
"Lho, mengapa perutmu rata Vi??? semestinya kehamilanmu sekarang sudah menginjak usia 9 bulan!!" kata Sofwan sambil melirik perut Vivi yang rata.
"Karena aku tau yang kukandung bukan anakmu, maka aku menggugurkannya...aku ingin mengulang lagi saat kita di hotel waktu itu agar aku bisa hamil anakmu, Sofwan!!" kata Vivi santai.
"Gila kamu Vi, ibu macam apa kamu ini?? jahat sekali obsesimu itu??" teriak Sofwan dengam kesal.
"Ayolah Sofwan...apalagi yang kamu takutkan?? tak ada lagi yang akan menghalangi kita...kita sama-sama single, aku sendiri dan kamu juga sendiri, apa lagi??" kata Vivi sambil memeluk lengan Sofwan yang memegang setir.
"Lepaskan, Vi...aku tak mau mengulangi dosa yang telah kita perbuat dulu...sudah cukup kamu menjebak ku dengan obat perang*sang waktu di hotel itu."
"Apa yang kamu harapkan dari Sania, Sofwan??" teriak Vivi kesal.
"Dia sudah menikah dengan orang lain sekarang dan dia sama sekali tak menginginkanmu!! hanya aku yang selalu setia dengan perasaanku padamu!!" ucap Vivi berapi-api.
"Sania tidak ada hubungannya dengan hal ini, jadi jangan libatkan dia dalam masalah kita."
"Dia pantas mendapatkan yang terbaik dan bukan laki-laki kotor sepertiku, dan kamulah yang membuatku bergelimang dosa dan maksiat, Vi!! seandainya aku tidak terjebak dengan cinta satu malam denganmu, mungkin saat ini aku sudah menikahi Sania kembali dan berkumpul bersama keluargaku lagi!!" kata Sofwan geram sambil menyetir.
"Oke Sofwan...jika aku tak bisa memilikimu maka jangan harap ada wanita lain yang juga boleh memilikimu!!"
Tiba-tiba Vivi merampas setir yang dikendalikan Sofwan dengan kasar.
"Vivi...apa-apaan kamu?? lepaskan setang mobil ini biarkan aku membawanya dan mengantarmu pulang."
"Vivi..."
Sofwan menjadi panik saat mobil melaju dengan tidak beraturan dan membuat puluhan klakson berbunyi bersamaan.
"Ayo Sofwan kita mati bersama...untuk apa aku hidup bila tak lagi bersama denganmu...kamu adalah satu-satunya alasanku untuk hidup!!"
Ciiitttt....bruak...
Ayla merah tua itu menghantam pembatas jalan dengan keras membuat pengendaranya mengalami benturan keras di kepalanya.
Untuk tak ada kendaraan lain yang ikut menghantam mobil yang dikendarai Vivi dan Sofwan jika tidak bisa di pastikan mobil mereka akan terjun bebas ke sungai.
Sania baru saja mengalami sakit hebat di kepalanya. Dengan langkah sempoyongan dia menuju dapur untuk mengambil air minum.
Prangggg...
Gelas di tangan Sania terjun bebas menghantam lantai setelah sebelumnya mengenai kakinya terlebih dahulu.
Tidak ada orang di rumah. Kak Della membawa si kembar dan Raftar, juga Dina, Juned dan Syifa pergi ke supermarket di ujung jalan.
Sebenarnya mereka sedang menunggu kedatangan Sofwan untuk datang menjemput seperti janjinya pada mereka mau berjalan-jalan keliling kota Balikpapan.
__ADS_1
Tetapi karena belum kunjung datang sementara Raftar sudah rewel akhirnya kak Della berinisiatif mengalihkan perhatiannya dulu membeli snack di supermarket.
"Ya, Allah sakitnya...." rintih Sania melihat kakinya yang kemerahan terkena gelas yang jatuh menimpa kaki mulus itu.
Dia berusaha melangkah terseok-seok untuk mengambil sapu dan serok di dapur.
Awhhhh...
Lagi-lagi telapak kakinya terkena pecahan gelas yang pecah. Darah mengucur dari luka di telapak kaki itu.
"Assalamualaikum...."
Sekian menit Hans berdiri di depan pintu yang terbuka tetapi tak ada seorangpun yang membalas salamnya.
Hans memberanikan diri untuk masuk saat mendengar suara benda pecah di lantai.
Masuknya Hans bersamaan dengan limbungnya Sania ke lantai dan cepat ditangkap oleh Hans jika Hans terlambat datang sedikit saja bisa di pastikan seluruh wajah cantik Sania akan terkena serpihan kaca yang terhambur di lantai dapur.
"Ibu...ibu tidak apa-apakan??" Hans membopong tubuh Sania dan mendudukan bos nya itu di sofa agar bisa melonjorkan kakinya.
"Subhanallah, cantiknya!!" batin Hans menatap Sania yang tanpa menggunakan hijab.
Rambutnya yang berombak tergerai sedikit kusut di punggungnya, dia hanya menggunakan piyama tidur lengan panjang.
"Hans tolong saya...sedari tadi saya itu kepingin minum tapi gelas di tangan saya meluncur jatuh mengenai kaki saya dan pecahannya melukai telapak kaki saya." rintihnya.
Dia kembali ke dalam mencari kotak P3K lalu membersihkan luka dan mengobati kaki Sania.
"Terima kasih ya Hans...tetapi kamu datang kemari tadi ada keperluan apa??" tanya Sania setelah rasa nyeri di kakinya berkurang.
"Oalah...iya, saya lupa bu tadi saya datang ke sini mau mengembalikan ponsel ibu yang tertinggal di ruangan kerja ibu, tak sengaja tadi saya masuk untuk mengantarkan laporan dan saya melihat ponsel ibu tertinggal lalu saya berinisiatif untuk mengembalikannya." kata Hans apa adanya.
Sania mengambil ponselnya dan mengecas ponsel itu sebentar lalu kemudian menghidupkannya.
Dahi Nia mengerenyit melihat panggilan tak terjawab dari Sofwan puluhan banyaknya.
Lalu Sania mencoba menelpon balik, setelah sekian lama mencoba akhirnya panggilan tersambung.
Tapi yang membuat Sania kaget bahwa si penerimanya bukan suara mas Sofwan tetapi suara seorang wanita.
π±"Halo Assalamualaikum, selamat malam...ini dengan siapa ya!! Tanya seseorang dari seberang sana.
π±"Waalaikum Salam...maaf jika boleh saya tau kemana si pemilik ponsel ini!! ini ponsel milik Sofwan Prayoga kan?" tanyaku.
π±Ooh ini dengan ibu Sania?? Jadi begini bu, bapak Sofwan ini mengalami kecelakaan di jalan tol...pak Sofwan masih selamat sementara wanita yang bersamanya meninggal di tempat.
__ADS_1
π±"Sebenarnya tidak bisa juga pak Sofwan dikatakan selamat karena kondisinya pun tak kalah mengkhawatirkan dari wanita yang bersamanya tadi....sebelumnya beliau berulang kali menyebut nama Sania jadi kami berinisiatif mencari di kontak pak Sofwan dan menemukan nama Sania Love dan kami menghubungi sedari tadi ponsel anda tidak aktif.
π±"Di rumah sakit mana mereka berada....maaf jika boleh tau saya sedang bicara dengan siapa ya??"
π±"Saya suster Ayu!! mereka sekarang ada di rumah sakit xxx.
π±"Terima kasih suster, saya akan segera kesana!!"
Lalu sambungan telepon terputus dan Sania terhenyak di sofa dengan penuh linangan air mata.
"Bu...ibu tidak apa-apa??? ibu baik-baik saja kan?" tanya Hans khawatir.
Sania bangkit dengan tertatih lalu dia menatap Hans intens membuat si empunya diri merona merah wajahnya ditatap sedemikian rupa oleh sang wanita pujaan.
"Hans...bisakah saya minta tolong padamu?" tanya Sania.
"Katakan saja bu, jika saya bisa saya pasti usahakan untuk membantu ibu semampu saya!!" ucap Hans mantap.
"Tolong antarkan saya kerumah sakit xxx, pak Sofwan sedang kritis di sana!!" kata Sania.
Tanpa banyak bicara Hans mengambil kunci motornya yang tadi dia letakan di atas meja televisi, kebetulan tadi dia menggunakan sepeda motor sebab jika naik mobil di saat weekend begini pasti jalan raya akan sangat padat, jika naik motor bisa menyelip sana sini.
"Tunggu sebentar ya Hans...saya ambil jilbab dan jaket serta helm..."
Lalu tanpa menunggu jawaban Hans, Sania melangkah sedikit tertatih ke dalam kamar. Sebenarnya Hans sangat kasihan melihat bos nya jalan dengan kaki pincang seperti itu tapi tak mungkin juga dia akan menggandeng tangan Sania ke kamar.
Tak lama dia keluar dari kamar. Dan tampak dia menelpon seseorang, kemudian setelah memberi tahu dia akan kemana kemudian mereka berjalan keluar.
"Ibu tidak apa-apa kita naik motor kerumah sakit xxx perjalanannya lumayan jauh lho bu!!" kata Hans.
"Sudah Hans...jangan cerewet seperti perempuan, jalan saja!!" kata Sania sambil memegang pundaknya.
"Apa kata bunda, tante??? mengapa bunda nampak sangat panik?" tanya Dina.
"Bapakmu, Dina...bapakmu kecelakaan di jalan tol sekarang tengah kritis di rumah sakit!!" kata kak Della juga ikut panik.
"Kenapa dengan bapak, tante?? bapak kecelakaan??" teriak Juned dan Syifa bersamaan.
*
*
****Bersambung....
Vivi sudah mendapat ganjarannya sendiri, lalu bagaimana dengan nasib Sofwan?? apa yang akan terjadi dengannya kemudian??
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys..like, komen, vote, favorit dan ratenyaπππ