
"Kepala bunda agak pusing, yah..." Aku duduk bersender di sofa.
"Iya, makanya jangan langsung berdiri, nanti bunda pingsan...kan darahnya habis diambil."
"Terima kasih ya pak Miko...."
""Terima kasih sayang....ternyata kamu tak pernah berubah, dari dulu hingga sekarang, hatimu tetap putih seperti kapas."
"Terima kasih ya...Nia!!"
"Iya pak sama-sama!!"
"Terima kasih banyak ya mbak...saya mewakili ayah saya juga mengucapkan terima kasih!!" Kata Angga.
Sofwan memandangi Sania yang bersender di sofa, wajahnya agak pucat setelah darahnya diambil dua kantong tadi.
"Aku bersyukur pernah memilikimu dalam hidupku...walaupun aku tak tahu, dapatkah waktu berpihak kepadaku untuk membawamu kembali?"
"Ingin sekali rasanya aku memelukmu...memeluk anak-anak kita...tapi jika kamu tau aku sudah sadar dari amnesiaku, pasti kamu akan menjauhiku."
"Lagi pula keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi sekarang."
"Biarlah aku hidup sebagai Sofwan yang amnesia, yang lupa akan masa lalunya...biar keadaan tetap membaik."
"Supaya aku tetap bisa bersamamu...bisa didekatmu...walaupun hanya dalam situasi kerja saja."
Ada rasa perih di hatiku, melihat Miko menyuapkan bubur kacang hijau untuk Saniaku. Ada rasa tak rela.
Aku cemburu? Ya jelaslah....akuu masih sangat mencintai istriku dan sampai kapanpun rasa cintaku tak akan pernah pudar.
Aku tak mau menyebut Sania itu mantan, karena pada kenyataannya, aku menceraikannya dalam keadaan kondisiku yang tak sadar."
Setelah aku sadar, semua telah berubah...ada Anggita di sisiku menggantikan dia...bahkan Anggita telah mengandung anakku.
Awalnya aku stres kembali. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa, istri yang kucintai menikah dengan laki-laki lain.
Aku tak bisa menerima ada wanita lain di sampingku menggantikan posisinya.
Tapi setelah aku melihat perutnya yang membuncit, aku jadi tak tega padanya karena di dalam rahimnya ada darah dagingku.
Jadi aku lebih baik memutuskan untuk meneruskan sandiwara cinta ini.
"Pak Irawan, pak Sofwan, mas Angga...keadaan istri saya sudah membaik, kami pamit pulang sekarang ya...agar istri saya bisa leluasa istirahat di rumah."
"Sekali lagi atas nama keluarga, saya ucapkan banyak terima kasih." Kata Sofwan.
"Yah...bunda lelah...besok aja kita lanjutnya ya..."
"Bunda ngga usah melakukan apa-apa...bunda cukup diam dan rasakan saja...biar ayah yang pegang kendali."
*
*
__ADS_1
Keadaan Anggita mulai membaik. Bayi kami perempuan. Eyang kakungnya meminta diberi nama Aisyah!!
Aisyah sudah bisa dibawa pulang, karena dia lahir sangat sehat. Ayah mertuaku menunda kepulangannya ke Yogya. Sementara Anggita belum pulih benar.
Tapi alhamdulillah istriku sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Pah...bagaimana keadaan putri kita? Aku belum sempat melihatnya, pah..."
"Nanti kalau mamah sudah pulang ke rumah, pasti bisa menghabiskan waktu bersama putri kita.
*
*
Aku termenung di dapur kantor. Sudah 2 hari sejak donor darah itu, aku tak melihat Sofwan lagi. Sepertinya dia cuti selama istrinya masih di rumah sakit.
"Dek, kamu ngga usah ngapa-ngapain dulu...biar mas yang mengerjakan, kamu urusi Dina aja...nanti kalau kondisimu sudah pulih baru boleh beraktivitas."
"Aduh...Dina pipisnya kok banyak banget toh, nak...liat bapakmu tuh...ngga berhenti nyuci popokmu..."
"Yah biar toh, dek...namanya juga bayi...emang itulah pekerjaannya."
"Hayo...nbak Nia melamunkan apa?" Rahmat menepuk pundakku.
"Kebiasaan kamu ya, Mat...kerjamu ngagetin orang aja!!"
"Habis sedari tadi kusapa, mbak Nia ngga merespon."
"Terus kamu ke sini mau ngapain?"
"Mbak...pak Sofwan belum masuk kerja ya..."
"Kayaknya belum, Mat...ustrinya masih dirawat."
"Atau mbak Nia lagi ngelamunin pak Sofwan...hayo ngaku?"
"Sialan kamu, Mat...nanti kalau ada yang dengar disangka betulan, padahal..
"Padahal iya..."
"Ngga lama kuhajar juga kamu, Mat..."
"Eh mbak Nia...aku mau bilang sesuatu tapi jangan marah ya..."
"Asal kamu jangan bilang yang ngga-ngga aja, Mat..."
"Aku cuma mau bilang yang iya-iya aja kok, mbak..." Dengan cuek dia mengaduk bumbu di mie instannya.
"Waktu ke pernikahan mbak Nia dan pak Miko, aku melihat tiga orang anak kecil di belakang kalian...itu anak-anak mbak Nia atau pak Miko?"
"Itu anak-anakku...kenapa memangnya, Mat?"
"Yang cowok itu ganteng banget ya mbak...aku lihat dia tertawa dan ada lesung pipit di dua pipinya."
__ADS_1
"Persis lesung pipit seperti punya pak Sofwan...wajah mereka juga kok mirip-mirip dengan pak Sofwan, ya..."
Deg...jantungku berdegup mendengar perkataan Rahmat...dari mana anak kampret ini bisa punya pemikiran seperti itu?
"Kamu kalau lapar cepat makan, Mat...jadi jalan pikiranmu ngga ngawur seperti sekarang ini."
Rahmat tersenyum penuh arti memandangku...lalu dia memakan mie instannya.
"Tapi kalau kuperhatikan dari awal masuk menggantikan kedudukan pak Miko, Pak Sofwan itu sering mencuri pandang ke mbak Sania lho..."
"Matanya menatap penuh cinta dan harapan...dia tak berani mendekati, mungkin karena kedudukannya, karena kalian sudah sama-sama berkeluarga dan karena dia menantu dari pemilik perusahaan ini."
"Makin sengklek kayaknya otak si Rahmat ini."
"Mat...habis makan ini, kamu kembali gih ke lantai 2..."
"Dari pada kamu ngomongnya makin ngawur aja."
*
*
Aku mengaduk es tehku, sudah lima menit aku mengaduk tanpa kuminum sedikitpun.
Anggita sedang beristirahat di ruangannya, lalu kutinggalkan untuk mencari makan di kantin rumah sakit.
"Kangen kamu...." Aku berbisik lirih!!
"Dek...bahagiakah kamu dengannya? Sepertinya kamu sangat bahagia dengannya!!!"
Dulu kita hidup serba pas-pasan...kita sering mencari kangkung di rawa. Aku sering membawa pancing mencari ikan, untuk lauk makan kita
"Tapi kita sangat bahagia...dulu semua harus kudapatkan dengan membanting tulang memeras keringat...tapi aku sangat menikmatinya."
"Karena apa? Karena kamu dan anak-anak selalu bersamaku...kalianlah alasanku untuk bahagia."
Aku meremas rambutku galau..."Sekarang hidup serba kecukupan begini, punya kedudukan, punya istri cantik dan kaya, mertuaku yang sangat baik."
"Tapi mengapa hidupku hampa? Itu karena kalian tak lagi bersamaku."
"Bagaimana juga kabar Dina, Juned dan Syifa, ya? Masihkah mereka mengakui aku sebagai bapaknya?"
"Anak-anakku...bapak kangen kalian, nak?"
Ingin rasanya aku bertanya keadaan mereka pada Sania. Tapi aku takut, kalau Sania menyadari bahwa ingatanku sudah pulih kembali.
"Apakah Juned sudah bersekolah ya? Sudah setahun mereka kutinggalkan..."
"Apa Syifa masih suka ngompol ya?" Dalam senyumnya hati Sofwan menangis pilu.
"Om baik-baik saja?" Aku kaget saat ada seorang anak kecil sebaya Juned menyapaku.
"Air mata om nya tadi berkali-kali masuk kedalam es teh di gelas itu..."
__ADS_1
Aku sungguh tidak menyadarinya...Aku terlalu larut dalam sedih dan sepiku...
...Bersambung....Reader yang terhormat...Happy reading ya...Jangan bosan dengan cerita novelku. Tetap beri dukungan like, komen, vote dan favoritnya jika berkenan...Terima kasih...🙏🙏...