
Rafael memasuki mobil dan bersiap untuk pulang, hari sudah malam dan dia baru saja kembali dari sebuah club malam bersama teman-temannya. Rafaell sedikit minum namun ia tak sampai mabuk.
Rafael menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraan mewahnya. hari ini ia harus pulang cepat karna mama sedang menunggunya. yah..sejak ia putus dengan Elena, mama Livia selalu bersikap protektif kepadanya. Rafael tak mampu membantah mama Livia, karna baginya orangtuanya adalah segalanya.
Sementara ia tak memperhatikan jika ada penumpang gelap dari arah belakang tempat duduknya. sedang mengawasinya dengan tatapan membunuh.
Mobil itu memasuki jalan yang sedikit gelap dan Rafael tertegun ketika ia merasakan sebuah benda asing yang tajam melukai kulit lehernya.
Pria itu menghentikan laju mobilnya dan dengan cepat ia menangkap jemari yang terlihat lembut dan kecil untuk memegang sebuah benda tajam. dan pisau lipat itu terlepas dari tangan itu.
"Sial..siapa kau." teriak Rafael sangat marah.
Rafael menarik tubuh itu hingga ia terbanting di jok belakang mobil dan suara memekik perempuan terdengar lirih. rambut panjangnya terlepas..penyamarannya terbuka dan memperlihatkan wajahnya dengan jelas.
Rafael masih mencengkram ujung jaket gadis itu dengan tatapan tajam.
"Zefanya Arneta."? ucapnya kesal lalu melepas cengkramannya namun bukan berarti gadis itu bebas, Rafael kemudian menarik tubuh sintal itu dan menekannya sampai di pintu mobil.
"Lepaskan aku brengsek, mengapa aku selalu gagal membunuhmu."? jerit gadis itu penuh dengan dendam membara.
"Astaga..kau sudah gila karna sepupu yang bahkan hanya memanfaatkanmu."
"Lepaskan aku..aku merasa sesak nafas Rafael...aku bisa mati" keluhnya terbatuk-batuk.
"Bukankah dengan menyerangku kau juga telah siap mati."
"Uhugg..uhugg...aku belum siap." ucap Zefanya kembali terbatuk hingga akhirnya Rafael melepaskan cengramannnya karna jika mengikuti emosinya maka Zefanya akan mati.
"Astaga kau membuatku lucu, kau mau membunuhku tapi kau tidak siap dibunuh." Rafael menggelengkan kepalanya.
"Minta maaflah pada Rosa..dan aku akan mengampunimu." ucap Zefanya melotot.
"Dalam mimpimu Zefanya. "
Rafael hanya menggelengkan kepalanya menatap ke arah gadis cantik di sampingnya yang masih menetralkan nafasnya.
Zefanya adalah gadis 19 tahun dia sangat cantik bertubuh tinggi dan memiliki tubuh sintal dan penuh sesuai tempatnya. ia memiliki kulit putih pucat karna memiliki darah campuran Asia dan Eropa. rambutnya lurus panjang sampai pinggangnya. ia tak terlalu berdandan dan lebih suka tampil apa adanya.
Perkenalan mereka terjadi ketika Rafael bertemu kembali dengan Rosa teman masa kecilnya dulu disebuah acara pesta dan Zefanya ada disana waktu itu. Rosa langsung jatuh cinta dan selalu mengejar Rafael dan memaksa Rafael untuk menjadi kekasihnya. namun Rafael menolak mentah-mentah dan menyebabkan Rosa marah dan cenderung menyakiti diri sendiri. Zefanya adalah sepupu jauh yang tinggal dan bersekolah di rumah Rosa. meski diperlakukan kejam oleh Rosa dan keluarganya namun Zefanya selalu bersikap tenang dan tetap membela Rosa demi apapun juga. itu karna wujud terimakasihnya pada keluarga Rosa yang sudah menerimanya menumpang dirumah mereka. meski tak mudah memang tinggal bersama keluarga Rosa yang kaya raya itu. mereka memperlakukannya seperti pembantu.
__ADS_1
Saat ini Zefanya sudah tinggal sendiri dengan menyewa flat kecil sambil bekerja di salah satu restoran cepat saji. namun sesekali ia masih berkunjung menengok Rosa, dan setiap kali ia bertemu Rosa gadis itu akan selalu histeris dan memanggil nama Rafael. karna itulah Zefanya sangat dendam kepada Rafael.
Zefanya masih memegang lehernya yang sakit. ia kemudian menatap pada Rafael yang sedang menghapus jejak darah di lehernya akibat pisau lipat Zefanya. gadis itu melonggarkan tenggorokannya.
"Jangan pikir aku akan melupakan perbuatanmu kepadaku Zefanya, aku akan menuntutmu maka kau akan membusuk di dalam penjara." ucap Rafael dingin sambil menutup luka di lehernya dengan plester kecil setelah di bersihkan darahnya.
Zefanya terkejut sekaligus mengutuki kebodohannya. tadinya ia ingin mengempesi ban mobil Rafael dengan menusuk ban mobilnya menggunakan pisau itu. namun entah mengapa ia malah bersikap nekat ketika menemukan pintu mobil tidak dikunci. dan Zefanya kembali memejamkan matanya ini waktunya ia kembali bekerja.
Zefanya menatap Rafaell dengan ekspresi memohon.
"Bisakah kau menunda dulu untuk memasukanku ke penjara."? tatap Zefanya.
"Mengapa."? Rafael menatapp malas..
"Aku sudah terlambat bekerja." desah Zefanya mengulurkan tangannya memohon.
Rafael kehabisan kata ketika menghadapi Zefanya. bagaimana mungkin gadis ini berpikir kalau ia akan mengantarnya setelah insiden percobaan pembunuhan yang ia lakukan...apa gadis ini sedang bercanda dengannya.?
"Kurasa kau sudah sama gila dengan sepupumu Rosa..kau pikir aku main-main yah...saat ini juga aku akan mengantarmu ke penjara." ucap Rafael tajam.
Zefanya menjadi panik apalagi ketika Rafael melepas dasinya dan menggunakannya untuk mengikat kedua tangannya kebelakang. Rafael lalu pindah ke kursi depan dan mulai menghidupkan mesin mobil.
"Tidak...aku mohon kepadamu Rafaell."
"Hukum aku dengan cara lain, aku bisa memasak dan mencuci."
"Maaf tapi aku sudah punya semua itu." ucap Rafael enggan.
"Astaga kau pria yang sombong sekali." jerit Zefanya jengkel.
"Yah..bicaralah sesuka hatimu..tapi kalau aku jadi kau, lebih baik aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kau terkurung selamanya di dalam sana." ucap Rafael tersenyum kejam.
"Rafael ayolah..aku bersedia melakukan apapun untukmu."
Rafael menghentikan mobilnya dengan tertarik. dan mematikan mesin mobil.
"Apapun."?
"Yah..."
__ADS_1
"Baiklah..aku akan menjadikanmu sebagai wanitaku bagaimana."
"Apa maksudmu wanitamu."
"Kau akan tau nanti, bagaimana..penjara dalam waktu lama ataukah menjadi wanitaku."? tawar Rafael dengan cepat.
"Bisakah kau memberiku waktu berpikir."? tanya Zefanya gugup.
"Tidak..jawab sekarang dan itu akan menentukan dimana kau menginap malam ini."!
Zefanya memejamkan matanya sedikit lama..segala pikiran buruk berada di dalam kepalanya. ia tak berhenti mengutuki kebodohannya.
"Baiklah....aku bersedia."
"Baiklah..akan ku ikat kau dengan surat perjanjian." tatap Rafael tegas.
"Mengapa harus membuat surat perjanjian."?
"Agar kau tidak bisa melepaskan diri dariku."
Zefanya menggeleng dengan frustasi...
"Baiklah..bagaimaa kalau besok kita bicara, aku harus kerja malam ini."
"Baiklah aku akan mengantarmu..tapi..berikan dulu ktpmu dan nomor ponselmu." ucap Rafael tersenyum dengan penuh siasat.
"Lepaskan dulu ikatannya, bagaimana caranya aku mencari ponselku dengan tangan terikat." jerit Zefanya kesal.
"Baiklah..lakukan dengan cepat Zefanya."
Rafael hanya mengangguk dan segera melepaskan ikatan dasi itu pada tangannya.
Wanita...mulai sekarang mereka hanya akan menjadi objek se* saja baginya tidak lebih. ia akan menunjukan jika lelaki tidak semudah itu terkalahkan.
Zefanya mengeluarkan kartu identitasnya dan nomor ponsellnya yang telah disimpan Rafael.
"Baiklah sekrang antarkan aku Rafael."
"Baiklah,..ingat aku menunggumu di kantorku besok pagi." ucap Rafael penuh peringatan.
__ADS_1
Haiiii...demi kalian ya readersku sayang hari ini author up banyak...ketiknya sampe jari keriting dan pegel, jangan sedih lagi ya dengan si penghianat Elena. nih author kasi pengganti lebih cantek dan baik hati...ingat ya..jangan lupa like, koment dan beri vote..
Love U All....❤💝💖