
Aku sedang sendirian di kamarku yang bau obat-obatan. Kerjaku hanya nonton televisi aja...
Miko sejak pagi sudah berangkat ke kantor, sehabis mengantar Dina ke sekolah barunya. Syifa dan Juned sama bibi di rumah Miko sementara aku sakit.
"Ingat pesanku beb...jangan keluar kamar ya..."
"Aku ngga mau kamu bertemu lagi dengan mereka di luar sana, nanti kondisi kamu ngedrop lagi kayak semalam."
Memang semalam kondisi kesehatanku ngedrop lagi. Badanku menggigil dan napasku sangat sesak, membuat Miko panik setengah mati.
Pagi ini kalau tidak kupaksa mungkin dia tidak akan turun bekerja. Aku tidak mau karena sakitku, menghambat kegiatan semuanya.
"Assalamualaikum...apa mamak baik-baik aja di lumah sakit?"
Senyumku merekah saat video call melihat wajah Juned dan Syifa yang sudah segar di mandikan bibi.
"Waalaikum salam...mamak baik-baik aja nak...kalian jangan nakal di rumah ayah Miko ya...jangan membuat repot bibi."
"Kita ngga nakal mak...kita main game aja di kamal sambil nunggu kak Dina pulang sekolah."
"Mamak kapan pulang? Kita kangen sama mamak..."
"Doain mamak cepat sembuh ya...biar cepat pulang."
"Kalian sudah sarapan pagi?"
"Sudah mak...kita pagi tadi salapan loti sama ayah Miko dan kak Dina."
"O...ya sudah...Itu ada susternya...mamak matikan dulu teleponnya ya...nanti kita sambung lagi."
"Bagaimana kondisinya mbak Nia? Saya dengar ngedrop lagi semalam ya..." Dokter andri memeriksaku didampingi oleh suster cantik kemarin.
"Jangan terlalu banyak yang dipikirkan dulu mbak...karena mbak Nia ini juga ada riwayat asma dan asam lambung yang sudah akut."
"Nanti kalau ngga sembuh-sembuh, ngga akan bisa pulang lho..."
"Iya dokter..."
Aku minum obat yang diberikan pagi ini setelah sarapan pagi. Rasanya semua makanan yang masuk lewat tenggorokanku terasa hambar tak berasa.
Miko belum ada menelponku, mungkin dia sangat sibuk pagi ini. Aku melamun memandang keluar jendela, teringat lagi kejadian kemarin.
"Cantik...wanita itu sangat cantik...pantaslah keluarga mas Sofwan mendukung mereka."
"Sementara aku apa? Sejak awal pernikahan kami, hanya mertuaku saja yang peduli padaku."
"Setelah kedua mertuaku tiada, aku hanya di anggap benalu tak berguna."
"Tampaknya mas Sofwan begitu berbahagia sekarang...walaupun dia amnesia, tapi sangat jelas kebahagiaan itu terpancar dari matanya."
"Apalagi sekarang istrinya sedang mengandung anak pertama mereka."
Aku menatap nanar keluar jendela. Merasakan kesakitanku seorang diri.Sakit di badan belum lagi sakit di hati. Mungkin sakit di badan ini beberapa hari lagi akan sembuh, tapi sakit di dalam hati? Akankah ada obatnya?'
"Drrrtttt...Drrrrttttt...."
Aku kaget mendengar handphoneku berbunyi. Ada telephone masuk dari Miko.
"Assalamualaikum...halo sayang bagaimana kondisimu pagi ini?"
"Waalaikum salam...aku baik-baik saja, Ko..."
__ADS_1
"Kamu tetap stay di kamar aja kan? Ngga pergi kemana-mana kan?"
"Ngga Ko...aku ada di kamar aja...ngga kemana-mana."
"Coba aktifkan dulu videonya...aku mau melihat kondisimu..."
Aku menghapus sisa air mataku, aku tidak mau Miko melihatku dalam keadaan rembes dengan air mata begini.
Aku menyalakan videonya...Kulihat di sana wajah tampan Miko, rupanya dia baru selesai meeting.
"Kok wajah bidadariku kucel begini? Bukan habis menangiskan?"
"Ooo tidak kok...aku menjawab agak gugup."
"Bagaimana tadi Dina di sekolah barunya? Apa dia senang?"
"Semoga dia senang beb...tadi kulihat dia langsung dapat teman baru..."
"Syukurlah kalau begitu..."
"Nanti jam makan siang aku mampir ke rumah sakit ya...tadi juga kumintakan izin kalau kamu sakit."
"Kayaknya ntar sore, mbak Fina dan Rahmat juga beberapa karyawan lain akan membesukmu."
"Ya sudah...sebentar aku ada meeting lagi...ingat jangan kemana-mana, di kamar aja."
"I love you so much baby...muaahhh."
Aku tersenyum melihat Miko menempelkan bibirnya di layar."
"I love you too...aku balas menempelkan bibirku."
"Ddrrtttt...Drrttt...Handphoneku berbunyi lagi..."
Kulihat siapa yang menelpon..
Tini menelponku...lamanya aku tak lagi saling berkomunikasi dengan para sahabatku.
"Sakit apa kamu, Nia? Kok ngga ada kasih kabar, sih? Pindah aja ngga bilang-bilang..."
"Siapa yang bilang aku sakit, Tin?"
"Dina semalam menelpon kami, bilang kalau kamu masuk rumah sakit."
"Sore nanti kami bertiga akan membesukmu...sekarang tinggal di mana?"
"Tinggal ngga jauh dari kantor...supaya bisa pulang makan siang di rumah pas jam istirahat."
"Kami dengar dari Juned, katanya ada calon bapak baru lagi kah?"
"Baguslah kamu bisa move-on dari bang Sofwan sialan itu...sekarang ngga perlu gantengnya yang penting dia mengerti kamu dan sayang sama anak-anakmu."
"Biar ganteng tapi kalau selalu makan hati?"
"Di rumah sakit mana kamu dirawat sekarang?"
"Di rumah sakit Permata Kasih...Tin."
"Tunggulah sore nanti kami pasti datang...kamu minta dibawakan apa?"
"Apa aja Tin..."
__ADS_1
"Sekalian kami mau kenalan dengan laki-laki yang dipanggil ayah oleh Juned dan Syifa."
Setelah itu aku merasa sangat kesepian lagi...tak terasa aku jatuh tertidur...
*
*
"Dina...Jangan jauh-jauh metik kangkungnya...nanti Juned dan Syifa jatuh terpeleset."
"Tenang mak...ada bapak yang jagain adek...ngga akan jatuh kok..."
Mereka berempat tertawa gembira di dalam rawa yang di tumbuhi banyak kangkungnya.
"Sini turun dek...kok di atas aja?"
"Ngga ah mas...itu kaki sama baju kalian aja sudah becek semuanya."
"Ih mamak cemen...." Teriak Juned dari rawa kangkung.
"Dek ada ikan gabusnya lho...ayo turun bawa itu serok ke sini..."
"Nanti malam kita makan tumis kangkung sama ikan gabus goreng..."
"Mas...jangan sampai ke tengah...di situ agak dalam lho..."
Tapi mas Sofwan tidak menggubris teriakanku...dia asyik mengejar ikan sampai ke tengah...
"Dek...tolongin mas...."
"Mas kenapa?" Aku berteriak panik dari pinggir.
"Mas masuk ke lumpur hisap dek..."
Karena panik maka lumpur itu terus menerus menghisap mas Sofwan hingga tak tersisa sama sekali.
"Tolong...tolong..." Aku menggapai-gapaikan tanganku...
"Sayang...sayang...bangun...kamu kenapa?" Miko mengguncang-guncang badanku dengan panik.
"Mas Sofwan, Ko...mas Sofwan tenggelam di dalam lumpur hisap..."
Aku menggigil mandi keringat...mimpi itu serasa teramat nyata.
Napasku tersengal-sengal terasa sesak...tenggorokanku sangat sakit karena aku berteriak-teriak histeris.
"Ya Allah beb...kenapa kamu jadi begini? Sebegitu kuatkah masa lalu itu mengikatmu? Sampai di mimpipun kamu tersiksa seperti ini."
Miko memelukku dengan erat. Berusaha menenangkanku yang gemetar ketakutan.
Tangannya terkepal, rahangnya menggembung menahan kemarahan yang menggelora dihatinya.
Rasanya hatiku tak rela melihatmu menderita begini kak Nia, sementara orang yang selalu kamu pikirkan tak pernah sedikitpun memikirkanmu. Bahkan dia sekarang sudah hidup bahagia.
Sementara kamu selalu tenggelam dalam keterpurukanmu.
Semenjak kamu bertemu dengannya dua hari lalu, kulihat kamu begitu menderita. Aku harus bagaimana agar kamu bisa melupakan dia sepenuhnya?
***Bersambung....
Seperti biasa author mengharapkan like, komen, vote dan favoritenya ya guys....Terima kasih***...
__ADS_1