Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 78 Ngidam


__ADS_3

"Yah...kenapa kok jalannya buru-buru amat? ini mah, namanya jalan cepat bukan mau jalan santai."


"Cepetan, bun...ayah sudah ngga tahan nih!!!"


"Mau ngapain yah? Mau bokerkah?"


"Bukan bun, dari tadi ayah itu nahan mau muntah."


"Perut ayah mual banget, kali ayah ini masuk angin."


"Kejauhan dah bun, kalau pulang ke rumah...di situ aja ah..."


Miko lari kearah selokan dan nongkrong lagi di sana. "Huek..huek...aduh...habis semua keluar lagi yang ayah makan tadi, bun!!"


Kupijat tengkuk dan belakang lehernya untuk mengurangi rasa sakit dan mualnya. Kuolesi sama minyak kayu putih yang selalu kubawa di kantongku.


Wajah Miko pucat pasi, butiran keringat dingin memercik di dahinya.


"Sudah yah? Atau masih ingin muntah lagi?"


"Sudah bun, nanti di rumah pijitin ayah ya, bun."


"Lemes banget badannya ayah, bun...rasanya tenaga ayah seperti terkuras habis."


Kami berjalan pulang. Dalam hatipun aku membatin, "pas aku hamil dulu...mas Sofwan juga mengalami gejala seperti yang Miko alami sekarang."


Dalam hatiku bertambah was-was jadinya, aku takut anak yang ada dalam kandunganku ini bukan hanya anak Miko, tapi ada anak mas Sofwan juga.


"Ayah kenapa bun? Sakitkah? Perasaan tadi pagi semangat banget mau jalan santainya." Dina yang sedang menyiram bunga di halaman, menyapa kami.


"Iya, ayah lagi sakit...ayah mau istirahat dulu ya...bilang sama Juned dan Syifa supaya kalau main jangan berisik ya, nak!!" Miko berkata sambil mengelus rambut Dina.


"Iya, yah...nanti Dina bilang ke adek-adek."


*


*


"Huek...huek...."


"Papah kenapa, pah? Jangan-jangan masuk angin pulang kehujanan semalam, ya!!!"


"Aduh...papah juga ngga tau nih, mah...pas bangun tidur tadi rasanya kepala papah pusing dan perut papah mual banget."


"Papah ini seperti orang lagi ngidam aja, yah?"


"Hah? Ngidam?" Aku membatin dalam hati.


"Masa Anggita hamil lagi? Secara Aisyah baru berumur dua bulan?"

__ADS_1


"Tapi sewaktu Anggita hamil itu, aku aman-aman saja tak mengalami gejala apapun."


"Hanya saja...." Mendadak aku terhenyak!! Gejala seperti ini kualami setiap kali Nia sedang hamil."


"Aku yang merasakan ngidamnya, sementara dia baik-baik saja."


Tiba-tiba dengkulku terasa lemas, hatiku jadi tak karuan rasa. "Apa mungkin Nia yang sedang hamil? Apa mungkin waktu kami berhubungan intim malam itu, aku telah menanamkan benihku lagi di rahimnya?"


"Tapi kami berhubungan hanya sekali? Tapi tak menutup kemungkinan juga pada saat itu, Nia sedang dalam keadaan masa suburnya?"


"Ini mamah buatkan teh hangat, papah minum dulu, ya..."


"Terima kasih, mah! Mungkin papah sakit karena kehujanan semalam." Aku beralasan.


Aku berbaring kembali di samping Aisyah, putriku dengan Anggita. Pikiranku kembali melayang ke masa sebulan yang lalu. Tak terasa sudah sebulan aku tak pernah bertemu Nia lagi.


Rindu? Jangan tanyakan lagi, aku sangat merindukannya. Lebih gila lagi aku selalu membayangkan malam panas yang telah kulewati bersama mantan istriku itu.


Pasti sekarang dia sudah bahagia, hidup bersama Miko, sementara aku? Aku selalu hidup dalam bayang-bayang kenangan saat masih bersamanya dan sangat sulit untuk melupakannya walau aku telah hidup bersama dengan Anggita.


Kupandangi wajah imut Aisyah yang tengah tertidur pulas. Lalu terbayang kembali wajah ketiga anakku saat mereka masih bayi.


Air mata tak terasa menetes dari kelopak mataku. Anak-anak yang kini telah kusia-siakan bahkan sampai sekarang aku tak pernah melihat mereka lagi.


"Aduh...perutku kok masih mual, ya? jangan-jangan memang benar kata Anggita kalau aku sedang mengidam.


Kucoba pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang rasanya asam untuk mengurangi rasa mualnya.


"Apa Nia tau kalau dia sedang hamil, ya? Aduh bisa gawat kalau begini, bagaimana besok aku berangkat ke kantor, ya? Mana kepalaku juga pusing banget lagi....haduh..."


*


*


Aku duduk di taman belakang sendirian. Anak-anak di kamar sedang bermain game dan Miko sedang beristirahat di kamar.


"Apa aku coba beli test pack aja ya, aku sebenarnya juga penasaran...apa benar sekarang aku sedang hamil?"


"Kalau memang aku sedang hamil, lalu ini anak siapa? Jika ini anak mas Sofwan, aku tambah merasa berdosa pada Miko suamiku."


"Tapi jika ini anak mas Sofwan, kenapa ayah yang mengidam?"


"Jadi ingat mas Sofwan lagi, kenapa aku sulit sekali untuk bisa melupakan dia? Padahal dia sekarang sudah bahagia dengan keluarga barunya."


"Mas...seandainya tak ada masalah yang menimpa rumah tangga kita, seandainya keluargamu bisa menerima kehadiranku di tengah mereka, tentu kita masih bersama saat ini."


"Dulu kita pernah bermimpi untuk menua bersama, melihat anak-anak tumbuh besar dan dewasa hingga mereka menikah, menimang cucu-cucu kita."


Tapi ternyata semua mimpi kandas. Manusia punya rencana, tapi Allah juga lah yang menentukan.

__ADS_1


*


*


Flashback


"Aduh...kenapa setiap kamu hamil, selalu mas yang menderita sih, dek? Mual, muntah. sakit kepala, ngga enak makan, lengkap penderitaan yang mas alami."


"Sementara kamu? Ngga terlalu mual, makan juga enak-enak aja, kenapa jadi mas yang limpahan sengsaranya?"


"Ya, mana aku tau mas!!! Mungkin ini bawaan bayinya...."


"Bawaan bayi kok tiga-tiganya kompak, mau bikin bapaknya sengsara."


Aku hanya tertawa saja mendengar ocehan mas Sofwan. Nanti setelah memakan sesuatu yang asam, baru reda mual dan muntahnya.


Sebenarnya kasihan juga sih mas Sofwan, pekerjaannya jadi terbengkalai semua gara-gara dia mabuk karena ngidam.


"Bun...kenapa senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu ya...bukan lagi menertawakan ayah tadi kan?"


"Eh...kok sudah bangun yah? Sudah baikankah? Sudah hilang pusing dan mualnya?"


"Sudah agak mendingan, bun!! Ngga kayak tadi pagi kok."


Miko duduk di sebelahku, wajahnya masih agak pucat.


"Ayah kepengen makan yang kecut-kecut, bun!! Siang kita ke supermarket beli buah-buahan, yuk..."


"Kayaknya di bikin rujak enak ya, bun? Miko tampak berkali-kali menelan air liurnya.


Aku hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuannya.


"Bun, katanya tadi mau pijitin ayah!!!"


"Lho, ayah sendiri tadi datang langsung tidur...gimana bunda mau mijetin?"


"Sekarang aja ya, bun...sekalian...sekalian apa, yah? Yang jelas kalau ngomong!!!"


"Sekalian secelup dua celup...." Miko berkata sambil nyengir.


"Secelup dua celup apanya, yah? Emang teh di celup-celup."


"Maksudnya celup yang lain bun, celup ke situ lho, bun..." Miko menunjuk ke bawah.


"Ih...joroknya ayah ini...belum juga matahari naik ke atas kepala, sudah berpikiran ke situ...aja!"


"Ayolah, bun...Miko menarik tanganku..."


***Bersambung....

__ADS_1


Author mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata. Dan selalu minta dukungannya ya...like dan komennya...vote dan favoritnya jika berkenan...terima kasih🙏🙏🙏***


__ADS_2