
"Kau sangat ceroboh Angell." tatap Alex dengan dalam mereka saling bertatapan untuk sesaat.
Angell tersenyum canggung merasa bingung dengan apa yang terjadi. Alex memeluknya masih memeluknya.. dan Angell merasa sangat gugup, ia masih melihat jelas mobil yang melewatinya dengan sangat cepat. jika Alex tidak menarikknya maka Angell tak tau apa yang terjadi kepadanya. sekali lagi Angell mendongakan wajahnya menatap mata Alex yang masih memenjara matanya. sungguh ia sangat berterimakasih untuk apa yang dilakukan Alex saat ini.
"Terimakasih Alex...aku tidak tau kalau...."
Angell membeku ketika telunjuk Alex menutup di pintu bibirnya. pria itu menghela nafas dengan berat. hampir saja. bahkan seluruh tubuhnya bergetar saat ini. ia tak mampu membayangkan jika mobil itu sampai menabrak tubuh Angell..
"Kau tidak apa-apa."? akhirnya ucapan itu keluar dari mulutnya.
"Yah..aku baik-baik saja." desah Angell dengan mata yang basah. ini pertama kali terjadi dalam hidupnya. bibirnya masih bergetar dan jemarinya sedingin es.
Alex menyadari ketakutan Angell yang kentara. pria itu kembali memeluk Angell, mendekapnya dengan erat membiarkan wanita itu melepaskan semua perasaan ketakutannya yang terlalu besar.
Airmata mengalir di mata Angell awalnya pelan lalu kemudian menjadi isakan yang memilukan. nyaris saja..dia mengalami hal yang buruk.
"Aku hampir tertabrak..aku..."
"Kau tidak apa-apa Angell, semua sudah berlalu dan baik-baik saja." Alex menenangkan Angel, dengan mengusap punggungnya.
"Yah.....terimakasih Alex, jika bukan karna dirimu..."
Alex melepaskan pelukan namun masih menyentuh bahu Angell dan menatapnya lekat.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka Angel..tidak akan..berhentilah takut karna aku...akan selalu melindungimu."
Angell terdiam meresapi setiap kata-kata Alex yang membuatnya lebih tenang. dan kemudian ia pun mulai rilex, menarik nafasnya dengan senyuman.
"Ya...aku tenang sekarang Alex."
Alex tersenyum dan mengambil jemari Angell dan menggenggamnya.
"Kita akan menyebrang lagi, jadi merapatlah padaku dan kita melangkah bersama." tatap Alex tajam.
"Baiklah..aku mengikutimu saja Alex."
Angell tersenyum dan menganggukan kepala menatap jemari mereka yang saling bertautan dan merasa lega.
merekapun menyeberang jalan dengan mulus. dan ketika sampai di depan mobil. Alex membukakan pintu untuk Angell dan mempersilahkan dia masuk.
"Terimakasih Alex."
"Sama-sama cantik." Alex mengedipkan matanya yang menawan.lalu segera masuk mengikuti Angel.
"Baikllah sekarang kita akan bertemu ibuku apa kau sudah siap." tanya Alex menaikan sebelah alisnya.
"Tentu saja aku siap..aku senang melihat ekspresi orangtua ketika mendapat kejutan dari anaknya, seperti mamaku..aku suka memberikan kejutan untukknya."
Alex menganggukan kepala sambil mengemudikan mobilnya. dengan pelan membelah jalan.
"Kau pasti sangat menyayangi mamamu Angell." ucap Alex sengaja memancing Angell agar bercerita. ia ingin mengetahui latar belakang ataupun sifat dari keluarga yang akan ia hancurkan bukan.? batin Alex setuju.
"Mama Livia adalah segalanya bagiku."
__ADS_1
"Segalanya." ulang Alex tertarik mendengarnya. bukankah mama Livia bukan mama kandungnya.
"Ya..segalanya, dan mengapa kau malah seakan tidak percaya."?
"Maafkan aku Angell, aku hanya sedikit heran..aku tau kasih sayang antara ibu dan anak itu dekat..namun di jaman sekarang aku jarang melihat kedekatan yang begitu indah seperti yang kau ceritakan."
Angel, tersenyum....
"Kau tau Alex meski mama Livia bukan mama kandungku...."
Alex menghentikan laju mobilnya dan berpura-pura terkejut.ia menatap Angell.
"Apa maksudmu."
"Yah...mama Livia bukan mama yang melahirkan aku."
"Aku sangat terkejut dengan ini semua..maukah kau menceritakan segalanya." pinta Alex tertarik.
"Tentu saja...karna kau adalah temanku maka aku akan menceritakan ya.." ucap Angell..
"Terimakasih Angell." Alex mulai mendengarkan.
Angell mengangguk..
"Ibuku meninggal ketika melahirkan aku..dan papa sangat berat mengurusku sendirian."
"Ibumu punya saudara atau hanya anak tunggal."
"Punya seorang adik perempuan, namanya bibi Melinda."
Angel, menggeleng....
"Bibi hanya menghabiskan uang saja Papa saja dan selalu berfoya-foya untuk dirinya sendiri." ucap Angell menghela nafasnya. Alex hanya terdiam...
"Mama Livia mengurusku dengan tidak mengeluh..itu sebabnya Papa dangat mencintainya."
"Yah...aku bisa melihat cinta itu dimata mamamu Angell."
"Aku sangat mencintainya Alex.. jika ada yang menyakitinya itu sama saja menyakitiku berkali-kali lipat."
Alex berdehem dan tertegun....
mungkinkah ibu Melinda yang bersalah dalam hal ini...tapi ia harus menyelidinya terlebih dahulu.
"Kau harus menjaganya Angell."
"Yah...tentu saja, aku akan menjaganya dengan nyawaku." janji Angell.
"Aku senang mendengarnya."
"Ceritakan tentang Ibumu..siapa namanya, dan bagaimana sifatnya." ucap Angell antusias.
"Ibuku."? ucap Alex tidak yakin sambil melonggarkan tenggorokannya.
__ADS_1
"Yah...ceritakan padaku Alex."
"Ibuku bernama Linda, namun ia bukanlah ibu kandungku."
"Hah...kita sama- sama kehilangan ibu kandung kita Alex."
"Yah...bedanya adalah ibumu memang meninggal ketika melahirkanmu namun ibuku..aku tidak tau apa masih hidup atau sudah meninggal..aku dibesarkan di panti dan setelah berusia 10 tahun Ibu Linda mengadopsiku hingga membuatku seperti sekarang."
Angell menatap dengan iba pada Alex, kemudian menyentuh bahu pria itu dengan pelan hingga Alex menoleh dan menatap matanya.
"Itu berarti Tuhan tau kita anak yang tangguh, lagipula ibumu yang sekarang pasti mencintaimu itu sebabnya dia menjadikanmu sebagai seorang tuan Alex yang sukses."
"Aku tak akan pernah lupa darimana aku berasal Angell termasuk dengan ibuku...aku sangat mencintainya."
"Bagus..aku senang mendengarnya."
"Terimakasih Angell." ucap Alex menatap dengan senyum tulus.
"Terimakasih untuk apa."
"Untuk mendengar kisahku, aku tidak membaginya dengan siapapun selain dirimu." tatap Alex tajam.
Angell hanya mengangguk dengan senyuman...
"Itulah gunanya teman Alex." ucap Angell pelan.
Alex hanya terdiam..hanya teman..tidak Angell kau salah...karna aku tidak mau hanya menjadi temanmu..tapi satu-satunya pria didalam hidupmu. batin Alex.
Mobil melaju menuju ke luar kota. sepanjang jalan di isi dengan saling bercanda dan berbagi cerita. hingga akhirnya mobil itu smpai di sebuah halamn rumah yang indah dengan penuh taman bunga di depannya. rumahnha tidak megah namun terlihat nyaman, karna udara yang sejuk di sekitarnya.
Alex memasuki gerbang dan seorang penjaga membuka pintu untuk mereka. lalu mobil itu berhenti di bagian depan rumah. Alex turun dari mobil dan membimbing Angell ikut turun.
"Tempatnya sangat indah." ucap Angell tersenyum.
Alex mengedarkan pandangannya dan mengangguk setuju. ia memang jarang menikmati keindahan disini karna begitu sampai ia akan langsung menemui ibunya dan tenggelam disana.
"Kau akan menyukai berlama-lama disini Angell..ayo masuk." Alex mengulurkan tangan pada Angell dan wanita itu menyambut tangannya.mereka melangkah menuju pintu.
"Ibu...Ibu....aku membawakan sesuatu untukkmu dan kau akan senang." ucap Alex tersenyum melihat seorang wanita paruh baya duduk menatap ke arah jendela dengan memakai kursi roda. wanita itu kemudian membalikan tubuhnya dan tertegun....
Angell Wins..yah..ia bisa mengenali wajah cantik itu meski sudah lama mereka berpisah. yah..Angell mempunyai senyum seorang Mutia kakak kandungnya. airmata turun di wajah keriput Melinda yang mulai menua sebelum waktunya. seluruh tubuhnya gemetar memendam kerinduan yang begitu besar pada Angell.
"Angell Wins." bisiknya dengan suara yang serak..
Angell menatap Alex..lalu kembali menatap wanita yang tampak tidak asing namun Angell lupadkmana melihatnya.
"Bibi Linda apa kabar." bisiknya pelan...
💔
Wili melempar ponselnya hingga hancur tidak berbentuk amarah menguasainya.setelah seseorang yang ia yakin adalah Alex sengaja mengirim foto mereka berdua. bagaimana Angell bisa pergi dengan Alex, mereka berpelukan dan saling memegang tangan. apa Angell ingin menguji kesabarannya.?
Pria itu benar-benar diliputi kemarahan..bagaimana bisa Angell sengaja menutup telpnya, seolah tak ingin diganggu..
__ADS_1
"Aarrgggggghh...Angell kau membuatku gila." jerit Wili kemudian menghancurkan segala hiasan diruangan kerjanya, guci dan beberapa pajangan mahalnya.
Wili kemudian meraih jasnnya dengan kasar ia harus menyusul mencari Angell. ia tidak akan pernah melepaskan miliknya. pria itu membuka pintu ruangan dan segera pergi dari sana.