
"Ngga usah mengendap-endap begitu, yah...bunda belum tidur."
"Jam berapa ini, yah...ini sudah jam sebelas malam...kenapa baru pulang?"
"Maafin ayah, ya bun...ayah ngga bisa menolak ajakan rekan-rekan kerja ayah di kantor."
Aku hanya diam saja...setelah meletakan sepatu, tas kerja dan menggantung baju serta jasnya aku lalu masuk ke kamar.
"Malam ini bunda mau tidur sama anak-anak..." Tanpa menunggu persetujuannya aku berbalik dan masuk kamar.
Aku kesal pada Miko...ini bukan kali pertama dia telat pulang dengan alasan tak enak dengan teman-teman kantornya.
Sudah hampir dua minggu terus saja begitu. Kerjapun sekarang aku harus berangkat sendiri, karena tujuan kami tak searah.
Memang sih, Miko membelikan motor matic untukku. Dan akupun tak pernah pulang telat seperti hari pertama pak Sofwan menjabat sebagai manajer personalia.
Aku berangkat jam setengah tujuh, Miko masih mandi dan aku kadang malam sudah tidur karena kelelahan, Miko baru pulang ke rumah.
Pak Sofwan juga sekarang tidak pernah kerja lembur lagi, karena dalam minggu-minggu ini kemungkinan Anggita akan melahirkan.
"Bunda...ayah belum pulangkah...kok tidur dengan kami lagi?"
Dina berbalik menatapku dengan wajah yang masih mengantuk.
"Bunda kesal dengan ayah kalian...sudah dua minggu ini pulang ke rumah larut malam terus.
"Maafin ayah jika sudah membuat bunda marah...ayah tau, ayah salah.
"Mestinya ayah bisa berkata tidak pada mereka semua."
"Sudah dua minggu ini kita jarang bersama dan bertemu.
"Sebenarnya ayah juga kangen sama bunda...apalagi kita masih pengantin baru gini."
Miko hanya mengintip sedikit dari balik pintu tanpa berani masuk ke dalam.
*
*
"Lho...kalian kok sarapan bertiga aja...bunda kalian ngga ikut sarapan?"
Miko menarik kursi dan duduk disebelah Juned.
"Bunda berangkat tadi pagi, yah...bunda kerja hari ini..." Kata Dina.
"Lho...inikan hari sabtu...kok bunda kerja...biasanya libur..."
"Hari ini kata bunda ada acara di kantor, yah..."
"Kok bunda kalian ngga bilang sama ayah, ya??"
"Habis ayah sibuk kelja telus sih..." Syifa nyeletuk sambil mengunyah rotinya.
Akhirnya Miko diam. Kalau sampai Sania tidak pamit padanya, artinya Sania marah sekali. Akhirnya dia pun berinisiatif menyusul ke kantor.
__ADS_1
"Eh ada pak Miko..." Sekuriti di pos depan menyapa Miko.
"Emang ada acara apa pak"
""Pak Irawan berkunjung kemari sekalian menjenguk bu Anggita."
"Silahkan...masuk saja pak Miko..."
"Saya tunggu di sini aja pak...ngga enak...saya bukan lagi bagian dari kantor ini."
Hampir jam 2 siang acara baru selesai. Rata-rata karyawan sudah pada keluar, tapi istriku belum kulihat batang hidungnya. Mungkin masih sibuk ringkes-ringkes di dalam.
Sejam kemudian dia keluar bersama Rahmat dan mbak Fina. Wajahnya tampak sangat lelah sekali.
"Bun...." Aku berteriak dari pos sekuriti.
Dia menghentikan motor maticnya. "Ngapain ayah di sini? Biasanya sering menghabiskan waktu dengan rekan-rekan di kantor, yah..."
"Bun...kok ngomongnya gitu sih??" Ayah sudah 3 jam lho nongkrong di sini nungguin bunda."
"Ya siapa suruh datang kemari? Kan bunda naik motor sendiri."
"Kan ayah bawa mobil...ya pulang aja sendiri...bunda pulang naik motor."
Tanpa menunggu lagi, aku langsung tancap gas meninggalkannya.
Miko kalang kabut berlari menuju mobilnya untuk mengejarku.
Tanpa kami sadari, ada sepasang mata dari balik korden lantai 1 melihat kami sambil tersenyum.
Miko...suatu hari nanti, aku akan mengambil apa yang menjadi milikku kembali."
"Sofwan...kita juga pulang yuk...kasihan Anggita menunggu di rumah."
"Iya, yah...mari.."
Ternyata senyum itu milik Sofwan..." Tak ada yang tau apa maksud gumamannya tadi.
Sementara itu Miko masih berusaha mengejar Sania istrinya yang masih kesal karena perbuatannya.
"Ngebut banget sih bun...ayah kesulitan mengejar nih...apalagi jalan ramai begini."
Aku yang kebetulan memang masih jengkel, meliuk-liuk di jalan seperti Rossi, sehingga membuat Miko kesulitan mengejarku.
Aku masuk duluan setelah memarkir motor. Dan tak lama Mikopun datang.
Setelah memarkir mobil dia lari mengejarku. "Sayang...dayang...kok marahnya berkelanjutan sih? Ayah kan sudah minta maaf, bun."
Aku berbaring menghadap tembok sambil memeluk guling. "Bunda masih jengkel sama ayah."
"Iya bun...ayah minta maaf...jangan cuekin ayah terus bun."
Akhirnya aku tak tega juga mendengar rengekannya.
"Janji ya...ayah tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
"Ini peringatan pertama sekaligus jadi yang terakhir buat ayah."
"Iya bun...ayah janji ngga akan mengulanginya lagi."
"Sakit kepala ayah atas bawah, selama dua minggu di cueki sama bunda."
Aku berbalik menghadapnya. "Memang kepala ayah ada dua?"
"Iya...kepala besar sama kepala yang kecil, bun...bunda ini memang ngga tau atau pura-pura ngga tau sih?"
"Kan sudah dua minggu ayah ngga di kasih jatah malam, bun..."
"Makanya kalau jadi suami jangan kemenyek'an...gitu kan jadinya."
"Iya...tapi nanti malam jatah ya bun...kan besok hari minggu, bisa sampai subuh nih..."
"Enak betul ngomongmu yah...emang ngga capek apa..."
*
*
"Pah....perut mamah sakit banget..." Anggita meringis menahan sakitnya.
"Jangan-jangan mamah mau melahirkan, mah?"
"Kita kerumah sakit aja yuk...mungkin dia ingin pas keluar dilihat oleh eyang kakungnya."
"Sebentar ya...papah ambil tas yang sudah papa siapkan dulu...Sekalian mau pamit sama ayah."
Sofwan lalu masuk mengambil tas pakaian yang memang sudah seminggu disiapkannya, jadi begitu Anggita mulai kontraksi, itu tas tinggal tarik tanpa harus mencari lagi pakaian bayi dan kebutuhan bayi, serta pakaian salin untuk Anggita nanti.
Mendengar suara ribut-ribut di luar, pak Irawan keluar dari kamarnya.
"Anggita kenapa, Wan? Sudah waktunya mau lahirankah?"
"Sepertinya begitu, yah...ini mau Sofwan antar ke rumah sakit."
"Ayolah ayah ikut dengan kalian ke rumah sakit."
"Ayah tidak capek? Kemarin sudah seharian ikut di acara kantor?"
"Ngga apa-apa, Wan...Ayah tidak mau melewatkan momen ini, melihat dan ikut mengadzani cucu pertama ayah yang lahir."
"Ya sudah terserah ayah saja...ayah dan Anggita tunggu di mobil dulu ya....Sofwan mau mengecek pintu dan jendela dulu sebelum berangkat."
"Jangan lama ya pah...perut mamah sudah sakit banget nih..."
"Iya mah...sebentar aja kok, dari pada nanti ada apa-apa di rumah, sewaktu kita semua di rumah sakit."
Bergegas Sofwan mengecek semua pintu dan jendela lalu kompor, setelah aman dia setengah berlari menuju kehalaman setelah mengunci pintu depan.
"Kamu duduk saja di samping istrimu...biar ayah yang mengemudikan mobilnya, Wan!"
Setelah mengunci pintu pagar, Sofwan naik dan duduk di samping Anggita. Mengelus-elus perut dan pundak istrinya...agar Anggita tak terlalu merasa kesakitan."
__ADS_1
***Bersambung....
Happy reading๐๐ Author terus mohon like, komen, vote dan favoritnya ya...Agar author tetap semangat menulisnya....Terima kasih๐๐๐***