
Rusell sedang berbaring di ranjang sambil mengutak-atik ponselnya. Angel sedang tertidur tenang di box. Livia menatap suaminya yang belakangan ini menjadi lebih santai, tak ada aura kejam yang seperti biasanya ia rasakan. Livia bergerak mendekati Rusell dan duduk di ranjang meletakan kepala Rusell di pangkuannya sambil mengelus rambut pria itu dengan lembut. Rusell memejamkan matanya menikmati jemari lentik istrinya yang menjelajahi kepalanya dengan lembut. rasa lelah yang menumpuk karna pekerjaan yang begitu menguras tenaganya langsung hilang seketika. Rusel tersenyum memandang wajah Livia yang cantik.
"Apa kau bahagia ketika bersamaku."? tanya Rusell pelan.
Livia menurunkan pandangan...
"Kau liat kan belakangan ini aku selalu tersenyum, itu tandanya aku bahagia Rusel.
"Tak selamanya orang yang tersenyum itu sedang bahagia sayang, bisa saja mereka sedang menyembunyikan kesedihan mereka dan mungkin dalam hati ingin melepaskan diri dari senyuman palsu itu." Rusell kembali memejamkan matanya.
Gerakan pijitan Livia di kepala Rusell terhenti sesaat. mengapa dia merasa jika sebenarnya Rusell sedang membicarakan dirinya.? mengapa dia merasa Rusell sedang menyindirnya..tapi mana mungkin, Rusell tidak tau rencana mereka. mungkin hanya kebetulan Rusell sedang menebak. Livia masih terdiam.
"Mengapa berhenti memijatku sayang, ini terasa nikmat..jangan berhenti disaat aku sedang bahagia menikmati sentuhanmu." pinta Rusell.
Lagi...Rusell membuat Livia terkejut. namun ia buru-buru melanjutkan pijatannya.dan berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.
"Aku akan selalu bersamamu Rusell, dan kau akan selalu merasakan sentuhanku. ucap Livia penuh janji.
Rusell meraih kedua jemari Livia dan membawanya untuk menciumnya. lalu meletakannya didada.
"Aku sangat takut jika sesuatu terjadi pada cintaku, aku..bukanlah pria yang gampang memaafkan Livia sayang."
"Apa maksud kata-katamu Rusell."
"Tidak ada maksud apa-apa sayang, aku hanya ingin kau tau bagaimana aku yang sesungguhnya."
"Kita sudah menikah, aku akan tetap menjadi istrimu untuk selamanya Rusell."
"Aku bahagia mendengarnya Livia."
"Kau membuatku takut saja Rusell." Livia memejamkan matanya.
🥰
Rusell bangun dari ranjang setelah percintaan panas mereka. ini sudah tengah malam Livia sudah terlelap dibalik selimut karna kelelahan.
Rusell meraih ponselnya dan mengirimi pesan kepada anak buahnya bahwa besok rencana yang telah ia susun rapi akan dijalankan. ia mengingatkan agar setipa penjaga di tempatkan di titik lokasi yang akan dilalui Livia dan Meri. sungguh Rusell tidak sanggup membayangkan jika Livia besok akan menghianatinya. jemarinya terkepal dengan sangat kuat. ia tidak akan melepaskan Livia sampai kapanpun. Livia adalah miliknya...hanya miliknya. Rusell mengertakan giginya.
❤
__ADS_1
Rusell menatap wajah Livia yang cemberut dan terlihat marah. pria itu mendekati Livia memeluk tubuhnya dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Livia.
"Maafkan aku sayang."
"Kau tau Angel tak bisa jauh dariku dan aku juga tidak bisa jauh darinya,kau tega sekali kepadaku Rusell." isak Livia sedih. membiarkan Rusell memluknya dengan erat.
"Marsya adikku merindukan Angel, kupikir ini waktu yang tepat..hanya satu minggu Livia." bujuk Rusell pelan.
"Lama sekali, bagaimana kalau aku ikut saja." ucap Livia serius.
"Aku tidak bisa jauh darimu sayang, tolonglah..aku tidak bisa tidur tanpamu,kita berdua akan menjemput Angel setelah seminggu."janji Rusell.
"Baiklah, sampaikan salamku pada adikmu Rusell."
"Tentu saja sayang." ucap Rusell merasa senang, dia mampu meyakinkan Livia dan memisahkannya sementara dari anaknnya. terdengar kejam, namun Rusell harus menjalankankan rencananya dan dia sudah tidak sabar lagi.
setelah meyakinkan Livia pria itu kembali mengarahkan tatapan tajamnya kepada Meri.
"Ingat janjimu Meri, bahwa kau akan menjaga nyonya Livia dengan nyawamu."
"Tentu saja tuan Rusell." balas Meri menundukan kepala.
"Ingat baik-baik, jika terjadi sesuatu kepada aistriku ketika aku tidak ada didekatnya, maka kau harus ingat janjimu ini Meri, aku akan melenyapkanmu dengan segera."tatap Rusell dengan sangat tajam.
Setelah berpamitan dengan penuh kerinduan. Rusell meninggalkan Kamar itu dan tidak berselang kemudian helikopter terbang diatas mansion megah ini.
💓💓
Meri menatap Livia yang sedang duduk di pinggir balkon dengan wajah yang murung. ia mulai mendekati Livia untuk mempengaruhinya.
"Selamat malam nyonya Livia." Meri menunduk dengan hormat.
"Meri, kau mengagetkan aku saja." Livia memegang dadanya yang terkejut.
"Maafkan aku nyonya."
"Tidak apa-apa Meri, ada apa kau mencariku." tanya Livia mengerutkan dahi.
"Maaf nyonya, tapi aku pikir ini adalah saatnya." ucap Meri menundukan kepala.
__ADS_1
"Apa maksudmu."?
"Saatnya nyonya bertemu tuan Roni."
Mata Livia melebar wajahnya menjadi pucat. ini adalah hal tergila yang pernah ditawarkan oleh pelayan ini.
"Apa kau sadar dengan kata-katamu Meri."? suara Livia meninggi. ia tidak ingin mencari masalah dengan Rusell jika pria itu sampai tau, mungkin ia akan bisa melepaskan diri tapi tidak dengan Meri. gadis ini akan selesai.
"Hamba sudah memikirkan semua ini nyonya, lagipula tuan Roni hanya ingin mendengar permintaan maaf langsung dari anda nyonya. setelah itu kita akan kembali kerumah ini lagi dan tuan Rusell tidak akan curiga.
"Perasaanku mengatakan yang sebaliknya Meri, aku rasa kita akan tertangkap jika kita pergi dari sini." ucap Livia dengan enggan.
Meri memalingkan wajahnya dengan marah lalu menatap Livia dengan tatapan menuduh.
"Aku jadi heran, mengapa tuan Roni bisa mencintai nyonya dengan begitu besar, sedangkan nyonya tidak pernah menghargainya."?
"Tatap mulutmu Meri, kau sangat lancang." tunjuk Livia bangkit berdiri.
Meri tertawa sinis...
"Apa karna tuan Rusell juga lebih kaya dari tuan Roni hingga nyonya tidak perduli sedikitpun."
"Diam." Livia marah ia mendekati gadis itu dengan kesal.
"Apa aku salah nyonya Livia."?
"Aku sudah menikah, akan berdosa jika aku meninggalkan rumah ini tanpa ijin suamiku."
"Wah...anda berbicara tentang dosa yah, apa nyomya pernah tau penderitaan tuan Roni ketika mengalami kecelakaan dan berjuang untuk hidup demi anda."? mata Meri menajam penuh kebencian.
"Meri."...airmata Livia menetes.
"Tuan Roni tidak meminta apapun, kalian sudah bersama hampir seumur hidup. tak bisakah nyonya sedikit berkorban."?
Livian kehilangan kata, apa yang harus ia lakukan sekarang. mengikuti Meri dengan bertemu Roni. tapi semua yang dikatakan Meri benar. Roni sudah melalui begitu banyak kesakitan selama mereka berpisah. dan ini saatnya Livia sedikit berkorban.
"Meri..aku akan menemuinya." ucap Livia menyerah.
Meri hanya mengangguk dengan puas, obat bius yang sudah ia persiapkan sejak tadi telah ia sembunyikan dengan rapat dikantong celananya. begitu sampai ditengah jalan, Meri akan membius Livia dan membawanya kembali pada tuan Roni. gadis itu tersenyum bahagia membayangkan betapa senangnya tuan Roni nanti.
__ADS_1
"Baiklah nyonya Livia ikut aku sekarang."
Livia mengangguk dan mengikuti Meri dari belakang.