Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Mendekati


__ADS_3

Elena menatap sebuah undangan yang di berikan Ken kepadanya dengan wajah bingung.


"Undangan ulangtahun." tatap Elena mengerutkan dahi.


"Kau tau kan jika teman kita Tiara mengadakan pesta ulang tahun, karna kemarin kau tidak datang ke kampus maka undangan ini dititipkan padaku. Ken tampak gugup..ia terus menatap Elena dengan tatapan kagum.


"Lalu.." Elena menerima undangan itu dan segera menyimpannya di dalam tas.


"Apakah kau akan pergi." tanya Ken.


Elena memijit pelipisnya. rasanya tidak akan mungkin dia akan di ijinkan Rafael ke acara pesta itu. apalagi Rafael terlihat sedikit kecewa karna pernikahan mereka akan di undur lagi. Elena tidak akan mau memancing kemarahan pria itu atau, dia akan mendapat masalah.


Elena menggeleng....


"Maafkan aku Ken, tapi sepertinya aku tak bisa ikut ke pesta itu."


Elena tak menyadari wajah Ken yang berubah kecewa.


"Mengapa...apa kau sangat sibuk."?


"Tidak...tapi calon...." kata-kata Elena terputus ketika menyadari Rafael tiba-tiba saja menghampiri mereka yang sedang berada di dalam kelas. memakai setelan jass tiga potong pria itu sangat tampan.


"Sayang." ucap Rafael sedikit keras hingga mampu di dengar oleh Ken. pria itu meringis kesal. namun mampu menutupi dengan sangat cepat.


"Rafael." Elena sangat terkejut hingga menjadi gugup.


ia menoleh pada Ken dan Rafael yang saling menatap dengan tajam. jika dia tak mencegahnya maka akan ada keributan disini.


Elena bergegas merangkul lengan Rafael sekaligus menenangkan prianya dari emosi yang hampir meledak dalam diri Rafael.


"Ken..kenalkan ini Rafael Wins, calon suamiku." ucap elena dengan senyuman manisnya.


Kenzo menatap dalam diam, tak pernah ia merasakan perasaan suka pada seorang wanita sedalam ini. dan disaat ia ingin menyatakan cinta. malah hatinya dipatahkan oleh Elena karna pria bernama Rafael Wins...


Jemari Ken terkepal dengan begitu erat sampai buku jarinya memutih. tidak..ia tak pernah gagal, Elena jika dilihat tampak takut dengan Rafael, apakah itu berarti kemungkinannya adalah cinta sepihak..Ken menaikan sudut bibirnya. lalu mengulurkan tangannya pada Rafael.


"Tuan Rafael Wins..kau sangat beruntung memiliki calon istri seperti Elena..dia sangat cantik dan lembut, kau harus menjaganya dengan sangat baik, jangan sampai direbut orang lain."


Rafael terdiam mengamati tatapan tajam Ken seperti Elang, mereka tampak seumuran dan Rafael sangat bisa menilai arti dari tatapan pria yang menyedihkan ini.


alat perekam suara yang ia letakan di tas Elena sudah memberikan banyak bukti bahwa pria ini, ingin merebut Elena darinya dengan dalih persahabatan. Ken pikir, Rafael bodoh.


Rafael mencengkram jemari Ken sedikit keras dan tersenyum...


"Milik seorang Rafael Wins memang sangat cantik dan tentu saja lembut, kami saling mencintai dan aku bisa memastikan..dalam mimpipun tak ada yang bisa merebut milikku." seringai Rafael begitu tajam mengarah lurus pada Ken..


"Hahaha...tak ada yang bisa menebak masa depan tuan Rafael Wins, masa depan adalah misteri yang begitu menakutkan." sindir Ken tak mau kalah.


Rafael maju selangkah dan menatap mata Ken..

__ADS_1


"Masa kini dan masa depanku ada didalam genggamanku Ken, jika ada yang berani merusak atau mencoba menganggu masa depanku maka bersiaplah....karna sampai ke lubang semutpun aku tidak akan melepaskannya, aku akan menghancurkannya dengan sangat kejam dan bukan dia sendiri, dia dan seluruh keluarganya." ucap Rafael dengan sinar mata yang tajam.


Rafael memalingkan wajahnya, dan meraih jemari Elena untuk di genggam. Elena masih tersenyum ke arah Ken yang seakan kehilangan seluruh kata-katanya.


Elena menatap wajah dingin Rafael yang tampak sangat tampan. ia bahkan menjadi pusat perhatian di seluruh kampus. para gadis menatapnya tanpa mampu mengedipkan mata mereka.


"Rafael...mengapa kau ikut di dalam kelasku, kau kan bisa menelfonku." ucap Elena sepanjang jalan.


"Aku merasa kau akan gampang tergoda pada pria itu makanya aku langsung mengikutimu sampai ke kelas." ucap Rafae dengan cuek ia semakin mengeratkan genggaman tangannya tak perduli banyak pasang mata yang memandang mereka seperti adegan di dalam drama korea.


"Hei..kau pikir aku wanita seperti itu itu yah.." jerit Elena protes sehingga Rafael menghentikan langkahnya dan secara otomatis Elena menubruk tubuhnya karna berjalan di belakangnya.


Rafael menatap wajah lugu Elena yang membuatnya jatuh cinta. dan mendekati Elena.


"Kau adalah milikku, jadi mulai sekarang apapun keputusan yang kau ambil harus seijinku, apa kau mengerti."?


"Keputusan seperti apa." tanya Elena tersipu.


"Semuanya.."ucap Rafael tegas.


"Semuanya...apakah, jika aku ke toilet aku harus melapor padamu..yang benar saja." Elena memutar bola matanya jengkel.


"Pengecualian untuk itu sayang."


"Kau sangat menyebalkan." lirik Elena jengkel.


"Jika kita tidak sedang berada di area kampus aku sudah menciummu sekarang." bisik Rafael mesra..


"Jangan coba-coba." Elena memperingatkan.


"Bagaimana kalau kita ke apartement." goda Rafael.


"Akan ku adukan pada mama Livia.." Elena melepaskan genggaman tangan Rafael dan berlari menjauhi Rfael dengan senyuman kemenangan.


"Awas kau." Rafael menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kekalahan yang menyakitkan, sambil melangkah cepat menuju mobil.


Sementara dari jauh Ken begitu marah melihat kebersamaan keduanya yang membuatnya terbakar cemburu.


"Aku akan merebutnya darimu Rafael Wins."


************************


Mobi Rafael memasuki halaman mansion dan segera melangkah turun dari mobil bersama Elena. ia akan tinggal dirumah orangtuanya sampai mereka menikah, karna papa tidak mengijinkan mereka tinggal bersama.


orangtua Elena juga menginap disini sambil mencari mansion yang paling dekat dengan mansion mereka saat ini, alasannya adalah karna mama Livia dan mama Aleta akan sering menghabiskan waktu bersama entah itu belanja atau ke salon.


Rafael dan Elena melangkah menuju ke halaman rumah, namun belum juga sampai di pintu kedua orangtua mereka yaitu mama Livia dan mama Aleta hendak keluar, memakai pakaian rapi.


"Mau kemana sih..mama Livia dan mama Aleta." tanya Elena dengan heran.

__ADS_1


"Kebetulan kau sudah pulang sayang, kau bisa ikut kami sekarang." ajak mama Aleta.


Rafael menatap Elena dan memohon dalam isyarat mata agar Elena tidak ikut. agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


"Aku mau di ajak kemana." tanya Elena mengerutkan dahi.


"Kami mau ke tempat arisan lalu mampir untuk belanja dan ke salon." ucap mama Aleta tersenyum dan melirik mama Livia yang tampak antusias.


"Astaga aku banyak tugas.." ucap Elena dengan menyesal.


"Baiklah...kami tak akan memaksamu, lagi pula dia pasti mau bersama Rafael." ucap mama Livia pengertian.


"Kami pergi dulu." ucap kedua wanita itu sambil memasuki mobil mereka.


Rafael segera memeluk Elena...


"Ayo...temani aku makan, aku sangat lapar Elena." ucap Rafael dengan manja.


"Ayo." ucap Elena tersenyum dan mengikuti langkah Rafael.


**************


Angell sedang menjahit beberapa payet rumit di bagian ujung gaun pengantin dengan hati-hati.


Bunyi pesan masuk di ponselnya membuat Angell menghentikan pekerjaannya.


Dani...


Bisakah menemaniku sebentar.


Angell menghela nafas lalu tersenyum...


Angel


Baiklah..tunggu aku dibawah.


Angel mengirim pesan dan melepaskan kacamatanya. meraih tasnya dan segera bangkit dari tempat duduk.


Angel membuka pintu ruangan dan menatap Wili yang sedang serius dengan labtobnya.


pria itu menyadari kehadirannya dan melirik jamnya. ini belum saatnya makan siang.


"Mau kemana kau sepagi ini." tatapnya tajam.


"Aku akan pergi sebentar bersama Dani."


Wili bangkit dari tempat duduknya dan menatap mata Angel.


"Aku tidak menginjinkanmu pergi kemanapun Angell Wins."

__ADS_1


"Apa..."? wajah Angell berubah kesal..


__ADS_2