
Roni memukul stir mobil dengan marah. matanya mencari-cari sosok Melinda yang pergi disaat dia belum mendapatkan hukuman. gadis itu menghilang setelah berhasil membuat kekacauan.
"Sial....bisa-bisanya dia melarikan diri disaat kami sedang saling memaafkan." ucap Roni yang sangat kesal yaah...Melinda jelas memfitnahnya dengan berkata kalau dia sendiri yang merencanakan ini semua. dan dia harus membuat perhitungan dengan Melinda apapun yang terjadi. untuk sementara Roni memutuskan pulang untuk menemui Aleta. dia sedikit merasa bersalah telah meninggalkan wanita itu sendirian. lagipula dia sudah lega karna semua permasalahan dengan Livia dan Rusell telah selesai dengan dia sudah merelakan Livia hidup bahagia. dan akan mencari kebahagiaan dirinya sendiri.
Mobilnya memasuki garasi, setelah mematikan mesin mobil pria itu mkeluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. sampai didepan pintu ia tertegun melihat sebuah koper dan sebuah tas kecil ada di tengah ruangan. langkahnya melambat di iringi jantung yang berdebar. koper siapa..apalah Aleta, ya..hanya mereka berdua dirumah ini dan tidak mungkin koper orang lain selain wanita itu.
Aleta menuruni tangga dengan pelan sedikit gugup ia mendekati Roni yang sedang menatapnya begitu dalam.
"Tuan Roni." ucap Aleta menundukan kepala penuh hormat.
"Apa maksudmu dengan ini semua."tatap Roni dengan wajahnya yang berubah dingin.
"Aku ingin pamit kepadamu Roni." ucap Aleta pelan.
"Mengapa....apa kau marah padaku tentang aku meninggalkanmu tadi, astaga ada apa denganmu Aleta.."
Aleta mengepalkan tangannya dengan kuat menahan kesakitan didadanya yang bergemuruh. mengapa Roni tidak juga mengerti, mengapa ia tidak bisa melihat cinta yang besar di dalam dirinya. mengapa Roni selalu saja melihatnya seperti seorang pelayan atau bahkan robot yang tanpa perasaan. mengapa tidak bisa sedikit saja membuka hatinya...meski Aleta tau cinta tak bisa dipaksa itulah mengapa dia harus pergi. membawa hatinya yang terluka.
"Aku bukan siapa-siapamu Roni, dan aku tidak pantas merajuk karna kau meninggalkan aku tadi."
"Tapi keinginanmu pergi karna aku mungkin membuatmu kecewa tadi."
"Aku lelah dengan semua ini Roni..." kata-kata itu akhirnya meluncur dari mulut Aleta.
"Lelah.?" ulang Roni tidak terima.
"Yah..kurasa cukup bagiku menemanimu selama ini bukan, aku sudah menjadi pelayanmu ditempat tidur ..aku sudah seperti seorang pelac** ."
"Apa katamu." Roni melebarkan matanya. yah ia tau bahwa kata-kata Aleta ada benarnya, mereka tinggal seatap tanpa ikatan pernikahan. selama ini semua pikiran Roni selalu terfokus pada bagaimana mendapatkan Livia, dan seakan ia lupa kalau ia telah melakukan dosa yang besar pada Aleta.
"Katakan apa aku salah." desis Aleta dengan mata berkaca-kaca. hatinya sungguh sakit m enyadari betapa hina dirinya saat ini.
"Lalu kau mau apa Aleta, kau mau aku menikahimu yah."
"Kau pikir aku sepercaya diri itu, aku tau kau tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain Livia. dan aku...tidak berharap sedikitpun."
"Aleta...aku akan menikahimu jika...."
"Aku tidak menginginkan apapun Roni aku..hanya ingin pergi." tatap Aleta dengan airmata yang menetes.
"Kau pikir kau bisa meninggalkanku Aleta, apa kau lupa bahwa akulah yang selama ini menjadi penolongmu, aku...tidak akan membiarkan kau pergi." ucap Rusell dengan tatapan peringatan.
__ADS_1
"Mengapa, apa karna kau membutuhkan tubuhku maka kau tidak ingin aku meninggalkanku."
Mata Roni menyala-nyala dengan kemarahan yang menguasainya diraihnya lengan Aleta dan menajamkan tatapannya.
"Kau pikir aku serendah itu, kau pikir aku tidak tau alasanmu yang sebenarnya ingin meninggalkan akau Aleta."
"Aku hanya ingin pergi..apa maksudmu Roni."
"Yah...kau akan pergi dengan membawa anakkku bukan." tatap Roni menuduh dengan tatapan tajam menyala-nyala. sebenarnya ia pernah memergoki hasil tespek Aleta ketika ia tidak sengaja menjatuhkannya dikamar mandi. Roni menyimpannya dengan aman. walau rasanya ia tidak percaya dengan semua yang ia lihat. Aleta suah mengandung anakknya dan Roni tidak akan membiarkannya pergi.
"Darimana kau tau." isak Aleta.
"Sebelum aku menemui Livia dan Rusell aku telah tau segalanya.
"Mengapa kau diam saja Roni."
"Karna aku harus menyelesaikan masalahku bersama mereka lebih dahulu."
"Apa maksudmu."
"Aku mencintaimu Aleta, aku ingin kita segera menikah."
Aleta kehilangan kata-kata.......
membiarkan Roni menggenggam tangannya dan tersenyum.
"Menikahlahlah denganku Aleta."
"Baiklah, aku mau menikahimu Roni." ucap Aleta dengan penuh tangis, ketika Roni memeluknya dengan erat.
>>>**<<<
Livia sedang bermain bersama Angel yang sedang bersandar di pelukannya, sedang Rusell sedang berbaring di pangkuannya. Livia merasa bingung karna Rusell dan juga Angel meminta perhatiannya secara bersamaan.
"Sayang aku senang kau memijat kepalaku dengan tanganmu."Rusell berbisik manja sembari meraih sebelah tangan Livia dan meletakannya di dahinya.
sementara Angel yang melihatnya malah menangis merasa cemburu hingga Rusel merasa kesal.
"Mengalah dulu sayang, aku akan memijitmu dikamar nanti." bisik Livia membujuk.
"Bisakah Angel yang mengalah saja." tatap Rusell membujuk.
__ADS_1
"Jangan berebut dengan anakkmu itu tidak adil." lirik
Livia yang menggeleng, segera mencium wajah Angell yang sangat menggemaskan ia tentu lebih memilih Angell. akhirnya Rusell mengalah dan bangkit dari tidurnya dan memeluk dua perempuan yang paling dicintainya sementara sebelah tangannya mengelus perut Livia yang terlihat membesar.
"Aku masih kesal dan berusaha mencari Melinda namun, ia seolah hilang di telan bumi."
"Sudahlah sayang, biar bagaimanapun dia adalah adik dari ibunya Angel, biarkan dia merenungi kesalahannya. mungkin dia merasa malu setelah apa yang ia lakukan." Livia mencoba bijak.
"Bagaimana kalau ia sedang merencanakan sesuatu."?
"Maka kita akan menghadapinya Rusell, tapi satu yang pasti aku akan selalu bersamamu Rusell, tetaplah men jadi pria yang menintaiku dan tidak lelah."
Rusell memandang wajah Livia yang hari demi hari terlihat lebih bersinar, mungkin karna kehamilannya. ia mencium wajah Livia dengan gemas.
"Mengapa hatimu begitu baik Livia, aku sudah menyaksikannya berkali-kali, sekuat apapun kau membenci tetap saja. kau akan tetap memaafkan.
Rusell mengecuk bibir Livia berkali-kali. hingga wanita itu tersipu.
"Itu karna aku memang tak bisa membenci, sekuat apapun aku mencoba membenci namun sekuat itu juga hatiku mampu memaafkan."
"Aku sangat bangga padamu sayang."
"Terimakasih sayang kau telah membuktikan bahwa kau telah berubah dan mencintai kami." ucap Livia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang." ucap Rusell dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. sungguh ia mencintai wanita yang pernah begitu ia benci dan membuatnya cinta. Rusell akan mencintai Livia dengan seluruh hidupnya.
.........................................
20 tahun kemudian..........
Seorang pria sangat tampan turun dari mobilnya dan menatap sebuah mansion dihadapannya.....
sudah 5 tahun ia meninggalkan kota ini.........
Pintu terbuka dan seorang gadis cantikk menatapnya dengan senyuman bahagia.
"Selamat datang kembali tuan muda Rafael Wins." ucapnya segera menghambur ke pelukan adikknya.
"Aku merindukanmu kak Angel." balas pria itu semakin mempererat pelukannya......
>>>>***<<<<
__ADS_1