
"Cinta.."? ulang Livia dengan pipi memerah merona.
"Yah...aku tau ini terlalu cepat, sudah enam bulan kita bersama..walau memang aku akui, aku memulai hubungan kita dengan cara yang salah." Rusell kembali menggenggam jemari Livia yang pasrah dalam genggamannya. ia terlihat menyesal.
"Seorang Rusell Wins jatuh cinta padaku."? ulang Livia masih meragu
"Kau tidak percaya Livia."?
"Sejujurnya ya...kau terlalu tinggi untuk aku gapai, hatimu terlalu jauh untuk kudapatkan Rusell." ucap Livia tajam.
"Aku akan menunggu hari dimana, kau menerimaku dan percaya kalau aku sungguh-sungguh serius dengan perasaanku, bahwa hatiku tidak sejauh yang kau bayangkan." lirik Rusell tegas.
Livia mengangguk,...
"Jadi..sampai kapan kau akan menyekapku disini."? Livia melonggarkan tenggorokannya dengan gugup.
"Mungkin beberapa jam." ucap Rusell mendekatkan wajahnya.....
Skipp.........😊
Livia termenung dibalkon kamar, Angel sudah tertidur. sementara Rusell juga sudah tertidur pulas karna kelelahan setelah percintaan panjang. sedangkan dirinya saat ini berdiri di tengah malam di pinggir balkon dengan tatapan yang dingin.ia tak mampu memejamkan matanya sedetikpun. semakin hari ia semakin membenci pria itu. haruskah dia menyesal telah menyelamatkannya.?
Rusell Wins berpikir, Livia akan semudah itu jatuh cinta dan menyerahkan hidupnya kepada pria yang menghancurkannya.? Tidak akan pernah...dendam ini masih membara, seperti bara api yang tak akan bisa padam.
bagaimanapun dia tak bisa melupakan hari itu. kenyataan ketika dia diculik dan dipaksa untuk menikahi pria yang tidak pernah ia kenal apalagi mencintainya. Livia bahkan sangat membenci hingga rasanya setiap detik terasa sangat menyakitkan jika ia melihat Rusell tersenyum penuh kemenangan, namun dia harus menelan semua perbuatan Rusell dengan pura-pura. agar Rusell mempercayainya bahwa Livia juga sudah memberikan hatinya. jemari Livia terkepal dengan sangat kuat.
Livia akan mulai memainkan perannya dari sekarang sambil menunggu hingga Rusell lengah dan ia akan pergi dari tempat ini. Wanita itu menghela nafas.. memejamkan matanya berusaha memeluk kembali kenangan yang seakan semakin menjauhinya. Roni..dia masih berharap pria itu masih menunggunya dan memaafkan semua yang telah terjadi, dan masih percaya padanya bahwa semua ini diluar keinginannya, ia ingin menjelaskan kalau cintanya, masih utuh untuk Roni..hanya Roni.
💞
Rusell bangun sedikit lebih siang dari biasanya dan terkejut melihat secangkir kopi yang telah tersedia di atas meja bersama beberapa camilan. sementara matanya menangkap sosok Livia disana sedang menyuapi Angell yang mulai mencoba untuk makan. pria itu menatap dengan tatapan tidak terbaca, lalu bangun dari ranjang memakai jubah tidurnya dan segera membersihkan dirinya.
Setelah beberapa saat, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. hari ini ia telah membatalkan semua urusan bisnisnya demi bisa bersama keluarganya. dia mendekati Livia yang sedang asyik bersama Angel dan tidak menyadari kehadirannya.
"Selamat pagi sayang." ucap Rusell mengecup dahi Livi serta Angel yang tertawa memperlihatkan gusi kecilnya.
"Hai..Papa." Livia meniru suara Angel dan menatap Rusell.
"Anak papa makannya banyak sekali sih..sudah besar ya." Rusell ikut duduk bersama Livia dan menggoda Angel hingga bayi kecil itu semakin tertawa senang.
"Angel rindu ya main sama papa." bisik Livia sambil menyuapi Angell yang makan dengan lahap.
__ADS_1
"Angell atau mama." lirik Rusell ke arah Livia hingga Livia menunduk dengan malu.
"Aku tidak merindukanmu Papa." ucap Livia dengan ekspresi gemas.
"Jangan bohong, karna itu sangat menyakitkan untukku." ucap Rusell dengan makna yang dalam.
Livia hanya menggeleng malu, ia kembali menyuapi Angell untuk yang terakhir kalinya, lalu membiarkan Meri yang membersihkan tubuh Angel.
Kini tinggal mereka berdua dikamar. saling memandang dengan senyuman..
"Taukah kau, aku begitu bahagia Livia."
"Hmm..."?
"Setelah sekian lama, aku pikir aku tak akan pernah memiliki sebuah keluarga yang utuh."
Livia melonggarkan tenggorokannya. masih menatap Rusell.
"Mengapa kau berpikir seperti itu."? Livia penasaran.
"Kau tau, aku seseorang yang penuh dosa dan hidupku gelap. aku tidak berpikir tentang cinta apalagi keluarga., itu semua terlalu jauh dari anganku."
"Bagaimana dengan Ibunya Angell..apa sesuatu terjadi dalam hubungan kalian, boleh aku tau apa yang terjadi..mengapa dia meninggal."? Livia menatap ingin tau.
Livia berdiri mendekati Rusell...
"Jika kau ragu, kau boleh tidak menceritakannya kepadaku."ucap Livia memeluk Rusell dari belakang pria itu.
Rusell menyentuh jemari Livia yang melingkar dipinggangnya dengan lembut.
"Kau istriku..kau boleh tau semua masa laluku Livia."
Pria itu berbalik dan memeluk Livia. membawa Livia kembali duduk dan mulai bercerita.
Bagaimana dia dan Mutia berkenalan lalu orangtua Mutia yang tidak pernah menyetujui dan memisahkan mereka lalu Mutia menemuinya dan menyerahkan diri. sampai Rusell gelap mata dan menghancurkan bisnis orangtua Mutia hingga bangkrut.dan mereka meninggal dan untukk Mutia, sebagai seorang anak dia tidak terima dengan semua yang terjadi dan mengakibatkan pendarahan dan akhirnya meninggal setelah melahirkan Angell.
Livia tanpa sadar meneteskan airmatanya. sungguh jalan hidup Rusell begitu penuh cobaan dan dia adalah pria yang sedanb terluka parah. jemari Livia terkepal menggengam dengan gemetar. sesuatu terjadi dihatinya.
"Mengapa kau tidak menikah lagi, maksudku mencari pengganti Mutia sebagai Ibu Angell."? Livia terus bertanya.
Rusell tertawa...sesaat menatap wajah Livia. pria itu menunduk.
__ADS_1
"Aku..tidak ingin mengulang sesuatu yang sama lagi, para wanita diluar sana tak akan pernah bisa mencintai seorang Rusell."
"Bagaimana kau bisa tau jika kau tidak mencobanya."
"Livia..hanya dengan mendengar namaku saja para orangtua wanita-wanita itu akan berpikir seribu kali untuk memberikan anakknya kepadaku."
"Separah itu."?
"Yah..lagipula aku memang tidak berpikir untuk menikah lagi dan hanya fokus untuk merawat Angell."
"Dengan menculik para gadis sebagai bahan taruhan untuk Angel."?
"Apa maksudmu."
"Bukankah kau juga menculikku." Livia menatap dengan mata yang basah.
"Sesungguhnya aku tidak pernah menculik gadis-gadis hanya untuk menjadi pengasuh Angell, aku ingin membayar mereka secara adil."
"Lalu bagaimana bisa aku sampai disini, kau tidak menawarkan kerjasama apapun kepadaku."
"Kalau soal kau itu adalah kesalahan anak buahku."
"Apa maksudmu."?
"Jadi wanita yang seharusnya dibawa adalah anakknya namun, anakknya malah pergi dari rumah dan membawa semua uangnya, pria tus itu putus asa, dan saat itulah dia melihatmu Livia."
"Supir taxi itu."?
"Yah..aku memintanya mengembalikanmu tapi entah mengapa dia begitu yakin kau mampu menenangkan tangis Angel." ucap Rusell mengenang...
"Lalu mengapa kau tidak melepasku, mengapa kau malah menahanku"? tanya Livia dengan airmata yang menetes.
Rusell terdiam sesaat...matanya basah ketika membayangkan Angell.
"Sesungguhnya saat itu Angel sedang sakit, sudah berbagai cara aku lakukan untuk mendiamkannya berganti-ganti pelayan membujuknya namun ia menangis sepanjang malam, dan hanya kau yang mampu menenangkan Angell."
Livia membenarkan malam dimana dia menemukan Angell badannya hangat, dan wajah yang hampir membiru karna menangis...
"Aku tau..aku bukan pria yang baik namun aku tidak mampu membiarkan anakku menangis tanpa berhenti sepanjang hari sebelum bertemu denganmu Livia. aku tidak berpikir panjang dan mulai memakai cara kasar untuk membuatmu tetap tinggal, karna kau membawa kesembuhan bagi Angellku satu-satunya harta yang aku miliki lebih dari apapun."
Livia menghambur kepelukan Rusell dan menagis dengan keras. hatinya sakit sekali entah apa yang terjadi kepadanya baru kemarin dendam itu tubuh subur namun mengapa hatinya kini mulai berbalik arah dan menerima semua penjelasan Rusell dengan hati yang terbuka.
__ADS_1
"Kau sudah punya aku Rusell, kau sudah punya keluarga yang utuh sekarang." ucap Livia dengan sungguh-sungguh.