
Livia sedang menonton televisi dengan Angel diruang keluarga. Angel tertawa mengikuti animasi yang diputar di televisi, sesekali dia ikut berceloteh ria. Livia merasa sedari tadi tubuhnya tidak merasa baik. kadang ia lelah merasa sangat pusing. kadang ia demam dan pusing tiba-tiba..entah apa yang sudah terjadi kepadanya. mungkin dia terlalu gugup dengan pestanya besok, tentu saja..besok Roni akan membawanya pergi dari Rusell.
Bicara tentang Rusell pria itu sedang asyik bercanda dengan Eva di sofa ruang keluarga yang bisa di lihat dari sini mereka tampak akrab dan sangat dekat. Livia merasa hatinya panas ia benci melihat kebersamaan mereka ia benci harus menyaksikan mereka disana sedang bercumbu seolah hanya mereka yang disini. bersama Eva pria itu seakan melupakan semuanya ia tertawa dan bercanda seolah berubah menjadi ria yang hangat. entah mengapa ada sedikit rasa sakit dihati Livia.
Bahkan ketika mereka bersama, Rusell tidak seceria itu. hanya tatapan dingin yang Livia dapat. apa kelebihan wanita itu, selain pasti dia bisa memuaskan Rusell di ranjang hingga hubungan mereka semakin hari semakin dekat. apakah dia wanita yang baik bagi Rusell, bisakah dia menjaga Angel ketika besok Livia pergi.? ataukah dia sama saja seperti wanita lain yang hanya bersembunyi dibalik senyuman, dan sikap manis.?
Livia menatap Angell yang tengah bermain, matanya berkaca-kaca menyadari ketika ia pergi nanti dianpasti akan meninggalkan Angell. meninggalkan bayi yang sudah ia rawat dari umur tiga minggu.
seandainya saja bisa, ia akan membawa Angel bersamanya. dia tidak ingin...
"Haii Livia." tegur Eva dengan senyum sinis.
"Kau." lirik Livia kesal. ia memalingkan wajahnya kepada Angell dan mengabaikan Eva yang duduk dihadapannya.
"Bagaimana perasaanmu." ucap Eva memancing dengan senyuman.
__ADS_1
Livia mengamati Rusell yang entah kemana dia sudah pergi dan meninggalkan Livia bersama dengan wanita ini.
"Apa maksudmu." tatap Livia jengkel.
"Aku akan menjadi nyonya Rusell selanjutnya."
"Kau..akan menjadi nyonya Rusell." Livia tertawa kesal.
"Kau pikir Rusell akan menikahimu." tatap Livia tajam.
Eva tersenyum menyadari Rusell sedang mendengarnya pembicaraan mereka melalui headset yang dipasang di telinga yang tertutup rambutnya. Livia tidak sadar jika dia sedang dijebak.
"Aku...pasti akan..." Livia kehilangan kata-katanya.
"Jika kau ragu dengan perasaanmu maka pergilah, tapi jika kau mencintai Rusell maka bersaing dengan adil denganku." ucap Eva singkat.
__ADS_1
Livia terdiam menoleh dengan mata yang memerah. sesaat ia menoleh pada Angell dan merasa tidak rela. bagaimana nasip Angel ditangan wanita ini.?
Eva menatap ke arah yang sama dengan Livia, ia tersenyum dan yakin Livia sudah mencintai Rusell dan Angel hanya saja, keangkuhan dan dendam masih menguasainya.
"Aku tidak akan melepas keluargaku Eva."
"Keluarga yang mana, maksudmu Rusell dan Angell atau mantan kekasihmu." Eva bersedekap menatang.
"Kau sama sekali tidak punya hak bicara seperti itu padaku Eva." jerit Livia marah.
Ia bangkit berdiri berhadapan dengan Eva yang juga tak ingin kalah.
"Kau juga tidak berhak untuk menjadi penghalang untuk aku mendapatkan Rusell dan Angel...sinar mata Eva membara..itu terlalu serakah nyonya Livia." seuyum Eva sinis.
"Rusell adalah suamiku dan aku tidak akan melepasnya bersama wanita sepertimu." ucap Livia keras.
__ADS_1
Mata Eva membulat sempurna seiring tawa Rusell di seberang telp yang begitu senang mendengar perkataan Livia.
"Kau sedang cemburu Livia Morens, apakah..cintamu sesungguhnya masih ada."? tuduh Eva lantang.