
Pagi yang terasa hangat, matahari menyelinap masuk melalui jendela kamar yang masih terhalang tirai putih. Rusell membuka mata dengan tatapan waspada. sesaat ia tertegun masih mengumpulkan ingatan terakhir sebelum tertidur. ia mengalami badai salju yang hebat. beruntung helikopternya bisa mendarat dengan selamat. lalu ia masuk ke kamar dan menyadarkan punggung disofa, lalu kemudian ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi.
yang ia rasakan terakhir adalah rasa dingin yang membekukan semua syarafnya bahkan jantungnya.
Pria itu menggerakkan tubuhnya baru sesaat kemudain dia sadar dirinya tidak sendirian dikamar ini. melainkan bersama Livia..matanya menajam seakan tidak percaya dengan pendangan matanya sendiri.
"Livia."? desahnya pelan.
Rusell terpana melihat tubuh istrinya masih tertidur dengan sangat lelap berbantal menggunakan lengannya. tubuh keduanya pol*** dibawah selimut tebal.
jika Rusell tidak merubah posisinya ketika bangun tadi dia bisa bayangkan kalau mereka tidur sambil berpelukan dengan erat.
"Apakah semalam."
Pria itu mencoba membaca apa yang terjadi semalam namun satu yang ia yakini bahwa Livia menyelamatkan dirinya.
ada rasa hangat yang begitu aneh dan mendebarkan jantungnya saat ini. memandang wajah Livia yang masih terlelap sangat cantik dengan wajah polosnya seperti putri tidur.
Rusell tersenyum senang. yah..walaupun hubungan mereka sangat buruk tapi Rusell masih penasaran mengapa Livia menolongnya.entah mengapa Livia memutuskan menolongnya padahal saat itu jika Livia ingin bebas darinya. ia tinggal mengulur waktu dan menyaksikan Rusell mati membeku dihadapannya. dan Livia bisa bebas pergi kemanapun dia mau dan tentunya mewarisi semua kekayaan Rusell yang tidak sedikit.
Jemari Rusell bergerak, menyibakkan anak rambut Livia yang sebagian menutup wajahnya. mengusap pipinya yang mulus seperti bayi. jemari Rusell terus menjelajahi seluruh wajah Livia tanpa ingin berhenti dan disaat jemarinya sampai dibibir Livia, wanita itu membuka mata dan bergerak menghindari sentuhan Rusell dengan wajah yang pucat.
"Baagaimana keadaanmu."? tanya Livia dengan sorot mata yang cemas.
Rusell tidak menjawab dan hanya duduk dengan santainya sambil menjebak Livia didalam mata tajamnya.
"Rusell, bagaimana keadaanmu, apa kau masih kedinginan. suara Livia terdengar lebih jelas sekarang. melihat Rusell yang diam saja dan tampak seperti menahan sesuatu membuat hati Livia semakin cemas.
Rusell menundukan wajahnya dengan gerakan yang tiba-tiba seperti menahan sesuatu yang dirasakannya. kenyataan itu membuat Livia gelisah. masih menggunakan selimut sebagai pembungkus tubuhnya Livia mendekati Rusell mencoba mencari tau mungkin saja Rusell belum sepenuhnya sembuh dari hiportemianya.
Livia menarik selimut ikut bersamanya mendekati Rusell dan mencoba menyentuh lengan pria itu untuk meyakinkan lagi apa yang terjadi pada Rusell.
Pada saat bersamaan ketika Liivi lengah, Rusell meraih punggung Livia dan menjatuhkannya ke ranjang dan menatapnya dengan tajam. Livia sangat terkejut ia tidak menyangka Rusel hanya berpura-pura. dan bisanya dia percaya. Livia memejamkan matanya seraya berusaha melepaskan diri dari kungkungan Rusell yang begitu kokoh menjebaknya dari atas.
"Rusell, menjauhlah." jerit Livia dengan nada tinggi.didekapnya selimut dengan erat.
"Mengapa kau menolongku Livia."?
"Aku melakukannya untuk diriku sendiri dan Angell."
"Hanya untukmu dan Angell."?
"Tentus saja, apa lagi."
__ADS_1
"Mengapa kau melakukannya, padahal kau bebas jika aku mati dan kau bisa pergi."
"Itu karna aku tidak ingin menjadi janda dan menjadikan Angel seorang yatim." ucap Livia mencari alasan setelah otaknya merasa buntu karna tak kunjung menemukan kata yang tepat.
"Benarkah."?
"Apa lagi hanya itu alasanku Rusell, sekarang menjaulah."
"Aku tidak mau pergi Livia."
"Astaga apa lagi yang kau inginkan, kau ingin menguji aku yah."?
"Yah..aku hanya ingin mengujimu sekali lagi Livia."
"Kau mengujiku untuk apa..apa yang ingin kau tau."?
"Hatimu Livia."
"Hatiku."? ulang Livia bingung.
"Yah..dan aku sudah mendapatkan jawabannya." Rusell tersenyum misterius.
Livia melonggarkan tenggorokannya menatap mata Rusell yang menjebakk matanya. jantungnya berdebar..ia benci namun tidak mampu menghapus kenyataan. kalau ia baru menyadari sesuatu yang lain sedang terjadi dihatinya, dan itu...tentang Rusell.
"Lalu jika kau sudah tau jawabannya lepaskan aku sekarang, Angel sangat membutuhkan aku sekarang." pinta Livia memelas.
"Aku saat ini lebih membutuhkanmu dibanding Angel, apalagi aku mendapat kekuatan lebih setelah tau hatimu."
"Rusel, jangan begini..aku harus pergi." jerit Livia merasa semakin gugup.
"Kau akan pergi setelah menyelesaikan tugas akhirmu."
"Tugas apalagi."?
Mata Rusell membara, itu jadi sinyal bagi Livia jika pria ini menginginkan dirinya.
Skip.............
🧡
Livia sedang bermain bersama Angel di temani seorang pengasuh Angel yang baru bernama Meri yang berumur 30tahun. ia baru dipekerjakan sebagai babysiter yang membantu Livia sehari-hari untuk mengurus Angel.
"Nyonya, apa butuh sesuatu seperti teh atau kopi." tanya Meri bersikap sangat sopan.
__ADS_1
"Tidak Meri.,aku sedang tidak ingin."
"Baiklah nyonya."
Pintu tiba-tiba diketuk dan kemudian terbuka. Rusell muncul disana dengan setelan jass tiga potong berwarna hitam. wajah tampannya terlalu memikat saat ini. ia menatap Livia yang juga menatapnya dan menikan sudut bibirnya ditangannya ada sebuah kotak dan seikat bunga.
Meri bergerak mundur, membiarkan Rusel yang mendekati Livia yang sedang menggendong putrinya.
"Aku merindukanmu.....
Wajah Livia memerah, ia yakin saat ini jantjngnya berdebar kencang.
Baru saja ia akan menjawab...
"Aku sangat merindukanmu putriku." ucap Rusell seraya mencium wajah Angell yang semakin montok. seaya melirik Livia dengan senyuman tipis.
Wajah Livia begitu memerah karna malu. ia memalingkan wajahnya. dan tak berhenti mengutuki dirinya karna terlalu bersikap percaya diri. Rusell meraih tubuh Angel dalam gendongan Livia dan mwnatapnya dengan takjup. bayi berusia enam bulan itu semakin menggemaskan dengan wajahnya yang semakin mirip dengannya.
"Aku ke kamar mandi sebentar." ucap Livia langsung pergi begitu saja meninggalkan Rusel yang terdiam.
Rusell menatap Meri pengasuh Angell dan memberi isyarat agar Angel dibawa keluar. dan mengunci pintu.
Dia menatap ke arah kamar mandi dengan senyuman yang samar, sambil meraih seikat bunga dan kotak yang ia bawa tadi Rusell menanti Livia dengan gugup.
Sementara....
Livia menatap kearah cermin kamar mandi dengan wajah memerah.
"Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri Livia." ucapnya pelan..
"Pria itu tidak melihatmu sedikitpun, astaga aku tidak bisa memperlihatkan wajahku dihadapannya, betapa malunya diriku." Livia kembali menggeleng.
Namun ia juga tidak bisa terus berada dikamar mandi, Rusell akan mencurigainya.
Pintu diketuk dari luar, hingga Livia menoleh dengan gelisah.
"Livia, apa kau baik-baik saja." suara Rusell terdengar keras dari balik pintu.
"Yah..aku hampir selesai." balas Livia cepat.
Wanita itu segera membasuh wajahnya dan meraih handuk kecil. untuk mengeringkannya.
Livia menuju pintu dan segera membukanya. iapun terkejut.
__ADS_1
Rusell sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan...
"Rusel."?