
"Rusel."?
Livia melebarkan matanya terkejut tatapan tajamnya mengarah pada seikat bunga dan kotak beludru berwarna merah. pria itu tersenyum dengan begitu tampannya.
Rusell mengulurkan tangannya, menyambut tangan Livia, wanita itu masih gugup dan salah tingkah. ketika Rusell bersikap manis, Livia merasa aneh dan baru baginya. Rusel membimbing istrinya menuju balkon sambil menikmati udara pegunungan yang sejuk menyapu kulit.
menatap wajah Livia yang terlihat begitu cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai sampai punggungnya.
"Untukmu." ucap Rusell menyerahkan seikat bunga mawar merah yang begitu mekar dan berbau harum.
"Terimakasih, tapi aku sedang tidak berulang tahun, mengapa kau memberiku bunga."? bisik Livia pelan.
"Ketika akan pulang dari kantor, aku melihat bunga ini dan aku langsung ingat padamu..jadi tidak ada alasan untukku memberimu bunga,melihatmu tersenyum kupikir sama seperti bunga yang sedang mekar ini."
"Baiklah..bunganya indah tuan Rusell Wins, balas Livia malu-malu."
"Tentu saja, nyonya Livia Morens."
Rusell lalu memberikan kotak beludru kecil kepada Livia...Wanita itu kembali mengerutkan dahinya meminta penjelasan.
"Jangan bilang kau lewat toko perhiasan dan ingat kepadaku, aku bukan wanita yang suka perhiasan." tegas Livia.
Rusell menggeleng dengan senyumnya yang mematikan..
"Aku memang berniat memberinya untukmu."
"Tapi mengapa."?
"Karna kau adalah istriku." ucap Rusel penuh perasaan.
"Istrimu."?
"Yah.,istri seorang Rusell Wins..kau adalah milikku seorang." tegasnya tajam.
Livia tersipu mendengarnya. ia tak menyangka hubungan, mereka bisa sehangat ini. setelah dia menyelamatkan Rusell dari Hipotermia.pria ini mulai bersikap hangat dan terbuka. Livia juga telah dibiarkan berkeliling rumah dengan bebas bahkan dia bisa membawa Angel sampai ditaman, walau tetap dalam pengawasan cctv dan anak buah Rusel.
__ADS_1
Rusell juga menghabiskan lebih banyak waktunya dirumah dan bermain bersama Angel. dan betah dikamar. sekilas mereka seperti keluarga bahagia yang saling mencintai.
Livia tak tau perasaannya namun dia merasa bahagia, entah mengapa. melihat tawa Angel yang begitu lebar ketika bersama Rusell membuat hatinya bahagia.
Rusel membuka kotak itu dan tampaklah sebuah cincin emas putih yang elegan dengan berlian berwarna biru. begitu cantik dan memikat hati Livia. jantungnya berdebar dengan kencang ketika pria itu memasukan cincin itu dijemari Livia yang lentik.
"Cantik sekali Rusell." ucap Livia dengan mata berbinar..ia membawa jemarinya untuk melihat lebih dekat.
"Kau suka Livia."? tanya Rusell sambil meremas jemari Livia dengan hati yang berdebar.
Rusell tak mampu menahan perasaan bahagianya ketika ia mendapatkan informasi dari anak buah dan pelayannya kalau malam itu Livia terlihat menangis dan khawatir kepadanya. Rusell tidak pernah menyangka jika wanita ini memiliki hati yang luar biasa baik. dan ia tak berhenti bersyukur untuk itu.
"Ini sangat manis dan sangat pas dijariku, terimakasih Rusell." ucap Livia.
Rusell hanya memandang dengan tatapan puas. dan sesaat kemudian Rusell tertegun ketika Livia memeluk dirinya dengan erat seraya mengucapkan betapa ia merasa bahagia dan senang menerima pemberian kecil dari Rusell..
Rusell merasa bingung dengan perasaanya, rasanya begitu menyenangkan ketika tubuh mereka saling memeluk. rasa nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. bahkan saat bersama Mutia dulu.
"Kau mulai berani Livia Morens."? nada berat Rusell membuat Livia mematung. ia ingin melepaskan diri namun terdiam ketika Rusel, kembali mendekapnya dengan erat.
"Hmm.."
"Bisakah, kita memulai semua dari awal lagi"?
"Mengapa kau bertanya seperti itu."?
Pelukan itu terlepas, Rusell membawa jemari Livia mendekat didadanya. untuk merasakan dengan jelas dengan getaran tak biasa di jantungnya. mata mereka bertemu dan seolah memahami Livia melonggarkan tenggorokannya. apa yang harus ia lakukan..mengapa hatinya mulai melunak, mengapa jantungnya juga berdebar..mengapa ia merasakan seperti sedang jatuh cinta lagi.?
mata Livia berkaca-kaca ketika perasaan samar yang selama ini mengganggunya muncul seolah tak bisa ia kendalikan.
"Rusell..aku hanya ingin kau berubah, dan aku akan memutuskan kita akan memulai dari awal ataukah harus menunggu."
Rusel mengangguk setuju, ia akan membuktikan bahwa, ia mencintai keluarganya. pria itu mendekatkan wajahnya,dengan kedua tangannya ia menyentuh pipi wanita yang sudah berani mengganggu tidurnya dan membuatnya rindu. pria ini semakin mendekat seiring Livia ingin bicara namun terdiam ketika
Rusel melu*** bibir Livia dengan penuh perasaan indah yang melingkupi keduanya. ini tentang perasaan aneh yang begitu kuat menyerang hati mereka.
__ADS_1
Livia merasa tubuhnya dipaku ditempat, tak mampu bergerak..hanya menikmati apa yang dirasakannya terasa indah. semua akal dan logikanya terepar bwgitu saja dari kepalanya. diganti perasaan berbunga-bunga yang terasa asing namun bagai candu.
Ciuman itu begitu lama dan menguras emosi yang selama ini ditahan. keduanya akhirnya menyerah, disela nafas yang memburu dengan dahi yang masih saling menempel.
Rusell tersenyum pertanda ia sangat menikmati ciuman yang terasa memabukan itu. sambil menahan tubuh Livia yang terasa goyah. wanita itu hampir kehilangan kendali pada tubuhnya. beruntung Rusell menahan punggungnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Livia." desis Rusell masih menahan debaran jantungnya.
"Rusell, aku masih.."
"Apa sayang."?
"Lelah, desah Livia tersenyum."
Keduanya tertawa seketika, dengan mata yang enggan berpaling mata Rusel kembali menajam.
"Kau membuatku gila Livia."
"Mengapa aku."?
"Yah...kau membuat malamku sangat berat ketika aku sedang jauh darimu." ucap Rusell jujur.
"Itu masalahmu sendiri tuan Rusell."lirik Livia memalingkan wajahnya yang tersipu.
"Kau penyebabnya nyonya Rusell Wins."
"Rusell, aku menyerah..lepaskan aku..bagaiman Angell dia akan menangis mencariku."
"Untuk saat ini kau adalah milikku, bukan milik gadis kecil itu."
"Angel adalah prioritasku Rusell." bujuk Livia
"Livia aku rasa, aku telah jatuh cinta kepadamu." tatap Rusel dengan serius.
"Apa."? jerit Livia seakan tidak percaya.
__ADS_1