihat...adikku tidak akan cocok dengan gadis bar-bar itu...bisa habis setiap hari badannya dijadikan samsak oleh gadis itu." kata Revan.
"Dia bukan gadis yang tertarik hanya dengan uang dan wajah tampan, dia bukan tipe gadis seperti itu."
"Buktinya, di kampus banyak para mahasiswi tergila-gila padaku, tapi nampaknya dia tak tertarik sama sekali denganku!!" ucap Revan datar.
Dina memacu kencang motornya karena takut kehujanan di jalan karena dilihatnya awan hitam tebal menggantung siap untuk jatuh.
Ketika dilihatnya ada seseorang terkapar di pinggir jalan memegang tongkatnya.
Naluri kemanusiaannya muncul. Karena pada dasarnya semua anak-anak Sania itu berhati lemah lembut seperti ibunya.
"Ada yang terkapar pingsan di pinggir jalan!!" ucapnya lalu menghentikan motor maticnya.
Seorang kakek terkapar setengah sadar setengah tidak. Dari pakaiannya yang terbilang bagus tetapi penuh debu.
"Sepertinya kakek ini habis dirampok deh, terlihat banyak luka lebam di tubuhnya!!" gumam Dina.
Dina menepuk bahu si kakek untuk menyadarkannya.
"Air..."
Gumam kakek tua itu dengan suara bergetar.
Dengan cepat Dina mengambilkan air dari dalam tasnya dan memberikan pada si kakek.
"Kakek ini darimana dan mau kemana?" tanya Dina.
"Kakek dari desa mau kekota mencari anak kakek...tapi di tengah jalan kaki dibohongi oleh tukang ojek yang membawa lari tas kakek...padahal uang dan alamat tujuan kakek ada di dalam tas itu."
"Waduh repot juga ya!!" kata Dina.
"Begini saja, kakek ikut Dina saja kerumah siapa tau ada pihak keluarga yang merasa kehilangan!!" jawabku
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya.🙏🙏🙏
__ADS_1