Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Terbangun


__ADS_3

Livia menggeliat didalam tidurnya, seketika ia sedang tergantung disebuah tebing jurang yang begitu dalam dan berpegangan pada batu yang tajam. sementara akan terjadi badai sebentar lagi. Livia begitu panik ketika tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya.


"Tolong..." jerit Livia keras ketika peganganya mulai melemah. Livia semakin histeris ketika jemarinya mulai mengeluarkan darah segar.


"Aku akan mati, tanganku sakit sekali...tolong..." jerit Livia ketakutan akan terjatuh.


Ketika di ujung maut yang akan menjemputnya Livia melihat sesosok bayangan yang mendekatinya semakin lama bayangan itu semakin jelas dan akhirnya membentuk seorang pria yang begitu dikenalnya. berwajah dingin dan begitu menatapnya dengan tajam.


"Rusell."? desahnya dengan tak percaya.


Pria itu menundukan wajahnya seraya mengulurkan tangan ke arah Livia dan dengan cepat mengangkat tubuhnya ke atas. Livia terkejut karna ia sangat membenci Rusell dan tak sudi jika pria itu yang menolongnya.


"Lepaskan aku, aku lebih baik mati daripada harus ditolong olehmu."


Rusell menggertakan giginya mendekatkan tubuh Livia kepadanya dan mengerang marah...


"Aku tak akan membiarkanmu mati Livia, kau selamanya harus bersamaku dan aku tidak akan membiarkan dirimu lepas dari genggamanku." tatap Rusell dengan tajam lalu membawa paksa Livia bersamannya..


"Tidakkkkk...." jerit Livia dengan keras hingga terbangun.


Nafasnya memburu seiring jantungnya yang berdetak begitu cepat. matanya menatap nyalang pemandangan langit-langit ruangan yang berwarna putih dihadapannya. dengan perasaan asing.


Dimanakah dia berada, apa yang terjadi kepadanya apakah ini disurga, airmatanya menetes dengan penuh sakit hati ketika ingatan terakhir dengan kuat menyakitinya....


"Nyonya Livia, anda sudah sadar." ucap Seorang mengejutkan lamunan Livia.


Livia menoleh dan baru menyadari dia berada disebuah ruangan rumah sakit. dengan beberapa alat yang masih menempel ditubuhnya. ternyata dia sedang bermimipi dan dalam mimpipun bahkan Rusell masih mengejarnya.


Livia menatap perawat itu dengan bingung dan memijit pelipisnya dengan pelan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padaku." tanya Livia polos.


"Nyonya baru saja selesai di operasi karna luka di perut, jadi nyonya tidak boleh terlalu banyak bergerak." ucap perawat itu tersenyum


"Hmm..siapa yang membawaku, maksudku siapa yang menjagaku disini."


"Suami anda nyonya, mungkin sebentar lagi akan kesini." ucap gadis itu sambil menyuntikan cairan melalui selang infus Livia.


Livia hanya mengangguk lemah, luka diperutnya teramat sakit ketika ia sedikit saja menggerakan tubuhnya.


"Nyonya, selamat ya..pasti anda belum tau jika anda ternyata sudah hamil, dan untung saja bayi nyonya sehat." senyum gadis itu ikut senang.


Wajah Livia sangat terkejut mendengar kata-kata gadis ini hingga ia terdiam..bahkan ketika perawat itu meninggalkan ruangan, Livia masih terdiam.


Hamil.......hamil.....hamill..... kenyataan itu terus terngiang begitu mengerikan di ingatannya.


Livia merasa tubuhnya kehilangan tenaga. perasaan hancur menghampirinya dengan begitu kuat, bagaimana bisa dia hamil anak dari pria yang paling dibencinya. mengapa ia harus menderita lagi dibawah kendalinya, mengapa Tuhan tidak mengambilnya saja dan tetap mengijinkan dia hidup..mengapa....


Gerakan handle pintu ruangan yang terbuka mengalihkan pandangan Livia, ia menatap sosok yang paling ia benci saat ini.


Rusell berdiri dengan mata yang terbelalak tak percaya melihat Livia sudah sadar. namun hatinya bergetar melihat sinar kebencian yang terlihat dari sorot mata Livia yang di arahkan kepadanya walau saat ini Livia sedang meneteskan airmatanya.


Rusell mendekat walau ia tau bahwa Livia saat ini tak ingin didekatinya. keduanya saling memandang dengan tajam...


"Mengapa...mengapa aku harus selamat." isak Livia memejamkan matanya menahan sakit dihatinya


"Livia.."


"Aku pikir penderitaanku sudah selesai dengan kematianku..aku pikir aku akan terbebas darimu tapi mengapa....takdir begitu kejam padaku.."jerit Livia tidak terima.

__ADS_1


"Apa maksudmu Livia, taukah kau jika aku tak bisa hidup tanpamu, jangan...pernah berkata seperti itu Livia." ucap Rusell menggeleng..


"Aku membencimu, aku sangat membencium dan tak pernah sudi melihatmu Rusell." tatap Livia penuh dendam.


Rusel mengepalkan tangannya dengan kuat meski, dia sudah berjanji akan menyerahkan hidupnya untuk Livia namun kata-katanya saat ini sungguh menyakitinya.


"Livia, aku tau jika kau masih membenciku dan kemarahan itu masih begitu besar untukku namun...aku meminta maaf untukk semua yang pernah aku lakukan padamu Livia."


Rusel mendekat hingga keduanya saling menatap satu sama lain dari jarak dekat."


Rusell meraih jemari Livia dan menggenggamnya dengan begitu erat.


"Aku rela menerima hukumanmu Livia, tapi aku mohon jangan bicara seperti itu lagi, kau...tidak akan pernah pergi dariku, karna aku tidak bisa kehilanganmu Livia."


"Apakah karna aku sedang hamil jadi kau berhenti menyiksaku. lirik Livia tajam..apakah karna ada darah dagingmu didalam diriku maka kau menahan diri bersikap kejam padaku." airmata Livia menetes dengan sakit hati. melemparkan kenyataan dihadapan Rusell.


Rusell terdiam tidak menyangka jika Livia mengatakan hal itu kepadanya, seperti itukah dirinya dimata Livia..


"Kau hamil atau tidak, aku tidak perduli Livia yang aku perduli adalah dirimu, aku takut kehilangannmu dan aku sadar aku mencintaimu, dan kenyataan tentang kau sedang hamil anakku, sungguh aku sangat bahagia dan begitu menginginkannya...yahh aku menginginkan kalian berdua dengan serakah Livia."


Livia tersenyum....


"Seandainya semua kata-kamu benar, seandainya saja kau benar-benar mencintaiku, sayangnya semua hanya omong kosong, kau hanya berbohong padaku." tangis Livia mendorong tubuh Rusell menjauh darinya.


"Bagaimana kalau anak ini mati saja bersamaku." tatap Livia nekat.


Rusell menatap tajam ke arah Livia yang mulai meronta dan mencoba melepaskan jarum infus yang masih menancap di tangannya untuk menyakiti dirinya, Livia juga meronta sambil memukul perutnya dengan kuat namun tak sempat karna Rusell mencengkram jemari Livia dan membawanya ke belakang tubuhnya, jantungnya berdebar menyadari Livia sangat terluka olehnya. Rusell merasa sangat menyesal kemudian memeluk Livia membiarkan Livia memukul tubuh Rusell untuk melampiaskan semua rasa sakit yang selama ini membelenggunya.


Livia terus menyakiti Rusell dengan mencakar atau memukul atau meronta dengan keras namun Rusell tak bergeming ia tetap memeluk Livia sampai Livia puas melampiaskan rasa marahnya meski tubuhnya sedikit nyeri karna Livia menyerangnya dengan kasar. namun Rusell menahan semuanya toh..semua sakit ini tak sebanding dengan semua penderitaan Livia selama ini. Rusell bahkan sudah merelakan jika Livia bahkan menginginkan nyawanya..

__ADS_1


Karna Rusell sadar ia sangat mencintai Livia.


__ADS_2