
Lusi tak bisa menahan semua perasaannya lagi, ia meraih semua pakaiannya dan dimasukan di koper, dan meraihnya.
"Beraninya kau menantangku Lusi."
Lusi menatap tajam...
"Memangnya kenapa, sudah cukup kau memperlakukanku seperti sampah....sudah cukup kau memperlakukan aku seperti pajangan aku sangat muak......" jerit Lusi marah..
Meraih pegangan koper ia lalu hendak melangkah keluar kamar, namun seketika langkahnya terhenti oleh cekalan tangan Aksana yang keras, hingga memaksanya berbalik..
Aksana memejamkan mata ketika ia merasa gairah tiba-tiba bangkit entah mengapa, menatap Lusi saat ini membuat tubuhnya menegang..
Sial..apa yang terjadi kepadanya.....
"Lepaskan aku Aksana.." jerit Lusi meronta karna pegangan Aksana terlalu keras.
"Tidak...aku tidak akan membiarkanmu pergi..kau istriku."?
"Istri..."? jerit Lusi tidak terima ia memutar bola matanya jengah,
"Apakah kau sedang bercanda."?
"Kau...tidak akan lepas dariku Lusi."
"Apa kau tidak punya rasa malu Aksana, kau seharusnya senang kalau aku tidak akan menjadi penghalang antara kau dan Hana si pelayan itu." teriak Lusi sakit hati...
Aksana membeku mendengar kata-kata Lusi yang tajam...
"Apa maksudmu dengan Hana.."
"Lepaskan aku..kalian berdua sangat cocok bukan" seru Lusi cemburu...
"Beraninya kau berpikir aku..tertarik pada pelayan hina itu."?
Aksana begitu marah, mana mungkin ia tertarik dengan Hana pengasuh Stela, bahkan di dalam mimpipun ia tak pernah membayangkannya..
Koper milik Lusi segera ia hempaskan hingga baju yang susunnya berserakan di lantai. Lusi begitu terkejut ketika tubuhnya di dorong dengan kasar ke ranjangnya dengan keras....
Lusi terbanting di ranjang..ia meringis tak kala menatap mata Aksana yang tampak berbeda, sudah lama ia tak melihat tatapan itu dari mata suaminya...
"Aksana....apa yang terjadi padamu."
Aksana melepas Jassnya berikut dasinya....
"Kau harus di sadarkan bahwa kau tak bisa lepas dariku. seorang istri harus tau tugasnya untuk suaminya..."
"Aksana...tetaplah berpegang teguh pada prinsipmu jangan melanggarnya atau aku akan..."
__ADS_1
"Akan apa...lagi pula sudah terlalu lama aku tidak menyentuhmu bukan, padahal sudah seharusnya kau melayaniku."
"Brengsek..sudah lama aku diam, tapi aku tidak akan pernah membiarkan kau menyentuhku." ucap Lusi penuh peringatan.?
"Oya,..lalu kau mau apa Lusi, kau mau menuntutku..atas dasar apa."?
Lusi terdiam....yah..ia tak punya dasar melaporkan Aksana dan sialnya pria ini memanfaatkannya dengan baik..
"Aksana....."
Lusi tak sempat berdebat ketika di lihatnya Aksana begitu di liputi gairah yang besar, sekejap saja pria itu mendekati Lusi....
Lusi membeku lebih seperti kehilangan jiwa,ketika Aksana dengan kuat meraihnya...dan menindihnya dengan sedikit kasar sembari bibirnya mencari-cari kenikmatan di balik dres Lusi yang terbuka....
Lusi meronta sekuat tenaga walau sangat sulit, ia terlalu lemah dan tak siap dengan sikap Aksana yang terlalu kuat menyerbunya...
Airmatanya menetes...
"Aksana..."
"Diam dan nikmatilah." bisik Aksana dengan tatapan membara...
Aksana bergerak, melum** bibir Lusi dengan kuat dengan rasa haus,mencecapnya kasar dan sedikit menuntut, ia tak perduli betapa kuatnya Lusi meronta toh..ia tak bisa berbuat apapun...Aksana membelai tubuh Lusi dengan gerakan posesif hingga menorehkan sejumlah tanda merah di tubuh mulusnya...
" Mulai sekarang..jangan berpikir untuk pergi karna kau...tak akan bisa Lusi." desah Aksana penuh penekanan, dan segera menyatukan tubuhnya dengan gerakan kuat pada tubuh Lusi yang seolah siap menyambutnya...
Mikha keluar dari lingkungan kantor, hari sudah hampir gelap,sementara Martin bilang akan menjemputnya pulang..sembari melangkah Mikha bersenandung kecil ia merasa sungguh bahagia karna Martin selalu membuatnya tersenyum dan melupakan kesedihannya...
Baru sampai di parkiran...Mikha terkejut oleh sebuah mobil mewah berwarna hitam yang memasuki perusahaan dengan cepat, dan berhenti tepat di hadapannya..
Bukan mobil Martin...tapi siapa.? Mikha mencoba mengingat, namun gelapnya kaca mobil membuat Mikha tak bisa melihat dengan jelas, siapa dibalik mobil itu...
Sesaat kemudian...pintu mobil terbuka dan seorang pria keluar dari sana, memakai setelan jass tiga potong yang begitu pas di tubuhnya,...
Mikha membeku sedikit bergetar gugup ketika mengenali siapa yang datang....
"Roland..." desahnya dengan tatapan beku.....
Pria itu memakai kacamata hitam dan tersenyum dengan sangat tampan....berdiri dan menyandarkan tubuhnya di kap mobil ia menatap ke arah Mikha yang tampak syok melihat kedatangannya...
"Senang bertemu denganmu Mikha.." ucap Roland dengan senyum misterius...
Mikha mengepalkan tangannya sangat kesal melihat sikap Roland yang sengaja merayunya..mereka pernah menjalin hubungan dulu dan otomatis ia tau semua sikap Roland dengan cepat..
"Kau....mengapa ada disini."?
Roland tertawa pelan....
__ADS_1
"Apa aku salah menemui calon istriku sendiri."? ucapnya dengan senyuman tajam....
"Kau...."?
Roland mendekat melepas kacamatanya dan menatap wajah Mikha yang seolah sangat cantik di matanya saat ini..
"Aku sudah memutuskan akan tinggal di kota ini...dan menjagamu sampai hari pernikahan kita."
Mikha bersedekap....
"Maaf...aku tidak pernah mau menikah denganmu Roland...tidak akan pernah.." desis Mikha dengan tajam...
"Oya....apa kau lupa bahwa papamu dan pamanku sudah sepakat...bahkan kau setuju untuk pertunangan kita."
Mikha menggeleng.....ia tak akan sudi menikah dengan psikopat gila seperti Roland....
"Aku lebih baik tidak menikah seumur hidup dari pada menikah denganmu..."
Wajah Roland menggelap...ia sudah kehilangan Keyla dulu dan saat ini ia tidak akan pernah kehilangan Mikha..
Pria itu meraih lengan Mikha dengan kuat memaksa keduanya saling menantang.....
"Kau pikir aku akan begitu saja melepasmu Mikha, kau....harus menjadi milikku suka atau tidak..." ucapnya dingin....
Mikha meronta sekuat tenaga,pegangan Roland terlalu keras hingga iapun merasa ngilu di sekitar bahunya...
"Lepas..."
"Kita akan segera menikah suka atau tidak.." desis Roland tegas....
"Aaawww.....sakit..."desis Mikha dengan mata berkaca-kaca....
Tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang melompat dan menendang tubuh Roland hingga pria itu tersungkur di aspal....
Roland bangun dengan rahang yang mengeras, merasa malu karna ia terdorong dengan mengenaskan dan jatuh. sementara beberapa pegawai yang kebetulan melintas menatapnya dan saling berbisik tentangnya.....
Roland berdiri dan menegakan tubuhnya ia pun menoleh dan terkejut melihat sosok Martin yang berdiri didepan Mikha, sementara Mikha memeluknya dari belakang.. Roland mengepalkan tangannya..
"Pengawal Mike." pria itu tertawa dengan nada cemooh....
"Jika sekali lagi kau menyentuhnya..aku tidak akan mengampunimu Roland.."ucap Martin mengepalkan tangannya geram.
"Tuan....kau harus memanggilku tuan muda Roland, pria rendahan sepetimu tidak pantas menyebut namaku secara langsung."
"Bagaimana kalau pria pengecut." Martin bersedekap menantang...
Roland sangat marah, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dan melangkah mendekati Martin...
__ADS_1
"Kau...akan mati di hadapanku Martin." desis Roland mengarahkan pisau tajam itu pada Martin...