Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Separuh jiwa


__ADS_3

Tubuh Rusell seperti kehilangan jiwanya, melihat tubuh Livia yang tidak berdaya di lantai dengan selimut yang membalut tubuh polosnya. selimut itu berubah berwarna merah yang begitu kental. dengan sisa kekuatan yang ada Rusell mendekati LIvia dan meraih tubuh lemah itu untuk memeluknya dengan tangan yang bergetar. membawanya dekat dadanya sementara jemarinya yang lain menekan tombol darurat untuk mengumpulkan anak buahnya dengan segera. Rusel menekan perut Livia yang terus saja mengeluarkan darah dari balik selimutnya.


"Mengapa kau melakukan ini Livia, aku tidak bisa.. aku tidak bisa tanpamu Livia....." teriak Rusell dengan kesakitan yang dalam.


Rusell memeluk tubuh Livia mendekapnya dengan begitu erat ia tidak ingin jauh dari Livia.


💔


Rusell terpaku di depan ruang IGD sebuah rumah sakit terkenal di kota itu. pria itu terdiam dengan pandangan kosong seluruh tubuhnya bergetar, di kaosnya ada bekas darah yang mengering. Rusell kehilangan semua kekuatannya.


Masih terbayang ketika ia mendekati tubuh Livia yang bersimbah darah, Livia tidak bergerak sedikitpun dihadapannya. wanita yang tampak begitu terluka dan terlihat pucat itu menutup mata seakan enggan melihatnya lagi. seketika itu juga Rusell merasa ia kehilangan arah.


Hancur...itulah yang pertama kali dirasakan Rusell di dalam hidupnya. seakan jiwanya ikut terlepas dari raganya. rasa sakit yang dulu samar kini begitu nyata menghantam dadanya, ia kehilangan separuh jiwanya..


Sementara Pedro dan Erik berada tak jauh darinya ikut merasakan kesakitan tuannya.


Rusell menundukan kepalanya seakan detik demi detik membunuhnya dalam rasa bersalah tidak berujung.


Pintu ruangan IGD akhirnya terbuka dan dokter keluar dari sana.


Rusel mendekati dokter dengan mata tajamnya.


"Bagaimana istriku dokter." ucap Rusell dengan suaranya yang gemetar."


Pria dihadapannya hanya menghela nafas sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Pasien dalam keadaan tidak sadarkan diri dan kehilangan banyak darah, kami akan segera melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru, karna luka tembak di perutnya hampir mengenai rahimnya."

__ADS_1


"Rahim."?


"Istri anda sedang hamil tuan, dan usia kandungannya sudah delapan minggu." ucap dokter dengan berat hati.


Rusell membeku mendengar informasi yang disampaikan dokter kepadanya. apa yang terjadi itu artinya Livia sedang hamil saat ini....


"Istriku sedang hamil dokter."


"Benar tuan..karna usia kandungannya masih sangat muda, jadi operasinya akan sedikit sulit, aku tidak bisa memastikan bisa menyelamatkan bayi anda tuan, karna kondisi istri tuan yang sangat lemah." ucap dokter dengan polos sampai tidak menyadari wajah Rusell yang berubah memerah penuh dengan amarah.


Rusell mengepalkan tangannya dengan kuat, diraihnya pistol dari saku celananya dan mencengkram ujung kemeja dokter itu dengan tatapan membunuh, matanya tajam menyala-nyala.


"Kau harus menyelamatkan istriku juga anakku atau aku akan menembak kepalamu dan seluruh keluargamu dokter." teriak pria itu menatap dengan sangat tajam.


Rusell menempelkan ujung pistol di pelipis sang dokter hingga pria itu begitu ketakutan. sementara Erik dan Pedro hanya saling memandang dengan tatapan pasrah.


"Jangan kecewakan aku dokter, karna aku tidak akn segan langsung menghabisimu jika kau keluar dari sana tanpa kabar baik." ancam Rusell menggila.


Rusell menghempaskan tubuh sang dokter dan sekuat tenaga. hingga wajah dokter begitu pucat, lalu buru-buru meninggalkan Rusell dan memasuki ruangan IGD. Rusell begitu frustasi hingga ia tak mampu menahan semua rasa sakitnya. kemudian ia menghantam dinding rumah sakit dengan sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya berdarah. Erik dan Pedro berusaha mencegahnya untuk menyakiti dirinya sendiri. Rusell tersungkur dengan rasa bersalah yang tidak pernah ada habisnya.


Penyesalan itu begitu menyiksanya saat ini, mengapa ia bisa sekejam itu bahkan tidak menyadari betapa rapuh dan lemahnya Livia ketika harus menerima semua amarahnya yang tidak terkendali. mengapa ia harus memberi rasa sakit yang teramat besar untuk Livia, wanita yang mencintainya dengan tulus. mengapa rasa sakit ini begitu menyiksanya dengan begitu besar. sementara bayangan wajah Livia yang begitu pucat memenuhi semua pikirannya saat ini.


"Tuan Rusell, nyonya Livia akan segera dibawa ke ruang operasi." ucap Erik sambil menundukan kepala. sekaligus menghempaskan lamunan Rusell.


Rusell membalikan tubuhnya dan menatap Erik dengan tatapan hancur. memejamkan mata sebentar untuk menguatkan hatinya lalu melangkah menuju ruang operasi.


Dari jauh tampak beberapa dokter dan perawat sedang menunggunya. Rusell mempercepat langkahnya seiring jantungnya yang berdebar kian kencang ketika mendekati tubuh Livia yang terbaring tak berdaya.

__ADS_1


Pria itu menundukan kepala menatap berbagai alat penunjang kehidupan yang menghiasi tubuh Livia. tanpa terasa airmatanya menetes untuk pertama kali dalam sejarah kehidupannya Rusell meneteskan airmatanya untuk istrinya Livia.


Semua alat yang mengeluarkan bunyi itu begitu menyiksa telinganya. ia menundukan wajahnya hingga hampir menyentuh wajah Livia yang terhalang berbagai selang menembus hidung dan mulut Livia. Rusell menghela nafasnya yang kian berat.


"Livia...aku mohon bangunlah sayang..aku berjanji kepadamu aku...seorang Rusell Wins, aku..akan menyerahkan hidupku kepadamu, aku..bersedia kau hukum apa saja..jadi, bangunlah dan hukumlah aku sayang." airmata Rusell menetes jatuh mengenai mata Livia.


"Tuan, maaf tapi sudah saatnya nyonya akan di operasi." ucap dokter dengan sangat hati-hati.


Rusell tidak memperdulikan kata-kata dokter dan masih saja terus menatap Livia seakan ia tidak ingin dipisahkan.


"Livia, kau harus bangun..ini adalah perintah dariku." ucap Rusell dengan penuh penekanan, ia berbisik dengan suara bergetar di telinga Livia.


Rusell tak ingin beranjak dan melepaskan Livia sehingga Erik dan beberapa anak buah lainnya harus melepaskan paksa tuan mereka dari tubuh istrinya. pintu ruangan operasi itu tertutup dengan begitu rapat hingga Rusell begitu frustasi, ia berteriak keras meluapkan semua emosi dihatinya yang begitu menyiksa.


Bayangan Livia ketika sedang tersenyum,bercanda atau sedang malu-malu ketika ia menggodanya mulai silih berganti dikepalanya bagai roll film yang sedang diputar. ingatan-ingatan kebersamaan mereka ketika Livia sedang cemburu menyiksanya dengan begitu kuat, senyum Livia yang begitu manis menggetarkan seluruh nadinya. Rusell sungguh-sungguh menyesal telah melakukan hal yang kejam pada Livia, ia sungguh memohon ampun atas segala kesalahan yang ia lakukan pada istrinya. Rusell tidak mampu hidup tanpa wanita yang telah berhasil merebut perhatiannya pada saat mereka bertemu di kamar Angel dulu.


"Diam...aku muak padamu..aku membencimu dan salah satu dari kita harus mati."


Rusell memejamkan matanya ketika ucapan Livia menuduhnya.


"Kau pernah bilang, aku bisa melepaskan diri darimu hanya dengan kematian."


Rusell tersungkur dengan hati yang hancur berkeping-keping. jika terjadi sesuatu dengan Livia maka seumur hidupnya ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Tidak Livia..aku mohon jangan tinggalkan aku." jerit Rusell memohon dengan segenap kerinduannya."


"Aku mencintaimu Liviaku."

__ADS_1


__ADS_2