
"Siapa namamu anak muda?" tanya kakek lagi!!
"Sania!!"
"Hah....masa laki-laki namanya Sania, kek?" jawab istrinya perlahan tak yakin.
"Siapa?"
Ulang kakek Sanusi lagi, siapa tau tadi telinganya salah mendengar!!
"Sania!!"
Mata laki-laki itu tampak meredup dan mengerenyit menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Sania..." lagi-lagi nama itu yang keluar dari bibirnya.
"Haus..."
Kakek Sanusi membantunya untuk duduk sementara istrinya membantu untuk minum.
"Aku di mana?" dia mulai mengedarkan pandangan matanya ke segala arah ruangan.
"Kamu di rumah kami nak!!" sahut kakek Sanusi sementara istrinya hanya memandang dengan iba.
"Di mana istriku kek?" tanyanya lagi.
"Istri saya sedang hamil 5 bulan kek...saya harus pulang, istri saya membutuhkan saya!!" katanya.
"Kamu beristirahat saja dulu nak, oh iya siapa namamu?" tanya kakek Sanusi.
Pria di depannya tampak berpikir keras, urat-urat di pelipisnya tampak menonjol.
"Saya tidak tau kek, saya tidak ingat sama sekali!!" jawabnya.
"Lalu bagaimana tubuh kamu bisa penuh luka bakar begini?" tanya kakek lagi.
Dia memandangi dadanya dan meraba wajahnya.
"Saya tidak tau kek, yang saya ingat saya pergi pamit dengan istri saya...hanya itu yang bisa saya ingat!!"
"Kamu ingat siapa nama istrimu?" tanya istri kakek Sanusi pada pria asing itu.
"Sania!!" jawabnya.
"Aneh...namamu sendiri bahkan mengapa kamu bisa terluka begini kamu tak bisa ingat, tetapi begitu di tanya nama istrimu kamu langsung ingat bahkan kamu juga ingat jika istrimu sedang hamil." jawab kakek.
"Karena memori ingatannya hanya tertuju pada wanita yang dia cintai itu kek, itulah mengapa dia bisa langsung ingat walaupun dia tak mampu mengingat masa lalunya.
__ADS_1
"Kasihan sekali pria ini, lalu bagaimana kita bisa membantunya untuk pulang kek? terus kita panggil apa dia?" tanya istrinya.
"Karena dia telah selamat jatuh dari ketinggian dan masih hidup sampai sekarang, bagaimana kalau kita memberinya nama Selamat?" kata kakek lagi.
"Kok Selamat sih kek? jika kita bisa menyembuhkan luka bakarnya, nenek yakin, pria ini berwajah sangat tampan..." ujar nenek sambil cemberut.
"Cuma sementara nek, dari pada kita menyebutnya dengan kata hai...hei saja!!" jawab suaminya.
"Kek, saya lapar...adakah sedikit makananmu untuk saya makan?" tanya Selamat.
"Ahmed, tolong ambilkan abang ini makanan ya?" kata nenek memberi perintah pada Ahmed yang hanya diam mendengarkan semenjak tadi.
****
Sudah dua bulan lamanya semenjak kejadian kecelakaan itu terjadi.
Luka bakar Selamet berangsur pulih apalagi kakek Sanusi yang memang seorang tabib, dia banyak menggunakan ramuan obat-obatan herbal untuk mengobati luka Selamat sehingga luka bakar Selamat mulai membaik.
Sekarang sudah mulai kelihatan wajah tampan Selamat walaupun masih ada bekas luka kecelakaan itu.
"Bang Selamat, ternyata wajah abang sangat tampan!!" kata Ahmed.
"Pagi ini kita jalan-jalan yuk bang, supaya abang ngga bosan di rumah terus!!" ajak Ahmed yang langsung disetujui oleh Selamat.
Mereka berdua menyusuri sepanjang sungai untuk mencari ikan. Selamat sangat senang, dia dengan riang bersama Ahmed menangkap ikan di sungai.
Dia mengerenyitkan dahinya seolah berpikir keras. Selamat tiba-tiba memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Dia merintih merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian belakang kepalamya.
"Abang...abang Selamat kenapa, bang??" tanya Ahmed ikutan panik.
"Kepala abang sakit sekali, Med...kita pulang aja yuk!!" ajak Selamat pada Ahmed.
Dengan segera Ahmed membereskan ikan yang mereka dapatkan. Lalu mereka berdua melangkah pulang menuju rumah.
Sepanjang perjalanan Ahmed memegang lengan Selamat dengan erat. Dia takut akan terjadi sesuatu pada Selamat.
Benar saja, tak jauh dari rumah kediaman kakek Sanusi, Selamat lalu roboh tak sadarkan diri. Ahmed panik setengah mati sambil berteriak memanggil kakek dan neneknya.
"Kakek...nenek...tolongin Ahmed, bang Selamat pingsan...Ahmed tak kuat untuk membopongnya!!"
Segera kakek Sanusi dan istrinya dengan tergesa-gesa keluar rumah dan membantu Ahmed.
"Sebenarnya ada apa Ahmed?? mengapa bang Selamat bisa seperti ini?" tanya kakek sambil membaringkan Selamat diruang tengah.
"Ahmed tak tau kek, tadi di sungai bang Selamat tengah menatap burung-burung yang terbang di atas tebing lalu tiba-tiba bang Selamat merasa sakit di kepalanya lalu mengajak Ahmed pulang.
__ADS_1
Hampir setengah jam Selamat pingsan, lalu dia mulai sadarkan diri dan mulai membuka matanya.
"Saya di mana? mah...mamah...kamu di mana? papah takut di sini sendirian, jemput papah di sini, mah!!" Selamat menangis terisak. Keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya.
"Selamat...kamu sudah sadar, nak??" tanya kakek Sanusi.
"Selamat?? siapa Selamat kek? nama saya Riko, Riko Ananda Baskoro..." jawabnya singkat."
"Syukurlah kamu sudah sadar dan ingat namamu, lalu apakah kamu juga ingat mengapa kamu bisa hanyut tersangkut di akar pohon di sungai?" tanya kakek Sanusi lagi.
"Tentu saya ingat, kek...saya kabur dari orang-orang suruhan ayah saya yang mau memaksa saya untuk menikah dengan wanita pilihan mereka."
"Saya di panggil pulang dari Indonesia kemari dengan alasan ayah saya sakit dan di rawat di ugd...sekalinya sampai di sini saya hanya di jebak untuk dinikahkan."
"Ya sampai matipun saya tidak maulah, saya sudah menikah dan istri saya sedang mengandung anak kami, tetapi ayah tetap tidak mau tahu."
"Saya dikurung di kamar tetapi saya berhasil kabur...hanya saja orang-orang suruhan ayah terus mengejar saya sehingga motor saya berserempetan dengan sebuah mini bus lalu mini bus dan seluruh penumpangnya termasuk saya dan juga motor saya terguling ke jurang dan meledak."
"Saya masih sempat menyelamatkan diri, akan tetapi karena ledakan itu tubuh saya terpelanting jauh dan masuk ke sungai."
"Saya akhirnya hanyut terbawa arus sungai sampai kemari kek!!" Riko mengakhiri ceritanya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu...
"Wajah dan sebagian tubuh saya kek? pasti penuh dengan luka bakar?" katanya sangat panik.
"Tenang nak Riko, wajah dan separuh badanmu memang banyak terkena luka bakar, tetapi setelah hampir dua bulan kami merawatmu dengan ramuan dedaunan yang kakek racik sendiri, kulitmu yang melepuh dan terkelupas sudah berangsur pulih." kata kakek Sanusi.
"Lalu bagaimana caranya saya pulang ke Indonesia menemui istri saya dan anak-anak saya kek?" Riko terisak lagi.
"Istri saya itu sedang sakit kek, dia terkena kanker darah, setiap saat saya selalu ada di dekatnya untuk memberikan semangat padanya, tetapi sekarang? bagaimana keadaannya sekarang ya Allah..." Riko benar-benar menangis membayangkan keadaan keluarganya dan nasib pernikahannya.
"Kamu tenanglah dulu nak, kami pasti akan membantumu setelah suasana mereda karena nenek baru saja pulang dari kota, banyak selebaran mengenai orang hilang disebar."
Lalu kakek Sanusi memperlihatkan selebaran yang terpampang jelas gambar wajah Riko.
"Kedua orang tuamu masih mencari keberadaanmu, karena dalam kecelakaan itu sama sekali tak di temukan jenazahmu di dalam jurang itu." kata kajek Sanusi lagi.
Riko hanya termenung. Dielusnya cincin pernikahan di jari manisnya dengan perasaan sedih.
"Maafkan papah ya mah, papah ngga bisa tepati janji papah untuk menjaga mamah selamanya."
*
*
***Bersambung...
Akhirnya kamu sadar Riko, cepatlah kembali karena keluargamu di Indonesia masih menunggu kedatanganmu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenya.🙏🙏😊😊