
Livia membuka matanya ketika ia merasakan sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya. matanya memerah ketika menyadari kenyataan jika itu adalah tangan Rusell. pria itu tertidur pulas sambil meletakan tangannya di atas perutnya tanpa sedikitpun perduli. Rusell tertidur setelah melakukan sesuatu yang menghancurkan hidup Livia. setelah melampiaskan hasratnya tanpa jeda. airmata Livia menetes dengan rasa nyeri yang mulai menguasainya.
Livia menangis sesegukan ketika semua selesai bagaimana Rusell melakukannya, ketika rasa sakit itu menyerangnya dengan sangat kuat, ketika noda darah itu seakan menertawakan kehancuran dirinya. ia sudah bukan Livia yang dulu lagi, ia bukan seorang gadis yang selalu penuh dengan rasa percaya dirinya, dan yang lebih penting dari semuanya. Livia sadar ia tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari genggaman Rusell. jika saja orangtuanya tidak ada disini..mungkin Livia sudah memilih mengakhiri hidupnya saja dari pada ia harus hidup dan menjadi milik pria yang ia benci. sungguh ia sangat membenci Rusell demi apapun.
Rusell terbangun setelah mendengar tangisan Livia yang seakan menembus tidur nyenyakknya. Rusell tertegun sesaat,membayangkan bagaimana percintaan itu begitu memuaskan dirinya. bahkan Livia sangat indah dan sulit dijelaskan dengan kata-kata. meski ia harus sedikit memakai kekuatan karna Livia memberi perlawanan dan tidak menyerah dengan mudah.
"Selamat pagi istriku." Rusell memeluk tubuh Livia dengan posesif namun tidak lama. karna Livia mendorong tubuh Rusell dan bergerak menjauh menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan terhimpit sudut ranjang. tatapan matanya penuh dengan dendam yang membara.
Rusell tertawa pelan dengan santai ia bangkit dari tidurnya. dan meraih pakaiannya..memakainya di depan Livia dan kembali duduk di pinggir ranjang.
"Bagaimana, apa kau masih merasakan sakit."? suara Rusell serak masih mencoba menahan sesuatu didalam dirinya yang bangkit ketika melihat istrinya.
Airmata Livia menetes, ia memilih mengabaikan Rusell..
"Livia, kau yang memaksaku melakukan ini semua, jika saja kau tidak menghianatiku..."
"Menghianatimu."? tatap Livia terluka.
"Yah, kau menghubungi mantanmu dihari pernikahan kita." ucap Rusell mencoba tenang.
"Kau berbicara seakan kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan memutuskan menikah. padahal kau adalah penjahat yang memaksaku untuk menikahimu, kau bahkan tidak perduli bagaimana hidupku kau rampas dengan kejam."
"Aku mencuri hidupmu untuk aku dan anakku Livia."
"Yah...dan kau mengabaikan perasaan kekasihku Roni, ketika aku hanya mencoba menelfonnya untuk meminta maaf."
Rusell terdiam. benarkah Livia hanya menelfon Roni untuk meminta maaf. tapi mengapa harus bertepatan dengan hari pernikahan mereka, mengapa Livia tidak memilih hari yang lain. ya ampun..mengapa dia malah merasa sangat kesal semalam. ada apa dengan dirinya.
"Kau tidak perlu meminta maaf kepadanya Livia, atau kau memang sengaja mencari kesempatan dibelakangku untuk menghubunginya. mungkin jika aku sedang lengah kau bisa melarikan diri dariku."ucap Rusell melemparkan tuduhan pada Livia yang terlihat begitu hancur.
__ADS_1
"Kau benar-benar bajingan, aku berharap suatu saat kau menghilang dari dunia ini karna aku sangat membencimu." jerit Livia dengan kemarahan yang terpancar dari sudut matanya.
Rusell tertawa keras mendengar sumpah Livia, jemarinya dikepal dengan kuat. seakan tidak terganggu dengan semua kata-kata Livia padanya
"Yah..mungkin kau adalah salah satu dari beribu orang yang telah menyumpahiku dengan kata-kata buruk, aku hanya ingin kau tau...aku sudah siap sejak lama untuk itu Livia." mata Rusell bersinar tajam.
"Kau sudah gila."
"Karna itu Livia, jangan memancing semua kegilaanku, atau kau akan merasakan sendiri kegilaan apa yang mampu kulakukan, termasuk pada mantan kekasihmu itu.." ancam Rusell dengan senyum manis yang mengerikan.
Livia menundukan wajahnya dalam-dalam jemarinya tangannya yang bergetar memeluk tubuhnya dengan tangisan yang menggema di seluruh kamar.
Rusell hanya merenung menatap Livia yang menangis, perlaha rasa nyeri itu mulai menyebar didadanya, sebagian hatinya tidak tahan melihat kesakitan yang tergambar jelas di wajah Livia saat ini. namun ia harus tegas..ia tidak akan membiarkan Livia lepas darinya, Livia adalah istrinya yang berarti hanya miliknya. untuk saat ini Rusell akan membiarkan Livia. sebelum nanti ia menyadarkan Livia seperti apa posisinya didalam hidup seorang Rusell. pria itu tersenyum puas lalu bangkit dan meninggalkan Livia seorang diri.
💔
Roni menatap dengan mata yang memerah ke arah Jimi yang menjadi Desainer pernikahan Livia dan Rusell hatinya begitu sakit mendengar semua informasi yang diberikan pria ini.
"Menyerah."? tatap Roni menggeleng dengan kuat.
"Kau tau yang kau hadapi saat ini, tuan Rusell Win yang menguasai sebagian bisnis gelap dan itu sangat tidak mungkin bagimu untuk melawannya, atau anak buahnya yang tersebar dimana-mana akan membunuhmu dengan sia-sia."
"Jimi..dari awal Livia adalah kekasihku, aku tidak nisa merelakannya begitu saja."
"Tapi Livia sudah punya anak bersama tuan Rusell, kau tidak bisa merebut Livia lagi."
Jimi bersedekap menyadarkan tubuhnya didinding kantor milik Roni. dalam hatinya merasa iba melihat betapa hancurnya Roni saat ini. betapa sakitnya pria ini kehilangan kekasih yang susah sangat lama ia cintai. Jimi sudah menjadi saksi betapa pria ini telah mencintai Livia bahkan dari masa sekolah. tapi mengenai tuan Rusell,Jimi merasa takut jika Roni berbuat nekat maka ia akan mengalami kemarahan tuan Rusell yang pasti tidak akan mengampuninya.
"Aku tidak yakin itu adalah anak Livia, kau tau aku berpikir mungkin saja Lvia diculik dan dibawah ancaman pria kejam itu." ucap Roni yakin.
__ADS_1
"Roni itu tidak mungkin, yang aku liat adalah mereka saling mencintai dan begitu bahagia." balas jjmi tak maj kalah.
Roni sekali lagi menggeleng....
"Kalau mereka bahagia, Livia tidak akan menelfonku dimalam pernikahannya dan menangis." ucap Roni menyandarkan tubunhya di kursi kebesarannya.
Jimi terkejut...." dia menelfonmu."??
"Aku akan mengirim orang sebagai mata-mataku disana..lihat saja Livia akan kembali kepadaku."
Jimi hanya menghela nafasnya.. entah mengapa dia menjadi sangat khawatir sekarang.
💕
Mama Lydia menatap lekat putrinya yang telaten mengurus Angel. wanita itu tersenyum.. ia tidak menyangka jika putri satu-satunya ini telah tumbuh dengan sangat baik dan dewasa..padahal dulu Livia sangat manja dan selalu bergantung mereka dan juga Roni. bahkan untuk hal-hal kecil Livia pasti akan merajuk.
"Livia, mama senang sekali melihat kau sekarang berubah menjadi Ibu yang begitu dewasa dan telaten."
"Mah... apakah sekali saja pernahkah kau pikir untuk bercerai dari Papa ketika rumah tangga sedang dilanda masalah"? tanya Livia dengan serius.
"Apa maksud pertanyaanmu Livia, kau membuat mama takut..kau baru saja menikah bukan."?
Mama Lydia menatap wajah putrinya dengan penuh penilaian. dan menyadari ada hal yang menganggu Livia.
"Katakan apa yang terjadi Livia."?
Hai..teman-temanku yang tersayang, terimakasih atas dukungan kalian yah...
tetap dukung Author dengan Like, Komen yang banyak karna author mau tau pendapat kalian tentang Novel ini. beri Rating dan Vote juga ya..
__ADS_1
Terimakasih...❤❤❤❤