
"Inikah dirimu yang sebenarnya."? jerit Elena dengan histeris....
Kenzo tersenyum dengan keras. mendekati wanita yang sedang mengandung anaknya itu dengan tatapan dingin.
"Aku adalah suamimu sekarang jadi, aku berhak untuk melakukan apapun kepadamu..cepat pergi dari sini dan biarkan aku menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan."
"Kau sangat menjijikan..aku sangat menyesal."
Wajah Kenzo berubah mengerikan..ia mencengkram lengan Elena dengan kuat hingga wanita itu memekik. merasa nyeri di sekitar lengannya.
"Kau mau bilang kau menyesal meninggalkan kekasihmu itu...hahahah, semua sudah sangat terlambat Elena, kau adalah milikku sekarang...setelah anak itu lahir aku akan membawanya ke rumah orangtuamu dan kau...tidak ku ijinkan untuk hamil lagi..karna apa, tugasmu adalah mealayaniku di tempat tidur seumur hidupmu."
"Tidak..mengapa kau melakukan itu..apa salahku, aku pikir kau yang lebih baik dari Rafaelku tapi...kau bahkan lebih buruk dari binatang." jerit Elena dengan frustasi.
"Paaaaccckkkkkkk....." kali ini Elena sangat terkejut ketika wajahnya terlempar ke belakang dan ada darah di sudut bibirnya. Kenzo menamparnya dengan sangat kuat.
"Jika saja kau tidak sedang mengandung anakku saat ini aku sudah menghabisimu Elena dan jangan pernah menunjukan wajah sedihmu dihadapanku. kau tau... kau perempuan pembawa sial dalam hidupku jika saja aku tidak mendekatimu mungkin saat ini perusahaanku tidak hancur." teriak Kenzo frustasi.
"Itu bukan salahku..kau yang sengaja ingin menghancurkan hubunganku bukan."?
"Kau sendiri yang menghancurkan hubunganmu dan sekarang kau menyalahkanku..? desis Kenzo penuh emosi.
Elena memejamkan matanya penuh rasa sakit, Rafael..pria itu tidak pernah menyakitinya. selalu melindunginya dan menjaganya. betapa bodohnya dirinya mencampakan pria yang begitu mencintainya dengan tulus. Elena tersungkur dengan penyesalan yang begitu dalam. saat ini dia telah menikah dengan Kenzo dan hidupnya sangat mengerikan..jika saja waktu dapat diputar Elena tidak akan pernah menghianati Rafael,..tidak akan pernah menghianatinya.
Kenzo meraih wanita yang sudah hamil tua itu dan membawanya ke depan pintu dan mendorongnya keluar. tubuh Elena terhempas hingga sampai terjatuh ke lantai yang dingin. sorot mata Kenzo menajam.
"Kau akan mendapatkan hukuman dariku ketika aku pulang." ucap Kenzo dengan mata membara lalu sesaat kemudian ia menutup pintu kamar tanpa perasaan meninggalkan Elena yang sendirian dengan hati yang hancur.
Jemarinya terkepal dengan begitu kuat.........Rafael...tolong aku..desahnya pelan.
💕💕
Suara ponsel Oscar terus berdering sementara pistoll sudah di arahkan di kepalanya. ia menatap Wili dengan mata pasrah. diraihnya ponsel itu dan terdiam mereka sama-sama sadar jika yang sedang menelfon adalah Angell.
"Angkat telpnya dan katakan..kau tidak tau apapun."
"Baik tuan Wili."
Oscar mengangkat telp dengan tangan yang gemetar lalu berbicara dengan Angel
Angell: Hallo Oscar.
Oscar: Hallò Angell, maaf tadi aku sedang sibuk jadi...agak lama mengangkat telfonmu.
__ADS_1
Angell: Tidak mengapa, oya..aku ingin mendengarkan apa yang ingin kau katakan kepadaku waktu itu....
Oscar menoleh ke arah Wili yang menatapnya tajam...
Oscar: Angell, aku hanya bercanda waktu itu..dan aku tak menyangka kau menganggap kata-kataku serius.
Angell: Baiklah..aku bisa tenang sekarang..sebentar lagi aku akan menikah dan kuharap kau bisa hadir.
Oscar: Tentu saja...aku akan hadir untukkmu Angell, terimakasih sudah mengundangku.
Angell: Kau adalah satu-satunya orang dari masa laluku seandainya saja Grace...ada...
Oscar: Grace sudah tenang disana Angell.
Angell: Yah..aku tau dan aku sangat merindukannya meski hubungan kami tidak baik menjelang akhir hidupnya.
Wili mencengkram jemarinya yang memegang pistol. alasan ia ingin cepat menikah adalah untuk membuat Angell merasakan semua perbuatannya dan Wili senang sebentar lagi mereka akan segera menikah.
Oscar: Lupakan masa lalu...kau harus membiarkannya tenang..baiklah Angell aku sangat sibuk.
Angell: Baiklah sampai jumpa Oscar.
Wili tersenyum kejam ketika Oscar sudah selesai menelfon dan pria itu menjatuhkan ponselnya dengan lemas.
"Baiklah tuan Wili..aku akan pergi secepatnya. dan tak akan meninggalkan jejak apapun." seru Oscar terbata-bata.
"Bagus." ucap Wili lalu menyimpan kembali pistol kecil itu di saku Jasnya ia mendekati Oscar.
"Jangan bermain-main denganku karna aku tidak sesabar itu Oscar."
"Aku berjanji tak akan menganggu lagi tuan Wili."
"Sekarang pergilah dan obati kakimu." ucap Wili tajam.
"Baik."
Tergopoh-gopoh Oscar berhasil sampai ke mobilnya dan pergi dari sana dengan cepat. meninggalkan Wili yang sendirian menatap ke arah laut biru di hadapannya.
Meski secara langsung Angell tidak terlibat di dalam bunuh diri adikknya namun jelas sebelum Grace meninggal mereka sedang bertengkar. dan Wili tidak menerima semua kenyataan yang di berikan padanya baginya...Angell tetap bersalah karna sudah merebut Oscar dari sisih Grace dan itu sangat kejam bagi Wili.
Pria itu memasukan kedua jemarinya dalam saku celana. masih memandang laut biru iapun terdiam...
Minggu depan adalah pernikahan mereka dan pernikahan seperti apa..yang pasti semua keindahan itu akan sirna diganti tangisan dan airmata.
__ADS_1
❤
Zefanya menatap Rafael yang kembali dari kantor sangat cepat sudah tiga hari dia tinggal di apartement Rafael dan pria ini tak pernah pulang ke Flat lagi. ia meminta Zefanya memasak dan makan bersama. kalau seperti ini mereka sudah seperti suami-istri saja. tanpa sadar Zefanya tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum."?
"Tidak apa-apa." balas Zefanya menjadi gugup ia pun berbalik hendak melangkah.
"Tunggu."
"Yah.."
"Duduklah aku ingin bicara." ucap Rafael menatap dengan tajam.
"Hmmm..bicara."?
"Yah...ayo duduk."
"Baiklah."
Merekapun duduk di sofa dan Rafael kembali sebuah map yang telah ia sediakan.
"Aku ingin kita menikah." ucapnya datar.
"Menikah."?
"Yah...selama enam bulan..minggu depan adalah hari pernikahan kakakku dan orangtuaku memintaku membawa kekasihku kalau tidak mereka akan menjodohkan aku...Rafael menjeda sebentar kata-katanya..aku trauma dengan perjodohan apalagi dengan wanita yang tidak kukenal jadi..."
"Kau ingin menikahiku selama enam bulan."? ucap Zefanya.
"Yah..setelah itu kita bercerai dan sekaligus kau terlepas dari perjanjian denganku sebelumnya."
"Aku tak perlu melayanimu lagi."?
"Ya..Zefanya."ucap Rafael dengan pelan.
"Aku membebaskanmu dan kau bisa melanjutkan hidupmu dengan bebas."
Zefanya Arneta hanya mengangguk dengan patuh.
"Besok kita akan pulang ke rumahku dan kau akan ku kenalkan dengan keluargaku."
"Tapi..bagaimana aku harus bersikap..kita berbeda dan aku sama sekali tidak pantas, apa kata keluargamu tentang aku."?
__ADS_1
"Keluargamu akan menerima dirimu Zefanya, percaya dirilah." Rafael mengedipkan matanya...