
Tini tak mampu mengucapkan apapun lagi selain terisak. Dia sangat menyayangi Sultan walaupun Sultan hanya sekedar adik iparnya, tetapi Tini yang terlahir sebagai anak bungsu telah menganggap Sultan sebagai adik kandungnya sendiri.
"Telepon pak RT yah, agar bisa secepatnya ditangani dan disiarkan di mesjid agar mereka tau bahwa Sultan telah tiada."
Krompyang....
Gelas di tangan Sania terlepas sendiri dari tangannya.
Dina lari bergegas keluar dari kamarnya karena mendengar suara benda pecah itu.
"Ada apa bun? benda apa yang jatuh itu tadi?" tanya Dina.
"Gelas yang bunda pegang jatuh sendiri dan pecah!!" sahut Sania.
"Hati-hati bun, biar Dina yang membersihkan pecahannya...jangan sampai terkena tangannya bunda."
"Ada apa ya ini, Dina?? perasaan bunda itu ngga enak sejak sore tadi...rasanya hati bunda seperti berdenyut sakit sekali tetapi bunda tidak tau apa penyebabnya."
"Bun...ada telepon dari tante Tini!!" teriak Juned sambil membawakan ponsel Sania kepadanya.
📱"Assalamualaikum..."
📱"Ya...ada apa Tin?"
📱"Sultan Nia, Sultan...
Suara Tini terdengar masih menangis sambil menelponku.
Deg...tiba-tiba aku berdebar mendengar nama Sultan di sebut oleh Tini.
📱"Ada apa dengan Sultan, Tin?? apa dia sakit dan masuk rumah sakit lagi??"
📱"Bukan Nia, tapi Sultan sudah pergi!!"
📱"Lho, katanya dia perginya tiga hari lagi...kok pergi sekarang?"
📱"Bukan pergi itu Nia, tapi pergi untuk selamanya meninggalkan kita semua."
📱"Maksud kamu apa sih, Tin?? Aku ngga ngerti!!"
📱"Sultan baru saja meninggal dunia, Nia...baru satu jam yang lalu."
Bluk...
Aku langsung terduduk lemas dan ponsel di tanganku langsung terlepas begitu saja dari genggamanku.
"Tidak...tidak mungkin...baru kemarin dia bercerita bahwa dia mencintaiku, bahwa dia mengemban permintaan dari Miko untuk menikahiku, tetapi mengapa sekarang dia malah pergi meninggalkanku?"
Aku menangis tanpa suara. Mau rasanya aku tak percaya dengan berita yang dikabarkan oleh Tini, berkali-kali kucubit lenganku kurang puas kutampar pipiku berkali-kali untuk sekedar memastikan ini kenyataan ataukah hanya sekedar mimpi.
"Ada apa bun??? bunda kenapa?" tanya Dina panik melihat kondisiku yang terduduk lemas di lantai.
Syifa, Juned, kak Della, semua menghampiriku.
"Om Sultan..."
Aku tak sanggup untuk meneruskan kata-kataku lagi, karena setelahnya aku tak bisa mengingat lagi apa yang terjadi, pandangan mataku mulai mengabur dan akhirnya aku jatuh pingsan.
Kak Della mengambil alih ponsel di tanganku.
__ADS_1
📱"Halo!!"
📱"Iya halo kak? apa yang terjadi dengan Nia, kak Della?"
📱"Nia pingsan Tin, sebetulnya ini ada apa Tin?"
📱"Sultan kak, Sultan telah meninggal kurang lebih satu jam yang lalu."
📱"Innalillahi Wa Innalillahi rojiun"
Siapa yang meninggal tante?" kata Dina.
Om Sultan, Dina...om Sultanmu telah meninggal dunia.
Mendengar itu Dina, Syifa dan Juned langsung menangis. Kabar meninggalnya Sultan yang secara tiba-tiba jelas membuat kami semua terpukul.
"Kak...aku ingin menjenguk Sultan..." suaraku terdengar sangat lirih.
"Tapi Nia, kondisimu benar-benar tidak memungkinkan."
"Kak, tolonglah...aku ingin menemani Sultan sebelum dia di makamkan!!" aku tetap keukeuh pada pendirianku.
📱"Tin...malam ini kami mau ke rumahmu, Sania ingin melihat Sultan.
📱"Baiklah kak Della, kami akan menunggu kalian.
📱"Assalamualaikum..."
📱"Waalaikum Salam..."
Kami tiba di rumah Tini dan di sana keadaannya sudah ramai dengan ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang melayat.
Dia mendekat dan duduk di samping jasad itu. Disibakkannya kain penutup dan tampaklah wajah Sultan yang damai seperti seseorang yang tengah tertidur.
"Sultan..." Sania mengguncang tubuh Sultan perlahan.
"Bangun yuk...ini aku, kamu jangan tidur terus...ayo buka matamu...mana janjimu mau menemaniku sepanjang hayatmu? mana janjimu kemarin ingin selalu bersamaku?"
"Kamu sama seperti yang lain, kamu membohongiku, kamu berjanji untuk tetap tinggal tetapi mana janjimu? kamu malah pergi meninggalkanku bahkan untuk selamanya."
"Ayolah Sultan...buka matamu untukku!!"
Air mata terus mengalir di pipi Sania membuat semua yang juga merasa sangat sedih. Ayat suci dikumandangkan, yasin dan surah-surah pendek mengalun dari bibir-bibir mereka yang datang melayat.
Sania tetap duduk tak beranjak dari sisi Sultan, dari bibirnya tak henti mengalunkan ayat-ayat suci.
****
Esoknya para murid, teman-teman sesama guru, rekan bisnis dan tetangga semakin banyak yang berdatangan.
Almarhum semasa hidup memang terkenal sangat baik dan ramah kepada siapa saja.
Niko, Juma, Jonathan, Sofwan juga sudah ada di sana. Mereka juga sempat tidak percaya dengan kabar meninggalnya Sultan yang mendadak.
Menurut diagnosa dokter Alvin yang turut hadir, mungkin sebelum memutuskan untuk tidur, Sultan sudah merasakan sakit di dadanya akan tetapi terus di tahan oleh Sultan, dia membawa tidur mungkin bermaksud untuk mengurangi rasa sakitnya.
Mau bagaimanapun itu diagnosanya, Sultan sudah pergi ke tempat di mana dia tak akan merasakan lagi rasa sakit yang kerap melandanya.
"Bun pulang yuk!!" ajak Dina saat dia masih melihat bundanya dengan setia duduk di samping makam Sultan.
__ADS_1
"Ikhlaskan saja kepergian om Sultan bun...kita doakan saja semoga seluruh amal kebaikan om Sultan diterima di sisinya."
Kasihan Raftar dan si kembar jika ditinggal di rumah bersama bibi kelamaan, bun!!" kata Dina.
"Om.Sultan pasti sangat sedih melihat keadaan bunda seperti ini...nanti di sana pasti om Sultan jadi ngga tenang."
****
Sania duduk di teras sendirian seperti sore-sore sebelumnya.
Biasanya sepulang mengajar Sultan pasti singgah memberikan camilan untuk si kembar, memyapa dan mengajak Sania ngobrol walaupun hanya sebentar.
"Om Sultan sudah lewatkah, Syifa? semenjak tadi bunda tunggu om Sultan ngga ada lewat!!" kata Sania sambil sesekali matanya mengarah keujung jalan yang biasanya Sultan muncul dengan motor maticnya.
"Bunda..."
Hmmm
"Bunda..."
"Iya ada apa Syifa?" tanya Sania.
"Om Sultankan kemarin baru saja di makamkan, bun!!" jawab Syifa.
Lama Sania terdiam seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Oh iya, bunda lupa...berarti om Sultan tidak akan pernah datang lagi, ya!!"
Nada bicara Sania terkesan biasa saja tetapi dari dua kelopak matanya, air mata tak henti menetes.
"Bunda..." Syifa juga memeluk bundanya sambil menangis.
"Bukan hanya bunda yang kangen sama om Sultan, tapi kita semua kangen padanya.
"Nia..."
Niko tiba-tiba muncul di samping Nia.
"Mau apa kamu datang kemari lagi, Niko?" sorot mata Sania datar menatapnya.
"Sania...aku tau Sultan sangat berarti untukmu, dia selalu ada setiap saat kamu membutuhkannya."
"Iya...dia sahabat tertulus dan terbaik yang pernah aku punya!!" jawabku.
"Aku sangat bahagia sempat mengenalnya, berada di dekatnya...walaupun kami tidak di takdirkan untuk hidup bersama tapi aku sangat lah bahagia.
"Iya...dia memang lelaki yang sangat baik sehingga Allah cepat memanggilnya.
*
*
***Bersambung...
Pangeran tampan berkuda putih itu sudah pergi untuk selamanya. Semua orang sangat kehilangan terutama Sania!!
Mampukah Sania menjalani hidup tanpa Sultan làgi??"
Ikuti terus kisah selanjutnya ,ya🙏🙏
__ADS_1