
"Sean...aku mohon, jangan memaksaku."
"Aku tidak punya cara lain lagi selain memaksa Twri, setelah keluar dari sini,...kita akan langsung menikah." ucap Sean dengan mata tajam.....
Tari hanya menundukan wajahnya dalam-dalam, ia begitu frustasi ketika di hadapkan dengan pilihan. yah...ia tentu marah pada Wilard karna sudah menyakitinya, namun ia sadar bahwa di setiap pernikahan ada cobaan masing-masing, dan ia memilih bertahan, walau sangat sulit baginya, apalagi Wilard sudah menandatangani surat perceraian mereka...Tari di landa gelisah...
Sean baru ingin mendekati Tari dan ingin mencium Tari namun ia terkejut ketika pintu ternuka dan tampak beberapa dokter masuk dan tersenyum...
"Selamat pagi nyonya dan tuan."?
Sean mengusap wajahnya dengan sedikit jengkel, namun ia tersenyum...
"Dokter..."
"Maaf..tapi pagi ini nyonya harus di rontgen." ucap Dokter dengan membawa perawat yang memegang kursi roda untuk di naiki Tari.
Sean mengangguk....dan menatap ke arah Tari,...
"Sayang, aku ada metting hari ini, jadi aku akan kembali mungkin nanti malam." ucap Sean bersikap mesra...
"Baiklah Sean." Tari menurut ketika pria itu mencium keningnya, membuat dokter dan beberapa perawat lainnya hanya tersenyum malu...
Lalu Sean berpamitan dan melangkah menuju pintu keluar, hingga Tari melangkah ke kursi roda dan kemudian di dorong keluar ruangan, mereka menaiki lift menuju lantai atas untuk pemeriksaan Rontgen, sepanjang perjalanan Tari hanya memandang ke sebuah ruangan yang tertutup rapat...ia menatap ke arah perawat..
"Ruangan apa ini."? tanya Tari penasaran...
Perawat itu tersenyum dan menatap ke arah Tari..
"Itu adalah ruangan khusus pasien vip, beliau sudah seminggu di ruangan itu."
"Apakah dia seseorang yang berpengaruh."? tatap Tari dengan penasaran.
"Tentu dia dari luar negri..." ucap Perawat itu dengsn singkat, lalu mendorong tubuh Tari meinggalkan ruangan itu...
❤❤
Setelah di lakukan Rontgen, Tari kemudian hendak kembali ke ruangan..kali ini, ia tak ingin di dorong dengan kursi roda lagi, dan memilih pulang sendiri. melangkah melewati ruangan yang tertutup tadi langkah Tari terhenti ketika ia merasakan jantungnya berdebar....
Ada apa dengannya.? mengapa ia merasa sedih, dan berdebar..apa...mungkin hanya perasaannya saja. Tari hendak melangkah mendekati lift ketika pintu ruangan itu terbuka dan Tari tertegun ketika sepasang mata yang begitu ia kenal juga menatapnya tajam...
Hening..........
Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing, diam...hanya itulah yang terlihat dari keduanya....
__ADS_1
Tari meneteskan airmatanya melihat disana Wilard berdiri dengan tatapan tak terbaca....seorang perawat tampak sedang membantunya duduk di kursi roda...dan mendorongnya keluar, hari masih pagi dan ia sedang di dorong entah kemana..
Wilard memalingkan wajahnya dengan tatapan pasrah, ia tak ingin melihat Tari lebih lama, karna Wilard tau..antara mereka adalah masa lalu...
"Ayo...kita pergi." ucapnya pada perawat yang menunggu perintahnya.
"Baiklah..tuan." ucap Perawat itu mendorong tubuh Wilard pelan....sementara beberapa anak buahnya mengikutinya dai belakang...
"Tunggu....." suara Tari serak di belakangnya..
Kursi roda berhenti hingga semua mata memandang ke arah Tari dengan heran...
"Aku ingin kita bicara." ucap Tari dengan mata berkaca-kaca...
Wilard akhirnya menurut....lagi pula penerbangan bisa di tunda sesuai keinginannya..
"Baiklah...ayo kita bicara nyonya." ucap Wilard dengan mata tajam...
-❤❤
Wilard dan Tari saling menatap tajam, mereka sedang berada di ruangan tertutup yang di jaga oleh anak buah Wilard yang berada di luar ruangan
"Bagaimana keadaanmu."? tanya Wilard menatap Tari berusaha menutup perasaannya..
"Apa kau baik-baik saja."? bisiknya dengan tatapan khawatir yang tak bisa di sembunyikan.
Tari tersipu dan merasa senang karna Wilard masih perhatian padanya...
"Masih sedikit nyeri di perutku tapi kata dokter aku sudah baik-baik saja." Tari terus menatap mata Wilard dengan kerinduan yang dalam..dia sudah gila..mengapa pria tua ini punya sejuta pesona yang membuatnya tak bisa berpaling meski Tari berusaha membenci pria ini...
Wilard memang sangat tampan, meski di usianya yang ke 50 namun pria ini seakan menolak tua. tubuhnya masih atletis, dengan wajah yang tampan, dan rahang yang tegas....ada bulu-bulu halus yang tumbuh di dagu dan kumisnya, kesan maskulin begitu terlihat pada Wilard. mengapa di matanya hanya Wilard yang tampan dan membuat hatinya bergetar...
"Mengapa kau terus menatapku seperti wanita bodoh."? ucap Wilard menjauh,
Namun Tari menyentuh lengannya, hingga pria itu menghentikan langkahnya...
ia menoleh.....mereka saling menatap..
"Mengapa kau berada di rumah sakit ini."?
"Hanya kontrol kesehatan biasa, aku akan pulang kembali hari ini juga."
Kali ini wajah Tari begitu terkejut.......
__ADS_1
"Apa maksudmu kau akan meninggalkan negara ini."?
"Yah...ini bukan negaraku Tari....aku harus kembali."
"Tapi bagaimana denganku."? Tari menatap rapuh
"Apa maksudmu Tari, bukankah kau bilang jika kau sadar maka aku telah kehilangan cintamu."? ucap Wilard mengingatkan..
Tari terdiam..yah..memang dia mengatakan itu namun semua karna dia sedang marah, perempuan kalau marah kadang mengataan apapun yang ada di kepalanya tanpa berpikir jauh, ia hana terbawa emosi....
"Tapi Wilard...apakah kau sudah tidak mencintaiku."?
Wilard terdiam...
"Cinta...apakah cintaku penting, aku adalah pria tua yang akan menjadi tidak berguna, Sean..dia lebih segala-galanya.. ia memiliki kemudaan, uang dan segalanya, sedang aku...hanya memberimu rasa sakit Tari....pria itu menghela nafas...aku menyerah dengan membiarkanmu bahagia....lagi pula aku sudah menandatangani surat perceraian kita...berbahagialah....kau akan segera melipakan aku." ucap Wilard dingin..ia melangkah menuju pintu...
Tari memejamkan matanya dengan airmata berguguran....hatinya sakit sekali, mendapatkan kenyataan jika Wilard sudah menolaknya...walau ia belum menandatangani surat perceraian itu..
"Ternyata 19 tahun pengabdianku sebagai istri tak berarti." ucap Tari mulai menangis....
Wilard kembali membeku, ia kemudian menoleh dan menatap ke arah Tari yang tampak hancur...
"Tari..."
Wanita itu mengangkat wajahnya ia juga sudah pasrah....
"Ternyata selama ini, aku yang mencintaimu..dan mungkin kau benar...jika kau hanya membutuhkanku saja,dan tidak mencintaiku...ternyata aku bodoh."..ucap Tari dengan suara bergetar....
"Tari...bukan maksudku..."
"Cukup..." jerit Tari hancur....
Tari menegakan dirinya menghapus airmatanya, dan tersenyum...
"Seharusnya aku tidak menemuimu Wilard,di antara kita memang sudah tidak bisa bersatu lagi..aku permisi, selamat tinggal Wilard.."
Tari melangkah cepat hingga ia melewati Wilard yang mengeraskan rahangnya...
Tari terkejut ketika jemarinya di tarik kebelakang dan kemudian tenggelam dalam pelukan posesif Wilard, keduanya bertatapan....
"Bisakah kau memberi aku kesempatan kedua Tari, untuk mengejarmu."? ucap Wilard dengan senyum tajam...
Tari tak sempat menjawab ketika Wilard mendekatkan wajahnya dan melum** bibir wanita yang ia cintai itu dengan penuh gairah........
__ADS_1