
"Livia tidak bermaksud seperti itu Mah, aku tidak akan memaksanya memberikan aku seorang anak lagi..karna aku sangat mencintainya..kami akan mengurus Angel lebih dahulu lalu akan memberinya seorang adik." ucap Rusell sambil menggenggam jemari Livia dengan erat.
"Kau sangat perhatian suamiku." balas Livia tersenyum dengan penuh arti.
"Aku mencintaimu ingat itu."
"Astaga kalian berdua ini, persis seperti kami dulu." ucap mama Lydia mengenang.
"Benarkah."? Rusell tertarik.
"Tentu saja, papa Livia dulu adalah pria dingin sepertimu Rusell, mama Lydia mulai bercerita..dengan panjang lebar. Rusell adalah satu-satunya pendengr setia mama, karna Livia dan Papanya sudah biasa mendengar cerita sang mama yang seolah tidak pernah bosan.
"Mah...sudahlah nanti saja ceritanya..anak-anak kita juga masih mau menikmati waktu berdua." ucap sang Papa sambil melirik kepada Rusel yang tersenyum setuju.
"Tidurlah Mah, besok penerbangan harus pagi-pagi sekali mengingat cuaca di sekitar pegunungan ini kurang bagus." ucap Rusell menjelaskan.
"Baiklah, kami tidur lebih dahulu." ucap Mama Lydia beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan ruangan makan.
Rusell melirik Livia sebentar sebelum melangkah meninggalkan Livia sendiri. yah..hubungan mereka sangat dingin seperti es. walau mereka sekamar namun mereka akan bicara jika ada perlu saja atau berbicara seputar Angel. atau Rusel akan mendekatinya jika ingin kepuasan darinya dengan alasan itu adalah kewajibannya sebagai istri. Livia tidak bisa mengelak dari itu. namun ia sedikit merasa bisa tenang karna mereka tidak akan saling mengganggu satu sama lain.begini lebih baik baginya. ia tidak perlu menanggapi Rusell. bahkan ia enggan berdekatan dengan pria itu. selain kewajiban diranjangnya, diam-diam Livia berharap jika dia tidak akan pernah hamil anak Rusell, dia tidak akan pernah rela mengandung anak dari lelaki yang paling dibencinya saat ini. esok ketika orangtuanya pulang maka mereka sudah tidak harus terikat dengan sandiriwara palsu. dan kembali dengan kehidupan masing-masing.
💔
Livia menatap kepergian Helikopter yang membawa raga orangtuanya pergi. airmatanya menetes sedari tadi. ada begitu banyak nasehat yang diberikan orangtuanya terkait pernikahan mereka. meski Livia merasa semua kata-kata dan nasehat Orangtuanya hanya akan menjadi kenangan baginya. ia tidak akan menjalan semuanya. ini bukan pernikahan ini adalah tekanan yang membelenggu raganya. tidak ada tujuan Livia saat ini selain menjalani semuanya sampai dimana waktu memintanya berhenti.
Rusell sudah lebih dahulu meninggalkan atap meninggalkan Livia tanpa seoatah katapun, hanya ada beberapa pelayan yang menunggunya dengan sabar.
Livia memutar tubuhnya dan meninggalkan atap dengan tatapan dingin. mulai saat ini semua rasa sakit akan diterimanya tanpa perdebatan. mulutnya akan dikunci, matanya akan tertutup, telinganya akan menuli dengan semua yang akan Rusell lakukan. Livia menghapus airmatanya dengan kasar.
__ADS_1
❤
Livia sedang menyuapi Angel di dekat balkon. putrinya sudah sangat pintar dan suka sekali melihat pemandangan gunung-gunung, ketika dia sedang makan atau bermain, jadi Livia hampir tidk keluar dari kamar. selain karna ia malas jika bertemu Rusell. Livia memang tidak dibolehkan menyentuh langkahnya di pintu depan. akan ada penjaga yang mengingatkannya.
"Anak mama, ayo makan." bisik Livia membujuk dan mata Angel hanya membulat dan terlihat begitu senang. ia makan dengan lahap dan sangat banyak. hingga Livia tak henti-hentinya memuji.
Pintu kamar terbuka. Rusel, masuk dengan wajah yang terlihat lelah. ia lalu duduk bersandar di sofa panjang yang terletak di depan ranjang. beberapa pelayan mendekatinya sembari membawa beberapa peralatan seperti beberapa selimut tebal dan suhu ruangan segera dinaikan menjadi hangat, pria itu mulai kehilangan kesadaran.
Livia melirik sedikit, walau sebenarnya dia tidak perduli namun melihat betapa paniknya para pelayan Liviapun menitipkan Angel pada seorang pelayan yang memang ditugaskan untuk membantunya mengurusi Angel.
Livia mendekat, dan melirik salah seorang pelayan yang terlihat pucat.
"Apa yang terjadi."? tanya Livia mulai khawatir, menyadari betapa pucatnya wajah Rusell saat ini. ia benci rasa ini namun, ia tak mampu menahan dirinya.
"Tuan Rusell terjebak salju karna kondisi cuaca yang buruk."
"Tuan menderita hiportermia, dan mulai kehilangan kesadaran, kami sudah memanggil dokter namun cuaca saat ini tidak memungkinkan bagi dokter sampai dalam waktu dekat."
Penjelasan pelayan itu membuat pertahanan Livia runtuh. airmatanya entah mengapa menetes dengan sendirinya. tubuhnya gemetar sebagian besar hatinya senang karna ia tidak perlu membalas dendam. jika dibiarkan begitu saja. Rusell akan mati. tapi..sebagian hatinya tidak mengijinkan ia melakukannya. hati nuraninya memaksa agar Livia berbuat sesuatu untuk menolong Rusell.
"Tuan Rusell semakin kedinginan dan tidak sadar." ucap salah seorang pelayan menjerit dengan panik.
Livia masih berdiri menatap tubuh Rusell yang memutih karna terlalu pucat. jantung Livia berdebar dengan kencang, hatinya harus memilih sekarang..membiarkan Rusell hidup atau membiarkannya menjemput kematiannya didepan Livia. jika Livia membiarkan Rusell mati. dia pasti akan terbebas dari tekanan Rusell.
"Jangan berpikir untuk bercerai dengan Rusell untuk kembali kepada Roni apapun masalah yang kau hadapi nanti, karna kau akan menyakiti kami sebagai orangtuamu Livia."
Livia menggeleng ketika kata-kata Mamanya terngiang dikepalanya.
__ADS_1
"Mama ingin kau hanya menikah sekali seumur hidup dan mama telah menghadirinya, namun tidak akan ada pernikahan lain lagi yang akan dihadiri Mama dan Papa." ucap Mama Lydia memberi peringatan dengan mata yang berkaca-kaca.
Airmata Livia mengalir lagi...
"Kau benar-benar bajingan, aku berharap suatu saat kau menghilang dari dunia ini karna aku sangat membencimu." jerit Livia dengan kemarahan yang terpancar dari sudut matanya.
Lagi airmata semakin deras saja ketika mengingat ia pernah menyumpahi Rusell.
"Yah..mungkin kau adalah salah satu dari beribu orang yang telah menyumpahiku dengan kata-kata buruk, aku hanya ingin kau tau...aku sudah siap sejak lama untuk itu Livia." mata Rusell bersinar tajam.
Livia merasa frustasi, dan memutuskan mengikuti nuraninya dengan menolong suaminya. meski dia sangat membencinya.
Livia memutar tubuhnya menatap seluruh pelayan yang kebingungan.
"Pindahkan tubuh tuan Rusell ke ranjang dan bawa keluar Angel dari kamar ini..tinggalkan kami berdua..jangan pernah ada yang mengganggu." ucap Livia dengan nada tegas
Seluruh pelayan menunduk hormat dan segera melaksanakan perintah nyonya mereka.
Pintu kamar dikunci meninggalkan mereka berdua sendirian.
Livia mendekati ranjang perlahan. sambil membuka satu persatu jubah tidurnya.ia akan melakukan metode skin to skin pada Rusell. airmatanya mengalir sebagai manusia ia tidak ingin menjadi jahat seperti Rusell. walau berat ia akan melakukan yang terbaik sebagai seorang istri untuk menjadi penolong suaminya. meski mungkin besok ia akan menyesali semua keputusan yang telah ia ambil malam ini.
Livia memandang sedih pada tubuh Rusell yang tidak bergerak sedikitpun. jemarinya naik dan membelai wajah pria yang sangat dibencinya setengah mati. wajah itu begitu dingin dan hampir tidak ada kehidupan.
Livia memeluk tubuh Rusel dibawahnya untuk menghangatkan tubuh Rusell kembali . Livia mendekatkan wajah dan melum** bibir Rusel yang begitu dingin dan pucat.
Untuk pertama kalinya Livia berdoa agar Tuhan menyelamatkan nyawa Rusell.
__ADS_1