Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku

Mencuri Hidupmu Untuk Aku Dan Anakku
Membalas


__ADS_3

Livia menjadi lemas setelah melampiaskan seluruh kemarahan pada Rusell. tubuh bagian atas pria itu memerah bahkan sampai mengeluarkan berdarah. Rusell tak bergeming ketika Livia hanya menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.


"Apakah hatimu sudah menjadi lebih baik sayang."


Livia memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah Rusell.


"Kurasa aku akan mengganti pakaianku sekarang sayang, sementara aku tinggal sebentar, seorang perawat akan menjagamu Livia dan kumohon jangan tersinggung aku hanya tidak ingin kau berbuat nekat, aku mencintaimu." ucap Rusell dengan seyuman pasrah, bangkit berdiri lalu mengecup bibir Livia sekilas walau istrinya tidak merespon sedikitpun, Rusell melangkah dan tidak mengharapkan jawaban dari Livia.


pria itu pergi keluar dari ruangan. Rusell tak ingin membuat Livia menjadi kesal akan berpengaruh pada kehamilannya.


Livia memandang Rusell dengan tatapan sedih, menyadari Rusell tidak sedikitpun melepaskan pelukan padahal Livia sengaja memukul dan mencakar dengan kasar. luka di pundak Rusell begitu kentara dan sedikit membuat Livia merasa nyeri. betapa pria itu tidak sedikitpun berangak atau melepaskan pelukannya meski jelas Livia menyakitinya.


Apa yang sedang direncanakan Rusell, apakah memenag dia sudah berubah ataukah Rusell bersikap lembut karna ia sedang hamil saja. apa yang harus ia lakukan sekarang......


.................****................


Roni menatap Aleta dengan tatapa siap, hari ini Aleta akan membantunya agar keluar dari rumah sakit ini tanpa ada satupun yang tau. Roni tau jika anak buah Rusell berjaga diluar untuk mengawasi gerak-gerikknya. tak akan mudah baginya untuk keluar dari sini tanpa bantuan. dan Aleta sudah menjadi anak buahnya sekarang, Roni akan memanfaatkannya.


Aleta menatap Roni dengan cemas, sesekali matanya melirik ke pintu. ia sudah menyiapkan untuk Roni baju penyamaran seperti seorang dokter dan saat ini hari sudah malam. semua kan menjadi mudah, para penjaga akan menjadi tidak fokus.


"Apakah semua sudah siap Aleta."? tatap Roni sembari memakai jass dokter dihadapannya lengkap dengan kacamata.


"Semua sudah siap tuan Roni." tatap Aleta siap.


"Bagus, karna aku tidak ingin gagal." ucap Roni dengan tatapan tajam. jemarinya sudah mengepal dengan kuat.

__ADS_1


Roni sudah mendapatkan informasi jika Livia melakukan bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. itu adalah bukti jika wanita yang ia cintai itu tidak bahagia hidup bersama Rusell dan Roni akan merebutnya kembali.


"Mari tuan Roni ikut aku." ucap Aleta menarik Roni dar lamunan.


Keduanya melangkah keluar dari sana dengan langkah yang ringan bahkan dengan mudah mengelabui para penjaga. Roni tersenyum lebar ketika sampai di lokasi parkiran sebuah mobil berwarna hitam sudah menantinya. seorang anak buah Roni menunduk hormat ketika melihat sang tuan.


"Selamat datang kembali tuan." tatapnya sambil menundukan kepala.


Roni mengangguk seraya tersenyum lebar... dan sesaat kemudia menatap ke arah Aleta di belakangnya.


"Aleta, trimakasih atas bantuanmu."


"Anda juga sudah membantuku tuan." ucap Aleta menundukan kepalanya.


"Tentu saja." Aleta tersenyum dengan penuh arti, sesungguhnya jauh didalam hatinya. Aleta sudah menyukai tuan Roni tapi..mana mungkin dia berani menunjukan perasaannya. seperti bumi dan langit, itulah jauhnya jarak perbedaan mereka. lagipula tuan Roni sepertinya begitu mencintai tunangannya. harapan Aleta seperti setitik embun di tengah teriknya panas matahari, tidak akan mungkin tuan Roni akan melihatnya.


Aleta ikut masuk kedalam mobil yang membawa mereka pulang.


Roni menatap jalan didepannya dengan senyum yang terpancar dengan begitu lega. Livia ada dikota yang sama dengannya, menghirup udara yang sama. mata Roni bersinar tajam..ia akan kembali merebut Livia dengan kekuatan penuh. dan tidak akan pernah menyerah lagi. ia sudah mati sekali dan bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari biasanya.


pria itu tertawa dengan penuh rencana.


......................******........................


Rusell membuka pintu kamar rawat dan menatap Livia yang sedang berbaring miring membelakanginya, perut Livia sudah mulai terlihat walau masih terlihat kecil dari balik bajunya. yah sudah hampir sebulan mereka dirumah sakit karna kehamilan Livia yang masih rawan dan dokter tidak mengijinkan Livia pulang. dan hubungan mereka masih sangat dingin, hanya bicara ketika mereka sedang perlu, menjawab pertanyaan atau memberi pertanyaan. tak ada yang istimewa.

__ADS_1


"Sayang, makanlah..aku membawakanmu makanan kesukaanmu." ucap Rusell dengan senyum walau Livia tidak sedikitpun perduli kepadanya.


"Aku akan makan nanti."


"Makanlah selagi hangat, aku mohon." ucap Rusell dengan suara merendah.


Livia bangkit dengan enggan dan membiarkan Rusell mendekatkan makanan ke arahnya. namun ia tak sedikitpun menatap pria itu dan lebih memilih menatap makanan di depannya yang tampak begitu enak, Livia melonggarkan tenggorokannya.


Meraih sendok yang diberikan Rusell tanpa melihat Rusell lalu mulai makan dalam diam. ia tersenyum sesekali tersenyum karna sup yang begitu enak dilidahnya.


Rusell hanya menatap dalam diam, walau saat ini sikap Livia masih begitu dingin kepadanya. namun ia senang setidakknya Livia sedikit menurut jika Rusell berbicara. walau bahkan untuk menyentuh Livia saja istrinya begitu menghindarinya. Rusell cukup bahagia ketika mendengar penjelasan dokter tentang perkembangan kesehatan Livia yang sudah membaik, luka tembak di perutnya sudah mengering, dan keadaan bayi dalam keadaan baik dan sehat, itu saja sudah cukup bagi Rusell, ia tidak akan memaksa Livia atau bersikap keras lagi karna dia sadar kalau semua akan menjadi sia-sia, Livia akan semakin membencinya dan pada akhirnya keluarga mereka akan hancur, dan Rusell tidak ingin itu terjadi. baginya ia cukup bersabar dan memberikan Livia waktu untuk mencintainya walau entah sampai kapan, Rusell akan setia menunggu.


"Aku sudah selesai." ucap Livia pelan.


Dalam diam Livia melihat Rusell dengan sabar melayaninya dan kemudian pria itu menjauh dan duduk di sofa yang tak jauh dari ranjangnya dan meraih labtopnya untukk bekerja. hal yang menjadi pemandangan bagi mata Livia selama sebulan terakhir ini, Rusell selalu mengerjakan semua dari rumah sakit dan tak sedikitpun meninggalkannya, mau tak mau apa yang dilakukan Rusell membuat hatinya menghangat. ada rasa bahagia melihat suaminya menjaganya dengan sepenuh hati meski Livia masih bersikap dingin dan menjaga jarak. apakah dia sudah keterlaluan dalam menguji Rusell, melihat suaminya yang sedikit berantakan dengan tdiak memperhatikan penampilannya. Livia merasa sedikit bersalah..tubuh Rusell sedikit mengalami penurunan berat badan, kumis dan janggutnya dibiarkan tumbuh dan tidak merapikannya. apakah ia harus memaafkan Rusell sekarang dan memulai semuanya dari awal.?


..............****..................


Livia sedang berbaring sambil membaca novel kesukaannya dengan judul KAU HARUS MENCINTAIKU demi mengusir kebosanan. hal yang menjadi hobinya selama dirumah sakit.


Rusell sedang pergi karna ada hall menyakutt bisnisnya, Erik sendiri yang menjemputnya tadi.


Suara ketuka di pintu mengalihkan perhatian Livia, gerkan pintu dibuka mengerutkan dahi Livia dengan penasaran...siapakah yang datang.?


Livia membeku melihat seseorang di pintu tersenyum kepadanya dengan penuh arti......

__ADS_1


__ADS_2