
"Papah kenapa?? kok nampak sedih seperti itu??" tanya Sania pada suaminya.
"Papah sekarang takut jauh dari mamah, takut sewaktu-waktu mamah pergi papah tak ada di samping mamah!!" ucap Riko pelan seolah menahan beban berat di dalam hatinya.
"Sudah ya...jika mamah sudah tenang, kita tidur kembali!!" kata Riko mengelus kepala istrinya.
******
"Raftar...jangan jauh-jauh mainnya ya!! bunda mau bersih-bersih di ruang tamu dulu...ngga lama bang Miki sama Miko pulang sekolah...jangan main lari-lari bunda ngga kuat ngejar...kasihan dedek bayi dalam perutnya bunda." Tegur Sania pada Raftar.
Keadaan rumah sepi waktu itu. Kak Della lagi di tempat fotokopian, Dina, Juned dan Syifa masih di sekolah...dan ibu Intan sedang menjemput si kembar di sekolahnya, Riko sudah berangkat ke kantor pagi buta tadi bersama Johan asistennya. Ada masalah di kantor cabang...begitu kata Riko tadi pagi.
Lalu di rumah hanya tinggal Sania dan Raftar saja.
"Bos...benarkan bocah lelaki itu yang menjadi sasaran kita??" tanya salah satu dari keempat orang tersebut.
"Sepertinya iya...lihat nih foto yang diberikan bos besar untuk kita!!" kata si kepala botak yang di panggil bos oleh rekannya.
"Kita lihat dulu situasinya, biasanya di jam-jam begini semua orang pada sibuk hanya tinggal ibunya itu saja!!" kata si botak.
Keempat orang itu terus mengawasi posisi rumah yang lengang dan mengawasi kegiatan tetangga sekitar di jam seperti ini.
Karena kebanyakan yang di tinggal di sekitar rumah Hans yang di tempati oleh keluarga Sania itu rata-rata pekerja...maka sekitaran jam 9 itu sudah terlihat sepi.
Tampak Raftar yang belum terlalu lancar berjalan mondar mandir membawa mainan mobil tayo yang dibelikan neneknya kemarin untuk dia dan dua kakak kembarnya Miko dan Miki.
Sania sibuk bersih-bersih di ruang tamu karena rencananya besok sore mau diadakan pengajian di rumah mereka.
"Raftar...jangan jauh-jauh ya mainnya ingat pesan bunda..." teriak Sania.
Pintu pagar yang setinggi pinggang orang dewasa itu memang dikunci oleh Sania agar tidak bisa dibuka Raftar yang memang hiper aktif persis seperti abang-abangnya dulu.
"Sekarang Jo..." bisik si botak saat melihat Sania sedang membawa sesuatu dari ruang tamu ke arah dapur.
Ssstttt...ssstttt adik kecil.....
Raftar menoleh kearah pagar saat ada suara memanggilnya.
"Sini...." lambai si botak.
"Ini om punya permen...sini cah ganteng!!" lambai si botak.
Karena posisi si botak terlindung di samping pagar, Sania dari dalam rumah hanya melihat Raftar bermain mobil tayo nya di dekat pintu pagar yang terkunci.
Sambil berberes di dapur sambil Sania menjenguk Raftar.
Jengukan pertama dan kedua dia masih melihat Raftar mondar mandir di depan pagar, pada jengukan ketiga Sania tak lagi melihat putranya itu.
__ADS_1
"Raftar....Raftar...." teriak Sania dari dalam rumah.
Sepi...tak ada sahutan Raftar.
"Raftar!!!!"
Sania mulai panik dan berlari keluar rumah.
Sepi...Raftar tak ada di manapun sementara pintu pagar masih terkunci.
Sania berlari panik mencari kesekitar rumah sambil meneriakan memanggil nama putranya.
Di tengah kepanikan itu datang Dina dengan sepeda motornya.
"Bunda...tadi pas Dina pulang bersamaan dengan Juma dan Nathan yang mau kemari mengantar pesanan om Niko tapi kami bertiga melihat ada mobil avanza hitam keluar dari jalan arah rumah kita kok sepertinya mencurigakan lalu Juma dan Nathan mengikuti mobil itu karena terdengar suara tangisan anak-anak dari dalam mobil dan Dina langsung pulang." Kata Dina.
"Adikmu Raftar Dina...baru sebentar bunda berberes di dapur begitu bunda keluar adikmu sudah ngga ada padahal kondisi pintu pagar masih terkunci, tak mungkin Raftar bisa membuka pintu pagar yang terkunci!!" Sania sudah bersimbah air mata sambil berteriak memanggil-manggil Raftar.
Dina juga panik tetapi akal sehatnya tetap berjalan. Dengan cepat di teleponnya Nathan dia tak mungkin menelpon Juma karena posisi Juma yang membawa motor.
π±"Halo Nathan...kalian berdua ikuti terus mobil itu...nyalakan GPS agar kita tetap saling terhubung.
π±"Memangnya ada apa Dina??"
π±"Feeling kita tadi benar guys...ada yang tak beres dengan mobil itu...adikku Raftar menghilang!!"
Tittt
Nathan mematikan sambungan telepon. Sementara Dina langsung menelpon papanya karena Sania sudah terduduk lemas di lantai sambil menangis.
π±"Halo pah...pulang pah...Raftar diculik dan ini bunda lagi syok berat...kawan Dina tadi berusaha masih mengikuti mobil avanza hitam yang sedang membawa Raftar.
π±"Apa??? oke...oke papah akan segera pulang secepatnya...jika bisa bilang sama temanmu untuk mengirimkan plat mobil itu."
π±"Baik pah..."
π±"Tolong tenangkan dulu bundamu agar tidak terjadi apa-apa dengannya, papah akan segera secepatnya pulang."
π±"Baik pah!!"
Semua sudah dihubungi. Kak Della segera menutup toko, ibu Intan segera membawa Miko dan Miki pulang.
Bagaimana tiba-tiba Dina, Juma dan Nathan datang bersamaan??
***Flashback on***
"Din...nanti sore aku dan Nathan kembali ke kota karena pertandingan basket antar sekolah sudah selesai."
__ADS_1
"Ada titipan dari ayah Niko untuk bunda Sania, baru kemarin sore paketnya datang...aku sama Nathan mau antar kerumahmu."
"Ooo kalau begitu sekarang ajalah...ini aku tidak ada pelajaran juga lagi pula perasaanku ngga enak sejak tadi!!" kata Dina.
Lalu mereka bertiga naik motor beriringan.
Sampai di persimpangan yang agak jauh dari rumah Hans yang ditempati oleh keluarga Sania, ketiganya melihat ada mobil avanza yang mencurigakan bergerak meninggalkan jalan itu dengan suara tangisan balita di dalamnya.
"Guys...kenapa aku jadi curiga dengan mobil itu ya, ini jalan menuju kearah rumah kami!!" kata Dina.
"Juma...Nathan....bawa kemari barang paket dari om Niko aku yang bawa pulang, kalian berdua ikuti mobil itu dan jangan sampai mereka curiga kalau kalian mengikuti mereka." Perintah Dina.
Maka saat tiba di depan rumah dia mendapati bundanya menangis-nangis sambil mencari dan memanggil-manggil nama Raftar, maka semakin kuatlah dugaannya ada apa-apa yang terjadi di rumah.
***Flashback off***
Riko sudah mengerahkan seluruh anak buahnya menyebar untuk mencari orang-orang yang berani menyakiti keluarganya apalagi sampai menculik putra kesayangannya.
Ibu Intan dan kak Della membawa Sania ke dalam untuk menenangkannya yang menangis sejak tadi.
"Sayang...sayang..." kata Riko yang baru datang langsung masuk dan menenangkan istrinya.
Dia dan Johan meninggalkan rapat dengan para pemegang saham begitu mendengar apa yang diceritakan oleh Dina di telepon.
Sambil bergerak pulang ke rumah dia segera mengerahkan orang-orangnya.
Dia memeluk istrinya berusaha menenangkan wanita yang tengah mengandung anak keduanya itu.
Diam-diam Dina menghubungi kedua adiknya untuk menyuruh mereka pulang...karena sekolah Syifa dan Juned berdekatan jadi mereka bisa naik motor berdua untuk pulang.
"Pulanglah...adik Raftar diculik, di rumah semua orang sedang panik...mari kita bantu mencari adik kita!!" perintah Dina kepada Syifa dan Juned.
Karena terlalu banyak menangis dan panik akhirnya Sania yang memang sudah sakit-sakitan akhirnya jatuh pingsan kembali.
Riko segera mengangkat dan menggendong istrinya ke kamar.
"Ibu...tolong teleponkan dokter keluarga, bu!!" kata Riko yang berusaha tenang menghadapi situasi yang sudah semakin tidak kondusif ini.
Lalu dia memerintahkan Johan untuk bergerak lebih cepat untuk mencari keberadaan putranya, Raftar.
*
*
***Bersambung...
Berhasilkah mereka menemukan Raftar?? bagaimana dengan Juma dan Nathan yang telah lebih dulu mengikuti mobil si penculik itu??
__ADS_1
Hayo...dukungannya ya guys...Kutukan Cinta sudah mendekati bab-bab terakhirππ