
"Apa kau sedang mengancam seorang Rusell." jemari Rusell terkepal dengan sangat kuat.
Roni tersenyum sinis melangkah melewati Livia dan Aleta ia mendekati Rusell yang sedang menatapnya begitu tajam. dan berbisik pelan. yang hanya mampu didengar oleh mereka berdua.
"Aku sudah menyiapkan diriku sejak lama tuan Rusell Wins.. dan kita akan melihat dari pertarungan ini siapakah yang menang..jika kau lengah dan membiarkan ular itu menyakiti Liviaku maka saat itulah kau akan kehilangannya.' ucap Roni dengan sangat tajam.
"Kau belum tau siapa diriku yang sesungguhnya tuan Roni..aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Livia dariku. tidak akan pernah..jika itu sampai terjadi maka aku akan menghancurkan siapapun yang berani mengambil milikku." desis Rusell dengan tatapan tajam.
Keduanya segera menjauhkan tubuh mereka setelah pembicaraan mereka selesai.
Livia menatap mereka satu persatu dengan dahi yang mengerut..
"Apakah artinya tatapan kalian, apakah kalian saling mengancam lagi."?
Rusell menggeleng dan mendekati Livia dan segera memeluk tubuh istrinya dengan begitu hangat dan juga posesif sehingga Aleta yang melihatnya hanya melonggarkan tenggorokannya. betapa bahagianya menjadi seorang Livia yang begitu dicintai oleh dua orang pria tampan dan juga kaya raya.
"Kami hanya sedikit mengobrol antar lelaki sayang, bisik Rusell sambil melirik ke arah Roni yang langsung terseyum dan mengangguk.
"Benar sekali, kami hanya saling mengobrol ringan." tatap Roni sambil mengusap rambut kepalanya.
>>>^^^<<<
Roni memasuki rumahnya diikuti Aleta yang setia dibelakangnya. Aleta kini adalah wanitanya yang tinggal bersamanya tanpa ikatan. wanita itu tau tempramen Roni ketika dia sedang marah pria itu akan masuk ke kamar pribadinya dan mengunci diri disana sampai amarahnya mereda, entah apa yang dia lakukan disana namun Aleta tidak berani masuk ke kamarnya karna selain dikunci, Roni juga tidak suka jika kamarnya di masuki tanpa ijin darinya.
Aleta hanya terdiam sambil bersandar di dinding dan memejamkan matanya. hanya mereka berdua yang tinggal dilantai rumah besar yang memiliki dua lantai ini. dan Aleta selalu dibiarkan sendirian dirumah itu. Roni akan pergi kemanapun dia ingin pergi tanpa harus memberi kabar. yah...memang ini adalah keputusannya walau terasa menyakitkan namun ia sudah memutuskan mencintai dan akan terus mencintai sampai hatinya sudah tidak sanggup lagi untuk merasakan luka maka saat itu dia akan pergi jauh dari Roni.
Aleta mengangkat wajahnya ketika pintu kamar Roni terbuka pria itu muncul dari sana dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padanya beberapa menit lalu, hingga tubuh Aleta mematung dengan sedikit ngeri, mengapa ia baru melihat sisi lain seorang Roni yang begitu dingin. mengapa pria ini terlihat sedikit menakutkan. Roni melangkah mendekati Aleta dan berhenti tepat dihadapannya. pria itu tersenyum dengan sangat menakutkan.
"Aleta.. katakan kepadaku, jika Livia juga mencintaiku.. dia hanya mencintaiku." teriak Roni sepeti pria yang telah kehilangan akalnya hingga Aleta terpaku.
Roni mengguncang tubuh Aleta hingga dia merasa pusing, airmata Aleta sekali lagi tumpah dan dia memutuskan hanya diam dan menatap Roni yang begitu marah.
__ADS_1
"Mengapa kau diam..mengapa kau tidak menjawabku mengapa...." Roni menghempaskan tubuhnya ke sofa dan meninggalkan Aleta sendiri. pria itu naik ke kamarnya dan itu artinya dia sedang membutuhkan Aleta sekarang sebagai pelampiasan.
>>>***<<<
Rusell menyandarkan punggungnya di sofa ruang kerjanya, Erik sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Apa kau yakin dengan semua informasimu Erik."tatap Rusell sambil berfokus pada labtobnya.
"Ya.. tuan Rusell aku sangat yakin dengan semua informasi yang aku dapat."
Rusell menganguk dan sedikit tersenyum.
" Kalau begitu jebak saja dia dan biarkan dia memakan umpannya, lalu aku akan mengejutkan dirinya." ucap Rusell dengan tatapan senang.
"Tentu saja tuan namun, bagaimana jika rencana kita sedikit meleset dari apa yang kita harapkan." ucap Erik kembali bertanya.
"Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri Erik, tidak akan kubiarkan siapapun mempermainkan aku..dia akan merasakan amarahku.' tegas Rusell.
Erik tersenyum dengan penuh semangat menyadari tuan Rusell kembali seperti dahulu. Erik segera menunduk di hadapan Rusell dan meninggalkan ruang kerja Rusell.
Rusell menarik nafas sambil menatap ke arah pintu, seseorang yang tidak disangkanya masuk dan benar-benar mengejutkan dirinya.
"Melinda." senyum Rusel begitu hangat seperti biasanya
Melinda tersenyum senang jika pria ini sedang sendiri tanpa Livia maka ia akan mulai menggunakan cara seperti biasa. Melinda datang kali ini dengan memakai pakaian yang sedikit terbuka dan berharap Rusell akan tergoda dengan tubuhnya..
"Kakak..." Melinda mendekati Rusell dan hendak memeluk pria itu namun Rusell sedikit menghindar darinya karna tidak nyaman.
"Ada apa."
"Kak...bolehkah aku menginab beberapa hari dirumah kakak." ucap Melinda dengan suara manja yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Untuk apa kau menginab atau kau sedang kekurangan uang."
"Tidak..aku hanya rindu pada Angell, dan aku ingin dekat dengan keponakannku kak."
"Baiklah kapan kau akan pergi."
"Malam ini."
"Baiklah..kakak akan memberi tau Livia tentang rencanamu." ucap Rusell dengan senyuman.
Melinda bangkit berdiri dan mendekati Rusell tampak ingin sesuatu...bajunya yang sejak tadi sudah terbuka sengaja ia buka sedikit lebih besar lagi untuk menarik perhatian Rusell hingga pria itu semakin kesal. tak ada wanita manapun yang mampu membuatnya tertarik secara fisik. hanya Livialah seorang yang mampu membuatnya tergila-gila.
"Melinda..jangan melewati batasanmu dan ingat kau hanya boleh menginap selama 3 hari disana." tatap Rusell memberi peringatan.
Melinda menarik dirinya sedikit menjauh dari Rusell dan tersenyum dengan sungkan, ini pertama kalinya ia melihat kak Rusell bersikap tegas kepadanya. namun ia akan mencari cara lain untuk menggoda pria ini. yah..Melinda sangat yakin, bahkan selama ini tak ada yang bisa menolak pesonanya sebagai seorang gadis.
"Baiklah kak..nanti malam aku akan kerumah kakak." Melinda tersenyum sambil meninggalkan ruangan Rusell dengan penuh rencana di kepalanya.
>>>***<<<
Rusell menatap Livia yang sedang menata bunga yang baru saja dipetik di taman untuk diletakan dikamar mereka. kebiasaan Livia sejak hamil adalah ia suka mencium sesuatu yang harum dan segar seperti bunga-bunga, Rusell melepas jass kantornya dan mendekati Livia untuk memeluknya dari belakang.
"Sudah pulang sayang."ucap Livia membalikan tubuhnya dan tersenyum pada suaminya dengan hangat.
"Kau sangat cantik Livia dan aku merindukanmu seharian ini di kantor." ucap Rusell menggoda.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepadaku."? bisik Livia menatap wajah Rusell yang tampak sedang berpikir.
"Melinda ingin menginap dirumah kita sekaligus ingin menengokmu dan Angel, apakah kau mengijinkannya."?
"Tentu saja, aku tak punya hak melarang Melinda dekat dengan keponakannya sendiri, aku akan berdosa jika aku melarang mereka."
__ADS_1
Rusell kehilangan kata sungguh hati Livia luar biasa dan Rusell tak berhenti bersyukur untuk itu. ia kembali mendekap Livia yang langsung menutup senyumannya diganti tatapan cemas yang entah mengapa langsung menyerangnya.
"Aku mencintaimu sayang."bisik Rusell dengan sungguh-sungguh.