
"Makanya kami dulu tak setuju kalau kamu menikah dengan si Sania itu."
"Dia bukan dari keluarga yang berada, dia tak sebanding dengan keluarga kita."
"Lihat Sofwan sekarang...kerjanya hanya tersenyum dan tertawa sendiri tak jelas."
"Kamu benar kak Nuri...sedari kecil adik kita ini tak pernah merasa hidup sengsara...begitu menikah kok malah banting tulang peras keringat kerja sana-sini."
"Aku sudah telepon om Irawan di Yogya. Anggita anaknya om Irawan itukan perawat di rumah sakit jiwa, kayaknya dia bisa membantu memulihkan kondisi kejiwaan Sofwan, deh..."
"Kamu benar, Nya...lagian Anggita itu cantik banget, dari keluarga yang kaya dan juga terpelajar."
"Cocok deh dijodohkan dengan Sofwan adik kita."
"Memang Anggita mau dengan laki-laki yang terganggu kejiwaannya?"
"Sofwan itukan sebenarnya tidak gila, tetapi karena dia mengalami stres yang berlebihan, kecemasan, baru lagi kurang istirahat dan selalu menyendiri."
"Dia selalu menyimpan semua masalahnya seorang diri."
"Dan dokter juga menanyakan tempo hari pada kita kan? Apa kepala Sofwan itu pernah mengalami benturan sebelumnya?"
"Dulu seingatku sewaktu kecil dia pernah jatuh dan mengalami benturan di kepalanya."
"Nah pas diperiksa oleh dokter, di tempat bekas luka yang sama, ada lagi bekas luka baru."
"Entah dia mengalami benturan lagi di kepalanya atau kecelakaankah yang menyebabkan dia mengalami gegar otak berat dan kehilangan ingatannya."
"Kita kan ngga tau apa yang terjadi dengannya, karena dia memutuskan untuk tidak lagi menghubungi kita, kakak-kakaknya."
"Dulu dia itu penurut dan selalu mengikuti saran yang kita berikan, tapi semenjak dia memutuskan keluar dari lingkungan keluarga dan memutuskan hidup diluar sana..."
"Ditambah lagi dia kenal dan berhubungan dengan Sania, semuanya tambah kacau."
"Dia jadi adik yang pembangkang dan tak mau lagi mendengar semua nasihat kita."
"Kak Nuri....Anya...kita tidak bisa hanya menyalahkan Sofwan ataupun Sania, semua itukan akibat kita juga terlalu keras padanya."
"Awal kepergiannya kan karena kalian ribut mau menjodohkannya dengan Dinara kan tempo hari."
"Bapak, ibu juga akukan sudah melarang kalian...untuk apa dijodoh-jodohkan segala, toh Sofwan bukan anak kecil lagi..."
"Dia sudah dewasa, dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri...tapi kalian tetap ajaaa..ngotot."
"Juwita....kamu bukannya mendukung kita...kok malah menyalahkan kami berdua..."
"Tapi memang kenyataannya begitukan? Sofwan itu lho adik yang baik...dia selalu saja menurut pada kita semua, tapi tidak soal perjodohan."
"Dia juga punya hak untuk menentukan hidupnya sendiri, kak Nuri...bukan selalu berlindung di bawah ketiak kita."
"Padahal Dinara itu baik, menurutku Dinara wanita yang sempurna...baik, pintar, kaya....apa lagi coba...cantikpun jangan di tanya lagi."
"Itukan menurut kita...tapi belum tentu menurut Sofwan demikian!!"
__ADS_1
"Kita hanya melihat dari sisi luarnya saja...mungkin Sofwan melihat dari sisi hati dan perasaannya?"
""Sekali lagi, perasaan tak bisa dipaksakan...karena dia yang menjalani hidupnya dan bukan kita."
Akhirnya kami bertigapun saling diam merenungi kesalahan masing-masing."
"Menurutku, Sania itu wanita yang baik..."
"Jika dia bukan wanita yang baik, tak mungkin dia masih setia mendampingi Sofwan di saat suaminya dalam kondisi seperti ini."
"Aku ingat saat terakhir kita membawa Sofwan pulang kemari...betapa terluka hati dan perasaannya, betapa tak rela dia melepaskan suami yang dicintainya."
"Tapi dia sama sekali tidak berdaya, selain melepaskan untuk kebaikan Sofwan."
"Betapa dia tegar saat kalian berdua mencaci maki dia di hadapan para warga...tak sedikitpun ucapan dia lontarkan untuk membalas membela diri.'
"Mungkin hanya hidup mereka aja yang kurang beruntung dalam ekonomi."
"Tapi pernahkah selama ini Sofwan mengeluh pada kita saat keluarga mereka hidup kekurangan? Rasanya tak pernah."
"Mereka selalu diam, bahkan saat ibu dan bapak masih hidup pun mereka tak pernah menyuarakan keluh kesahnya."
"Ini semua terjadi karena kesalahan kita..."
"Sekarang kita mau berusaha mengobatinya, tapi setelah itu kita mau menjodohkan Sofwan lagi dengan Anggita? Ah, Entahlah...apa yang ada dalam benak kalian ini."
Juwita lalu pergi meninggalkan Nuri dan Anya di ruang tamu.
""Sudahlah kak Nuri...kak Juwita memang tipenya begitu...dia mirip dengan ibu dan bapak."
"Kamu benar, Nya...kita akan melakukannya berdua saja."
"Ini keadaan Sofwan sudah agak membaik, besok kita minta tolong om Irawan sekalian minta nomor telephone Anggita."
Dari dalam, Juwita hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik dan kakaknya yang keras kepala.
'Suatu hari kelak, kalian akan mengerti bahwa yang telah kalian lakukan itu salah."
"Kasihan Sofwan adikku...yang selalu hidup di bawah bayang-bayang dari kakak-kakaknya sendiri."
*
*
"Assalamualaikum..."
Seorang wanita yang sangat cantik, berpakaian seorang suster telah berdiri dimuka pintu."
"Waalaikum salam....Anggita kah?"
"Benar...apakah saya bisa bertemu dengan ibu Nuri Maulida?"
"Saya Nuri Maulida...masuklah mbak Anggita."
__ADS_1
"Apa saya bisa langsung melihat kondisi pasiennya, bu?"
"Panggil mbak saja...saya kakak dari si pasien."
"Oh maaf mbak Nuri...ayah kemarin tidak bilang bahwa Nuri Maulida adalah kakak pasien."
"Mari saya antar ketaman belakang....biasanya kalau pagi begini, adik saya suka duduk di taman belakang."
Kami melewati lorong di pintu samping untuk sampai kebelakang.
"Itu dia yang sedang duduk membelakangi menghadap air mancur."
Sofwan tampak sedang duduk melamun memandangi ikan-ikan di kolam di samping air mancur.
Pandangannya kosong...kulit putihnya tampak semakin pucat karena jarang terkena panas matahari.
"Sofwan sayang....lihat dek...siapa yang datang? Kak Nuri membawa teman untukmu."
Dia menoleh lalu menghadap kami berdiri. " Sania.... anak-anak...matanya berbinar lalu meredup kembali..."
"Bukan Nia, bukan anak-anak....Hihihi...hikshiks..."
Dia tertawa lalu mulai lagi menangis sesunggukan.
"Gagahnya laki-laki ini...tapi sayang mentalnya terganggu..."
"Sania...? Anak-anak...? Siapa yang di maksud olehnya?"
"Sofwan...Ini suster Anggita...Dia yang akan menemanimu di sini selama kamu sakit, mengerti?"
"Terus kemana Sania? Mengapa dia tidak kemari? Dia janji mau datang menjengukku di sini?"
"Terkadang jika datang ingatnya, dia akan berbicara wajar dek Anggita...tapi kalau ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya, disaat itulah mentalnya kembali terganggu."
"Tidak usah lagi kamu ingat nama pe...Anggita menahan tangan Nuri agar tidak melanjutkan perkataannya."
"Sania nanti akan datang...tapi mas Sofwan harus sembuh dulu ya, nanti Sania nya takut..."
"Begitu ya...tapi aku tidak sakit suster....aku ingin bertemu anak dan istriku..."
"Oh...Sania itu istrinya...laki-laki ini sudah berkeluarga...lalu apa yang telah dilakukan wanita itu sehinggga dia jadi seperti ini?""
:"Biasanya dokter akan datang mengecek perkembangannya 3 hari sekali."
"Jadi mbak minta tolong....bantu dia keluar dari masa lalunya, bantu dia melupakan wanita itu."
"Kalau boleh tau apa salah wanita itu, mbak...?"
"Perselingkuhan..."
***Bersambung....
Happy reading....💙💙
__ADS_1
Author terus mohon dukungannya ya...Like dan komennya...Vote dan favoritenya....Terima kasih🙏🙏🙏***