
"Sebaiknya Niko kerumah sakit untuk menjelaskan pada Sania ayah...Niko tidak mau kehilangan dia yah, Niko sangat mencintainya!!" Niko menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Bahunya bergetar menahan gejolak perasaannya.
Dari balik pintu Juma mendengarkan semua keluh kesah ayahnya. Remaja laki-laki yang beranjak dewasa itu mengerti keadaan ayahnya tetapi dia juga bisa apa?
"Jangan gegabah Niko, kamu tau kondisi Sania itu baru melewati masa kritisnya...kamu mau dia drop lagi?" Jonathan memandang Niko dengan perasaan iba.
"Sabarlah dulu, jika suasana sudah tenang maka kalian bisa bicarakan ini baik-baik!!" Niko terdiam hanya mendengarkan perkataan ayahnya saja.
"Entah mungkin dia sekarang sangat membenciku yah, aku juga sebenarnya tak tau alasan apa yang akan kusampajkan padanya...Niko bukan tipe orang yang pandai bermain kata-kata." Niko merenung menatap kejauhan.
"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, ayah sangat tau bagaimana dua hari kemarin kamu kurang tidur, tidak mau makan karena kepikiran masalah pernikahanmu...jadi baiknya kamu istirahat dan tenangkan dirimu dulu, ya!!" Niko hanya mengangguk lalu beranjak berdiri masuk kekamarnya.
"Juma, kamu juga beristirahatlah jangan hanya berdiri mematung di situ." Kata Jonathan yang melihat Juma berdiri di samping pintu semenjak tadi sambil mendengarkan percakapan kakek dan ayahnya.
Tiba-tiba pintu luar terbuka, Dina muncul sambil membawa berkas-berkas untuk mencari sekolah yang baru. Dengan lesu dia masuk dan duduk di sofa.
"Assalamualaikum kek!!"
"Waalaikum Salam...kamu sudah pulang? Kamu daftar sekolah di mana Dina?" Tanya Jonathan.
"Di SMK kek, Dina mau ambil jurusan akuntansi!!" Jawab Dina.
"Keterima?" Tanya Jonathan lagi.
Dina hanya mengangguk lesu. Tampak gadis remaja itu sarat dengan beban pikiran.
"Terus, kok kelihatan sedih begitu? Kenapa?" Tanya Jonathan lalu duduk di sampingnya.
"Bunda kek, Dina sedih melihat kondisi bunda...seandainya bunda tidak sakit, pasti bunda akan dengan senang mengantar Dina mendaftar sekolah seperti waktu Dina masih SD dan SMP dulu." Dina duduk bersender dengan wajah lelahnya.
Tiba-tiba mata itu tertuju pada satu sosok remaja seusia dengannya berdiri di depan pintu kamar.
"Siapa itu kek?" Dina menunjuk kearah Juma yang sedang berdiri menatapnya.
"Siapa dia? Manis sekali...tubuh tingginya dengan seragam SMP memakai jilbab, wajahnya oriental dengan mata sipit yang memandangku dengan tajamnya." Juma membatin.
__ADS_1
"Itu Juma Hendrawan dia...dia putranya om Niko." Jelas Jonathan pelan.
"Apa? Anaknya om Niko? Maksudnya gimana kek? Bukannya om Niko itu belum menikah? Dan baru akan menikah nanti dengan bundanya Dina?" Dina sampai berdiri dari duduknya dan menatap Juma dengan tajamnya.
"Ooohhh, jangan-jangan bundanya Dina stres dan langsung drop saat tau om Niko punya anak ya, kek?" Kata Dina to the point.
Dina mendatangi Juma, menatap tajam dengan sorot mata penuh kebencian. Ditatapnya remaja lelaki yang seusia dengannya itu. Remaja bertubuh tinggi itu seolah merasa tatapan Dina menghujam masuk sampai ke hatinya.
"Kamu lihat saja, jika sampai terjadi sesuatu pada bundaku itu berarti karena ulahmu dan om Niko, aku tak akan pernah memaafkan kalian berdua." Telunjuk Dina langsung menunjuk tepat di wajah Juma. Lalu tanpa menoleh dia langsung berbalik dan bergegas masuk kekamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Jonathan hanya menghela napas, dia bingung harus melakukan apa...wajar Dina marah karena apa yang dikatakan Dina tadi semuanya benar. Sania drop karena mungkin telah mengetahui tentang pernikahan Niko, entah dari siapa yang membocorkan pernikaham tertutup itu sehingga beritanya lebih cepat sampai dari pada kepulangan mereka sendiri.
*
*
"Heh...hehhh...Sultan, mau pergi kemana??" Tanya Tini pada adik iparnya itu.
"Mau kerumah sakit kak, tolong titip Juned, Syifa sama sikembar ya kak!!" Buru-buru Sultan memakai sandal dan meraih kunci motornya.
"Cah gemblung...dia sendiri lho belum sembuh betul sudah mau pergi lagi!!" Tini geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik iparnya itu.
"Om mu mau jenguk bundamu kerumah sakit katanya...Juned ajak Syifa dan sikembar makan dulu ya...paling sebentar kak Dina nyusul kemari." Tini membawa piring berisi ikan dan tempe goreng ke meja makan.
"Tante, bundanya Juned sakit apa sih tante...kata pak ustadz kita ngga boleh nakal sama orang tua terutama sama bunda, nanti bunda sakit karena memikirkan kita terus."
"Emang Juned nakal?" Tanya Tini sambil tersenyum.
"Nggalah, yang nakal itukan Miko sama Miki...Juned, Syifa dan kak Dina sudah ngga nakal lagi." Tini mengangguk-anggukan kepalanya.
"Juned doakan saja bunda cepat sembuh ya, biar cepat berkumpul lagi...Juned senangkan kalau bunda cepat sembuh?" Tanya Tini.
"Senanglah tante, Junedkan sayang banget sama bunda!!" Kata Juned.
"Ya sudah, kalian makan duluan lalu tidur siang ya!! Tante juga marah kalau kalian tidak mau tidur siang, oke!!" Anak-anak Sania itu hanya mengangguk.
__ADS_1
"Sofwan, keadaan Sania gimana?" Sultan begitu sampai langsung menanyakan keadaan Sania.
"Sudah agak mendingan Sultan!!" Lalu Sofwan menunjuk pada ruangan di mana Sania terbaring dengan selang infusan di tangan dan selang oksigen di hidungnya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi Sofwan, kenapa Nia tiba-tiba langsung parah begitu?" Tanya Sultan serius.
"Itulah yang aku sendiri bingung sampai sekarang, Sultan!! Waktu kak Della pulang ambil baju dan saat aku menerima telepon dan keluar ruangan rawatnya, Sania masih baik-baik saja...kok tiba-tiba lima belas menit kemudian kok keadaannya menjadi gawat."
"Apa ada sesuatu yang dilihat atau didengarnya ya!! Sehingga Nia sampai sekritis itu keadaannya." Sultan berusaha berpikir.
"Terus Niko kemana kok ngga ada keliatan?" Tanya Sultan lagi.
"Dia dan om Jonathan lagi pergi mengirim barang keluar kota." Sofwan menjawab.
Akhirnya Sultan dan Sofwanpun diam. Mereka duduk di kursi rùang tunģgu larut dalam pikiran masing-masing.
"Sultan, aku berniat rujuk dengan Nia kembali setelah semua masalah nanti selesai." Sofwan membuka pembicaraan setelah sekian lama mereka berdiam diri.
Hati Sultan mendadak terasa nyeri, dia mencintai dan menyayangi Sania dan anak-anaknya sejak bertahun-tahun lalu walau hanya dalan diam.
Baginya melihat Sania bahagia diapun juga turut bahagia. Dia sadar sepenuhnya bahwa dia tak mempunyai hak untuk marah.
"Jadi kapan kira-kira kalian akan mewujudkan rencana itu? Kalau bisa secepatnya, kasihan Sania dan anak-anaknya semenjak Miko tiada tak ada lagi yang melindungi mereka." Sultan bicara sambil menguatkan hatinya.
"Secepatnya Sultan, mungkin setelah kepulanganku dari Jakarta nanti."
"Kamu mau ke Jakarta? Tanya Sultan, dia menoleh pada Sofwan yang duduk di sebelahnya.
"Iya, tadi aku di telepon sama kantor pusat bahwa akan ada rapat penting, diambil satu orang dari setiap divisi untuk pergi." Jawab Sofwan.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Susah ya...jika hati memendam rasa, mencintai hanya dalam diam😊😊
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya🙏🙏