
Rusell menatap mata Livia sebentar sebelum memberi jawaban. sebenarnya ia juga setuju dengan usul Livia yang akan pindah ke kota ini yang berarti ia harus rela kalau Roni juga tinggal dikota yang sama dengan mereka. Rusell menatap perut Livia dan menjadi lebih tenang, ada anakknya disana di dalam perut Livia yang akan jadi pengingat bahwa Livia adalah milikknya.
"Baiklah Livia aku setuju, aku akan meminta Erik untuk membawa desain properti yang kau suka jadi setelah kita keluar dari sini kita akan langsung kesana Livia.
Mata Livia berbinar...lalu segera memeluk tubuh Rusell dihadapannya dengan sangat erat.
"Aku sangat ,mencintaimu suamiku terimakasih." ucap Livia penuh rasa bahagia.
Rusell mengusap punggung Livia dan menenangkan istrinya.
"Apapun akan aku lakukan asal kau bahagia sayang." Rusell mengecup puncak kepala Livia dengan lembut dan mendekap Livia..
"Aku ingin kita seperti ini terus Livia..aku ingin kau dan akau bisa bahagia selamanya bersama anak-anak kita." tatap Rusell mengecup pipi istrinya begitu merindu. Livia yang paham langsung membelai wajah Rusell yang dipenuhi janggut tipis serta kumis dengan gemas.
"Kita akan bercinta setelah aku pulang, jadi bersabarlah Rusell."
Wajah Rusell memerah ketika Livia mampu menebak isi kepalanya dengan sangat baik. lalu mengangguk masih memeluk.
"Aku tidak sabar lagi, aku akan sangat menantinya sayang, betapa aku sangat merindukanmu."
Livia hanya menggeleng...
"Terimakasih sudah bersabar." ucap Livia sambil terus menikmati pelukan suaminya.
💙
Akhirnya Livia sudah bisa pulang kerumah, dan sebuah hunian mewah berlantai dua yang terletak di pnggiran kota menjadi pilihan Livia. wanita itu tersenyum saat dibukakan pintu oleh Rusell.matanya berbinar bahagia akhirnya ia bisa memiliki rumah sendiri..
"Ini sangat indah Rusell ucap Livia setelah mengelilingi setiap sudut rumah dengan penuh ketelitian.
"Aku senang kalau kau suka sayang."
"Oya, kapan Angel akan pulang." tatap Livia tak sabar,sudah hampir dua bulan ia tidak bertemu Angel.
"Sebentar lagi sayang." ucap Rusell sambil menekan ponselnya untuk berbicara dengan Erik tentang pekerjaannya.
Bunyi mesin mobil berhenti didepan rumah membuat Livia menengok ke arah pintu, karna Rusell begitu proktektif kepadanya. Livia tidak di ijinkan terlalu banyak berjalan.
Seorang wanita yang sangat cantik yang begitu mirip dengan Rusell masuk serta menggendong Angell di tangannya. ia tersenyum kepada Livia dan mendekat.
"Kak Livia" bisiknya tersenyum.
"Marsya Winss" ucap Livia membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk wanita yang sangat cantik itu..meski ini pertemuan mereka yang pertama.namun mereka sudah saling mengenal di telp.
"Apa kabar Kakak, bagaimana keponakanku." bisik Marsya sambil menyentuh perut Livia dengan sayang.
"Baik-baik saja Marsya karna di punya selera makan yang bagus."
__ADS_1
"Bernarkah." tatap Marsya dengan mata berbinar.
"Yah.."
Angell menangis ketika ingin digendong oleh Livia.sekaligus menghentikan pembicaraan mereka.
"Oh..anak mama.....desah Livia menggedong tubuh Angell yang sudah mulai berat, astaga kau berat sekali nak, mama sudah mulai tidak kuat menggendongmu." bisik Livia tersenyum dan pada saat bersamaan Rusell turun dari tangga dan terkejut melihat Livia menggendong Angel.
"Sayang..jangan begitu berikan dia padaku." bisik Rusell meraih Angel dalam gendongan Livia walau gadis kecil itu menangis tak mau dipisahkan.
Marsya hanya menggeleng iba dan menerima pelukan kakaknya dengan rasa sayang.
"Bagaimana kabarmu sayang." bisik Rusell sambil mengecup kepala adikknya dengan penuh kasih.
"Aku baik kak, oya aku akan tinggal dikota ini dan tidak akan kembali ke luar negri." ucap Marsya tersenyum.
Livia sangat senang mendengarnya lalu mendekati Marsya.
"Tinggalah disni dengan kami." tatap Livia penuh harap.
Marsya menggeleng...
"Aku akan tinggal di apartement dekat dengan kantor, tapi aku akan sering menengok kakak." ucap Marsya menghibur.
"Baiklah..aku senang kalau kita berkumpul seperti saat ini." ucap Rusell tersenyum.
Livia sedang menata beberapa hiasan di dinding bersama seorang pelayan yang membantunya. Ia sendirian sekarang sementara Rusell sedang sibuk dengan pekerjaannya. Marsya sedang membawa Angel jalan-jalan bersama pengasuh.
Suara bel di pintu mengalihkan perhatian Livia, ia kemudia membuka pintu dan tertegun melihat Roni berdiri bersama seorang gadis di sampingnya yang sedang tersenyum.
"Roni." ucap Livia begitu senang..
"Hai.."
"Silahkan masuk dulu." ucap Livia sambil menyeret gadis yang tampak cantik di samping Roni dengan akrab.
Roni hanya melihat-lihat rumah Livia dengan tersenyum, sentuhan tangan Livia membuat rumah ini begitu indah.
Livia membawa gadis itu untuk duduk didekatnya..sementara Roni memilih duduk dihadapan mereka.
"Apa kabar Livia." tatap Roni.
"Aku sangat baik Roni, oya darimana kau tau kami tinggal disini."
"Aku juga tinggal di komplek yang sama Livia dan kemarin aku tak sengaja melihat kalian pindah kesini dan aku datang untuk menyapa."
Livia mengangguk dan matanya tertuju pada gadis disampingnya.
__ADS_1
"Apakah ini kekasihmu Roni."
Aleta baru saja akan membuka mulut untuk menjawab namun Roni langsung menjawabnya.
"Dia tangan kananku dan kepercayaanku Livia, dia seperti asistenku yang begitu kupercaya." ucap Roni menatap Aleta dengan datar.
"Astaga maafkan aku ya, aku kira kalian.."
Aleta hampir menangis mendengar kata-kata Roni namun berhasil menahan airmatanya lagi.
"Diantara kami memang tidak akan pernah ada hubungan semacam itu nyonya Livia." tatap Aleta dengan wajah sendu dan entah mengapa itu menggetarkan hati Livia.
"Jangan panggil aku nyonya, panggil namaku saja aku pikir kita seumuran." ucap Livia sambil menyentuh jemari Aleta, dia merasa gadis ini menyimpan perasaan pada Roni yang begitu dalam. namun Roni tidak bisa mengerti dan melihat itu.
"Livia aku datang sekaligus untuk memperingatkan dirimu tentang Melinda." ucap Roni mengalihkan perhatian Livia dari Aleta, dia tidak suka Livia berpikir kalo mereka ada hubungan.
"Melinda." ulang Livia.
"Ya...dia sepertinya dendam kepadamu dan berniat menghancurkanmu."ucap Roni begitu khawatir.
Livia menunduk seketika...
"Terimakasih Roni aku akan berhati-hati." Livia tersenyum.
"Peringatkan juga suamimu karna Melinda juga mengincarnya."
Pada saat bersamaan pintu terbuka lebar dan Rusell masuk menatap Roni dengan tatapan marah, untuk apa dia kesini apakah dia belum menyerah akan Livia, apa yang sedang ia rencanakan sekarang.
"Siapa yang sedang mengincar siapa Roni." tatap Rusell dengan mata tajam.
Roni bangkit dari tempat duduknya..dan tersenyum kepada Rusell.
"Aku datang untuk memperingatkanmu tentang melinda."
"Melinda." Rusell tertawa kesal, mengapa malah membawa Melinda gadis yang tidak bersalah.
"Karna aku tetangga yang baik aku datang dan memberi peringatan padamu Rusell."
"Dan kau pikir aku percaya apalagi kau tinggal disekitar sini juga."
"Ya...apa ada masalah." senyum Roni dengan penuh arti.
"Kau adalah masalahnya Roni karna kau tidak pernah mau menyerah akan Livia..terima kenyataan kalau akulah suami Livia saat ini." ucap Rusell dengan angkuh.
Livia hanya menatap tidak percaya pada dua lelaki dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.
"Aku memutuskan menerima kalau kau bisa menjaga Livia lebih dariku..tapi ingat, jika kau tidak mampu menjaga istrimu sendiri maka aku akan bertindak." ucap Roni dengan sangat tajam.....
__ADS_1
"Apa kau sedang mengancam seorang Rusell." jemari Rusell mengepal.