
"Ada apa Riko? kenapa kamu berteriak-teriak begitu? kamu menemukan harta karun di sungaikah?" tanya kakek Sanusi dan istrinya.
"Kakek lihatlah!!"
Riko mengacungkan sesuatu di tangan kanannya pada kakek Sanusi.
"Apa itu Riko?" kakek dan nenek hanya melihat benda seperti dompet dipegang oleh Riko.
"Ini dompet Riko, kek!! Alhamdulillahnya dompet Riko ini tidak sampai hanyut tetapi tersangkut di akar pohon tak jauh dari Riko ditemukan."
"Selama berbulan-bulan ada di sana, setelah air sungai mulai surut karena kemarau, dompet ini baru kelihatan.
Kakek mengecek isinya, semuanya masih lengkap hanya paspor dan visanya saja yang ikut terbakar.
"Dengan identitas ini kamu bisa mengurus paspor dan visa untuk kepulanganmu, nak!!" kata kakek Sanusi.
"Syukurlah kek, Riko tak sabar pengen kembali pulang, Riko kangen rumah, kangen keluarga Riko di sana.
*
*
"Sultan, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya kakak laki-laki Sultan saat di meja makan bersama adik dan istrinya.
"Dada Sultan sakit kak, sejak semalam Sultan tak bisa tidur." Kata Sultan seraya memegangi dadanya.
"Terus hari ini kamu nekad masih mau masuk mengajar dalam kondisi sakit begini?" tanya Tini sambil membawakan dua cangkir kopi.
"Hari ini anak-anak akan mengadakan ulangan semester kak!!" jawab Sultan sambil meringis menahan nyeri di dadanya.
"Sudahlah ngga apa-apa kak, doakan semoga Sultan baik-baik saja, ya!!" ucapnya sambil tersenyum.
Hari ini Sultan banyak tersenyum dan bercanda. Sepulang mengajar dia seperti biasanya singgah ke rumah Sania menjenguk Raftar dan menimangnya, membelikan camilan untuk Miko dan Miki.
"Nia, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu tetapi janji kamu jangan marah ya!!" ucap Sultan sore ini pada Sania.
Dia sengaja mengajak Sania jalan sebentar mumpung Raftar tidur dan si kembar bermain bersama kakak-kakaknya di rumah. Kak Della juga mengijinkan mereka pergi asalkan jangan terlalu lama karena ngga enak sama omongan orang sekitar.
Sultan memilih jalan ke pantai yang memang letaknya hanya berjarak 10 menit dari rumah Sania.
Mereka duduk di antara batang-batang bakau menikmati sejuknya hawa pantai di sore hari.
"Kamu mau bicara apa, Sultan??" tanya Sania sambil memandang Sultan.
Sultan tak langsung menjawab, dia diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Nia, sebenarnya sejak dulu aku ingin menyampaikan ini padamu tetapi aku takut dianggap mengada-ngada olehmu."
Sultan diam dulu sebentar untuk mengambil napas kemudian melanjutkan lagi perkataannya.
"Bertahun-tahun lalu sebelum Miko meninggal aku pernah diberikan amanat olehnya."
"Beliau memintaku untuk..." Sultan menggantung ucapannya seperti berat untuk melanjutkan ceritanya itu.
"Meminta untuk apa, Sultan?" tanya Sania.
__ADS_1
"Almarhum Miko memintaku untuk menikahimu agar aku bisa selalu melindungimu dan anak-anak."
"Tetapi aku tak pernah punya keberanian untuk mengatakan padamu sampai kamu hampir bertunangan dengan Niko lalu akhirnya kamu menikah denga Riko sampai Riko dinyatakan hilang hingga kini entah masih hidup atau sudah tidak ada lagi."
Sultan tampak menarik napas penuh kelegaan setelah menyampaikan unek-unek yang sudah bertahun-tahun dia pendam dan simpan sendiri di dalam hatinya.
"Mengapa kamu baru mengatakannya sekarang, Sultan?" tanya Sania setelah sekian lama mereka berdiam diri.
"Aku takut untuk mengatakannya padamu, Nia...sebagai laki-laki aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku...bahwa aku mencintaimu!!" pucat pasi wajah Sultan setelah mengatakan semua itu.
Keberanian itu tak mudah dan tak datang begitu saja, hanya Sultan tidak ingin terlambat untuk mengungkapkan sesuatu yang mengganjal perasaannya selama ini.
"Aku mengatakan ini karena aku harus pergi dalam waktu yang lama untuk meninggalkanmu dan anak-anak Nia!!" jawab Sultan sambil menunduk.
"Kamu mau pergi kemana Sultan?" tanya Sania.
"Aku di pindah tugaskan untuk mengajar di SMP di pedalaman sana yang memang membutuhkan seorang guru bahasa inggris!!" jawab Sultan.
"Sebenarnya aku berat untuk meninggalkanmu dan anak-anak tetapi ini adalah sudah menjadi tugas dan tanggung jawab serta kewajibanku."
"Kapan kamu akan kembali?" tanya Sania.
"Entahlah Nia, aku juga tidak tau dan tidak bisa menentukan kapan kembali." Sultan kembali membuang pandangannya ke laut lepas. Sakit rasa hatinya untuk meninggalkan wanita yang sudah sekian tahun telah dicintainya secara diam-diam itu.
"Aku tidak memintamu untuk mengiyakan perkataanku tadi, yang terpenting aku sudah mengatakan semuanya sebelum kepergianku."
"Seandainya kamu tidak terlambat untuk mengatakannya Sultan, tentu saat ini kita sudah punya keluarga yang bahagia!!" jawab Sania.
*
*
Sultan tampak menemui rekannya yang seorang pengacara. Sultan meminta kepemilikan kafe dan beberapa asetnya yang lain dibalik nama atas nama Sania.
"Kenapa harus begitu bro?" tanya sahabatnya itu.
"Kamu tau aku tidak punya ahli waris lain, istri dan anakku telah meninggal dalam kecelakaan bertahun-tahun yang lalu, kak Tini dan suaminya sudah punya usaha sendiri pula!!"
"Sania dan anak-anaknya lebih membutuhkan semua ini, karena suaminya juga sudah ngga ada, tak ada lagi yang menopang perekonomiannya sekarang!!" jawab Sultan dengan sedih.
Akhirnya tanpa diketahui oleh Sania, Sultan melakukannya. Dia sudah berdiskusi dengan kakak dan iparnya dan mereka sama sekali tidak keberatan pada usulan Sultan itu.
Sore itu cuaca mendung, gerimis perlahan turun. Sultan sudah tidak mengajar lagi karena dia tinggal menghitung hari sudah akan berangkat.
"Kak Sultan lelah, Sultan tidur sebentar ya...nanti saja makannya setelah selesai sholat Isya."
Tini yang memang sedang sibuk menyiapkan makan malam hanya mengiyakan saja. Suaminya juga baru selesai melaksanakam sholat maghrib.
"Sultan kemana bu?" tanya suaminya.
"Katanya dia lelah, dia ingin tidur sebentar dan minta dibangunkan nanti pas sholat Isya lalu makan malam."
Oooo
Suaminya hanya ber oooo ria saja mendengarkan perkataan istrinya.
__ADS_1
"Sudah azan yah, panggilkan Sultan untuk sholat..."
Suaminya beranjak menuju kamar Sultan. Diketuknya pintu kamar itu berkali-kali tetapi tak ada jawaban dari adiknya itu. Akhirnya dia masuk karena pintu kamar tidak dikunci.
"Sultan...bangun leh...sholat dulu baru makan!!!"
Sepi...
Hingga berkali-kali kakaknya mengguncang untuk membangunkan Sultan yang nampak tidur tenang terlentang dengan dua telapak tangan berada di perutnya.
Kakaknya mulai panik dan mengecek nadi di leher dan napas dari hidung adiknya.
"Ibu....ibu...."
Mendengar teriakan suaminya sang istri tergopoh-gopoh masuk ke kamar adik iparnya itu.
"Ada apa yah?? mengapa berteriak-teriak begitu?" kata Tini dengan napas terengah-engah.
Dilihatnya sang suami sudah duduk bersimpuh bersimbah air mata di samping pembaringan adiknya.
"Sultan bu, Sultan sudah ngga ada...dia sudah pergi meninggalkan kita semua!!" isak suaminya.
"Jangan mengada-ada yah..." kata Tini dengan suara bergetar.
"Orang Sultan lagi tidur gitu lho...sambil senyum gitu kok...sampean ada-ada wae..." kata Tini kesal.
Lalu dia membangunkan Sultan. Dan sama seperti suaminya, Sultan tidak memberikan reaksi apa-apa, dia hanya diam tak lagi bereaksi.
"Jangan main-main dengan mbak kamu ini, Sultan!! ayo bangun leh..."
Tetapi Sultan hanya diam membisu. Tak ada pergerakan apapun lagi di tubuhnya. Kakaknya memegang tubuhnya yang masih hangat.
"Dia baru saja pergi, yah!!" Tini mengucap sambil terisak sedih.
Innalillahi Wa innalillahi rojiun...
Suami Tini yang merupakan satu-satunya kakak kandung Sultan menciumi adiknya.
"Selamat jalan adikku, mas tau kalau penyakit jantungmu sering menyerangmu tetapi mas ngga menyangka jika kamu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa secepat ini."
"Allah sayang padamu sehingga Dia tidak ingin membuatmu menderita lebih lama di dunia ini...kamu orang baik semoga amal ibadahmu diterima di sisiNya."
Tini tak mampu mengucapkan apapun lagi selain terisak. Dia sangat menyayangi Sultan walaupun Sultan hanya sekedar adik iparnya, tetapi Tini yang terlahir sebagai anak bungsu telah menganggap Sultan sebagai adik kandungnya sendiri.
"Telepon pak RT yah, agar bisa secepatnya ditangani dan disiarkan di mesjid agar mereka tau bahwa Sultan telah tiada."
*
*
***Bersambung...
Selamat jalan Sultan, Allah sayang padamu dan tak ingin membuatmu menderita lebih lama lagi😭😭
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya🙏🙏
__ADS_1